NovelToon NovelToon
Di Bawah Payung Yang Sama

Di Bawah Payung Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.

Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.

Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.

Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Malam itu hujan turun lebih lama dari biasanya.

Suara tetesan air yang memukul atap dan jendela apartemen terdengar konstan, menciptakan irama yang bagi sebagian orang mungkin menenangkan, namun bagi Kim Ae Ra, itu selalu membawa perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.

Ia berbaring di tempat tidurnya, memeluk bantal sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Di meja kecil di sampingnya, payung hitam milik Hyun Jae Hyuk tergeletak diam, seolah menjadi saksi bisu dari perubahan-perubahan kecil yang mulai terjadi dalam hidupnya.

Pikirannya melayang pada percakapan di toserba tadi malam. Saat ia menyebut nama Haesung, ada sesuatu yang berubah pada ekspresi Lee Seo Jun.

Bukan sesuatu yang terang-terangan, tapi cukup bagi Ae Ra yang sudah mengenalnya selama ini untuk merasakan bahwa nama itu bukan hal asing baginya. Atau setidaknya, bukan hal yang bisa diterima begitu saja.

"Apa sebenarnya yang kau sembunyikan, Seo Jun…" gumamnya pelan ke dalam kegelapan.

Pertanyaan itu menggantung di udara, tanpa jawaban.

Ae Ra tahu, Seo Jun adalah orang yang paling tenang dan pendengar yang paling baik di dunia baginya saat ini. Namun akhir-akhir ini, ada lapisan lain di balik ketenangan itu—sesuatu yang waspada, sesuatu yang seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.

Dan kejadian tadi malam, saat Seo Jun memperhatikan payung hitam itu dengan tatapan yang sulit dibaca, semakin menegaskan bahwa pria itu tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.

Sebelum pikirannya bisa melangkah lebih jauh, kantuk akhirnya datang menjemput. Ae Ra memejamkan mata, membiarkan suara hujan membawanya masuk ke dalam tidur, berharap malam ini tidak ada mimpi samar yang mengganggunya.

Namun harapan itu seringkali hanya tinggal harapan.

...----------------...

Di sisi lain kota, di sebuah ruangan kerja yang lampunya masih menyala meski jarum jam sudah menunjuk angka dua pagi, Hyun Jae Hyuk masih duduk di kursinya.

Di depannya, berkas-berkas persiapan untuk pertemuan dengan Haesung Group tersusun rapi, namun pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana.

Sejak kemarin sore, saat ia menyadari sepenuhnya bahwa gadis yang ada di hadapannya sekarang adalah sosok yang selama ini ia cari dalam ingatannya, dunia di sekitarnya terasa berubah warna.

Ingatan itu kembali datang begitu jelas, seolah kejadian itu baru saja terjadi kemarin sore.

......................

Hujan deras yang memukul bumi. Langit malam yang gelap gulita.

Dan di tepi jembatan Sungai Han, seorang gadis berdiri diam di pinggir pembatas, tubuhnya basah kuyup, tatapannya kosong menatap arus sungai yang gelap dan deras di bawahnya.

Jae Hyuk yang saat itu masih berseragam sekolah, entah karena kebetulan lewat atau ada keperluan lain, berhenti saat melihat sosok itu.

Ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa begitu saja berlalu. Rasa cemas yang aneh, seolah ada bahaya yang sedang mengintai.

Ia ingat betul rasa ragu itu. Haruskah ia mendekat? Apa gadis itu akan marah? Tapi saat ia melihat bagaimana gadis itu perlahan mengangkat kakinya sedikit, seolah hendak melompat ke dalam kegelapan sungai itu, Jae Hyuk tidak berpikir dua kali.

Ia berlari kecil mendekat, membuka payung besar yang ia bawa, dan berdiri di samping gadis itu tepat sebelum hal buruk terjadi.

Suasana hening sejenak, hanya suara hujan yang terdengar keras.

Jae Hyuk tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri diam, meneduhkan gadis itu dengan payungnya.

