Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Valerius
Di dunia bawah tanah, di ujung ruangan tempat siluman seperti Zarith tinggal. Ada sebuah ruangan kecil yang hanya cukup untuk satu orang dengan posisi tidur. Aira, seorang gadis keturunan kerajaan Es tengah meringkuk tertidur dengan tangan melipat sebagai alas kepala.
Tepat di atas kepalanya, sebuah pusaka yang telah ia tempelkan ilmu sihir, tertancap melekat pada dinding tanah sebagai pengganti lilin.
Tidak ada udara dingin atau pun panas. Tapi bagi Aira, tubuhnya sedang menggigil kedinginan. Kelebatan hitam berisi para Roh jahat dan iblis terus melayang mengelilingi tubuhnya. Semakin Aira terlelap maka semakin banyak pula yang mendatanginya.
Aira menggigil, tubuhnya bergetar karena dingin yang tidak berasal dari udara. Roh-roh jahat dan iblis itu semakin dekat, suara-suara mereka seperti bisikan yang tidak menyenangkan. Mereka mulai mengganggu Aira, membuat dia bergolak dalam tidurnya.
"Malang sekali nasibmu nak,". Gumam Zarith
Zarith yang tak kuasa melihat Aira menderita seorang diri, untuk kali ini ia sendiri yang turun tangan. Zarith memposisikan tangan kanan di depan dadanya. Berawal dari mantra sihir, kemudian tangannya terkepal erat lalu ia buka kepalannya. Gulungan bola hitam menabrak pusaka.
Tiba-tiba, pusaka di atas kepalanya memancarkan cahaya biru yang lembut. Cahaya itu seperti perisai yang melindungi Aira dari roh-roh jahat itu. Mereka mulai menjerit dan melarikan diri, tidak tahan dengan cahaya suci itu.
Aira masih tidur, tapi wajahnya mulai tenang. Dia menggali napas dalam-dalam, seolah-olah dia merasa aman sekarang. Tapi, tiba-tiba, dia membuka mata, menatap ke atas dengan mata biru yang tajam. Pusaka itu masih bersinar, tapi Aira tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada apa pak tua?". Tanyanya
Zarith hanya tersenyum. "Tidurlah kembali, aku akan menjagamu". Ujarnya mengambil posisi duduk.
Aira menatap Zarith dengan mata yang masih setengah tertutup, tapi dia tahu bahwa Zarith tidak akan menjawab pertanyaannya. Dia mengangguk pelan, lalu menutup mata kembali. Zarith tersenyum, mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut Aira.
"Tidurlah, putri kecil. Aku akan menjagamu," katanya dengan suara yang lembut.
...
Di sisi yang lain. Nampak langkah lebar dan memburu, seorang penguasa yang haus akan informasi. Telapak kaki yang di balut sepatu besi membentur lantai dengan keras, menyusuri seluruh koridor istana. Kepalanya seolah akan meledak setelah mendengar pernyataan Ignis beberapa waktu lalu.
"Nocturna!". Suaranya menggelegar menyapu seluruh ruangan.
Sorot matanya yang tajam siap menusuk mata yang berani menentangnya. "Nocturna! Dimana kamu adikku?".
"Nocturna, kakak mencarimu dari dulu". Valerius menghentikan langkahnya sesaat setelah indra pendengarannya menangkap suara gaduh dari arah timur, letak keberadaan kamar yang sebelumnya Aira tempati.
"Kau disana?". Teriak Valerius melesat dengan cepat. merah birunya yang tajam memancarkan api kemarahan. Dia tahu bahwa Nocturna ada di sana, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Suara gemuruh di dalam hatinya semakin keras, membuat dia semakin tidak sabar untuk menemui adiknya.
Kamar itu berantakan, seperti dilanda badai. Bantal dan selimut berserakan di lantai, meja dan kursi terbalik, dan ada jejak-jejak sihir di dinding. Cermin yang tergantung di dinding pecah, dan kaca-kacanya berserakan di lantai.
Lemari pakaian terbuka, dan pakaian-pakaian Nocturna berhamburan keluar. Udara di ruangan itu terasa berat dan pengap, seperti ada sesuatu yang jahat yang telah terjadi di sini. Di tengah-tengah kekacauan itu, ada sebuah kertas kecil di lantai dengan pesan yang ditulis dengan darah: "Dia tidak akan pernah menjadi milikmu."
"Nocturna!" teriak Valerius, suaranya mengguncang ruangan. Matanya memindai ruangan, mencari tanda-tanda keberadaan adiknya.
