NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetesan Darah di Kuil Leluhur

Rasa panas yang luar biasa ganas langsung merobek dada Zian. Cahaya merah darah itu sama sekali tidak menyembuhkan lukanya. Cahaya itu justru membakar dagingnya hidup-hidup dari dalam.

"Argh!" Zian mengerang tertahan. Dia mencengkeram dadanya sendiri hingga kuku-kukunya berdarah.

"Sakit, Bocah?" Suara serak itu tertawa bergemuruh di dalam tengkoraknya. Tawanya berat, penuh ejekan, tapi sekaligus membawa kebanggaan yang aneh. "Tentu saja sakit! Tubuhmu terlalu lemah. Saluran energimu cacat bawaan sejak lahir. Tulang-tulangmu rapuh seperti ranting kayu busuk."

Zian memuntahkan darah hitam ke lantai altar. "Siapa... kau sebenarnya?" tanyanya terengah-engah. Matanya menatap liar ke sekeliling kuil yang gelap. Tidak ada siapa-siapa di sana.

"Aku adalah leluhur pertamamu yang nama aslinya sudah lama dihapus oleh dunia," jawab suara itu pongah. "Mereka yang dulu gemetar di bawah kakiku memanggilku Asura. Ribuan tahun aku menunggu di altar jelek ini. Aku menunggu seorang keturunan yang punya cukup dendam dan kemarahan untuk membangunkan darahku."

"Kau... leluhur Zian?" Zian menggigit bibirnya keras-keras. Tulang rusuknya yang tadi patah akibat tendangan Tian Ao kini terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas.

"Benar! Tapi keturunanku dari generasi ke generasi selalu membuatku muak. Mereka sibuk bermeditasi, menyerap energi alam, dan bermain sihir warna-warni seperti badut pertunjukan. Mereka melupakan kekuatan asli keluarga kita," dengus suara kuno itu dengan nada jijik.

"Kekuatan asli?"

"Ya! Kekuatan sejati tidak datang dari pusaran energi di perutmu. Kekuatan sejati ada di kerasnya tulang, padatnya otot, dan beratnya pukulanmu! Tulang Asura tidak butuh saluran energi cengeng. Tulang ini hanya butuh darah, kebencian, dan rasa sakit."

Zian mengangkat wajahnya. Bayangan wajah sombong Tian Ao, tatapan jijik Lin Yue, dan ayahnya yang muntah darah melintas cepat di benaknya. Matanya kembali menajam.

"Beri aku kekuatan itu sekarang," desis Zian. Nada suaranya sangat dingin, sedingin es di puncak gunung. "Aku tidak peduli seberapa sakitnya. Aku mau meremukkan kepala mereka berdua dengan tanganku sendiri."

Suara kuno itu tertawa semakin keras sampai kuil leluhur itu bergetar. "Bagus! Kebencianmu sangat murni, Bocah. Kau punya mata seorang pembunuh. Tapi ingat, proses ini akan menghancurkan seluruh tulang lamamu dan menggantinya dengan baja murni."

Zian mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Lakukan."

"Gigit lidahmu! Kalau kau pingsan menahan sakit ini, tubuhmu akan hancur jadi debu dan kau mati malam ini juga!"

Begitu suara itu selesai bicara, cahaya merah memusat langsung ke tulang belakang Zian.

Krak! Krak! Krak!

Suara tulang patah terdengar mengerikan dan bertubi-tubi. Zian membelalakkan matanya lebar-lebar. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol keluar seperti mau pecah. Seluruh tulang di tubuhnya, dari ujung kaki sampai tengkoraknya, diremukkan secara paksa dari dalam.

Dia membuka mulutnya untuk menjerit, tapi dia ingat peringatan leluhurnya. Zian menggigit bibir bawahnya sampai robek. Dia menolak mengeluarkan suara teriakan. Dia menolak terlihat lemah di hadapan rasa sakit.

Darah mengalir deras dari mulutnya. Keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya. Otot-ototnya robek dan menyatu kembali dengan kecepatan gila. Tulangnya yang tadi hancur kini tumbuh kembali dengan warna merah gelap yang perlahan berubah menjadi putih susu sekeras baja.

"Terus tahan, Bocah! Sedikit lagi! Jadikan dendammu sebagai makanan untuk tulang barumu!" teriak leluhur itu menyemangati.

Zian memukul lantai batu kuil dengan kepalan tangannya untuk melampiaskan rasa sakit.

Brak!

Lantai batu yang keras itu langsung retak.

Satu jam berlalu seperti di neraka. Cahaya merah di kuil itu perlahan memudar dan tersedot habis ke dalam pori-pori kulit Zian. Suasana kuil kembali gelap dan sunyi, hanya menyisakan suara napas Zian yang memburu.

