Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
Malam itu, kamar yang biasanya menjadi tempat Luna memimpikan masa depannya, berubah menjadi saksi bisu penghancuran harga dirinya. Luna meringkuk di bawah selimut, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Kata bosan yang diucapkan Zayn terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyayat hati.
Ia merasa seolah-olah seluruh harga dirinya sebagai wanita telah dilemparkan Zayn ke tumpukan besi tua di bengkel itu. "Bosan? Bagaimana bisa dia bosan?" lirihnya di sela isak tangis.
Ingatannya melayang kembali ke dua tahun lalu, di dalam kamar luas di mansion keluarga Graciano. Itulah malam pertama mereka melakukan penyatuan. Luna masih ingat bagaimana Zayn menatapnya dengan pemujaan seolah Luna adalah pusat semestanya. Zayn mencium jemarinya dan berjanji dengan suara serak, "Aku hanya akan mencintaimu seumur hidupku, Luna. Hanya kau."
Dan sekarang? Janji seumur hidup itu ternyata hanya bertahan sampai Zayn menemukan kepuasan lain pada wanita bernama Zella. Kenangan yang Luna jaga seperti harta karun, ternyata bagi Zayn hanyalah tumpukan memori usang yang sudah ia buang.
"Ternyata janji seumur hidupmu itu konyol sekali, Zayn," bisiknya pahit.
Tiba-tiba, rasa mual itu kembali menghantam. Luna berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening karena perutnya memang kosong. Ia menyalahkan angin malam saat ia turun dari balkon dan fakta bahwa ia belum menyentuh makan malam sama sekali. Ia yakin, stres memikirkan Zayn tidur dengan orang lain telah merusak sistem pencernaannya.
Malam itu ia tertidur karena kelelahan menangis, namun saat fajar menyingsing, hal pertama yang ia rasakan bukan ketenangan, melainkan perut yang bergejolak hebat. Luna tersentak bangun dan kembali ke kamar mandi. Ia muntah lagi, kali ini lebih hebat, padahal tidak ada apa pun yang ia makan sejak kemarin sore.
"Kenapa sesakit ini?" gumamnya sambil memijat tengkuknya sendiri. "Hanya karena membayangkan dia bersama Zella, tubuhku sampai hancur seperti ini?"
Dengan wajah pucat pasi dan mata yang sembab, Luna mencoba mengumpulkan sisa-kekuatannya. Ia memoles wajahnya dengan bedak agar tidak terlihat seperti mayat hidup, lalu turun ke meja makan untuk ritual sarapan keluarga yang paling ia benci.
Di sana, Alexander Storm sudah duduk dengan koran paginya, sementara Eleanor menyesap teh dengan anggun. Suasana sangat sunyi, hanya suara denting sendok yang beradu dengan porselen.
"Kau terlihat pucat, Luna," ucap Alexander tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. "Apa kuliah kedokteran mu mulai membebani pikiranmu?"
Luna mencoba menyuap sepotong kecil omelet ke mulutnya. "Hanya kurang tidur, Ayah."
Namun, baru saja aroma telur itu menyentuh indra penciumannya, perut Luna kembali bereaksi. Rasa mual yang panas naik ke kerongkongannya. Luna membeku, menutup mulutnya dengan serbet, dan mencoba menahan sekuat tenaga agar tidak muntah di depan ayahnya.
Ia tidak tahu, bahwa di rahimnya, kehidupan kecil hasil penyatuan panas di markas The Pit sebulan lalu mulai menuntut pengakuan. Ia pikir ia sakit hati, padahal ia sedang membawa benih pria yang baru saja mengaku bosan padanya.
Mobil Range Rover milik Hera membelah jalanan pagi yang mulai padat. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa kontras dengan deru mesin di luar. Luna duduk di kursi penumpang, menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, matanya menatap kosong ke aspal yang terus berlari.
