Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.
Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.
Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.
Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.
Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.
bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18. The Crazy Godness
Sebastian meraih gelas air di sampingnya, meneguk sedikit untuk membasahi tenggorokan sebelum melanjutkan.
“Ada pesta besar di kediaman Countess Marlene Ashworth. Hampir seluruh bangsawan tinggi dari ibu kota dan wilayah sekitarnya hadir malam itu—termasuk Duchess Valerine yang saat itu mewakili kediaman Silvaine.”
Arthur mengangguk pelan, mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Di tengah pesta, salah satu tamu—putra dari Count Roland Vesper, bernama Julian Vesper—menangkap seorang pelayan wanita yang sedang membawa baki anggur.”
Wajah Sebastian mengeras, jelas menunjukkan rasa muaknya.
“Julian, yang sudah mabuk, mulai melecehkan pelayan itu. Di hadapan banyak orang. Menyentuh secara tidak pantas, melontarkan kata-kata yang merendahkan.”
Arthur merasakan amarah mulai mendidih di dalam dirinya, tetapi ia tetap diam.
“Pelayan itu menangis dan memohon pertolongan. Namun tidak ada seorang pun yang bertindak. Karena Julian adalah anak seorang Count. Sementara pelayan itu… hanya seorang pelayan.”
Sebastian menatap Arthur sejenak sebelum melanjutkan.
“Lalu Julian mengatakan sesuatu. Semua saksi mengingat kalimat itu dengan jelas.”
Ia menarik napas.
“Dia berkata, ‘Wanita seperti kalian hanya berguna untuk satu hal. Jangan berpura-pura punya martabat.’”
Tangan Arthur mengepal di bawah meja. Rahangnya mengeras.
“Duchess Valerine, yang berdiri tidak jauh dari sana, meletakkan gelas anggurnya dengan sangat pelan. Kemudian ia berjalan mendekati Julian.”
Sebastian berhenti sejenak, seolah membayangkan kembali suasana malam itu.
“Awalnya tidak ada yang menyadari. Ia berjalan dengan tenang.”
“Lalu apa yang terjadi?” tanya Arthur rendah, meski ia sudah dapat menebaknya.
“Duchess berhenti tepat di depan Julian dan menatapnya lurus.”
Suara Sebastian ikut merendah, menirukan nada yang ia dengar dari para saksi.
“Dengan suara yang sangat dingin, ia berkata, ‘Ulangi apa yang baru saja kau katakan.’”
Arthur merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Julian, yang arogan dan sedang dalam kondisi mabuk itu malah tertawa. Ia mengulanginya—bahkan dengan kata-kata yang lebih kasar. Mengatakan semua wanita sama saja, bahwa mereka harus tahu tempatnya, bahwa—”
“Duchess tidak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya.”
Sebastian menggeleng pelan.
“Ia mengangkat satu tangan.”
Sebastian memperagakan dengan tangannya—telapak terangkat, jari-jari perlahan mengepal.
“Kristalisasi Es Absolut.”
Arthur merasakan hawa dingin seolah benar-benar menjalar di ruangan itu.
“Julian Vesper membeku. Secara harfiah. Dari kaki hingga leher—seluruh tubuhnya terlapisi es setebal hampir delapan sentimeter. Ia sama sekali tidak bisa bergerak maupun berbicara."
Sebastian menarik napas dalam sebelum melanjutkan.
“Kemudian Duchess menarik kursi terdekat. Ia duduk tepat di depan Julian yang membeku. Menyilangkan kaki, posturnya tetap anggun—seolah ia sedang menikmati jam minum teh sore.”
Arthur hampir tidak bisa memercayai apa yang ia dengar.
“Lalu apa yang dia katakan?”
Sebastian mengangguk pelan, lalu meniru gaya bicara Valerine.
“‘Kau bilang wanita tidak punya martabat? Sudut pandang yang menarik. Mari kita telaah itu.’”
Sebastian melanjutkan dengan suara yang lebih dingin.
