NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di balik tirai kamar hotel, menyinari wajah Aisyah yang tampak begitu tenang.

Perlahan, Aisyah membuka matanya dan melihat suaminya yang sedang memandang wajahnya dengan tatapan penuh kekaguman.

Rizal sudah terjaga lebih dulu, menopang kepala dengan tangannya sambil tersenyum tipis.

"Terima kasih, Sayang," ucap Rizal lembut, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur. Ada binar kebahagiaan yang berbeda di matanya pagi ini—sebuah ketenangan yang belum pernah Aisyah lihat sebelumnya.

Aisyah menganggukkan kepalanya sambil memeluk tubuh suaminya, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dada bidang Rizal.

Kehangatan itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya merasa sangat aman dan dicintai. Badai yang kemarin menghantam keluarga mereka seolah menguap, digantikan oleh kedamaian yang baru.

Rizal mengecup kening istrinya dengan lama. "Sekarang aku ingin liburan dengan kamu, Sayang. Aku ingin melakukan bulan madu yang tertunda di kota ini," lanjut Rizal dengan nada yang tidak menerima penolakan.

Aisyah mendongak kecil. "Tapi bagaimana dengan kantor dan perusahaan, Mas?"

Rizal terkekeh pelan. "Ada Siska yang sudah aku promosikan, ada Mas Iman dan yang lainnya di rumah. Untuk beberapa hari ke depan, dunia hanya milik kita berdua. Aku ingin kita menikmati Kediri, mengunjungi tempat-tempat indah, dan mungkin, sering-sering menjenguk Intan di sela waktu kita."

Aisyah tersenyum lebar, kebahagiaan terpancar jelas dari wajahnya.

"Terima kasih, Mas. Aku merasa seperti pengantin baru yang sebenarnya."

"Memang begitu kenyataannya, Aisyah," bisik Rizal sambil semakin mempererat pelukannya

Pagi yang hangat di Kediri terasa begitu istimewa.

Setelah momen penuh kasih semalam, Rizal tak ingin melepaskan pandangannya dari wanita yang kini resmi menjadi belahan jiwanya seutuhnya.

Ia ingin memanjakan Aisyah, mengganti semua waktu yang terbuang karena kesedihan di masa lalu.

Kemudian Rizal membopong tubuh istrinya dengan sigap dari tempat tidur.

Aisyah sempat terpekik kaget namun tertawa kecil sambil melingkarkan lengannya di leher Rizal.

Dengan penuh kemesraan, Rizal mengajaknya mandi bersama, sebuah momen intim yang semakin mempererat ikatan batin mereka sebagai pasangan suami istri.

Setelah bersiap dengan pakaian santai yang rapi, mereka keluar meninggalkan hotel dengan perasaan ringan.

Rizal tidak ingin makan di hotel; ia ingin mengajak Aisyah merasakan kedekatan dengan budaya kota ini.

"Kita tidak akan makan buffet hotel pagi ini, Sayang," ujar Rizal sambil menggenggam tangan Aisyah di dalam mobil.

"Aku ingin mencari sarapan pecel yang terkenal di Kediri."

Mereka pun sampai di sebuah kedai sederhana namun sangat ramai pengunjung. Rizal memesan dua porsi spesial.

Tak lama kemudian, dua piring daun pisang tersaji di depan mereka.

Menu itu tampak begitu menggoda dengan punten halus yang berwarna putih bersih sebagai pengganti nasi, dan bumbu pecel yang pedas kental menyelimuti sayuran hijau segar.

"Cobalah, punten ini khas di sini. Teksturnya lembut sekali," ucap Rizal sambil menyuapkan sedikit ke mulut Aisyah.

Aisyah mengunyahnya dengan nikmat. Rasa gurih dari punten yang terbuat dari nasi dan santan itu berpadu sempurna dengan pedasnya bumbu kacang yang kuat.

"Enak sekali, Mas! Pedasnya pas," jawab Aisyah dengan wajah ceria.

Sambil menikmati sarapan sederhana namun bermakna itu, Rizal menatap Aisyah dengan penuh syukur.

Di kota Kediri ini, mereka tidak hanya menemukan kembali putri mereka yang hilang arah, tetapi juga menemukan cinta mereka yang baru saja bermekaran dengan indahnya.

