NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 6 - NAMA YANG KELUAR TANPA IZIN

Kantin siang ini tidak seramai kemarin.

Mungkin karena jam istirahat dimulai sedikit lebih lambat, atau mungkin karena sebagian siswa memilih membeli makanan di luar area sekolah. Apa pun alasannya, Ara bersyukur. Ia sudah tidak punya energi untuk bertempur melalui kerumunan hari ini.

Mereka mendapat meja di dekat jendela. Cahaya siang masuk miring dari kaca, membuat satu sisi meja lebih terang dari sisi lainnya. Via duduk di bangku yang lebih gelap, Ara di sisi yang terang, dan keduanya makan dengan ritme yang sudah kembali ke normal. Obrolan kecil di sana-sini, Via mengomentari lauk yang terlalu asin, Ara menyarankan untuk tidak dihabiskan, Via tetap menghabiskan sambil terus mengeluh.

Persis seperti Via yang biasanya.

Ara menyendok nasinya, mengunyah pelan, dan membiarkan normalitas itu menyelimuti dirinya. Ini yang ia butuhkan setelah pagi yang terlalu berat. Tidak ada yang perlu dianalisis. Tidak ada yang perlu dijaga. Hanya makan siang bersama Via di kantin yang tidak terlalu ramai.

Sayangnya, semesta rupanya punya rencana lain.

"Permisi."

Ara mengangkat kepala.

Lina dan Diana berdiri di sisi meja mereka. Kali ini tanpa semangat yang tadi pagi membara, tanpa senyum yang terlalu manis, dan tanpa agenda yang terpancar terang-terangan dari wajah mereka. Keduanya berdiri dengan tangan digenggam di depan, postur yang lebih hati-hati dari biasanya.

Via berhenti mengunyah. Matanya langsung berubah waspada.

"Boleh duduk?" Lina bertanya, kali ini benar-benar bertanya, bukan sekadar menggeser kursi dan duduk tanpa menunggu jawaban.

Ara dan Via saling pandang sebentar. Satu detik komunikasi diam yang sudah mereka kuasai selama bertahun-tahun persahabatan.

Via mengangkat bahu tipis. Terserah kamu.

"Boleh," Ara menjawab.

Mereka duduk. Diana di sebelah Via, Lina di sebelah Ara, dan untuk beberapa detik pertama tidak ada yang berkata apa-apa. Suasana di meja itu menggantung canggung, seperti benang yang ditarik terlalu kencang dan belum putus tapi sudah hampir.

"Kami mau minta maaf," Lina membuka suara akhirnya. Pelan, tapi jelas. "Tadi pagi kami terlalu memaksa. Dan Diana bilang hal yang tidak perlu diucapkan."

Diana mengangguk sekali, singkat. "Maaf."

Ara menatap keduanya bergantian. Tidak ada alasan untuk tidak memaafkan, dan memang bukan sifat Ara menyimpan sesuatu terlalu lama. "Nggak apa-apa," ia menjawab. "Aku juga harusnya lebih tegas dari awal."

Via tidak berkata apa-apa. Ia kembali mengunyah makanannya dengan ekspresi yang menyampaikan bahwa ia menerima permintaan maaf itu tapi tidak harus memperlihatkan antusiasme apa pun untuk itu.

Lina tersenyum kecil, sedikit lega. Diana melirik Via sebentar lalu memutuskan untuk tidak memaksakan rekonsiliasi lebih jauh.

Hening sebentar. Hening yang lebih lega dari sebelumnya, tapi masih ada sesuatu yang menggantung di udara.

Diana adalah orang yang memecahnya.

"Jadi," ia berkata, suaranya lebih hati-hati dari tadi pagi, "sekarang gimana, Ara?"

Ara mengernyit. "Gimana apanya?"

"Soal kamu dan Mike." Diana meletakkan sikunya di meja, condong sedikit ke depan. "Kita udah tau kamu dan Mike nggak ada apa-apa. Tapi kita juga udah denger tadi soal Via yang..."

"Diana." Lina menyenggol lengannya.

"Aku cuma nanya." Diana tidak bergeming. Matanya ke Ara. "Maksud aku, kalau Via juga suka Mike, dan kamu juga suka Mike, itu kan jadi rumit. Kamu mau gimana?"

Ara membuka mulutnya.

Lalu menutupnya.

Karena pertanyaan itu persis seperti yang sudah berputar di kepalanya sendiri sejak tadi, dan ia masih belum punya jawabannya.

Ia melirik Via.

Via sedang memandangi meja dengan ekspresi datar, sendoknya berputar pelan di mangkuk sup, tidak makan, hanya berputar. Satu tanda kecil bahwa di balik sikap tenangnya, ada sesuatu yang sedang diproses juga.

Ara menarik napas.

"Via," ia berkata pelan.

Via mengangkat kepala. Matanya bertanya.

"Kamu nggak harus—" Ara memulai.

"Aku dukung kamu." Via memotongnya sebelum Ara selesai. Suaranya datar, tapi matanya tidak. "Kalau kamu suka Mike, kejar. Aku nggak akan jadi penghalang."