Lalu, dengan suara yang pelan namun tegas, ia mengucapkan kalimat yang bahkan ia sendiri tidak sadar akan terus ia ingat seumur hidupnya.

"Kalau kelamaan kena hujan nanti kamu bisa sakit karena kedinginan. Dan air sungai itu bahkan lebih dingin dari air hujan."

Gadis itu tidak menoleh. Tidak menjawab.

Tapi Jae Hyuk bisa melihat bahu gadis itu sedikit bergetar, dan kaki yang tadi sedikit terangkat kini kembali menapak kuat di lantai jembatan.

Dan untuk alasan yang bahkan tidak ia pahami saat itu, Jae Hyuk tetap berdiri di sana. Ia tidak pergi. Ia menemani gadis itu di bawah payungnya, menahan dinginnya hujan, sampai akhirnya hujan itu reda dan gadis itu tampak lebih tenang.

......................

Sekarang, melihat Ae Ra yang berdiri di hadapannya sebagai sekretarisnya, Jae Hyuk bisa melihat kemiripan yang jelas dengan gadis kecil di jembatan itu.

Mata yang sama, cara menunduk yang sama, bahkan rasa rapuh yang tersembunyi di balik ketangguhannya. Ada rasa lega yang mendalam, seolah ia telah menemukan kembali sesuatu yang berharga yang pernah ia hilangkan.

Namun di saat yang sama, ada rasa cemas yang mulai merayap di dadanya. Semakin dekat ia dengan Ae Ra, semakin ia menyadari bahwa gadis itu memiliki banyak lapisan yang belum ia ketahui.

Dan salah satu lapisan itu tampaknya terhubung dengan Haesung Group—perusahaan yang kini menjadi pesaing terbesar Aegis Corp.

Jae Hyuk mengusap wajahnya lelah, lalu meraih sebuah foto lama yang tersimpan di laci meja kerjanya.

Foto itu sudah agak pudar, menampilkan seorang gadis kecil dengan rambut basah kuyup, duduk sendirian di tepi jalan setelah hujan reda.

Ia tidak ingat kapan ia mengambil foto itu—mungkin secara tidak sengaja saat ia masih remaja, atau mungkin ia memintanya pada seseorang—tapi foto itu selalu ia simpan.

Dan sekarang, melihat foto itu, ia bisa melihat kemiripan yang jelas dengan wanita yang kini bekerja sebagai sekretarisnya.

"Kau siapa sebenarnya, Ae Ra…" bisiknya pelan. "Dan kenapa takdir membawa kita bertemu lagi dalam situasi seperti ini."

Pagi datang dengan langit yang masih kelabu, sisa dari hujan semalam.

Kim Ae Ra bangun dengan perasaan yang sedikit lebih berat dari biasanya.

Mimpi semalam masih samar di ingatannya—hujan, payung, dan sosok seseorang yang berdiri di sampingnya.

Namun kali ini, ada sedikit perbedaan. Dalam mimpi itu, ia merasa bisa melihat sedikit lebih jelas wajah orang itu. Tidak sepenuhnya, tapi ada kesan yang familiar. Kesan yang mengingatkannya pada seseorang yang sering ia temui belakangan ini.

Dan ada suara samar yang terdengar di telinganya, suara yang berkata sesuatu tentang hujan dan dinginnya air sungai.

"Aku terlalu banyak memikirkannya," gumamnya sambil menggeleng, mencoba menghilangkan pikiran itu.

Ia bersiap untuk berangkat kerja dengan gerakan yang sudah otomatis. Sarapan sederhana bersama ibunya, Mi Ran, pagi itu terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya.

Ae Ra memperhatikan ibunya yang sesekali meliriknya dengan tatapan yang sulit dibaca.

Sejak beberapa hari terakhir, sejak Ae Ra mulai sering merasa tidak nyaman dengan bau asap dan hujan, Mi Ran terlihat lebih cemas dari biasanya. Ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan, sesuatu yang berkaitan dengan masa lalu Ae Ra yang tidak ia ingat.

