Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Badai di Meja Sarapan
Pagi di Dharmawangsa biasanya bernapas dengan tenang, namun tidak untuk pagi ini. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar ruang makan menyinari pemandangan yang terlihat begitu domestik dan hangat. Paul, yang sudah pulih sepenuhnya, duduk di kepala meja. Kathryn sibuk menata piring berisi nasi goreng aroma kencur dan telur mata sapi, sementara Dimas yang mengenakan kaos santai milik Paul sedang membantu Sean duduk di kursi tingginya.
"Paman Doktel, mau teyul?" celoteh Sean sambil menyodorkan sendok plastiknya.
Dimas terkekeh, mengusap rambut Sean dengan lembut. "Sean makan dulu yang banyak supaya kuat, ya."
Kathryn yang melihat itu hanya bisa tersenyum simpul. Ia merasa jantungnya masih berdegup sedikit lebih kencang sejak kejadian "bersandar di bahu" kemarin sore. Namun, kehangatan itu mendadak buyar ketika suara derit rem mobil yang kasar terdengar dari depan pagar, disusul oleh gedoran pintu yang tidak sabaran.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Dimas! Keluar kamu! Aku tahu kamu bersembunyi di sini bersama perempuan gatal itu!" teriak sebuah suara melengking yang sangat dikenal Dimas.
Wajah Dimas seketika mengeras. Rahangnya mengatup rapat. Ia segera berdiri, namun Paul lebih cepat. Paul memberikan isyarat agar Kathryn tetap di meja bersama Sean. "Biar aku yang urus," geram Paul.
Namun, sebelum Paul sampai di pintu, Reina sudah menerobos masuk. Ia tidak sendirian. Di belakangnya berdiri seorang pria paruh baya dengan tas jinjing kulit seorang pengacara bernama Airin, yang ironisnya adalah salah satu orang yang pernah bekerja untuk firma hukum keluarga Alvaro, namun kini disewa Reina tanpa tahu siapa klien yang ia hadapi sebenarnya.
"Oh, lihat ini!" Reina berteriak saat matanya menangkap sosok Dimas yang sedang berdiri di dekat meja makan. "Enak sekali ya? Suami yang baru saja menandatangani surat cerai sudah asyik sarapan di rumah mewah orang lain. Kamu benar-benar tidak tahu malu, Dimas!"
Reina kemudian mengalihkan pandangan tajamnya pada Kathryn. Matanya memerah penuh kebencian. "Dan kamu! Dasar perempuan perusak! Kamu pikir dengan menampung pria miskin ini kamu bisa naik kasta? Dia itu sampah! Dia tidak punya apa-apa lagi selain baju yang dia pakai!"
Kathryn berdiri dengan tenang, meski tangannya sedikit bergetar di bawah meja. Ia menarik napas panjang, mencoba menjaga martabat keluarganya. "Mbak Reina, tolong jaga bicara Anda. Ini rumah kakak saya, dan Dokter Dimas adalah tamu kami yang sangat terhormat."
"Terhormat? Hah!" Reina tertawa sinis, suaranya melengking menyakitkan telinga. "Dia itu parasit! Dia sengaja mendekati kamu karena dia tahu kakakmu kaya. Dia ingin menumpang hidup!"
Airin, sang pengacara, mencoba menenangkan kliennya. "Ibu Reina, mohon tenang. Kita ke sini untuk urusan legal, bukan untuk keributan pribadi." Airin kemudian membuka berkasnya dan menatap Dimas dengan tatapan profesional, tanpa menyadari bahwa pria di depannya adalah pemilik rumah sakit terbesar di kota ini. "Pak Dimas, klien saya menuntut pembagian harta gono-gini. Mengingat Anda tidak memiliki aset apa pun atas nama Anda selama pernikahan, klien saya menuntut agar Anda membayar ganti rugi atas kerugian bisnis cafe yang ia alami, yang menurutnya adalah akibat dari... kesialan yang Anda bawa."
Dimas hanya diam, menatap Airin dengan tatapan dingin yang membuat pengacara itu merasa sedikit tidak nyaman.
Reina kembali berteriak, "Dengar itu? Kamu harus bayar! Kalau tidak punya uang, suruh perempuan ini yang bayar! Dia kan kaya, pasti dia mau menebus harga diri kekasih simpanannya ini!"
"Cukup!" bentak Paul. Suaranya yang menggelegar membuat Reina terdiam sejenak. "Keluar dari rumahku sekarang sebelum aku memanggil keamanan!"
"Aku tidak akan pergi sampai pria ini setuju untuk membayar!" tantang Reina.