Hening.

Diana dan Lina diam, menunggu.

Ara menatap Via. "Via, kamu nggak perlu—"

"Ara." Via meletakkan sendoknya. "Jangan kasihani aku."

"Aku nggak—"

"Kamu mau bilang nggak usah, kamu yang mundur, biar aku yang coba duluan." Via menatapnya langsung, tajam tapi bukan marah. "Aku kenal kamu. Dan aku benci kalau kamu ngalah buat aku. Itu bukan persahabatan, itu kasihan. Dan aku nggak mau dikasihani."

Ara terdiam.

Via benar. Itu persis yang ingin ia katakan.

Dan Via tahu itu bahkan sebelum Ara selesai bicara, karena memang begitulah Via selalu bekerja. Membaca orang lebih cepat dari orang itu membaca dirinya sendiri.

"Jadi," Via melanjutkan, suaranya sedikit melunak tapi masih tegak, "kalau kamu suka Mike, bilang. Kalau nggak, juga bilang. Tapi jangan ngalah buat aku. Itu yang paling aku nggak suka."

Ara menatap sahabatnya itu lama.

Lalu sesuatu di dalam dirinya bergerak.

Bukan keputusan yang sudah dipikirkan matang. Bukan jawaban yang sudah ia susun dari tadi. Lebih seperti sesuatu yang tiba-tiba muncul ke permukaan karena terlalu lama ditahan di bawah.

"Aku..." Ara membuka mulutnya perlahan. "Aku nggak suka Mike."

Via mengernyit. "Hah?"

"Maksudnya..." Ara memilih kata-katanya dengan hati-hati, tapi kepalanya sedang tidak bekerja dengan hati-hati. "Bukan Mike yang aku suka."

Diana menyandarkan punggungnya ke kursi, alis terangkat. "Lah, terus siapa?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Dan di situlah masalahnya.

Karena Ara sendiri tidak tahu jawabannya. Atau lebih tepatnya, ia tidak menyangka harus ada jawaban, ia pikir jawabannya adalah tidak ada siapa-siapa, bahwa ia hanya ingin mengalihkan Via dari rasa bersalah yang tidak perlu. Tapi begitu mulutnya terbuka untuk mengucapkan nama yang acak, nama yang pertama kali muncul di kepalanya, nama yang seharusnya bisa ia pilih dari siapa saja di sekolah ini.

Yang keluar adalah, "Gill"

Satu kata.

Empat huruf

Nama yang bahkan tidak ia rencanakan untuk disebut.

Via langsung menatapnya. "Siapa?"

"Gill." Ara mendengar suaranya sendiri mengulang nama itu dan merasa seperti orang yang baru saja melangkah tanpa melihat ke bawah dan sekarang sedang jatuh. "Gian William. Yang... yang di kantin kemarin."

Hening selama dua detik penuh.

Lalu dari belakang meja mereka, dari arah yang tidak satu pun dari mereka perhatikan karena terlalu fokus satu sama lain, terdengar suara tersedak yang keras diikuti oleh suara semburan yang tidak bisa disalahartikan.

Semua kepala di meja itu berbalik.

Dua bangku di belakang mereka, sedikit ke kanan, ada dua orang yang sedang makan. Yang satu berbadan besar dengan muka yang sekarang merah padam dan nasi yang entah bagaimana sudah tersebar di mana-mana termasuk di baju orang di sebelahnya.

Dan orang di sebelahnya itu, yang bajunya kini dihiasi nasi hasil semburan temannya, sedang menatap ke bawah ke arah seragamnya dengan ekspresi yang sangat, sangat familiar bagi Ara.

Rambut hitam.

Mata dingin.

Gian William.

Duduk dua bangku di belakang meja Ara, dengan nasi di bajunya untuk kedua kalinya dalam dua hari, dan kali ini bukan karena Ara yang menumpahkan.

Ara tidak bisa bergerak.

Gill mengangkat kepalanya. Matanya memindai meja Ara dengan ekspresi datar yang tidak berubah sedikit pun, lalu berhenti tepat saat bertemu dengan tatapan Ara yang sudah pasti memperlihatkan kepanikan yang tidak ia sembunyikan dengan baik.

Di sebelah Gill, temannya yang berbadan besar bernama Marco itu masih sedikit tersedak, menepuk-nepuk dadanya sendiri, sebelum tangannya bergerak pelan menunjuk ke arah meja Ara sambil berbisik sesuatu dengan gagap ke Gill.

Gill menatap Ara satu detik lagi.

Lalu matanya kembali ke bajunya yang penuh nasi.

Ara ingin meleleh ke bawah bangku dan tidak pernah muncul lagi.

"Ara," Via bersuara di sebelahnya, sangat pelan, antara menahan tawa dan sungguh-sungguh bingung. "Itu dia orangnya?"

Ara tidak menjawab.

Karena tidak ada jawaban yang akan memperbaiki situasi ini.

Tidak satu pun.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!