NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Ruangan itu terasa lebih sempit sekarang.

Bukan karena ukurannya berubah, tetapi karena udara di dalamnya terasasa sesak oleh keputusan yang belum sepenuhnya diucapkan.

Panel kaca di belakang Orion masih menampilkan simulasi masa depan yang bergerak perlahan — grafik naik, garis konflik memuncak, kota-kota berubah warna menjadi merah peringatan.

“Probabilitas tidak pernah berbohong,” kata Orion dengan suara yang tetap stabil. “Kalian hanya tidak menyukai hasilnya.”

Damian tidak memalingkan pandangan dari layar.

“Probabilitas membaca pola lama,” katanya tenang. “Pilihan menciptakan pola baru.”

Lyra memperhatikan inti energi di tengah lantai yang mulai menyala lebih terang. Garis cahaya tipis membentuk lingkaran di bawah kursi logam itu, seperti sesuatu yang sedang membangun dirinya sendiri.

Raven bersuara melalui earpiece mereka, nadanya sedikit lebih tegang dari biasanya.

“Reaktor pusat aktif penuh. Jika mencapai kapasitas maksimal, seluruh struktur akan terkunci dan memulai protokol isolasi.”

“Isolasi?” ulang Kael pelan.

“Bangunan ini akan mengunci diri sepenuhnya. Siapa pun di dalamnya akan terjebak.”

Aidan menggerakkan rahangnya tipis.

“Dia tidak ingin kita menyerangnya,” katanya. “Dia ingin kita memilih untuk tinggal.”

Orion mendengar itu dan tersenyum samar.

“Aku hanya memberi kalian kesempatan melihat apa yang akan terjadi jika kalian menghancurkan fondasi yang menjaga keseimbangan.”

Lyra melangkah lebih dekat ke lingkaran cahaya.

“Dan kau pikir mengunci diri di bangunan tua sambil memutar simulasi akan membuat kami setuju?”

Orion menatapnya dengan lebih dalam sekarang.

“Kau berbeda dari mereka,” katanya pelan. “Kau tidak dibentuk untuk stabilitas. Kau dibentuk oleh kekacauan. Sistem bisa memberimu arah.”

Lyra merasakan kalimat itu mencoba masuk, mencoba mencari celah.

Ia menggeleng pelan.

“Arah yang dipaksakan bukan arah. Itu kandang yang diberi peta.”

Lampu inti berdenyut lebih cepat.

Raven berbicara lagi, kali ini lebih tajam.

“Jika ingin menonaktifkan pusatnya, akses manual ada di bawah kursi itu. Tapi energinya tidak stabil. Siapa pun yang masuk harus menahan lonjakan langsung.”

Semua mata otomatis menuju Damian.

Ia yang paling memahami arsitektur lama sistem ini. Ia yang tahu cara kerjanya.

Damian tidak bergerak.

Lyra menyadari itu lebih dulu.

“Kau tidak akan masuk sendirian,” katanya pelan.

Damian menatapnya.

“Ini bukan soal heroik.”

“Bagus,” balas Lyra cepat. “Karena aku tidak tertarik pada pengorbanan dramatis.”

Orion memiringkan kepala, mengamati mereka dengan ketenangan yang mulai retak tipis di tepinya.

“Kalian tidak mengerti,” katanya, kali ini sedikit lebih keras. “Inti itu bukan sekadar sumber energi. Itu prototipe sistem sinkronisasi perilaku. Jika aktif penuh, ia akan mengirim sinyal korektif ke jaringan yang sudah tertanam.”

Lucian membeku di belakang.

“Korektif… maksudnya apa?”

Orion menatap lurus ke arah Damian.

“Menghapus deviasi.”

Hening jatuh seperti sesuatu yang berat.

Lyra mengerti lebih cepat dari yang lain.

“Deviasi seperti… pilihan pribadi,” katanya pelan.

Orion tidak menjawab.

Itu sudah cukup.

Kael bergerak, tapi Aidan menahannya dengan tangan di lengan.

“Jika kita serang sekarang, dia bisa mengaktifkan protokol penuh,” gumam Aidan.

Damian akhirnya melangkah ke depan, tepat di batas lingkaran cahaya.

“Kau selalu berpikir manusia harus disesuaikan agar dunia stabil,” katanya pada Orion. “Padahal dunia selalu stabil karena manusia belajar dari kekacauan.”

Orion menggeleng.

“Belajar terlalu lambat.”

“Dan sistemmu terlalu cepat menghakimi,” balas Lyra.

Lampu inti menyala semakin terang.

Raven bersuara cepat.

“Kapasitas sembilan puluh persen. Kita kehabisan waktu.”

Damian menoleh ke Lyra.

Tatapan itu tidak panjang. Tidak dramatis.

Hanya jelas.

“Kita lakukan bersama,” katanya.

Lyra mengangguk tanpa ragu.

Mereka melangkah masuk ke lingkaran cahaya.

Begitu kaki mereka melewati batas, lantai bergetar halus. Arus listrik tipis terasa seperti udara yang dipenuhi statis.

Lucian berseru dari belakang,

“Sensor membaca lonjakan! Kalian harus menyentuh panel manual di bawah kursi itu bersamaan!”