“‘Ibumu adalah seorang wanita. Apakah dia tidak memiliki martabat? Lalu, apakah seluruh pencapaian kediaman Vesper yang berasal dari aliansi pernikahan dengan keluarga ibumu— itu juga tidak berarti apa-apa? Kekaisaran ini memiliki tiga panglima dan satu jenderal wanita yang berjasa besar. Pemimpin Menara Penyihir selama tujuh ratus tahun terakhir pun hanya di pimpin oleh seorang wanita, dan mereka menyelamatkan kekaisaran dari berbagai bencana, termasuk wabah. Menurutmu, apakah mereka juga tidak memiliki martabat?’”
Sebastian berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“‘Atau mungkin kau hanya bodoh? Terlalu dimanja oleh hak istimewa hingga mengira bisa memperlakukan manusia lain seperti benda?’”
Arthur menatapnya dengan mata membesar.
“Dia mengatakan semua itu di depan semua orang di pesta?”
Sebastian mengangguk.
“Seluruh ballroom terdiam. Tidak ada satu pun yang berani menyela.”
“Lalu Count Roland, datang dengan marah. Ia menuntut Duchess segera melepaskan putranya.”
Ekspresi Sebastian berubah, seolah mengingat momen itu dengan kepuasan tersembunyi.
“Duchess menatap Count Roland dengan ekspresi paling dingin yang pernah disaksikan para tamu. Ia berdiri, dengan sangat tenang, lalu menjelaskan kronologi kejadian secara detail dan objektif.”
“Apa yang julian lakukan pada pelayan. Apa yang ia katakan.”
“Lalu ia menutup penjelasannya dengan kalimat yang semua saksi masih ingat hingga sekarang.”
Sebastian meluruskan punggungnya, meniru postur anggun Valerine.
“‘Jadi, Count Roland, jika Anda masih ingin berbicara omong kosong setelah mendengar kronologi ini, biarkan saya membekukan Anda agar Anda dapat menemani putra Anda di sini sambil mengajarinya etika dan tata krama.’”
Ruangan terasa sunyi sesaat.
Arthur menatap Sebastian dengan mulut sedikit terbuka.
“Dia… mengancam membekukan seorang Count? Di acara publik?”
“Ya.”
“Dan?”
“Count Roland tidak bisa berkata apa-apa.” Sebastian tersenyum lebar. “Semua orang mendengar kronologinya. Semua orang melihat apa yang Edmund lakukan. Jika Count membela putranya, itu sama saja mengakui bahwa ia membenarkan tindakan yang dilakukan putranya itu.”
“Jadi ia hanya berdiri diam di sana. Wajahnya merah karena marah dan malu. Tetapi tidak mampu melakukan apa pun.”
Arthur akhirnya tertawa—tawa yang tidak bisa ia tahan lagi.
“Berapa lama dia membekukan Julian?”
“Tiga jam,” jawab Sebastian santai. “Duchess kembali menikmati pesta. Minum anggur, berbincang dengan tamu lain, seolah tidak terjadi apa-apa. Julian tetap membeku di tengah ballroom sebagai… pengingat.”
Arthur menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Ya Tuhan…”
“Setelah tiga jam, Duchess kembali,” lanjut Sebastian. “Ia melepaskan pembekuan itu hanya dengan satu kibasan jari, lalu berkata—”
Ia kembali menirukan nada dingin Valerine.
“‘Semoga kau punya waktu untuk merenung. Jika aku mendengar kau mengulangi perilaku ini, lain kali aku tidak akan mencairkanmu.’”
Sebastian menggeleng pelan, ada nada kagum dalam suaranya.
“Sejak saat itu, Julian Vesper dikenal sebagai salah satu bangsawan paling sopan di ibu kota. Trauma dari insiden tersebut… sangat efektif.”
Arthur tertawa lagi, kali ini lebih keras. Itu mungkin cerita paling memuaskan yang pernah ia dengar tentang pendidikan moral seorang bangsawan.
“Dan insiden kedua?” tanyanya, masih dengan senyum tersisa di wajahnya.
“Ah.”
Ekspresi Sebastian berubah serius.
“Itu yang lebih… ekstrem.”
“Lebih ekstrem daripada membekukan putra seorang Count di acara publik?”
“Ya, Yang Mulia.”
