Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Persimpangan Jalan dan Token Paviliun
Beberapa hari berikutnya berlalu dengan damai. Kehadiran Jiang Chen seolah-olah menjadi jimat keberuntungan bagi karavan. Tidak ada lagi perampok yang berani mendekat, dan binatang buas di hutan seolah-olah menjauh dari jalan yang mereka lewati.
Lin Ziyan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memantapkan kultivasinya di tingkat keenam, sesekali ia masih melatih tusukan dasarnya di bawah tatapan Jiang Chen yang acuh tak acuh. Setiap kali Jiang Chen memberikan komentar singkat—"Pinggangmu kurang berputar," atau "Pergelangan tanganmu terlalu kaku"—itu akan membuatnya bermeditasi selama berjam-jam, mencoba memahami makna di baliknya. Baginya, setiap kata dari Jiang Chen adalah sebuah kitab suci.
Paman Zhong, yang lukanya sudah hampir pulih total, memandang pemuda itu dengan kekaguman yang tak terbatas. Ia telah mengawal nona mudanya selama bertahun-tahun dan tahu betapa keras kepala dan berbakatnya dia. Fakta bahwa seorang pemuda yang bahkan lebih muda dari nona mudanya bisa membuatnya begitu patuh dan membimbingnya menuju terobosan hanya dalam satu jam adalah sesuatu yang di luar pemahamannya.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah persimpangan jalan besar. Satu jalan yang lebih lebar dan lebih ramai mengarah lurus ke timur, menuju Ibukota Kerajaan. Jalan yang lain, lebih sempit dan berliku, berbelok ke utara, menuju barisan pegunungan yang diselimuti kabut di kejauhan. Itu adalah jalan menuju Sekte Langit Berkabut.
Waktu perpisahan telah tiba.
Karavan berhenti. Seluruh anggota, dari Lin Ziyan hingga penjaga tingkat terendah, turun dan berdiri menghadap Jiang Chen.
"Guru Jiang," kata Lin Ziyan, membungkuk dalam-dalam. "Ini adalah tempat kita berpisah. Perjalanan ke ibukota dari sini sudah aman. Kami tidak akan bisa cukup berterima kasih atas semua yang telah Anda lakukan."
Paman Zhong dan para penjaga lainnya juga membungkuk serempak. "Terima kasih, Tuan Muda Jiang!"
Jiang Chen turun dari kudanya. "Tidak perlu formalitas seperti itu. Aku juga mendapat banyak manfaat dari perjalanan ini."
Itu benar. Informasi yang ia dapatkan dari Lin Ziyan telah memberinya gambaran yang jauh lebih jelas tentang dunia di luar Kota Awan Bambu.
Lin Ziyan kemudian maju selangkah, di tangannya ada sebuah kotak kayu cendana yang diukir dengan indah.
"Guru Jiang, saya tahu Anda tidak suka hadiah materi, dan saya tidak akan berani menghina Anda dengan menawarkan uang," katanya dengan tulus. "Tapi ini adalah sesuatu yang berbeda. Mohon terimalah ini sebagai tanda persahabatan antara Anda dan Paviliun Harta Karun kami."
Ia membuka kotak itu. Di dalamnya, di atas lapisan beludru merah, tergeletak sebuah token berwarna emas gelap. Token itu diukir dengan gambar sebuah paviliun yang megah di satu sisi, dan kata 'Tamu Kehormatan' di sisi lain.
"Ini adalah Token Tamu Kehormatan Paviliun Harta Karun," jelas Lin Ziyan. "Hanya ada sepuluh token seperti ini di seluruh Kerajaan Angin Timur. Dengan token ini, Anda akan dianggap sebagai tamu paling terhormat di setiap cabang Paviliun Harta Karun. Anda bisa mendapatkan diskon 50% untuk semua barang, dan memiliki hak untuk membeli barang-barang langka yang tidak dijual untuk umum. Yang lebih penting, jika Anda menghadapi masalah di mana pun di kerajaan ini, Anda bisa pergi ke cabang Paviliun Harta Karun terdekat dan menunjukkan token ini. Selama itu tidak bertentangan dengan prinsip kami, kami akan menggunakan semua sumber daya kami untuk membantu Anda."
Mata Jiang Chen sedikit melebar. Ini bukan lagi sekadar hadiah. Ini adalah sebuah aliansi, sebuah jaminan. Memiliki dukungan dari jaringan dagang raksasa seperti Paviliun Harta Karun adalah aset yang sangat besar, terutama bagi seseorang yang baru memulai seperti dirinya.
"Ini terlalu berharga," kata Jiang Chen, meskipun ia tergoda.
"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan pencerahan yang telah Anda berikan kepada kami," desak Lin Ziyan. "Jika Guru tidak menerimanya, maka Ziyan akan merasa berhutang budi seumur hidup dan hati saya tidak akan pernah tenang."
Melihat ketulusan di matanya, Jiang Chen akhirnya mengalah. Ia mengambil token itu. "Baiklah. Aku terima."
Senyum lega dan bahagia langsung tersungging di wajah Lin Ziyan.
"Jika suatu hari Anda datang ke Ibukota Kerajaan, pastikan untuk mengunjungi markas besar kami. Saya secara pribadi akan menyambut Anda," katanya.
Jiang Chen mengangguk. Ia menaiki kudanya, menatap mereka untuk terakhir kalinya. "Jaga diri kalian."
"Anda juga, Guru Jiang!"
Tanpa basa-basi lagi, Jiang Chen memutar kudanya dan mulai menempuh jalan ke utara. Ia tidak menoleh ke belakang, tetapi ia bisa merasakan puluhan pasang mata mengawasinya sampai sosoknya menghilang di tikungan jalan.
Saat ia sendirian lagi, ia mengeluarkan Token Tamu Kehormatan itu. Token itu terasa dingin dan berat di tangannya.
"Paviliun Harta Karun... Lin Ziyan..." gumamnya. "Sebuah investasi yang tidak terduga."
Ia menyimpan token itu dengan hati-hati di cincin penyimpanannya. Hubungan ini mungkin akan sangat berguna di masa depan.
Sekarang, tidak ada lagi gangguan. Di hadapannya, pegunungan yang diselimuti kabut tampak menjulang seperti raksasa yang tertidur. Di sanalah tujuannya berada.
Sekte Langit Berkabut.
Dengan semangat baru, ia memacu kudanya, melaju menuju babak baru dalam hidupnya. Panggung para jenius sejati menantinya.