"Selamat, Bocah. Kau berhasil melewati tahap awal," suara leluhur itu sekarang terdengar lebih pelan, seolah kehabisan tenaga. "Tulang Asuramu sudah bangkit. Mulai sekarang, kau sudah menginjak Ranah Jelata. Berlatihlah di tempat yang penuh kematian. Aku akan kembali tidur... bangunkan aku kalau kau sudah tidak memalukan lagi."

Suara itu menghilang total dari kepala Zian.

Zian membuka matanya. Tidak ada lagi rasa sakit. Napasnya terasa sangat panjang dan kuat. Dia perlahan bangkit berdiri.

Hal pertama yang dia rasakan adalah tubuhnya menjadi sangat berat dan padat. Tinggi badannya memang tidak berubah, tapi otot-otot di balik bajunya yang robek kini terbentuk sempurna dan keras seperti batu karang.

Dia menunduk melihat lantai batu yang tadi dia pukul. Retakannya memanjang sampai ke sudut ruangan.

"Ini... kekuatanku sekarang?" gumam Zian pelan.

Dia berjalan mendekati altar batu yang menemaninya sekarat tadi. Zian menjulurkan tangan kanannya dan mencengkeram ujung meja altar tersebut. Dia hanya memberikan sedikit tenaga dari jari-jarinya.

Krak!

Batu keras itu hancur menjadi serpihan kecil dan debu di sela-sela jarinya. Zian tersenyum dingin. Tidak ada setitik pun energi kultivasi di tubuhnya, tapi tenaga fisiknya baru saja meningkat puluhan kali lipat.

Samar-samar dari arah depan rumah, Zian mendengar suara isak tangis ibu dan adiknya. Hatinya mencelos. Ayahnya pasti sedang diobati sekarang. Zian tahu dia belum cukup kuat untuk membalas dendam malam ini juga. Dia butuh menguji dan membiasakan diri dengan kekuatan barunya ini.

"Hutan Kematian," ucap Zian pelan menyebut nama hutan buas yang terletak di pinggir kota. Tempat itu penuh monster dan hewan buas yang sering memangsa manusia. Tempat yang sempurna untuk menguji batas kekuatan fisik Tulang Asura.

Zian membalikkan badan dan berjalan keluar dari kuil leluhur. Dia tidak lewat depan, melainkan menyusuri lorong gelap menuju pintu gerbang belakang rumah yang langsung tembus ke jalan sepi pinggir hutan.

Saat Zian mendorong pelan pintu kayu belakang, dia mendengar suara obrolan dua orang pria.

"Sialan, kenapa Tuan Muda Tian Ao menyuruh kita mengurus mayat orang cacat itu? Bikin repot saja," gerutu seorang pria bersuara serak.

"Sudah, jangan banyak mengeluh," sahut pria kedua. "Cepat masuk dan ambil mayat Zian. Lempar saja ke tepi Hutan Kematian biar besok pagi sisa tulangnya dimakan anjing liar."

Zian melangkah keluar dari bayangan pintu. Hujan gerimis masih turun, membasahi wajahnya yang tanpa ekspresi. Dia menatap dua pria berbadan tegap di depannya. Mereka memakai seragam merah dengan lambang api di dada mereka. Jelas sekali mereka adalah penjaga rendahan dari Sekte Api Emas.

"Kalian mencari mayatku?" tegur Zian santai.

Kedua penjaga itu tersentak kaget. Mereka serentak menoleh. Mata mereka membulat sempurna melihat Zian berdiri tegak di depan mereka. Pakaian pemuda itu memang berlumuran darah, tapi wajahnya tidak terlihat seperti orang sekarat sama sekali.

"Kau... kau belum mati, Sampah?!" teriak penjaga pertama sambil menunjuk wajah Zian. "Tuan Muda Tian sudah menendang pinggangmu sampai patah! Bagaimana kau bisa berdiri?"

Zian terus melangkah maju mendekati mereka. Langkah kakinya terdengar berat dan mantap di atas genangan air. "Tendangan majikan anjing kalian itu terlalu lemah. Rasanya seperti digigit nyamuk."

Penjaga kedua mencabut pedang baja dari pinggangnya. Matanya berkilat marah. "Berani kau menghina Tuan Muda kami? Dasar orang cacat tidak tahu diri! Kau harusnya mati dan diam di tanah!"

"Potong saja lehernya!" suruh penjaga pertama sambil mundur selangkah. "Biar kita bisa cepat pulang dan minum arak!"