"Bu," panggil Ae Ra pelan saat mereka sedang mencuci piring bersama.

Mi Ran menoleh sedikit. "Ya?"

"Apa… ada sesuatu yang Ibu tidak ceritakan padaku?" tanya Ae Ra hati-hati. "Tentang masa lalu. Tentang kenapa aku tidak suka hujan dan bau asap."

Tangan Mi Ran berhenti sejenak, lalu kembali bergerak mencuci piring dengan gerakan yang sedikit lebih cepat. "Tidak ada apa-apa, Nak. Kau hanya terlalu lelah bekerja. Pikiranmu saja yang bermain-main."

Jawaban itu terdengar terlalu cepat, terlalu dipaksakan. Ae Ra tahu ibunya sedang berbohong.

Namun ia tidak memaksa. Ia tahu, ada saatnya semua kebenaran akan terungkap dengan sendirinya. Dan mungkin, saat itu tidak akan lama lagi.

.....

Perjalanan menuju Aegis Corp pagi itu terasa lebih panjang.

Ae Ra duduk di dekat jendela bus, memandangi jalanan kota yang mulai sibuk. Di tangannya, ia kembali memegang payung hitam itu.

Entah kenapa, benda sederhana itu selalu memberinya rasa aman yang aneh. Seolah ada bagian dari dirinya yang tahu bahwa payung itu adalah penghubung antara masa lalu yang hilang dan masa kini yang sedang ia jalani.

Begitu ia tiba di lantai eksekutif Aegis Corp, suasana langsung menyambutnya dengan kesibukan yang biasa.

Namun hari itu, ada sesuatu yang berbeda. Aura tegang yang sudah terasa sejak beberapa hari terakhir kini semakin terasa nyata. Beberapa staf berjalan cepat dengan wajah serius, membawa dokumen-dokumen tebal.

Bisikan-bisikan pelan terdengar di sana-sini, semuanya mengarah pada satu hal: pertemuan dengan Haesung Group yang tinggal beberapa hari lagi.

Ae Ra langsung duduk di mejanya, menyalakan komputer, dan mulai memeriksa agenda hari itu. Ia harus memastikan semuanya berjalan lancar, terutama karena hari ini ada beberapa persiapan terakhir yang harus dilakukan sebelum pertemuan besar itu.

Belum lama ia duduk, pintu ruang CEO terbuka. Hyun Jae Hyuk keluar dengan langkah cepat, namun saat melihat Ae Ra, langkahnya sedikit melambat.

"Pagi," sapanya singkat, namun nadanya terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya.

Ae Ra langsung berdiri. "Selamat pagi, Tuan CEO."

Jae Hyuk berhenti sebentar di depan meja Ae Ra, matanya sekilas jatuh pada payung hitam yang bersandar di sisi meja.

Ada kilatan emosi yang cepat melintas di matanya—rasa mengenali, rasa lega, dan sesuatu yang lain yang sulit dijelaskan.

Itu adalah payung yang sama, atau setidaknya model yang sangat mirip dengan yang ia gunakan bertahun-tahun lalu di jembatan itu.

"Kau membawanya lagi," katanya pelan.

Ae Ra mengangguk sedikit. "Iya. Saya akan mengembalikannya segera setelah tidak diperlukan lagi."

"Tidak perlu terburu-buru," jawab Jae Hyuk cepat, seolah ia tidak ingin Ae Ra mengembalikannya terlalu cepat. "Aku masih punya yang lain. Pakai saja selama kau butuh."

Hening singkat terasa di antara mereka.

Ae Ra menatap pria di depannya, merasa ada sesuatu yang berubah dalam cara Jae Hyuk menatapnya. Tatapannya kali ini terasa lebih dalam, lebih intens, seolah ia sedang mencoba mencari jawaban dari sesuatu yang telah lama ia tanyakan.

"Baik," jawab Ae Ra pelan, merasa wajahnya sedikit memanas.

