NovelToon NovelToon
Hotnews: I Love You

Hotnews: I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Kantor / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.

Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.

Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stand-up Press Comedy

Ballroom Grand Orchid International Hotel

Saat memasuki ballroom, hati Andrean mencelos. Pasalnya, ruang ballroom hotel bintang lima yang mampu menampung seribu lebih tamu undangan, hanya digunakan kira-kira sekitar sepertiga dari ruangan untuk acara press-con kali ini.

"Kenapa harus ngadain press-con disini? Ruangan lain yang lebih kecil kan bisa?" gumam Andrean saat melihat suasana ruang press-con yang jauh dari ekspektasinya.

"Gengsi," kata Alena singkat. Andrean menoleh ke arah Alena sambil menaikkan satu alisnya.

"Gengsi?" tanya Andrean heran disusul anggukan cepat dari Alena.

"Udah ah. Bukan urusan kita. Yang kita butuhin cuma hotnews," kata Alena lalu berlalu mencari tempat duduk yang menurutnya strategis. Andrean mengekor di belakangnya.

"Udah kena skandal, masih mikirin gengsi," komentar Andrean saat sudah duduk di kursi sebelah Alena.

"Nah. Itu bedanya artis sama kita," kata Alena. Andrean mengerutkan kedua alisnya seolah bertanya 'Apa?'.

"Mereka nggak bisa hidup tanpa gengsi. Kita kalo kebanyakan gengsi bisa mati," kata Alena sambil menyiapkan kameranya.

Andrean kini melihat lebih dekat wanita yang selama ini dibencinya. Baru pertama kali ini Andrean melihat secara langsung bagaiman Alena mempersiapkan dirinya untuk bertempur. Berbeda dengan dirinya yang selalu dikawal Roni. Alena selalu sendirian saat sedang meliput karena dia tak butuh fotografer.

"Kenapa lo?" tanya Alena pada Andrean saat sadar Andrean tengah memperhatikannya.

"Nggak," jawab Andrean singkat lalu memalingkan wajahnya dari Alena. Alena kembali fokus menyetting kameranya.

Ballroom mendadak riuh. Artis yang dinanti para wartawan, Daniel Pedrosa, atau yang sering dikenal dengan nama panggung DanDan, seorang komedian muda yang sedang naik daun, sudah memasuki ballroom. Tiga orang pria terlihat mendampingi DanDan. Seorang manajer, seoang pengacara dan seorang publicist. Dengan sigap, Alena membidikkan kameranya pada sang artis yang tengah viral karena skandal perselingkuhannya itu.

"Lo yang tanya, gue yang ambil gambar," perintah Alena. Andrean memutar bola mata malas.

"Nggak perlu lo suruh. Menurut lo gue bakal diem aja?" kata Andrean sebal.

"Disini... saya mengundang temen-temen pers sekalian eee dengan maksud untuk... berterimakasih eee karena sudah eee ikut meramaikan eee berita ini," kata DanDan dengan raut muka —yang menurut Andrean— tanpa penyesalan. Semua reporter yang datang saling pandang.

"Jadi, berita itu bener, Mas?" tanya salah satu reporter yang hadir.

"Eee kita tidak bisa menilai orang yang sedang dinner berdua di kapal pesiar mewah sebagai pasangan kan?" jawab DanDan dengan pertanyaan.

"Tapi, Anda tertangkap basah check-in di hotel. Bagaimana Anda menjelaskan itu?" tanya Andrean, lugas seperti biasa.

"Sayangnya hari itu nggak hujan, jadi saya hanya tertangkap, nggak basah," jawab DanDan santai. Terdengar tawa dari beberapa reporter yang hadir, termasuk Alena. Andrean menoleh ke arah Alena. Alena melirik Andrean dan menggerakkan bibirnya dan membentuk kata 'sorry'.

"Jadi, Anda tidak menyangkal bahwa Anda sedang main belakang dengan wanita misterius yang terlihat check-in bersama Anda?" tanya seorang reporter dengan nada lugas seperti Andrean. Andrean mengangguk setuju mendengar pertanyaan itu.

"Main belakang? Padahal saya lebih suka main depan," jawab DanDan santai. Ruang press-con seketika riuh dengan tawa para reporter.

Manajer DanDan terlihat panik setiap kali DanDan menjawab pertanyaan dengan komedi. Sedangkan publicist terlihat terus berbisik pada DanDan, mengarahkannya untuk menjawab pertanyaan dengan benar. Hanya pengacara DanDan yang terlihat santai seperti DanDan.

"Jadi, intinya Anda mengakui kebenaran berita itu atau tidak?" tanya Andrean yang terlihat sudah tak sabar dengan jawaban bertele-tele sang artis.

