Di hari pernikahannya, Vaelora Morwene ditinggalkan Elvino Morrix tanpa penjelasan. Hancur, malu, dan dipermalukan, ia membuat keputusan nekat—menikah dengan Devon Ashakar, mantan kekasihnya… yang ternyata adalah abang angkat Elvino.
Namun Devon bukan lagi pria yang dulu. Sebuah kecelakaan membuatnya hidup dalam tubuh pria dewasa dengan jiwa anak kecil. Tanpa Vaelora sadari, pernikahan ini justru menyeretnya ke dalam keluarga penuh rahasia dan perjanjian gelap.
Apakah Vaelora akan menemukan cinta… atau justru neraka?
Bisakah Devon sembuh?
Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan keluarga Morrix?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.Ciuman Palsu
Di atas tempat tidur, Lora dan Devon duduk saling berhadapan. Jarak di antara mereka hanya sejengkal, cukup untuk membuat napas keduanya saling bersentuhan. Devon menatapnya tanpa berkedip, mata beningnya penuh harap, seperti anak kecil yang menunggu hadiah yang sudah dijanjikan.
Lora menelan ludahnya.
Bagaimana ini? Apa aku turuti saja keinginannya? Lagi pula itu hanya sebuah ciuman. Dulu sebelum dia seperti ini aku juga sering menciumnya. Harusnya tidak apa-apa sekarang. Tapi kenapa aku jadi secemas ini? batin Lora masih bergelut dengan pikirannya sendiri.
Wajahnya perlahan mendekat ke arah wajah Devon. Ia bisa merasakan hangat napas lelaki itu di pipinya. Namun detik berikutnya, ia kembali menarik dirinya menjauh.
Tapi sekarang dia mengira dirinya adalah seorang anak kecil. Bagaimana jika nanti dia melakukannya kepada anak-anak kecil lainnya? Bukankah itu sangat berbahaya? batinnya lagi, sekali lagi mengurungkan niatnya.
Matanya berkeliaran ke sana sini, mencoba mencari akal, mencoba menemukan celah untuk melindungi dirinya sendiri dari gejolak yang mulai tak terkendali.
Lagipula, meskipun dia sudah menjadi suamiku sekarang, bukan berarti sakit hati dan trauma masa laluku karena dia bisa hilang begitu saja. Mau bagaimanapun, kamu juga termasuk dalam bagian dendamku, Devon, batinnya lagi, kali ini lebih tegas, seolah sedang menampar kesadarannya sendiri.
Saat matanya terus mencari pelarian, Lora tidak sengaja menangkap sebuah mainan yang berserakan di lantai. Bentuknya persis seperti bibir.
Ide itu datang begitu saja.
Dengan cepat, dari atas kasur, Lora meraih mainan itu dan menyembunyikannya di balik bajunya sebelum Devon sempat menyadari gerakannya.
“Queen, ayo lakukan. Bukankah Queen sudah berjanji?” ucap Devon mendesak, nada suaranya penuh harap.
Sebelum melancarkan rencananya, Lora mendekat dan menggenggam tangan Devon erat. Sentuhan itu membuat jantungnya sendiri berdebar tak karuan.
“Berjanjilah dengan Queen, ciuman ini hanya boleh dilakukan kepada Queen. Tidak boleh dengan siapa pun. Apa Epon mengerti?” ucap Lora memberikan pemahaman, suaranya lembut namun serius.
“Tentu saja Epon mengerti, Queen, karena hanya Queen satu-satunya orang yang Epon sayang,” ucap Devon dengan semangat polosnya.
Jawaban itu membuat dada Lora menghangat—dan sekaligus terasa perih.
“Baiklah, kalau begitu pejamkan mata, Epon,” perintah Lora.
“Kenapa harus dipejamkan?” tanya lelaki itu polos.
“Karena Queen malu jika harus melakukannya langsung dengan mata terbuka,” jelas Lora, berusaha terdengar tenang.
Devon mengangguk patuh. “Baiklah, Epon paham.”
Ia segera memejamkan matanya rapat-rapat. Lora tersenyum tipis, lalu perlahan mengeluarkan mainan berbentuk bibir itu dari balik bajunya. Teksturnya yang lembut membuatnya terasa hampir seperti bibir sungguhan.
Lora mendekat.
Ciuman? Bermimpilah dulu, Devon. Aku tidak berniat menyerahkan kembali bibirku lagi kepadamu, meskipun kondisimu seperti ini sekarang, batinnya dingin.
Ia menempelkan mainan itu ke bibir Devon. Lembut, sebentar, secukupnya. Begitu dirasa cukup, Lora segera melepaskannya dan kembali menyembunyikan mainan itu di balik pakaiannya.
Devon membuka matanya perlahan.
“Hanya seperti itu, Queen?” tanya lelaki itu polos.
“Ya, hanya seperti itu,” jawab Lora sambil tersenyum menatapnya, berusaha terlihat biasa saja.
“Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Vely dan Vino saat di altar,” jelas Devon lugu.
Lora gelagapan. “Itu versi mereka. Kenapa harus menirunya? Sudah, ayo cepat tidur. Devon sudah berjanji juga, kan, jika setelah ini akan tidur,” ucap Lora, lalu seketika langsung berbaring membelakanginya.