"Mati kau, Sampah!" Penjaga kedua langsung mengayunkan pedang bajanya dengan tenaga penuh. Dia mengincar leher Zian. Kecepatan pedang itu membelah rintik hujan dengan suara mendesing yang tajam.

Zian tidak menghindar sama sekali. Dia juga tidak memunculkan perisai energi seperti kultivator pada umumnya. Dia hanya mengangkat tangan kirinya dengan sangat santai.

Trang!

Bunyi benturan logam yang sangat keras menggema di gang sempit itu.

Penjaga kedua terbelalak ngeri. Pedang baja kualitas tinggi miliknya berhenti total di udara. Pedang itu tidak memotong leher Zian. Mata pedang itu tertahan dengan kokoh di antara jepitan telunjuk dan jari tengah kiri Zian.

"A-apa?!" Penjaga itu mencoba menarik pedangnya, tapi pedang itu seolah terjepit di antara dua gunung besi. Tidak bergerak sedikit pun.

"Baja yang sangat buruk," komentar Zian dingin.

Zian memutar pergelangan tangannya sedikit.

Krak! Tang!

Pedang baja setebal dua jari itu langsung patah menjadi dua bagian hanya dengan jepitan jari Zian.

Sebelum penjaga itu sempat berteriak, Zian melangkah maju menipiskan jarak. Tangan kanannya mengepal kuat dan meluncur lurus menghantam dada penjaga itu. Tidak ada gaya bela diri yang indah. Hanya sebuah pukulan lurus murni yang mengandalkan tenaga otot dan kepadatan tulang.

Bugh!

KRAK!

Dada penjaga kedua itu amblas ke dalam. Suara tulang rusuk yang hancur berkeping-keping terdengar sangat jelas. Tubuh pria tegap itu melayang mundur seperti layang-layang putus. Dia menabrak tembok batu di seberang jalan dengan sangat keras sampai tembok itu retak.

Penjaga itu merosot ke tanah. Matanya mendelik putih. Darah bercampur pecahan organ dalam menyembur dari mulutnya. Dia mati seketika.

Penjaga pertama yang melihat kejadian itu langsung gemetar hebat. Kakinya lemas sampai dia jatuh terduduk di atas lumpur. Wajahnya pucat pasi seperti melihat iblis jahanam turun dari langit.

"Kau... kau bukan Zian..." bibir penjaga itu bergetar ketakutan. "Zian itu cacat... dia tidak punya tenaga... kau monster apa?!"

Zian menepuk pelan tangannya, membersihkan sisa debu baja dari tangannya. Dia menatap penjaga yang tersungkur ketakutan itu dengan wajah datar.

"Kembali ke majikanmu," perintah Zian singkat.

Penjaga itu menatap Zian dengan tatapan tidak percaya. "K-kau melepaskanku?"

"Ya. Pulang dan sampaikan pesan ini pada Tian Ao dan Lin Yue," Zian menyipitkan matanya. Aura membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar mereka terasa membeku. "Beri tahu mereka berdua untuk mencuci leher mereka bersih-bersih. Tidak lama lagi, aku sendiri yang akan datang untuk mematahkannya."

Penjaga itu mengangguk panik berkali-kali. Dia langsung merangkak bangun dan berlari kocar-kacir menembus hujan tanpa berani menoleh ke belakang lagi.

Zian tidak peduli pada penjaga yang lari itu. Dia menendang mayat di dekat kakinya hingga menyingkir dari jalan. Tatapan matanya kini beralih menatap kegelapan pekat Hutan Kematian yang terhampar luas tidak jauh di depan sana. Suara lolongan monster buas terdengar bersahut-sahutan dari dalam hutan.

Bagi orang biasa, hutan itu adalah neraka. Tapi bagi Zian malam ini, hutan itu adalah taman bermain pertamanya.

Baru saja Zian mengambil langkah pertama memasuki batas pepohonan hutan yang gelap, tanah di bawah kakinya tiba-tiba bergetar hebat. Suara raungan yang memekakkan telinga meledak dari balik semak belukar raksasa.

Dua pasang mata merah menyala raksasa menatap langsung ke arah Zian dari balik kegelapan. Seekor Serigala Beruang tingkat Perwira, monster yang butuh belasan kultivator bersenjata lengkap untuk ditumbangkan, melangkah keluar perlahan sambil meneteskan liur beracun.

Monster itu mengira dia menemukan mangsa yang lemah.

Zian berdiri tegak menatap monster raksasa itu. Alih-alih lari ketakutan, Zian justru tersenyum lebar. Senyum yang sangat kejam.

"Bagus," bisik Zian sambil meregangkan lehernya hingga berbunyi gemeretak. "Aku sedang butuh samsak tinju malam ini."

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!