NovelToon NovelToon
SETELAH HUJAN BERHENTI

SETELAH HUJAN BERHENTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Romantis
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.

Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.

Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.

Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HAK YANG TERBUANG DI BAWAH HUJAN

Mobil Arsen berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga tepat di depan pagar rumahnya. Ia tidak datang sendiri; empat satpam kantor bertubuh tegap yang ia bawa langsung turun dan membentuk barisan barikade di depan pintu pagar, mengunci pergerakan pria misterius itu dan mobil SUV hitamnya.

Arsen keluar dari mobil dengan tatapan yang bisa membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras karena amarah yang memuncak. Ia melihat Rosa mengintip ketakutan dari balik gorden jendela, dan hal itu membuatnya semakin murka.

"Pergi dari rumah saya!" ucap Arsen dengan suara rendah namun menggelegar, penuh penekanan pada setiap kata.

Pria bersetelan rapi itu berbalik perlahan, menatap Arsen dengan senyum sinis yang meremehkan. "Pak Arsenio Wijaya, saya rasa kita perlu bicara sebagai sesama pria. Saya hanya ingin menjemput apa yang menjadi hak biologis saya."

Arsen melangkah maju hingga hanya berjarak satu meter dari pria itu, meskipun dua satpamnya mencoba menjaga jarak aman. "Hak biologis? Di mana kamu saat anak ini kedinginan di depan pagar saya setahun lalu di bawah hujan deras? Di mana kamu saat dia butuh perlindungan?"

Arsen menunjuk ke arah rumahnya dengan tegas. "Secara hukum, Arlo adalah anak saya. Nama saya yang tercantum di dokumen negaranya, bukan nama Anda. Jika Anda tidak angkat kaki dari properti saya dalam hitungan tiga, saya tidak akan ragu untuk menjebloskan Anda ke penjara atas tuduhan pengancaman dan perbuatan tidak menyenangkan."

Keempat satpam di belakang Arsen mulai bergerak merapat, memberikan tekanan fisik yang nyata. Pria itu melirik ke arah satpam-satpam tersebut, lalu kembali menatap Arsen. "Ini belum selesai, Arsenio. Kamu hanya menyimpan sesuatu yang bukan milikmu. Kita akan bertemu di pengadilan."

Pria itu kemudian masuk ke dalam mobil SUV-nya dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang beterbangan. Begitu mobil itu hilang dari pandangan, Arsen langsung berlari menuju pintu rumah.

"Rosa! Buka pintunya, ini aku!" serunya sambil menggedor pintu dengan cemas.

Pintu terbuka dengan kasar dan Rosa langsung menghambur ke pelukan Arsen. Tubuhnya bergetar hebat, air matanya tumpah membasahi kemeja kerja Arsen yang masih rapi. Di ruang tengah, tampak satpam kompleks masih berjaga dengan waspada di dekat pintu, sementara suster mendekap Arlo erat-erat di sudut ruangan, mencoba menenangkan bayi itu yang mulai rewel karena merasakan ketegangan orang dewasa di sekitarnya.

"Enggak boleh ada yang bawa Arlo, Sen... Dia anak kita. Aku nggak peduli siapa pria itu, Arlo anak kita!" ucap Rosa terisak di pelukan Arsen. Tangannya mencengkeram erat punggung Arsen, seolah takut jika ia melepasnya, kebahagiaan mereka akan ikut hilang.

Arsen mendekap kepala Rosa, mencium kening istrinya berkali-kali untuk memberikan ketenangan yang ia sendiri sebenarnya sulit temukan. Matanya menatap Arlo yang ada di pelukan suster, lalu beralih menatap satpam kompleks yang membantu menjaga rumahnya.

"Sstt... tenang, Ros. Tenang. Aku di sini. Nggak akan ada yang bisa bawa Arlo pergi. Aku bersumpah," bisik Arsen dengan suara parau namun penuh tekad.

Ia kemudian menoleh ke arah salah satu satpam kantornya. "Tolong pastikan semua akses masuk terkunci. Jangan biarkan ada kendaraan asing berhenti di depan pagar lagi. Mas Dito akan sampai sebentar lagi untuk memperketat penjagaan."

Arsen membawa Rosa duduk di sofa, masih dalam dekapan eratnya. "Kita sudah melewati banyak hal untuk sampai di sini, Ros. Dokumen adopsi kita sah. Nama Arlo sudah terdaftar sebagai bagian dari keluarga Wijaya. Pria itu tidak punya kekuatan hukum selama dia adalah orang yang membiarkan anak itu terlantar dulu."

Meskipun Arsen berusaha menenangkan Rosa, dalam hatinya ia tahu bahwa ini adalah awal dari peperangan besar. Pria itu bukan orang sembarangan, dan fakta bahwa Laras muncul sebagai "umpan" menandakan bahwa mereka sedang menghadapi rencana yang sangat matang.

Dito masuk ke ruang tengah dengan langkah kasar, wajahnya masih merah padam menahan amarah yang meluap-luap. Ia melemparkan kunci motornya ke meja, lalu menatap Arsen dan Rosa yang masih terduduk lemas di sofa.

