NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam belum benar-benar larut, tapi pusat kendali sudah bekerja seperti jantung yang dipaksa berdetak lebih cepat.

Layar-layar besar menampilkan aliran data yang terus bergerak. Garis keuangan. Jalur komunikasi. Pola transaksi yang saling bertaut seperti jaring laba-laba raksasa.

Lucian duduk di depan konsol utama, kedua tangannya bergerak cepat di atas keyboard transparan.

“Aku sudah memetakan jalur dana utama,” katanya tanpa menoleh. “Orion tidak memegang uang secara langsung. Dia menggunakan lapisan perusahaan bayangan sebagai perantara.”

Raven berdiri di belakangnya, tenang seperti biasa.

“Pusat distribusi?”

Lucian memperbesar satu titik di layar.

“Di sini. Server keuangan lepas pantai yang terhubung dengan tiga bank swasta. Jika kita putus jalur ini, arus logistiknya melambat drastis.”

Kael menyilangkan tangan.

“Melambat… atau memancing reaksi?”

Lucian tersenyum tipis.

“Keduanya.”

Aidan menatap peta digital itu dengan mata tajam.

“Jika kita menyerang dana, dia akan menyerang balik secara personal.”

Damian berdiri di ujung meja, diam, menimbang setiap kata.

Lyra masuk ke ruangan dengan langkah tenang. Ia baru selesai latihan, rambutnya masih sedikit basah oleh keringat.

“Apa target kita?” tanyanya.

Damian menoleh padanya.

“Jaringan dana Orion.”

Lyra mengangguk pelan, seolah sudah menduga.

Raven berkata tenang, “Ini bukan operasi fisik. Ini perang informasi.”

Lyra melangkah mendekat, menatap layar.

“Berarti ini juga ujian mental.”

Lucian menatapnya sekilas, lalu kembali ke layar.

“Kau belajar cepat.”

Lyra tidak tersenyum.

“Aku tidak punya pilihan selain belajar.”

Raven mematikan satu layar dan menampilkan rekaman baru.

Video statis.

Latar hitam.

Tidak ada gambar.

Hanya suara.

Suara Orion.

Tenang. Datar. Dekat.

“Damian.”

Semua di ruangan membeku.

Lyra merasakan udara berubah.

Suara itu terdengar terlalu jelas, seolah berasal dari dalam ruangan, bukan dari rekaman.

“Aku tahu kau menonton,” lanjut suara itu. “Aku tahu kau akan mencoba mengubah arah permainan.”

Damian tidak bergerak.

Kael menegakkan tubuh.

Aidan memeriksa perimeter secara refleks.

Lucian berbisik pelan, “Ini siaran tertanam… dia menanam file ini dalam sistem kita.”

Suara Orion berlanjut.

“Pilihan selalu tampak mulia sampai konsekuensinya tiba.”

Hening sejenak.

Kemudian:

“Kau memilih tidak menyerang saat kita diuji. Sekarang aku ingin melihat apakah kau akan memilih melindungi… atau menghancurkan.”

Layar berkedip.

Gambar muncul tiba-tiba.

Sebuah ruangan kecil. Lampu putih terang. Kursi tunggal di tengah.

Di kursi itu… duduk seseorang.

Seorang wanita paruh baya, tangannya terikat, wajahnya pucat namun sadar.

Lyra menahan napas.

Damian menegang sangat halus.

Lucian berbisik, “Aku tidak mengenalnya…”

Namun Raven berkata pelan, suaranya lebih berat dari biasanya:

“Dia mantan instruktur program lama.”

Suara Orion kembali terdengar.

“Dia yang menghentikan ujian kita dulu.”

Lyra menatap Damian.

Ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata pria itu.

Bukan kemarahan.

Bukan ketakutan.

Luka lama yang dipaksa terbuka.

“Jika kau ingin memutus jalur danaku,” lanjut Orion, “lakukan. Tapi setiap pilihan memiliki harga.”

Gambar wanita itu membeku.

Pesan terakhir muncul di layar:

“Buktikan bahwa pilihanmu lebih kuat daripada sistem yang membentukmu.”

Layar padam.

Ruangan sunyi.

Tidak ada yang langsung bicara.

Kael akhirnya bersuara rendah, “Dia memaksa konflik moral.”

Aidan menambahkan, “Serangan psikologis langsung.”

Lucian menutup sistem dengan gerakan tegas.

“Aku tidak bisa melacak sumber siaran. Ini loop satu arah.”

Lyra menatap Damian.

“Kau mengenalnya?”

