seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.
penasaran sama ceritanya? sini dibacaa
jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 | mencari Devi
lhappy reading
Salma mulai gelisah, ia mondar-mandir
dari tadi. hingga fathir yang melihatnya
pun heran, ada apa dengan istrinya itu.
"yah, kok Devi belum pulang pulang yah?"
tanya Salma setengah khawatir.
Fathir langsung bangkit dari duduknya,
dan menghampiri salma.
Lalu menepuk pelan pundak salma.
"tenang aja bun, devi pasti bisa jaga diri
nya."
Walaupun begitu, salma masih saja
khawatir terhadap Devi.
"bukannya devi cuman izin ke
minimarket? lalu mengapa selama ini
yah?" tanya salma, kali ini nada nya
sangat khawatir.
Fathir mencoba menenangkan istrinya,
padahal dirinya sendiri juga khawatir
terhadap Devi. mau bagaimana pun devi
juga putri semata wayangnya, putri salah
satunya.
"apa kita coba cari devi yah?" saran
salma, ia tak tenang jika harus berdiam
diri di dalam rumah.
Fathir hanya mengangguk, "baiklah, mari
kita cari devi sama sama."
Afan tiba tiba merasa cemas dan
khawatir, entah mengapa ia mempunyai
firasat buruk.
"devi, apakah devi baik baik aja?"
gumamnya pelan.
"kenapa perasaan gua gak enak gini,
positif thinking aja fann" Afan mencoba
menenangkan fikiran nya.
Afan meraih ponselnya, dan mengirim
devi pesan.
dev Lo baik baik aja?
dev lo udah pulang beli camilan atau
belom?
centang satu.
"gua semakin khawatir"
"apa gua susul devi?"
Tanpa berfikir lebih lanjut ia pergi
meninggalkan ruangan nya, padahal
masih ada beberapa pekerjaan yang
belum selesai. tetapi jika menyangkut
devi, Afan akan langsung setset.
Sesampainya Afan di minimarket, ia
langsung turun dari mobilnya. dan masuk
ke dalam, siapa sangka jika di dalam ada
Fathir dan salma juga.
"mbak apa tadi lihat ada anak gadis yang
beli camilan disini?" tanya Salma, kepada
petugas kasir tersebut.
Fathir langsung mengeluarkan ponselnya,
dan memperlihatkan foto devi.
Petugas kasir itu mengamati foto Devi,
sepertinya tadi ada gadis ini. fikirnya.
"tadi ada pak, cuman orang nya sudah
pergi" jawab petugas kasir itu
Salma semakin cemas, takut jika putrinya
kenapa napa.
Sementara Afan, ia berdiri mematung
di tempat. Afan belum sempat masuk ke
dalam minimarket, ia hanya berdiri di
luar. sambil mendengar kan percakapan
mereka.
"apa benar dugaan gue kalo terjadi apa
apa sama Devi" gumam Afan pelan
Afan berjalan perlahan, meninggalkan
kawasan minimarket. matanya menyapu
jalanan sekitar, memastikan jika di sini
ada cctv atau tidak. ia ingin mencari
bukti dan dimana Devi berada.
Setelah berjalan agak sedikit, dan
menyapu pandangan nya ke sekeliling.
Afan menemukan sebuah cctv di atas
tiang.
Afan memfoto cctv itu, lalu ia
menghubungi orang kepercayaan nya.
"gue butuh rekaman cctv di depan
minimarket jalan mawar. sekarang."
setelah mengatakan itu, Afan langsung
menutup telfon nya. ia berbalik dan
mendapati Salma dan juga Fathir tengah
menatapnya.
"Tante, om" sapa afan sopan
tapi tak di tanggapi oleh Fathir,
sementara Salma ia hanya tersenyum
tipis.
"ngapain kamu disini?" tanya Fathir,
nadanya terdengar dingin dan tak
bersahabat.
Salma menyenggol pelan lengan Fathir.
"pasti karna kamu kan, devi tiba tiba
hilang" tuduh Fathir ke Afan
Afan terkejut, namun ia tetap tenang.
"aku gak tau apa apa om, justru aku disini
mau mencari keberadaan devi." jelasnya
"apa jangan jangan ini rencana mamah
kamu itu?" tuduh Fathir lagi dan lagi
"om, aku dan mamah berbeda." jawabnya
membela dirinya.