Jae Hyuk mengangguk, lalu berbalik hendak masuk kembali ke ruangannya. Namun sebelum pintu tertutup, ia berhenti sebentar dan menoleh lagi.

"Setelah selesai dengan pekerjaan pagi ini, masuklah. Ada yang ingin kubicarakan," katanya sebelum akhirnya pintu tertutup di hadapan Ae Ra.

Ae Ra berdiri terpaku beberapa detik, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Apa yang ingin dibicarakan Jae Hyuk? Apakah ada masalah dengan persiapan pertemuan dengan Haesung? Atau ada hal lain? Entah kenapa, ia memiliki perasaan bahwa percakapan yang akan mereka lakukan nanti bukan sekadar soal pekerjaan biasa.

Pagi itu berlalu dengan kesibukan yang padat, namun Ae Ra berhasil melewatinya dengan lancar. Ia mengatur jadwal, memastikan semua dokumen tersusun rapi, dan menangani berbagai permintaan dari divisi-divisi lain dengan tenang.

Ia merasa bangga pada dirinya sendiri—ia tidak lagi menjadi gadis yang panik dan takut setiap kali memasuki gedung itu. Ia telah tumbuh, ia telah menjadi bagian dari tempat itu.

Namun di tengah kesibukan itu, pikirannya beberapa kali melayang pada janji Jae Hyuk tadi pagi. Apa yang ingin ia bicarakan? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuatnya sedikit gelisah namun juga penasaran.

Akhirnya, saat jarum jam menunjuk angka dua belas siang, dan pekerjaan pagi itu selesai, Ae Ra menarik napas panjang, merapikan pakaiannya sedikit, lalu berjalan menuju pintu ruang CEO. Ia mengetuk pelan.

"Masuk." Suara Jae Hyuk terdengar dari dalam.

Ae Ra membuka pintu dan masuk perlahan. Ruangan itu terasa sama seperti biasa—luas, rapi, dan sedikit dingin. Namun hari itu, ada suasana yang berbeda di dalamnya.

Jae Hyuk tidak duduk di mejanya, melainkan berdiri di dekat jendela besar, memandangi langit kota yang masih kelabu. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu yang berat.

"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Ae Ra pelan, memecah keheningan yang terasa.

Jae Hyuk menoleh perlahan, menatapnya dengan tatapan yang dalam. Ia tidak langsung menjawab, melainkan berdiri diam beberapa detik, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat untuk memulai percakapan.

"Duduklah," katanya akhirnya, menunjuk kursi di depan meja kerjanya.

Ae Ra mengangguk dan duduk dengan hati-hati, meletakkan tablet di pangkuannya.

Jae Hyuk kemudian berjalan menuju kursinya dan duduk, menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi yang serius namun juga lembut.

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, Ae Ra," katanya, menggunakan nama depannya untuk pertama kalinya tanpa gelar. Itu membuat Ae Ra membeku sedikit, merasa ada sesuatu yang penting akan terjadi.

Jae Hyuk menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara yang tenang namun tegas,

"Apakah kau… ingat apa pun tentang masa lalumu? Tentang kejadian yang membuatmu tidak suka hujan dan bau asap. Atau… apakah kau ingat pernah berada di jembatan saat hujan deras bertahun-tahun lalu?"

Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, begitu langsung, hingga Ae Ra tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Ia menatap Jae Hyuk dengan mata terbelalak, mulutnya terbuka sedikit namun tidak ada kata yang keluar.

Pertanyaan tentang jembatan itu—itu adalah sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak ingat jelas, hanya perasaan samar yang kadang muncul.

"Saya…" Ae Ra akhirnya bisa bersuara, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Saya tidak ingat apa-apa, Tuan. Hanya… perasaan yang samar. Hanya rasa tidak nyaman yang muncul tanpa alasan jelas. Dan tentang jembatan… saya kadang merasa pernah berada di sana saat hujan, tapi itu saja. Saya tidak ingat detailnya."