Valerius menginjak kertas itu, matanya membara dengan kemarahan. "Siapa yang berani melukai adikku!" teriaknya, suaranya mengguncang istana. Dia tahu bahwa ini adalah pekerjaan seseorang yang sangat kuat, seseorang yang tidak ingin Nocturna jatuh ke tangan Valerius.
Dia memindai ruangan lagi, mencari petunjuk tentang siapa yang mungkin melakukan ini. Tiba-tiba, dia melihat sebuah jejak kaki kecil di lantai, jejak kaki yang tidak biasa.
Valerius berdiri di tengah-tengah kamar yang berantakan, suaranya mengguncang istana. Matanya membara dengan kemarahan, dan tangannya mengepal kuat. "Siapa yang berani membawa adikku!" teriaknya lagi, suaranya seperti petir yang mengguncang bumi.
Dia memindai ruangan, mencari tanda-tanda keberadaan Nocturna. Tiba-tiba, dia melihat sebuah petunjuk kecil di lantai, sebuah kalung yang familiar. "Kalung Nocturna," katanya dengan suara yang rendah, matanya menyipit. "Kamu yang melakukan ini, Ignis?".
...
Valerius berdiri di atas podium, matanya membara dengan kemarahan. Dia memindai pasukan yang berkumpul di lapangan, pasukan yang setia dan siap untuk berperang.
"Kawan-kawan! bukankan kalian tahu siapa tuan yang sebenarnya?" teriaknya, suaranya mengguncang udara. "Adikku, Nocturna, telah diculik! Musuh kita, Ignis, telah melakukannya!"
Pasukan itu menggeram, mata mereka membara dengan kemarahan.
"Kita tidak akan membiarkan ini terjadi!" lanjut Valerius. "Kita akan menyerang istana Ignis, dan kita akan membawa Nocturna kembali!"
Pasukan itu berteriak, senjata mereka diangkat tinggi-tinggi. Valerius tersenyum, matanya membara dengan kemarahan.
"Kita akan menunjukkan pada Ignis, bahwa kita tidak bisa diintimidasi! Kita akan menunjukkan pada mereka, bahwa kita adalah pasukan yang kuat dan tak terkalahkan!"
Pasukan itu berteriak lagi, dan Valerius mengangkat tangannya, memimpin mereka menuju istana Ignis. Perjalanan yang jauh terasa dekat jika melangkah dengan amarah.
Sesampainya di hadapan istana kerajaan Api, Valerius mengangkat tangannya, dan pasukan yang berdiri di belakangnya segera bergerak. "Serang istana Ignis!" perintahnya, suaranya mengguncang udara.
Pasukan itu bergerak seperti gelombang, menuju istana Ignis dengan senjata yang siap. Valerius sendiri memimpin serangan itu, matanya membara dengan kemarahan.
Ignis berdiri di atas tembok istana, memandang pasukan Valerius yang mendekat. Mereka seperti gelombang yang tak terhentikan, mata mereka membara dengan kemarahan.
"Siapa mereka?". Tanyanya.
"Yang Mulia, itu adalah pasukan kerajaan Vampir yang menyerang ingin balas dendam kepada kita". Jawab panglima yang berdiri satu langkah di belakangnya.
"Persiapan!" teriak komandonya, seorang pria besar dengan wajah yang keras terukir kekhawatiran di sana
Para prajurit mengambil posisi, panah-panah bermata tajam siap untuk ditembakkan. Ignis tahu bahwa Valerius tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Untuk apa dia kemari?," Tanyanya dengan suaranya rendah. "Kita harus siap untuk melawannya."
"Yang Mulia, menurut informasi, raja Valerius datang kemari membawa kekacauan untuk mencari adiknya, Nocturna,". Tutur panglima.
" Nocturna?". Ignis bergumam dengan kepala yang mengangguk, penglihatannya tidak meninggalkan pasukan Valerius.
"Valerius menyerang? Itu berarti keberadaan Nocturna tidak ada di dalam kastil Vampir, dan siapa pelakunya?". Pikir Ignis
"Siapa pun yang berani menyentuh Nocturna, akan menjadi musuhku!" teriaknya, suaranya seperti petir yang mengguncang bumi.
Istana Ignis yang megah dan kuat kini dikepung oleh pasukan Valerius. Suara gemuruh dan teriakan perang memenuhi udara, pertarungan antara pasukan Valerius dan pasukan Ignis tidak dapat dihindari lagi.