DanDan terlihat serius. Ruang ballroom seketika hening. Hanya ada suara jepretan kamera sesekali.

"Saya mengakui bahwa eee..." semua reporter hening, menyimak dengan serius kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut DanDan.

"Bahwa kehidupan ini memang rumit," lanjut DanDan sambil tersenyum. Publicist di samping DanDan terlihat menepuk dahinya.

"Baik, cukup sekian. Press conference selesai," tutup sang manajer panik sambil menarik DanDan untuk segera keluar ruang ballroom.

DanDan, yang bingung, mengikuti manajernya begitu saja. Para reporter terdengar mengeluh, tak puas dengan jawaban DanDan. Termasuk Andrean.

'Press-con macam apa ini?'

***

Ketika semua reporter tengah mengeluh, Alena justru dengan gesit ikut keluar dari ballroom.

"Lo mau kemana?" teriak Andrean.

"Bawain tas gue," teriak Alena.

"Ck. Dia pikir gue asisten?" gumam Andrean sambil membereskan peralatannya.

Sementara itu, Alena dengan gesit mengejar DanDan dan manajer yang berjalan cepat menuju lift.

"Mas DanDan, tunggu!" kata Alena sambil mencegah pintu lift tertutup.

"Press-con udah selesai," kata manajer DanDan dengan datar, tapi ekspresi paniknya masih tersisa.

"Saya cuma mau minta tanda tangan, boleh?" tanya Alena sambil mengeluarkan spidol permanent besar dari sakunya.

"Boleh, boleh," kata DanDan mempersilakan.

"Tapi, Dan..."

"Cuma tanda tangan doang, Jer. Lo nggak usah khawatir," kata DanDan sambil meraih spidol Alena.

"Mau tanda tangan dimana nih?" tanya DanDan ramah.

"Aduh! Tas saya ketinggalan di ballroom lagi," kata Alena sambil menepuk jidatnya. DanDan melihat Alena dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Gimana kalo di kaos? Kebetulan warnanya putih tuh," kata DanDan memberi saran.

"Ah! Boleh, boleh, Mas," kata Alena sambil menyibakkan cardigan warna sage yang menutupi kaos putihnya.

Dari jauh, Andrean melihat Alena tengah sibuk meminta tanda tangan pada DanDan.

"Dasar! Cuma mau tanda tangan," gumam Andrean sambil berjalan perlahan ke arah Alena.

"Makasih ya, Mas," kata Alena saat DanDan memasuki lift. DanDan terlihat tersenyum ramah.

"Gue kira idola lo bakal sekelas Najwa Shihab atau Rossy," komentar Andrean. Alena tersenyum penuh makna sambil menaik-turunkan alisnya. Andrean mengerutkan kedua alisnya.

"Cabut! Laper gue," kata Alena.

Andrean dengan malas mengikuti langkah Alena. Liputan gagal. Tak ada hasil. Sudah terlihat jelas bagaimana wajah datar Pak Indra saat mengetahui kedua jurnalisnya pulang tanpa membawa hasil.

"Eh, kita makan siomay situ dulu yuk," ajak Alena.

"Lo aja. Gue nggak nafsu," kata Andrean.

"Yaelah, An. Nggak laper lo? Emosi tuh butuh tenaga. Gue liat lo emosi banget tadi," kata Alena dengan nada meledek. Andrean hanya melirik Alena dengan tatapan malas. Seperti kata Alena, dia sudah kehabisan tenaga untuk mendebat balik Alena.

"Udaaaah. Ayok. Gue yang bayar," kata Alena sambil menarik tas selempangnya yang dibawa Andrean. Andrean dengan malas mengikuti Alena.

"Siomay dua, Bang. Es tehnya sekalian," pesan Alena.

Andrean mengamati Alena. Dia bertanya-tanya, mengapa Alena tak terlihat lesu meski tak mendapatkan apapun dari liputan hari itu.

"Abis makan, kita langsung goreng beritanya," kata Alena sambil tersenyum puas.

"Apanya yang mau digoreng?" tanya Andrean putus asa.

Alena tersenyum puas. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya lalu menekan tombol stop pada recording yang masih menyala. Mata Andrean membulat.

'Dia dapet scoopnya?'

***

1
Nanaiko
Aaaa bersambung😅
Nanaiko
Bisa tidak yaa sehari updatenya 5 bab sekalian, Thor? hehehe
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤
Purnamanisa: kapasitas author sehari nulis cuma 3 bab kak 😅😅😅 2 bab disini, 1 bab di I Love You, Miss!!!🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!