Jae Hyuk menatapnya lekat-lekat, seolah sedang menilai apakah gadis itu mengatakan yang sebenarnya atau tidak.

Namun melihat ekspresi bingung dan jujur di wajah Ae Ra, ia tahu bahwa gadis itu benar-benar tidak ingat apa-apa. Ada rasa kecewa yang samar namun juga rasa lega yang aneh di dadanya.

Jika Ae Ra tidak ingat, mungkin itu berarti ia belum harus menghadapi kenyataan pahit yang mungkin ada di balik masa lalu itu. Namun di saat yang sama, ia juga tahu bahwa kebenaran tidak bisa selamanya disembunyikan.

"Tuan," panggil Ae Ra pelan, memberanikan diri. "Kenapa Anda menanyakan hal itu? Apakah Anda tahu sesuatu? Apakah Anda… yang ada di ingatan samar saya itu?"

Jae Hyuk terdiam beberapa detik, menatap mata gadis di hadapannya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan—bahwa ia ingat jelas setiap detik di jembatan itu, bahwa ia adalah orang yang menemani Ae Ra, bahwa ia telah menyelamatkan nyawa gadis itu tanpa sadar saat itu.

Namun ia tahu, sekarang bukan waktunya untuk menceritakan semuanya. Ia tidak ingin membuat Ae Ra bingung atau terkejut sebelum waktunya. Ia ingin Ae Ra mengingatnya dengan sendirinya, atau setidaknya ia ingin memastikan semuanya aman sebelum membuka semua rahasia ini.

"Aku hanya… memperhatikan," jawabnya akhirnya, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Aku melihat bagaimana reaksimu setiap kali ada hujan atau bau asap. Dan aku juga ingat pernah melihat seseorang yang mirip denganmu di suatu tempat bertahun-tahun lalu, tapi ingatanku juga samar. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Jika ada apa-apa, atau jika kau mulai mengingat sesuatu, kau bisa memberitahuku. Aku akan mendengarkan."

Kata-kata itu sederhana, namun terdengar sangat tulus hingga membuat hati Ae Ra terasa hangat. Ia tidak tahu apa alasan sebenarnya di balik perhatian Jae Hyuk, tapi ia merasa bersyukur memilikinya.

Ada rasa aman yang aneh saat mendengar kata-kata itu, seolah beban berat di dadanya sedikit terangkat.

"Terima kasih, Tuan," katanya pelan, tersenyum kecil. "Saya akan memberitahu Anda jika ada apa-apa."

Jae Hyuk mengangguk, merasa sedikit lega karena percakapan itu berjalan lancar. Namun di dalam hatinya, ada gejolak yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Ia tahu, ia baru saja menahan diri untuk tidak menceritakan seluruh kebenaran. Tapi ia yakin, keputusannya untuk menunggu saat yang tepat adalah langkah yang benar. Ia tidak ingin Ae Ra terkejut atau bingung sebelum waktunya.

Sore hari berlalu dengan cepat.

Ae Ra kembali sibuk dengan pekerjaannya, namun pikirannya beberapa kali melayang pada percakapan tadi siang.

Apa sebenarnya yang diketahui Jae Hyuk? Kenapa dia tiba-tiba menanyakan soal jembatan dan masa lalunya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, membuatnya penasaran namun juga sedikit waspada. Namun di balik rasa penasaran itu, ada rasa hangat yang tumbuh perlahan, rasa bahwa mungkin ada seseorang yang benar-benar peduli padanya lebih dari sekadar hubungan kerja.

Malam datang, dan seperti biasa, langkah Ae Ra berakhir di toserba kecil itu.

Tempat yang selalu menjadi pelariannya, tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan pekerjaan atau tekanan hidup.

Klining…

Bel pintu berbunyi lembut, menyambutnya dengan kehangatan yang selalu ia rindukan. Bo Ram sedang duduk di balik kasir sambil bermain ponsel, sementara Seo Jun berdiri di dekat rak makanan ringan, sedang menata barang-barang dengan gerakan yang tenang seperti biasa.