“Hm… baiklah. Lain kali Epon ingin melakukannya bersama Queen dengan mata terbuka,” ucap Devon.
Seketika ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan memeluk Lora dari belakang. Tubuh kecil Lora langsung terperangkap dalam dekapan lengan besar itu.
“Bolehkan, Queen?” tanyanya dengan mata berbinar.
Lora menelan salivanya ketika merasakan seluruh tubuhnya berada dalam pelukan Devon. Dada lelaki itu menempel erat di punggungnya, napas hangatnya menyentuh tengkuknya. Jantung Lora bergetar hebat oleh kedekatan itu.
“Hm…” ucapnya lirih, tak mampu menahan gejolak dalam dirinya. Wajahnya memerah tanpa bisa dicegah.
“Epon ingin tidur seperti ini bersama Queen setiap hari,” jelas Devon, memejamkan matanya sembari meletakkan dagunya di pucuk kepala Lora.
“Tapi posisi seperti ini tidak akan nyaman untuk Devon,” ucap Lora mencoba mengatur napasnya yang semakin tak beraturan karena rasa degup yang membuncah.
“Tidak. Epon nyaman seperti ini,” ucap Devon, semakin mendekatkan tubuh Lora hingga tubuh mereka benar-benar tanpa jarak.
“Epon begitu sayang dengan Queen. Terima kasih sudah mau menemani Epon, Queen,” ucapnya pelan sebelum akhirnya napasnya berubah teratur—ia benar-benar terlelap.
Lora terdiam.
Kata-kata lelaki itu, sesederhana dan sepolos itu, justru menjadi pisau yang mengiris pertahanannya. Ada kelembutan yang tak bisa ia tolak, ada rasa hangat yang nyaris meruntuhkan dinding dendam yang ia bangun dengan susah payah.
"Sadarlah, Lora. Dia juga dendammu. Cukup akhiri kebodohanmu. Jangan sampai kamu ditinggalkan dua kali olehnya," batin Lora menguatkan dirinya sendiri.
Perlahan, dengan hati-hati agar tidak membangunkannya, Lora melepaskan pelukan Devon dari tubuhnya.
_____
Pagi harinya…
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, termasuk Vely yang duduk dengan sikap anggun seolah tak terjadi apa-apa semalam. Suasana tampak tenang di permukaan, tetapi udara di ruangan itu terasa berat—seperti ada bara yang disembunyikan di bawah abu.
Lora dan Devon melangkah menuju meja makan. Namun, begitu sampai di sana, Devon tidak duduk di kursi kosong yang tersisa. Ia justru bersimpuh di lantai, di depan sebuah meja kecil rendah yang diletakkan terpisah dari meja utama. Di atasnya tersaji makanan yang jauh berbeda dari hidangan mewah di meja besar—nasi putih sisa kemarin yang sudah agak berbau, dengan lauk seadanya. Pemandangan itu lebih mirip seperti seseorang sedang memberi makan kucing jalanan yang dianggap tak berguna.
Lora terdiam sepersekian detik. Dadanya terasa sesak.
“Devon, apa yang kamu lakukan di sana? Harusnya kamu duduk di meja makan, bukan di sana?” ucap Lora memerintah. Suaranya tegas, namun terselip getar marah yang tertahan.
Devon tampak ragu. Tubuhnya sedikit gemetar ketika matanya tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Donni yang tajam—tatapan yang seolah ingin menelannya hidup-hidup.
“Tidak usah memerintahnya. Tempatnya memang di sana, bahkan sebelum kamu datang ke sini,” ucap Donni menyauti dengan santai, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Lora menoleh perlahan ke arahnya. Ia mengambil piring makanan Devon dan mengangkatnya tepat di depan wajah Donni.
“Apa ini pantas untuk disebut sebagai makanan?” ucap Lora, memperlihatkannya dengan jelas.
Donni terkekeh pelan. “Kamu tidak lihat? Itu memang makanan. Makanan yang sangat cocok untuk orang yang otaknya bermasalah seperti dia,” ucap Donni, melirik ke arah Devon yang ketakutan dan masih duduk bersimpuh di lantai.
“Lagipula kenapa kamu mempermasalahkannya? Dia memakan makanan ini setiap hari, pagi, siang, dan juga malam. Bahkan dia sendiri pun tidak mempermasalahkannya. "Donni menatap tajam ke arah Lora ."Lora, kamu baru sehari menjadi istri Devon. Jangan berlagak seolah kamu tahu seluruh kesukaannya.”
Ia kembali menyendok makanannya dengan santai, seakan sedang membicarakan hal remeh.
“Orang idiot seperti dia mana mungkin tahu makanan basi atau tidak? Ia hanya memakan makanan yang tersaji di depannya. Dengan sedikit gertakan dan pukulan cukup untuk membuatnya menurut.”
Kata-kata itu seperti tamparan keras.
“Jadi ....kalian semua memperlakukannya seperti hewan selama ini?” ucap Lora meninggikan nada suaranya di hadapan semua orang di sana.
.
.
.
💐💐💐Bersambung…💐💐💐
Santai banget bilang gitu si Donni emang di kira yang punya lidah dia doang kali ya ,Parasit emang selalu nggak tau diri gini ya.😤
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semua ya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat berarti untukku❤