Hera melirik kakaknya lewat spion tengah, lalu beralih menatap wajah pucat Luna secara langsung. Ia mengecilkan volume musik techno yang biasanya ia putar keras-keras.
"Jadi?" tanya Hera tanpa basa-basi. "Bagaimana semalam? Apa misimu berhasil? Apa api lama itu menyala lagi di bengkel?"
Luna tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, seolah pertanyaan Hera adalah duri yang sengaja ditusukkan ke luka yang masih basah.
"Luna, aku bicara padamu," desak Hera lagi, jemarinya mengetuk kemudi dengan tidak sabar. "Kau masuk ke sana dengan nyali sebesar gunung. Apa dia memelukmu? Atau kau hanya berdiri mematung seperti patung selamat datang di depan pintunya?"
Luna mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti rintihan. "Dia bilang dia bosan, Hera."
Ciiiiiiit!
Hera menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut, membuat mobil di belakang mereka membunyikan klakson panjang. "Apa? Dia bilang apa?!"
"Dia bilang dia sudah bosan tidur denganku," suara Luna bergetar, kini air mata yang sejak tadi ia tahan mulai menggenang lagi. "Dia bilang malam terakhir di markas itu hanya karena dia kasihan padaku. Dia bilang dia sangat mencintai Zella dan mereka sudah di jenjang yang serius."
Hera tertegun. Ia memacu kembali mobilnya, namun kali ini dengan kecepatan yang lebih rendah. "Zayn Graciano bilang begitu? Pria yang tatonya saja masih namamu itu bilang bosan?"
"Itu kenyataannya, Hera! Janji seumur hidupnya dulu itu konyol. Dia sudah melupakan segalanya. Dia memperlakukan aku seperti orang asing yang haus belaian," Luna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku merasa sangat rendah. Aku merendahkan diriku di depannya, dan dia hanya menatapku dengan jijik."
Hera menggertak gigi. Ia tahu Zayn berbohong, ia tahu soal Zella yang sebenarnya, tapi melihat kakaknya sehancur ini membuat hatinya ikut panas. "Lalu kenapa kau muntah-muntah hebat semalam? Aku sampai ketakutan melihatmu keluar dari bengkel dengan wajah seperti mayat."
"Mungkin karena aku terlalu stres," lirih Luna. "Membayangkan dia menyentuh Zella dengan cara yang sama seperti dia menyentuhku dulu... itu membuat perutku bergejolak. Aku merasa mual pada diriku sendiri karena masih mengharapkannya."
Hera terdiam sejenak, matanya menatap tajam ke depan. Sebagai saudara kembar yang lebih liar, Hera punya intuisi yang lebih tajam. "Hanya karena stres? Luna, kau muntah lagi pagi ini sebelum turun sarapan. Aku mendengarnya dari balik pintu kamar mandi."
"Aku hanya masuk angin, Hera. Jangan mulai dengan lelucon gilamu lagi," potong Luna cepat.
Hera tidak membalas. Ia hanya teringat pesan singkat dari Arlo tempo hari tentang bagaimana Zayn terlihat sangat berantakan sejak malam di markas itu. Ada sesuatu yang tidak sinkron di sini.
"Dengar, Luna," ucap Hera serius saat mereka hampir sampai di gerbang kampus. "Jika dia benar-benar bosan, dia tidak akan memijat tengkukmu saat kau muntah semalam. Dia tidak akan membiarkanmu pulang dengan aman. Ada yang dia sembunyikan. Dan soal mualmu itu... jika besok masih berlanjut, aku sendiri yang akan membelikan mu test pack. Jangan sampai kau menangis karena 'bosan', tapi ternyata kau sedang membawa 'hadiah' darinya."
Luna hanya bisa terdiam, memegangi perutnya yang kembali terasa mual. Ia tetap yakin ini hanya masalah psikologis karena patah hati, tanpa tahu bahwa takdir sedang menertawakan rencananya yang tanpa sengaja ternyata sudah berhasil sejak satu bulan yang lalu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