"Orang sibuk datang!" seru Bo Ram saat melihat Ae Ra, tersenyum ceria seperti biasa. Senyum itu selalu berhasil membuat suasana hati Ae Ra membaik sedikit.

Ae Ra tersenyum kecil, merasa bahunya sedikit rileks saat berada di tempat itu. "Hari ini cukup panjang. Banyak hal yang harus dipikirkan."

Seo Jun menoleh ke arahnya, menatapnya dengan tatapan yang tenang namun juga memperhatikan.

Ada kilatan perhatian yang selalu ada di mata pria itu setiap kali melihat Ae Ra. "Kau terlihat sedikit lelah. Ada masalah di kantor?" tanyanya pelan, suaranya terdengar menenangkan.

Ae Ra menggeleng pelan sambil duduk di kursi kecil dekat kasir. "Tidak terlalu. Hanya… persiapan untuk pertemuan besar dengan Haesung Group yang semakin dekat. Semuanya jadi sedikit tegang."

Seo Jun menyerahkan minuman hangat padanya seperti biasa, tanpa diminta. Gerakannya halus dan terbiasa. "Minum dulu. Membantu sedikit menenangkan pikiran."

"Terima kasih, Seo Jun," jawab Ae Ra sambil menerima minuman itu, merasakan kehangatan yang menjalar ke tangannya dan kemudian ke seluruh tubuhnya. "Kau selalu tahu apa yang aku butuhkan."

Seo Jun hanya tersenyum tipis, tidak menjawab banyak. Namun di balik senyum itu, ada sesuatu yang tersembunyi.

Sejak Ae Ra menyebut nama Haesung Group tadi, ada perasaan tidak nyaman yang mulai merayap di dadanya. Ia tahu, hari di mana ia harus menghadapi kenyataan sebagai pewaris Haesung semakin dekat.

Dan ia juga tahu, saat Ae Ra mengetahui siapa dia sebenarnya, segalanya akan berubah. Ia hanya berharap, perubahan itu tidak akan membuat Ae Ra menjauh darinya.

Mereka kemudian berbincang ringan, seperti biasa. Bo Ram menceritakan hal-hal lucu yang terjadi di toserba hari itu—tentang pelanggan yang lucu, tentang stok barang yang habis secara tidak terduga, dan berbagai cerita kecil lainnya yang membuat Ae Ra tertawa ringan.

Ae Ra juga menceritakan sedikit tentang kantor, tentang bagaimana Jae Hyuk terlihat semakin serius belakangan ini, dan tentang perasaan aneh yang ia rasakan saat Jae Hyuk menanyakan soal masa lalunya.

Namun saat ia kembali menyebut nama Haesung Group dalam percakapan itu, ia tidak sengaja memperhatikan perubahan kecil pada Seo Jun.

Pria itu tidak berkata apa-apa, tapi gerakannya yang sedang mengambil barang di rak sedikit melambat, dan tatapannya terlihat sedikit lebih jauh dari biasanya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.

Ae Ra ingin bertanya, ingin tahu apa sebenarnya hubungan Seo Jun dengan nama perusahaan itu. Ada rasa penasaran yang mulai tumbuh, didorong oleh percakapan dengan Jae Hyuk tadi siang. Namun ada sesuatu yang menahannya.

Mungkin karena ia takut mendengar jawaban yang mungkin mengubah segalanya, atau mungkin karena ia merasa bahwa Seo Jun akan memberitahunya saat waktunya tiba. Ia memilih untuk diam, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara.

Malam semakin larut, dan toserba itu akhirnya tutup. Lampu-lampu dimatikan satu per satu, kecuali lampu di dekat pintu keluar.

Ae Ra berpamitan pada Bo Ram dan Seo Jun, lalu melangkah keluar ke dalam malam yang masih terasa dingin sisa hujan beberapa hari lalu. Ia membuka payung hitam milik Jae Hyuk itu, merasakan kehangatan yang aneh dari benda itu.