Orion melangkah maju setengah langkah.

“Kalian tidak tahu apa yang akan kalian hentikan.”

Damian berlutut di sisi kiri kursi. Lyra di sisi kanan. Panel kecil terbuka di bawah dudukan logam, menampilkan dua titik sentuh konduktif.

Arus listrik berkilat tipis di antaranya.

“Pada hitungan tiga,” kata Damian, suaranya rendah namun stabil.

Lyra menatap panel itu.

“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “jangan lepaskan sebelum sistemnya mati.”

Damian menoleh sedikit.

“Kau keras kepala.”

Lyra tersenyum tipis meski situasinya tidak memberi ruang untuk itu.

“Kau juga.”

“Sekarang,” katanya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Mereka menyentuh panel itu bersamaan.

Lonjakan energi menghantam seperti gelombang tak terlihat. Cahaya putih meledak dari inti, membuat semua orang di ruangan itu terpaksa menutup mata.

Lyra merasakan panas menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh. Bukan terbakar — lebih seperti setiap saraf dinyalakan bersamaan.

Damian menahan rahangnya, otot lengannya menegang.

“Jangan lepaskan!” teriak Lucian.

Panel bergetar keras. Sistem mencoba mempertahankan dirinya.

Di sisi lain ruangan, Orion akhirnya kehilangan ketenangannya.

“Kalian tidak mengerti apa yang kalian hancurkan!” suaranya pecah untuk pertama kalinya.

Lyra menggertakkan gigi.

“Aku tidak ingin dunia yang diselamatkan dengan cara menghapus manusia di dalamnya!”

Energi melonjak sekali lagi.

Kemudian—

Gelap.

Semua lampu mati.

Dengungan rendah yang memenuhi bangunan sejak mereka masuk perlahan meredup hingga benar-benar hilang.

Hening.

Lyra terjatuh ke belakang, napasnya tersengal. Tangannya masih terasa kesemutan.

Damian terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bergerak, memastikan ia masih sadar sepenuhnya.

“Lyra,” panggilnya pelan.

“Aku di sini,” jawabnya, suaranya serak tapi hidup.

Lampu darurat menyala redup.

Raven terdengar di earpiece, kali ini dengan nada lega yang jarang terdengar darinya.

“Inti nonaktif. Jaringan sinkronisasi terputus.”

Kael menghembuskan napas panjang.

Aidan memandang Orion.

Orion berdiri diam, wajahnya tidak lagi tenang. Bukan marah sepenuhnya. Bukan hancur.

Lebih seperti seseorang yang baru menyadari teorinya tidak kebal.

“Kalian memilih kekacauan,” katanya pelan.

Damian berdiri perlahan, membantu Lyra bangkit tanpa banyak kata.

“Kami memilih manusia,” jawabnya.

Orion menatap Lyra.

“Kau tidak tahu apa konsekuensinya.”

Lyra menatap balik tanpa goyah.

“Mungkin tidak. Tapi setidaknya itu konsekuensi yang kami hadapi sendiri.”

Untuk pertama kalinya, Orion tidak punya balasan cepat.

Bangunan itu sunyi sekarang. Tanpa inti yang berdenyut. Tanpa sistem yang mengawasi.

Hanya manusia yang berdiri dengan napas masih berat dan tangan sedikit gemetar karena pilihan yang baru saja dibuat.

Damian menoleh pada timnya.

“Kita pergi.”

Tidak ada sorakan kemenangan. Tidak ada rasa euforia.

Hanya kesadaran bahwa sesuatu yang besar baru saja dihentikan.

Saat mereka berjalan keluar dari bangunan itu, matahari mulai naik di balik perbukitan. Cahaya pagi menyentuh beton kelabu dan membuatnya terlihat tidak terlalu dingin.

Lyra berjalan di samping Damian, langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.

“Kau baik?” tanya Damian pelan.

Lyra mengangguk.

“Aku cuma… merasakan betapa mudahnya sistem itu hampir aktif.”

Damian menatap horizon.

“Dan betapa mudahnya kita hampir kehilangan pilihan.”

Lyra meliriknya.

“Tapi kita tidak kehilangan.”

Damian mengangguk tipis.

“Tidak.”

Di belakang mereka, Orion tetap berdiri di dalam bangunan yang kini kosong dari dengungan mesin.

Teorinya retak.

Bukan hancur sepenuhnya.

Tapi cukup untuk membuatnya ragu.

Dan di dunia yang selalu ia coba kendalikan dengan angka dan struktur, keraguan mungkin adalah awal dari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa prediksi.

---

1
Cicih Sophiana
Lyra👍👍👍
Cicih Sophiana
Lara dan Damian seperti nya nanti berjodoh
Cicih Sophiana
apa Damian mafia?
Cicih Sophiana
cerita nya seru...cewek yg keren
Cicih Sophiana
Lyra cewek keren...👍
Cicih Sophiana
hadir ach thor...
seperti seru nih...
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
cape aku thor.. kayak aku yang berlari, sembunyi .. hampir kehilangan nyawa😭 kapan giliran dia yang dburu🤣🤣
adisty aulia
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
jebakan demi jebakan kapan mereka yang di depan
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
deg² an thorr
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
keren cerita nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!