Aisyah menyandarkan kepalanya di bahu Rizal sambil terus menikmati sisa rasa pedas di lidahnya.

Ia menatap suaminya dengan penuh rasa penasaran.

Sejak tiba di kota ini, Rizal tampak sangat menguasai setiap sudut jalan dan tempat makan tersembunyi yang melegenda.

"Mas, kenapa kamu tahu sekali tentang kuliner Kediri?" tanya Aisyah heran.

"Padahal seingatku, kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kota besar untuk urusan bisnis."

Rizal terdiam sejenak, sorot matanya menerawang jauh ke masa lalu, seolah sedang memutar kembali memori yang sudah lama tersimpan di sudut hatinya.

Ia meletakkan sendoknya dan menggenggam tangan Aisyah di atas meja kayu kedai pecel itu.

"Sayang, aku dulu SMP sekolah di Kediri saat mendiang ibuku masih hidup," jawab Rizal dengan nada suara yang melembut.

"Dulu hidup kami sangat sederhana. Ibu sering mengajakku makan punten pecel seperti ini kalau aku dapat nilai bagus di sekolah. Bagi kami dulu, makan pecel di pinggir jalan ini sudah seperti pesta mewah."

Aisyah terenyuh mendengarnya. Ia baru menyadari bahwa ada bagian dari hidup Rizal yang belum sepenuhnya ia ketahui.

Kediri ternyata bukan sekadar kota tempat Intan dididik, tapi juga kota yang menyimpan kenangan masa kecil suaminya yang penuh perjuangan.

"Maafkan aku, Mas. Aku tidak tahu kalau kota ini punya ikatan batin yang kuat denganmu dan Ibu," bisik Aisyah penuh empati.

"Tidak apa-apa, Sayang. Justru aku senang bisa membawamu ke sini," balas Rizal sambil tersenyum tulus.

"Melihatmu makan dengan lahap di sini, rasanya seperti membawa Ibu kembali hadir di tengah-tengah kita. Aku ingin menunjukkan padamu, dari sinilah kejujuran dan kerja kerasku bermula."

Aisyah semakin kagum pada sosok pria di hadapannya.

Rizal bukan hanya pria yang tegas dan sukses, tapi juga pria yang tidak pernah melupakan akar dan perjuangan masa lalunya.

Setelah menghabiskan sarapan pecel yang penuh kenangan, Rizal menghidupkan mesin mobilnya dengan semangat yang baru.

Ia ingin menunjukkan satu lagi ikon kebanggaan kota masa kecilnya kepada Aisyah.

Setelah itu, mereka ke Simpang Lima Gumul untuk berfoto.

Dari kejauhan, bangunan megah yang menyerupai Arc de Triomphe di Paris itu berdiri kokoh di tengah persimpangan besar.

Arsitekturnya yang artistik dengan relief-relief sejarah di dindingnya membuat Aisyah terpana.

"Mas, ini indah sekali! Berasa sedang tidak di Indonesia," seru Aisyah kagum saat mereka turun dari mobil.

Rizal tersenyum, lalu merangkul pinggang istrinya menuju area monumen.

Di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangat namun tetap terasa sejuk, mereka mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen.

Rizal mengeluarkan ponselnya, lalu mengajak seorang pengunjung lain untuk membantu mengambil foto mereka.

Di depan monumen yang megah itu, mereka berdiri sangat dekat.

Rizal mengecup kening Aisyah tepat saat kamera menangkap gambar mereka.

"Lihat ini, Sayang," ujar Rizal sambil menunjukkan hasil foto di layar ponsel.

"Foto ini akan menjadi bukti bahwa setelah badai besar, selalu ada pelangi yang indah. Kita memulai lembaran baru di sini."

Aisyah menyandarkan kepalanya di dada Rizal, memandangi foto mereka yang tampak sangat bahagia.

Tidak ada lagi gurat kesedihan atau beban di wajah mereka.

Di Simpang Lima Gumul ini, mereka seolah menegaskan bahwa cinta mereka telah mencapai titik pusatnya—sebuah persimpangan yang kini hanya menuju ke satu arah: kebahagiaan masa depan.

Puas berfoto di Simpang Lima Gumul, Rizal mengajak Aisyah berburu buah tangan sebelum mereka mengakhiri perjalanan manis di kota ini.