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, ia berjalan perlahan menuju rumahnya, pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan—tentang Seo Jun yang misterius, tentang Jae Hyuk yang penuh perhatian, dan tentang masa lalunya yang samar namun mulai memberikan tanda-tanda keberadaannya.

Ia tidak tahu bahwa di suatu tempat di kota itu, seseorang sedang memperhatikannya. Seseorang yang memiliki jawaban atas banyak pertanyaannya. Dan seseorang yang sedang bersiap untuk mengubah segalanya.

Di sebuah gedung pencakar langit di pusat kota Seoul, di lantai paling atas yang sunyi dan mewah, Lee Seo Jun berdiri di balkon kamarnya setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dari seragam toserbanya.

Angin malam berhembus pelan, menerbangkan helai rambutnya yang sedikit berantakan. Di tangannya, ia memegang gelas berisi air dingin, namun tatapannya kosong menembus kegelapan malam, seolah bisa melihat sampai ke tempat Ae Ra sedang berjalan pulang.

Pikirannya melayang pada percakapan di toserba tadi malam. Saat Ae Ra menyebut nama Haesung Group dengan nada polos dan penuh rasa ingin tahu, ada sesuatu yang menyentak di dadanya.

Ia tahu, hari di mana ia harus memilih antara identitasnya sebagai Lee Seo Jun si pekerja toserba sederhana dan identitas aslinya sebagai pewaris tunggal Haesung Group semakin dekat. Dan jujur saja, ia benci kenyataan itu.

"Ayah selalu tahu cara membuat segalanya jadi rumit," gumamnya pelan dengan nada kesal yang samar.

Ia tahu betul gaya ayahnya—tawaran kerja sama dengan Aegis Corp itu pasti bukan murni soal keuntungan bisnis. Selalu ada agenda tersembunyi, selalu ada langkah yang dihitung matang. Dan sekarang, ketika Ae Ra terlibat di dalamnya sebagai bagian dari Aegis, Seo Jun merasa posisinya semakin sulit dan berisiko.

Ia tidak ingin Ae Ra tahu siapa dia sebenarnya. Tidak sekarang. Ia takut jika Ae Ra tahu, jarak di antara mereka akan melebar. Ae Ra yang selalu bersikap sopan dan menjaga batasan mungkin akan mulai menjauh, menganggapnya sebagai orang dari dunia yang berbeda—dunia bisnis yang keras dan penuh tipu daya yang selama ini Ae Ra coba hindari.

Dan yang paling penting, Seo Jun suka suasana di toserba. Ia suka menjadi dirinya sendiri—tanpa beban nama keluarga, tanpa harus berbicara soal saham, strategi, atau persaingan bisnis. Di sana, di antara rak-rak makanan dan bau snack yang khas, ia merasa hidup.

Dan itu semua karena ada Ae Ra. Ia bekerja di sana bukan karena ia harus, tapi karena ia ingin. Ia ingin dekat dengan Ae Ra, ingin melihat senyumnya setiap hari, ingin menjadi orang yang ada di sana saat Ae Ra butuh seseorang.

"Tapi aku tidak bisa membiarkan apa pun terjadi padamu, Ae Ra," bisiknya pelan, matanya menyiratkan keteguhan yang tajam.

Jika ayahnya berencana sesuatu yang berisiko atau berbahaya dalam pertemuan itu, Seo Jun berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menghentikannya. Bahkan jika itu berarti ia harus mengungkapkan identitasnya dan berhadapan langsung dengan keluarganya sendiri.

Ae Ra terlalu berharga baginya untuk dibiarkan terluka lagi. Ia sudah kehilangan terlalu banyak hal di masa lalu, dan ia tidak akan membiarkan Ae Ra menjadi korban lagi dari permainan bisnis orang dewasa.

...----------------...

Sementara itu, di kediaman keluarga Hyun yang megah dan dingin, Hyun Jin Sun duduk di ruang kerjanya yang luas.