"yah, mungkin afan benar. ayah tak
sepatutnya mencurigai Afan." ucap Salma
"jika hilangnya Devi ada sangkut pautnya
dengan keluarga baskara, saya tegaskan
jangan sampai kamu dekati Devi lagi."
ucap Fathir
Afan hanya mengangguk.
"disini ada cctv om" tunjuk Afan ke arah
cctv itu.
Benar apa kata Afan, disini ada cctv.
mungkin itu bisa menjadi petunjuk untuk
mencari keberadaan devi.
Afan melanjutkan ucapannya. "orang
kepercayaan ku akan datang membawa
rekaman cctv itu om, jadi nanti kalo
kita menemukan petunjuk nya. kita bisa
mencari devi bersama."
Salma tersenyum lega, semoga putrinya
itu baik baik saja.
Beberapa saat setelah mereka menunggu,
akhirnya orang kepercayaan Afan datang.
"ini rekamannya" ucap orang
kepercayaan Afan, sembari menyerahkan
sebuah laptop.
Salma dan fathir mendekat ke arah, dan
Afan ia segera memutar rekaman cctv
itu. mereka melihat rekaman cctv itu,
disana nampak devi tengah di culik oleh
beberapa preman.
Salma menutup mulut nya tak percaya,
menahan sesak di dada.
"apakah putri nya baik baik saja?" batin
Salma khawatir.
"ternyata benar Devi di culik" ucap fathir
"saya akan lacak keberadaan anak
saya, trimakasih sudah membantu
memperlihatkan cctv ini." ucap Fathir
"apa aku bisa ikut mencari Devi om?"
tanya Afan
"tak perlu, mamah mu pasti akan
mengamuk jika melihatmu mencari
putriku. dan nanti yang terkena imbas
nya akan devi lagi." jawab Fathir
"tapi om..." afan terasa berat, jika ia tak
ikut mencari devi.
"biarkan saja afan ikut mencari devi yah"
ucap Salma, merasa tak tega.
mau bagaimana pun, yang salah itu
mamah afan, bukan Afan.
"makasih Tante udah izinin Afan ikut
mencari devi"
Salma tersenyum lembut kepada Afan.
Pagi itu masih sama, belum ada yang
mengetahui keberadaan dirinya. Devi
terduduk lemas di lantai yang lembab dan
kotor, tangan dan kaki masih terikat.
Kemarin Clarissa kembali melempar
pecahan gelas itu ke arahnya, ada
beberapa goresan di tubuh devi. akibat
Clarissa. Clarissa sengaja melakukan itu,
supaya devi akan menyerah dan tunduk.
tapi fikiran nya salah, Devi masih tetap
keras kepala dan tak akan menyerah
semudah itu.
Ia tak tahu, jam berapa sekarang, dan ia
juga tak tahu, apakah keluarga nya sudah
mengetahui jika Devi di culik?
Detik demi detik berlalu, itu membuat
devi sangat tersiksa. perutnya kosong,
tubuhnya lemas dan penuh luka.
Devi mencoba kuat.
"gua pasti kuat.." gumamnya, nyaris tak
terdengar.
Afan,Fathir, Salma, dan beberapa orang
kepercayaan mereka masing masing.
membantu melacak keberadaan devi,
namun hasilnya tetap sama. tak ada
sepersen pun yang berhasil melacak
keberadaan devi.
Afan mulai frustasi, bukan Afan saja
tapi fathir dan juga salma. mereka
mengkhawatirkan keadaan putri nya.
"apa papah bisa bantuin aku temuin devi?"
batin afan
Afan pun mengambil ponsel nya, dan
mengirim kan pesan ke lian.
pah? bisa bantuin aku cari keberadaan devi?
pesan itu langsung terbalas. ada apa
dengan devi fan?
devi di culik pah, papah bisa bantuin Afan
lacak keberadaan devi dimana?
papah bisa bantuin fan, tapi butuh sehari
untuk nemuin keberadaan nya.
Afan menatap pesan Lian, butuh sehari?
apakah cukup? ia takut jika devi sudah
tidak kuat lagi disana.