Sebastian menarik napas dalam sebelum melanjutkan.
“Sebulan sebelum pernikahan Anda dengan Duchess—sekitar tiga tahun lalu—Duchess memiliki pelayan pribadi bernama Maya. Gadis muda, yatim piatu, yang direkrut dan dilatih langsung oleh Duchess.”
Arthur mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Suatu hari, Duchess dan Maya menghadiri pertemuan diplomatik di kediaman Marquis Jack Ashfield.”
“Marquis Jack… itu—”
“Seorang penguasa perdagangan,” jelas Sebastian. “Yang sangat kaya dan berpengaruh, sehingga merasa dirinya kebal terhadap konsekuensi. Yang mulia mungkin tidak mengingat orang ini, karena anda hanya terus berada di perbatasan Utara saat itu.”
Nada suaranya mengandung rasa muak.
“Hamba lanjutkan... saat Duchess tengah berbicara dengan Lady Ashfield, Marquis Jack memojokkan Anna di sebuah koridor. Ia mencoba melakukan tindakan tidak senonoh.”
Rahang Arthur mengeras. Aura di sekelilingnya terasa menegang, meski ia tetap duduk diam.
“Maya berhasil melarikan diri dan segera melaporkan kejadian itu pada Duchess. Ia menangis dan sangat terguncang.”
“Duchess mendengarkan dengan sangat tenang. Ia hanya mengangguk, berterima kasih pada Lady Ashfield atas pertemuan hari itu, lalu meninggalkan kediaman bersama Anna.”
Sebastian menatap Arthur dalam-dalam.
“Semua orang mengira itu selesai. Mereka menganggap duchess terlalu diplomatis untuk membuat keributan.”
Arthur menyipitkan mata.
“Tapi?”
Sebastian menjawab dengan suara rendah.
“Malam itu—malam yang sama—sayap utama kediaman Marquis Jack terbakar.”
Arthur terdiam.
“Bukan kebakaran kecil. Melainkan seluruh bagian yang mencakup ruang kerja pribadi dan kamar Marquis dilalap api berwarna biru yang tidak dapat dipadamkan dengan air biasa.”
Sebastian mengetuk meja pelan.
“Seperti yang kita semua ketahui, bahwa seorang penyihir es tingkat tinggi mampu memanipulasi suhu secara ekstrem. Termasuk menciptakan panas yang tak wajar.”.
“Banyak orang langsung mencurigai Duchess sebagai pelakunya karena warna api itu,” lanjut Sebastian. “Api biru bukan sesuatu yang umum. Semua orang tahu siapa penyihir es terkuat di wilayah ini.”
“Banyak yang mengira kasus itu akan ditutup rapat. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Duchess sendiri mendatangi Marquis Jack secara langsung keesokan harinya.”
Arthur mengangkat alis.
“Dan mengatakan sesuatu yang membuat Marquis terdiam. Berdasarkan informasi yang saya dengar, Duchess berkata—”
Sebastian menirukan nada tenang dan tajam:
“‘Saya mendengar kediaman Anda mengalami kebakaran yang sangat… tidak beruntung. Saya harap itu memberi Anda cukup waktu untuk merenungkan batasan. Saya datang kesini untuk memastikan Anda memahami satu hal. Orang yang berada di bawah perlindungan saya bukanlah barang yang dapat Anda sentuh sesuka hati. Jika Anda lupa batasan Anda sekali lagi, saya tidak akan membakar istana anda. Saya akan membekukan darah di tubuh Anda dan memastikan Anda tetap sadar cukup lama untuk menyesali setiap keputusan yang Anda buat.’”
Arthur merasakan sensasi aneh—campuran antara ngeri dan… hormat.
“Reaksi Marquis?” tanyanya.
“Bukannya meminta maaf, ia justru mencoba menghadapi Duchess."
Arthur mendesah pelan.
“Kerugiannya?”
“Tiga juta koin emas untuk membangun kembali. Semua dokumen pentingnya—kontrak dagang, perjanjian, catatan keuangan—lenyap. Operasi bisnisnya mundur hampir satu tahun.”
Sebastian tersenyum tipis.