"Laras brengsek! Dia benar-benar bawa kalian ke masalah ini dengan sengaja buang Arlo di sana!" ucap Dito dengan suara meninggi, tidak peduli lagi jika suaranya terdengar sampai ke dapur.

Ia mondar-mandir di depan Arsen, tangannya menunjuk ke arah luar. "Kenapa coba Arlo harus anak Laras? Dia benar-benar nggak tahu diri. Dulu dia sudah bikin lo depresi hampir gila waktu dia pergi, sekarang dia balik cuma buat naruh bom waktu di depan pintu rumah lo!"

Rosa tersentak mendengar kata "depresi". Ia menatap Arsen dengan tatapan bertanya-tanya, menyadari bahwa masa lalu suaminya dengan Laras ternyata jauh lebih kelam dari yang pernah diceritakan Arsen padanya.

"Dit, pelankan suara lo. Ada Arlo di sini," tegur Arsen dengan suara rendah namun tajam. Ia mengeratkan pelukannya pada Rosa, berusaha melindungi istrinya dari informasi yang mungkin belum saatnya ia dengar secara kasar.

"Gue nggak bisa pelan, Sen!" balas Dito frustrasi. "Dia manfaatin lo! Dia tahu lo bakal ngerawat bayi itu karena lo punya hati, sementara dia sendiri lari dari suaminya yang kayak monster itu. Dan sekarang, monster itu tahu alamat lo karena Laras sengaja muncul di kantor lo supaya bisa diikuti!"

Dito kemudian berhenti dan menatap Rosa dengan tatapan menyesal. "Sori, Ros. Gue cuma emosi banget. Arsen sudah berjuang mati-matian buat bangkit dari keterpurukan gara-gara wanita itu, dan sekarang dia seenaknya datang lagi buat ngerusak keluarga yang kalian bangun."

Arsen menghela napas panjang, ia menatap Dito dengan serius. "Laras sudah pergi dari kantor?"

"Gue nggak peduli dia ke mana, tapi gue udah suruh anak buah gue buat awasi dia. Sekarang yang penting itu pria tadi. Namanya Hadi Pramono. Dia bukan cuma orang kaya biasa, Sen. Dia punya pengaruh besar. Kita harus gerak cepat sebelum dia pakai cara kotor buat batalin adopsi Arlo."

Tak lama setelah Dito, Rendy muncul dengan tas kerja yang tampak penuh sesak dengan dokumen. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun matanya memancarkan ketegasan seorang pengacara yang siap bertempur habis-habisan di medan hukum.

Rendy langsung menghampiri Arsen dan Rosa, ia meletakkan berkas-berkas itu di atas meja dengan suara yang cukup mantap untuk memberi sedikit rasa tenang.

"Gue bakal berusaha, Sen. Gue sudah minta bantuan dari pihak manapun—rekan-rekan kita di pengadilan, aktivis perlindungan anak, sampai orang-orang di dinas sosial," ucap Rendy serius. Ia menatap Rosa yang masih terlihat pucat. "Rosa, Arsen, tenang saja. Kita punya satu senjata kuat: penelantaran anak."

Rendy membuka salah satu berkas, menunjukkan salinan dokumen adopsi yang selama ini mereka simpan. "Pria itu, Hadi, memang ayah biologisnya. Tapi faktanya, Arlo dibuang di depan rumah Arsen dalam kondisi berbahaya. Itu adalah bukti penelantaran yang sah secara hukum. Dan Laras? Kesaksian dia nanti bisa jadi pisau bermata dua. Kalau dia bilang dia takut pada suaminya, itu justru memperkuat alasan kenapa Arlo lebih aman di tangan kalian."

Arsen menatap Rendy dengan penuh harap. "Tapi Hadi punya pengaruh besar, Ren. Dito bilang dia bukan orang sembarangan."

"Pengaruh besar nggak berarti dia bisa beli hukum soal kesejahteraan anak, Sen," balas Rendy dengan nada yakin. "Gue sudah kunci akses berkas ini supaya nggak bisa diutak-atik secara sepihak. Dan gue juga sudah menghubungi kenalan di kepolisian untuk memberikan perlindungan ekstra di sekitar rumah ini."

Rendy menghela napas, lalu menepuk bahu Arsen. "Kita akan hadapi ini secara legal dan rapi. Jangan biarkan mereka memancing emosi kalian. Itu yang mereka cari."

Dito yang tadinya masih meledak-ledak, kini sedikit tenang melihat Rendy sudah mengatur strategi. Namun, di tengah pembicaraan itu, Arlo mulai menangis kencang dari arah kamar, seolah ia bisa merasakan badai besar yang sedang mencoba meruntuhkan rumah tempatnya bernaung.

1
Susilawati Arum
Ganti panggilannya dong thor,, masa sama suami sendiri msh panggil nama..kan nggak sopan
nanuna26: baik ka
total 1 replies
falea sezi
keluarga nya kompak bgt meski! tau itu anak mantan arsen mereka ttep sayang sama. arlo/Sob/
falea sezi
q ksih hadiah karena dedek Arlo
falea sezi
apa ini anak mantan arsen
falea sezi
moga Rosa jdoh nya arsen ya
falea sezi
kok bs tinggal di rmh berdebu
nanuna26: kan arsen depresi dittinggal nikah mantannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!