Damian menjawab pelan, “Dia satu-satunya orang dalam program itu yang memperlakukan kami seperti manusia.”

Hening kembali jatuh.

Raven berkata tenang, “Ini eskalasi.”

Lyra mengangguk kecil.

“Dia ingin kita ragu sebelum bergerak.”

Damian akhirnya berbicara.

“Kita tetap menyerang jalur dana.”

Semua menoleh.

Aidan bertanya langsung, “Dan sandera?”

Damian menatap layar kosong.

“Orion tidak akan membunuhnya sekarang.”

Lyra menatapnya lama.

“Kau yakin… atau kau berharap?”

Damian tidak menjawab.

Kael berkata pelan, “Jika kita berhenti sekarang, dia akan menggunakan sandera lain.”

Lucian menambahkan, “Tujuannya membuat kita bereaksi emosional.”

Raven menatap Damian beberapa detik, menilai.

“Kau harus memilih arah dengan sadar,” katanya.

Damian mengangguk.

“Operasi tetap berjalan.”

Lyra menarik napas panjang, lalu berkata pelan, “Kalau begitu aku ingin ikut dalam tahap berikutnya.”

Aidan langsung menolak, “Belum.”

Lyra menatapnya.

“Aku bukan beban.”

Aidan membalas tenang, “Kau belum siap menghadapi manipulasi langsung.”

Lyra terdiam sejenak.

Lalu ia berkata pelan, namun tegas, “Kalau aku tidak siap, latih aku untuk siap.”

Kael menatap Damian.

Raven mengamati tanpa komentar.

Damian menatap Lyra beberapa detik.

Kemudian berkata rendah, “Besok. Simulasi tekanan penuh.”

Lyra mengangguk tanpa ragu.

Malam semakin dalam.

Di ruang simulasi, lampu redup menyala.

Lyra berdiri sendirian di tengah ruangan kosong. Dinding di sekelilingnya berubah menjadi proyeksi realitas virtual.

Aidan berdiri di luar ruangan, mengendalikan skenario.

Suara Raven terdengar melalui interkom.

“Ujian ini bukan untuk tubuhmu. Ini untuk pilihanmu.”

Proyeksi muncul.

Lorong sempit.

Suara langkah mendekat.

Kemudian suara seseorang memanggil namanya.

“Lyra…”

Suara wanita.

Lemah.

Meminta tolong.

Proyeksi menampilkan situasi mustahil: dua arah, dua korban, waktu terbatas.

Lyra menatap sekeliling, napasnya mulai cepat.

Aidan berkata pelan melalui interkom, “Pilih.”

Lyra mengepalkan tangan.

Ia menutup mata sejenak.

Ketika membukanya kembali, tatapannya stabil.

Ia tidak memilih berdasarkan suara paling keras.

Ia memilih berdasarkan peluang hidup paling tinggi.

Simulasi berhenti.

Lampu kembali normal.

Aidan menatap hasil data.

“Dia tidak bereaksi emosional berlebihan.”

Kael mengangguk pelan.

“Dia belajar.”

Di balkon atas, Damian memperhatikan dalam diam.

Lyra keluar dari ruang simulasi dengan napas berat.

Ia menatap Damian.

“Apakah itu yang dia inginkan darimu dulu?”

Damian menjawab pelan, “Ya.”

Lyra mengangguk.

“Kalau begitu dia akan kecewa.”

Hening singkat.

Kemudian, untuk pertama kalinya sejak pesan Orion muncul, Damian terlihat sedikit lebih ringan.

Bukan karena ancaman berkurang.

Tapi karena sesuatu dalam dirinya mulai berubah.

Di ruang kendali, Lucian berseru pelan.

“Aku mendapat celah akses pada salah satu jalur dana. Kita bisa mulai serangan digital dalam dua jam.”

Raven mengangguk.

“Mulai fase satu.”

Kael mempersiapkan tim.

Aidan memeriksa protokol keamanan.

Lyra berdiri di sisi Damian, menatap layar yang mulai bergerak kembali.

“Permainan baru,” katanya pelan.

Damian menjawab tanpa menoleh.

“Tidak.”

Ia menatap pantulan mereka di kaca gelap.

“Ini bukan permainan lagi.”

Di suatu tempat jauh dari sana, layar lain menyala dalam ruangan tanpa jendela.

Orion menatap data yang sama.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Bagus,” gumamnya.

Dan di antara dua keputusan yang sedang bergerak menuju tabrakan yang tak terhindarkan…

Pertarungan sebenarnya akhirnya dimulai.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!