“Marquis mencoba melapor ke otoritas untuk menuntut keadilan. Namun Duchess hanya menyatakan alibi ‘Kediaman Anda terbakar dan itu adalah kecelakaan yang kapan pun bisa terjadi. Dan saya hanyalah orang yang kebetulan lewat untuk memastikan tidak ada yang terluka.’”
“Tidak ada bukti dan saksi. Jadi tidak ada yang bisa membuktikan keterlibatannya—meskipun semua orang tahu.”
Arthur menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Dan Duke Silvaine?”
“Duke Silvaine tidak melakukan apapun.”
“Kenapa?”
“Karena ketika Duke Silvaine menanyainya, Duchess menjelaskan apa yang Marquis lakukan pada Maya secara rinci. Lalu ia menatap ayahnya dan berkata—”
Sebastian mengutip dengan nada mantap:
“‘Jika Ayah menganggap saya salah karena melindungi orang yang setia pada saya, mungkin saya perlu mempertanyakan kembali ajaran tentang kehormatan dan loyalitas yang Ayah tanamkan.’”
Sebastian menggeleng pelan.
“Duke Silvaine, seorang pria militer yang keras, hanya bisa terdiam. Karena bahkan beliau tidak bisa membantah logika itu.”
Arthur duduk terdiam, mencerna semuanya.
“Dia bukan hanya kuat,” katanya pelan. “Dia… benar-benar menakutkan ketika marah.”
“Ya,” jawab Sebastian singkat. “Itulah sebabnya julukan ‘The Crazy Goddess’ melekat. Ia secantik dewi, tetapi jika seseorang melukai dirinya atau orang yang ia lindungi… ia akan menghancurkan tanpa ampun.”
Arthur menatap kembali dokumen Valerine. Perspektifnya berubah sepenuhnya.
Ada sesuatu yang hangat muncul di dadanya. Ia tidak yakin apakah ingin tertawa karena absurditas cerita-cerita itu… atau tenggelam lebih dalam pada perasaan kagum yang tak bisa ia hindari.
“Sebastian,” ucapnya pelan.
“Ya, Yang Mulia?”
“Ingatkan aku untuk jangan pernah membuat Valerine marah.”
Sebastian tertawa ringan.
“Dengan segala hormat, Yang Mulia, saya rasa itu sudah terlambat. Selama tiga tahun terakhir, Anda cukup sering melakukannya.”
Arthur meringis.
“Kau benar.”
“Namun,” lanjut Sebastian lebih serius, “fakta bahwa Duchess tidak membekukan Anda atau membakar sayap kastil Anda selama tiga tahun ini… mungkin menunjukkan bahwa ia memiliki lebih banyak kesabaran dan pengendalian diri daripada yang terlihat.”
Mereka terdiam sesaat.
Arthur tertawa lagi, kali ini lebih lembut.
“Duchess Valerine adalah wanita yang luar biasa, Yang Mulia,” kata Sebastian. “Anda sendiri sering mengatakan bahwa Anda menyukai sikapnya yang dingin dan keras kepala.”
Arthur mengernyit.
“Aku pernah mengatakan itu?”
“Sering.”
Arthur mengedikkan bahu kecil. Karena dia tidak pernah mengatakan itu, sudah pasti yang mengatakan itu adalah Arthur yang lama. Ia kembali menatap nama di dokumen itu.
“Ya. Dia memang begitu.”
Dalam benaknya, gambaran Valerine berubah. Bukan sekadar ratu es yang cantik dan jauh. Melainkan pelindung yang ganas—yang akan menghancurkan siapa pun yang berani menyakiti orang-orang yang ia pedulikan.
Arthur menatap keluar jendela, ke arah sayap kastil tempat Perpustakaan Utara berada.
Mengapa semakin aku mengenalmu, semakin aku ingin tahu lebih banyak tentangmu?
Ia menggeleng pelan dan kembali ke tumpukan dokumen. Masih banyak pekerjaan menunggu.
Namun di sudut pikirannya, bayangan Valerine tidak menghilang.
The Crazy Goddess.
Dan entah mengapa, julukan itu membuatnya tersenyum.
🤭🤭