Mereka membeli oleh-oleh khas Kediri di pusat pertokoan yang berjejer rapi. Rizal dengan cekatan memilih tahu takwa yang kuning kenyal, getuk pisang yang manis legit dengan bungkus daun pisangnya yang khas, serta beberapa kantong tahu pong yang renyah untuk camilan di jalan.

"Mas, ini banyak sekali," ujar Aisyah sambil menata tas belanjaan di bagasi.

"Satu tas ini khusus untuk Intan dan teman-temannya di pondok nanti. Biar mereka bisa pesta kecil-kecilan," jawab Rizal dengan kedipan mata yang jenaka.

Namun, perburuan kuliner Rizal belum berakhir. Kemudian ia mengajak membeli Ayam Bakar Bangi yang terkenal di Kediri.

Bau harum bumbu rempah yang dibakar di atas arang langsung menyambut indra penciuman mereka saat sampai di warung tersebut.

"Ini bukan sekadar ayam panggang Aisyah. Bumbunya meresap sampai ke tulang, persis seperti yang sering aku impikan dulu kalau sedang lapar di kelas," kenang Rizal sambil memesan beberapa ekor untuk dibawa pulang ke rumah dan juga ke pesantren.

Aisyah hanya bisa tersenyum melihat sisi lain suaminya yang begitu antusias.

Rizal yang ia kenal sebagai pengusaha dingin dan kaku di kantor, kini tampak seperti anak laki-laki yang sedang bernostalgia dengan kota kelahirannya.

Sambil menunggu pesanan ayam panggang disiapkan, mereka duduk di bangku kayu panjang, menikmati semilir angin Kediri yang membawa aroma kenangan dan harapan baru

Mobil hitam Rizal kembali memasuki area parkir pesantren yang tenang.

Di bagasi, aroma harum Ayam panggang Bangi yang khas menyeruak, siap menjadi kejutan spesial bagi putri mereka.

Mereka kembali ke pondok untuk mengantarkan Ayam Bakar Bangi ini kepada Intan sebagai perpisahan sebelum pulang ke Jakarta.

Saat mereka berjalan menuju ruang kunjungan, Intan tampak sedang menyapu teras asrama bersama Yuana.

Begitu melihat sosok Rizal dan Aisyah, Intan menjatuhkan sapunya dan berlari mendekat dengan wajah terkejut sekaligus malu.

"Mama? Ayah? Loh, Intan kira Ayah sama Mama sudah pulang ke Jakarta dari kemarin sore," ucap Intan sambil mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.

Rizal tertawa kecil sambil mengangkat bungkusan ayam bakar yang masih hangat.

"Tadinya mau langsung pulang, tapi ada yang tertinggal."

Aisyah menggoda putrinya dengan senyuman penuh arti.

"Kami menginap semalam di hotel, Sayang. Menikmati suasana Kediri berdua saja."

Melihat wajah Mamanya yang tampak jauh lebih segar dan bahagia, serta cara Rizal merangkul pinggang Aisyah dengan protektif, Intan kira ayah sama mama sudah pulang, ternyata bulan madu.

"Ciyeee... jadi Ayah sama Mama sengaja 'menitipkan' Intan di sini supaya bisa pacaran ya?" goda Intan dengan nada jenaka yang sudah lama tidak terdengar. Kelicikannya kini benar-benar berganti menjadi keceriaan yang sehat.

"Anggap saja begitu," jawab Rizal sambil menyerahkan bungkusan ayam panggang dan tas berisi tahu takwa serta getuk pisang.

"Ini, bagi dengan Yuana dan teman-temanmu. Ayam Bakar Bangi ini favorit Ayah waktu kecil. Makan yang banyak, supaya belajarnya semangat."

Intan menerima pemberian itu dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih, Pa, Ma. Maaf ya, Intan kemarin-kemarin jadi perusak suasana. Sekarang Intan senang melihat Mama dan Papa bahagia."

Momen perpisahan itu terasa begitu manis. Tidak ada lagi ketegangan, hanya ada aroma ayam bakar yang gurih dan janji untuk bertemu kembali sebagai keluarga yang lebih utuh.

1
Lizam Alby
lohhh ko Rizal yg JD wali kan dia bpak sambung
my name is pho: terima kasih kak. Thor revisi sebentar
total 1 replies
mfi Pebrian
cerita nya bagus......semangat untuk up nya yah KK.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!