Di depannya, laporan mengenai pertemuan dengan Haesung Group tersebar rapi di atas meja mahoni-nya. Namun, pikirannya tidak ada di sana.

Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, ke malam yang kelabu di mana api berkobar besar dan menghancurkan hidup beberapa orang sekaligus.

Ia teringat pada Kim Seung Ho—supir pribadinya yang selalu tersenyum sopan, yang selalu setia mengantarnya ke mana pun ia pergi.

Seung Ho adalah orang yang baik, terlalu baik mungkin. Tapi sayangnya, kebaikan itu tidak menyelamatkannya ketika ia mengetahui terlalu banyak tentang proyek rahasia yang sedang dijalankan Jin Sun.

Jin Sun menghela napas panjang, jemarinya yang berkerut menekan pelipisnya yang terasa berat. Rasa bersalah itu memang ada, tapi ia selalu meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan adalah demi kebaikan yang lebih besar, demi kelangsungan bisnis dan nama baik keluarganya.

Ia berpikir Seung Ho akan menjadi masalah kelak jika dibiarkan hidup, jadi ia memutuskan untuk menyingkirkannya.

Lalu ada istrinya. Wanita yang ia cintai, namun yang akhirnya hancur karena tuduhan yang ia buat sendiri—bahwa Seung Ho berselingkuh dengannya.

Tuduhan itu begitu berat hingga istrinya tidak sanggup menanggungnya, stres yang berkepanjangan akhirnya merenggut nyawanya.

Jin Sun menutup matanya rapat-rapat, rasa sakit di dadanya kembali muncul dengan tajam. Ia sudah membayar harga yang mahal untuk kesalahannya itu.

Ia kehilangan istrinya, dan sekarang, ketika nama Haesung muncul dan ketika gadis kecil yang selamat dari kebakaran itu—Ae Ra—kembali muncul dalam hidupnya dan bahkan dekat dengan putranya sendiri, Jin Sun tahu bahwa takdir sepertinya sedang memutar roda balas dendamnya.

"Jangan sampai Jae Hyuk tahu," gumamnya pelan, hampir seperti doa yang putus asa.

Ia tidak bisa membiarkan putranya mengetahui kebenaran kotor ini. Jae Hyuk adalah harapannya, pewaris satu-satunya yang akan meneruskan Aegis Corp.

Jika Jae Hyuk tahu bahwa ayahnya adalah pembunuh di balik tragedi itu, dan bahwa gadis yang ia cintai adalah anak dari korban yang ia bunuh, Jin Sun tidak tahu apa yang akan terjadi.

Ia takut kehilangan putranya juga, takut Jae Hyuk akan membencinya. Ia harus melakukan apa saja untuk menjaga rahasia ini tetap terkubur.

.....

1
Lisa
Amin..kalian berdua harus kuat yaa..
Lisa
Senangnya akhirnya Jae Hyuk & Ae Ra sudah mengetahui masa lalu itu dan membuat hubungan mereka makin dekat 👍👍
Lisa
Semangat y Ae Ra..💪👍
Lisa
Kmu harus kuat Ae Ra..ada Jae Hyuk yg selalu mendampingimu..
Lisa
Wah gimana ya suasananya pertemuan bisnis itu..makin seru aj nih ceritanya
Lisa
Ceritanya menarik jg nih ternyata Ae Ra adalah anak dr org yg dibunuh oleh papa dr direktur tmptnya bekerja saat ini..moga aj kebenaran itu dapat terungkap.
Lisa
Wah gmn y acara rapat besarnya..jadi penasaran nih 😊
Lisa
Ae Ra punya masa lalu yg berhubungan dgn CEO
Lisa
Tetap semangat y Ae Ra 💪👍
Lisa
Seo Jun sebenarnya siapa y..apakah dia org penting.
zhafira: hayoo siapa ya?🤭
masih 'Rahasia' 🧐
total 1 replies
Lisa
Wah berarti ada mata² di toserba itu
zhafira: wahh hayoo ada siapa?? 😁
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!