Tepat saat suasana memuncak, sebuah mobil pick-up bengkel berhenti di depan rumah, diikuti oleh mobil sport mewah milik Adrian. Adrian turun dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, diikuti dua montir yang membawa empat ban baru pesanan Dimas melalui telepon rahasia tadi subuh.
Adrian melangkah masuk ke ruang tamu dengan gaya santainya, namun langkahnya terhenti saat melihat keributan itu. Ia melepas kacamatanya, menatap Reina dengan tatapan meremehkan.
"Wah, wah... ada pesta apa sepagi ini?" tanya Adrian. Matanya tertuju pada Airin. "Lho, Airin? Sedang apa kamu di sini membawa map hukum?"
Airin tersentak melihat Adrian. Sebagai pengacara yang sering menangani kasus Medika Group, ia tentu mengenal Adrian sebagai tangan kanan "Sang Pemilik". "Dokter Adrian? Saya... saya sedang menangani kasus gono-gini untuk klien saya, Nyonya Reina."
Adrian tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat menghina bagi Reina. "Gono-gini? Untuk Dimas?" Adrian menoleh pada Dimas yang masih berekspresi datar. "Dim, kamu dengar itu? Mantan istrimu minta gono-gini darimu?"
Reina berteriak pada Adrian, "Diam kamu! Kamu cuma temannya yang sama-sama miskin! Jangan ikut campur!"
Adrian menggelengkan kepala, lalu menatap Airin dengan serius. "Airin, saranku... tutup map itu sekarang, minta maaf pada Pak Dimas, dan lari sekencang mungkin dari wanita ini sebelum kariermu berakhir di lubang sampah."
"Apa maksud Anda, Dokter?" tanya Airin bingung.
"Klienmu ini sedang menuntut harta dari pria yang memiliki gedung tempat kantormu berada," bisik Adrian, namun suaranya cukup terdengar oleh semua orang di ruangan itu. "Dia sedang menuntut ganti rugi dari pemilik tunggal Medika Group. Apa kamu sudah gila?"
Hening seketika.
Reina ternganga. "Apa? Apa yang kamu bicarakan? Dimas itu cuma dokter rendahan!"
Airin mulai berkeringat dingin. Ia menatap Dimas kembali, kali ini dengan mata yang lebih jeli. Ia mulai mengenali garis wajah yang sering ada di majalah ekonomi namun jarang tersenyum. Pucat pasi menyelimuti wajah sang pengacara. "P-Pak... Pak Dimas Alvaro? Pemilik Alvaro Holdings?"
Dimas melangkah maju satu langkah. Auranya berubah total. Tidak ada lagi "dokter kos-kosan" yang lemas. Yang berdiri di sana adalah seorang penguasa yang selama ini menyembunyikan taringnya.
"Airin, aku menghargai profesionalismu selama ini di firma hukum. Tapi hari ini, kamu melakukan kesalahan besar dengan mendatangi rumah orang yang sangat aku hargai dan menghina wanita yang aku cintai," ujar Dimas dengan suara rendah namun sangat mematikan.
Kathryn menatap Dimas dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya serasa berhenti. Pemilik Medika Group? Alvaro Holdings?
Reina menggelengkan kepalanya histeris. "Tidak mungkin! Ini sandiwara! Kalian semua bekerja sama untuk menipuku! Dimas, katakan kalau ini bohong! Kamu itu miskin!"
Dimas menatap Reina dengan tatapan hampa. "Aku tidak pernah bilang aku miskin, Reina. Kamu yang terlalu sibuk dengan egomu sampai tidak pernah mau tahu siapa suamimu sebenarnya. Dan soal ban mobilku yang kamu rusak semalam... terima kasih. Karena itu, aku bisa menginap di sini dan menyadari bahwa aku tidak butuh wanita sepertimu."
Dimas menoleh pada montir yang berdiri di pintu. "Pasang bannya sekarang. Dan untuk kalian berdua," Dimas menatap Reina dan Airin, "Silakan bicara dengan tim pengacaraku di kantor pusat. Mulai detik ini, aku akan mengambil kembali semua aset yang pernah aku berikan atas namamu, Reina. Karena kamu sudah melanggar satu hal, mengganggu ketenangan keluargaku."
Reina terjatuh terduduk di lantai teras. Wajahnya pucat pasi, seluruh dunianya runtuh dalam hitungan detik. Airin segera membereskan berkasnya dan membungkuk dalam pada Dimas sebelum kabur melarikan diri, meninggalkan Reina sendirian di sana.
Kathryn masih terpaku di meja makan. Ia menatap Dimas dengan perasaan campur aduk. Dimas menyadari itu. Ia berbalik, menatap Kathryn dengan tatapan memohon maaf.
"Kathryn... aku bisa jelaskan semuanya," bisik Dimas.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