"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangun Cinta
Azeus memejamkan mata, membiarkan obsesi yang terpendam selama tiga tahun itu mengambil alih kendalinya. Ia merayapkan tangannya yang kokoh ke tengkuk Aluna, menariknya perlahan agar wajah mereka sejajar. Napas mereka memburu, bersatu di tengah kesunyian apartemen yang mewah.
Hanya tersisa 2 cm lagi. Bibir Azeus sudah hampir menyentuh milik Aluna, merasakan hangat dan manis yang selama ini hanya ada dalam mimpinya. Jantung Aluna berdegup gila di atas pangkuan Azeus, ia pun sudah memejamkan mata, bersiap menyambut kembali sentuhan pria yang paling dicintainya itu.
Namun, tepat di detik yang paling krusial...
BRAKK! BRAKK! BRAKK!
Gedoran pintu yang membabi buta menghantam pintu kayu jati apartemen itu, memecah suasana intim mereka dengan sangat kasar. Azeus tersentak, matanya terbuka lebar dengan kilat kemarahan yang mengerikan. Rahangnya mengeras, ia menahan napas sesak karena gairahnya diputus paksa.
"Woy! Azeus! Aluna! Masih hidup nggak di dalem? Keluar dong, makan-makan ultah Gathan jangan dibatalin!" teriak suara cempreng Dion dari luar, disusul tawa ngakak Raka.
"Ze! Jangan kelamaan di dalem, ntar lo khilaf lagi kayak dulu! Gue laporin bokap lo nih!" ancam Raka sambil terus menggedor pintu tanpa perasaan.
Azeus mengumpat tertahan.
"Sialan... pengganggu bener!" desisnya parau, suaranya berat karena menahan hasrat yang tertunda.
Aluna yang masih duduk di pangkuan Azeus langsung tersadar. Ia menunduk malu, wajahnya sudah semerah tomat matang. Ia buru-buru merapikan rambutnya dan hendak turun dari pangkuan Azeus, namun Azeus justru semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Aluna, tak rela melepaskan bidadarinya hanya karena gangguan dua sahabat dodol nya itu.
"Biarin aja, Na. Jangan dibuka," bisik Azeus posesif, mencoba kembali mencium leher Aluna
,,,
Azeus tak peduli. Baginya, dunia di luar pintu apartemen itu sudah mati. Persetan dengan ulang tahun Gathan atau ocehan dodol Raka dan Dion. Fokusnya hanya satu, Aluna yang ada di pangkuannya.
Gedoran di pintu berangsur pelan lalu menghilang, seiring langkah kaki teman-temannya yang menjauh dengan perasaan tak enak karena suasana yang mendadak hening di dalam. Mereka akhirnya menyerah dan memilih merayakan ultah Gathan tanpa sang ketua.
Kini, hanya ada deru napas yang bersahutan. Azeus menatap Aluna dengan tatapan lapar, lalu kembali menciumi Aluna dengan penuh gairah. Sentuhan itu tidak lagi ragu-ragu seperti tiga tahun lalu. ini adalah ledakan kerinduan yang terpendam seribu hari.
"Kak... hnghh..." Sebuah erangan kecil lolos dari bibir Aluna saat bibir Azeus turun menjamah leher jenjangnya.
Suara itu bagaikan bensin yang menyambar api. Tubuh Azeus semakin memanas, obsesinya memuncak. Dengan gerakan dominan khas seorang CEO, ia perlahan merebahkan Aluna di sofa mewah itu. Azeus segera menyusul, mengungkung tubuh mungil Aluna di bawah dominasinya, memerangkap gadis itu di antara bantal sofa dan dadanya yang bidang.
Tangannya mendekap Aluna dengan posesif, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, gadis itu akan menghilang lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Azeus menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aluna, menghirup aroma yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya, sementara Aluna membalas pelukan itu dengan jemari yang gemetar di bahu Azeus.
Dalam keheningan apartemen yang kini terasa begitu luas, hanya ada suara detak jantung mereka yang berpacu. Azeus menatap dalam ke mata Aluna, mencari kepastian bahwa ini nyata. Tidak ada lagi gangguan dari luar, hanya ada emosi yang meluap dan janji-janji yang tak terucap di antara mereka, menandai babak baru dalam hubungan yang selama ini penuh dengan jarak dan kerinduan.
Suasana yang tadinya panas mendadak mendingin saat Aluna dengan sisa kekuatannya mendorong dada bidang Azeus. Aluna menatap Azeus dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara bimbang, malu, dan penasaran yang amat sangat.
Azeus yang sedang di puncak gairahnya terpaksa mengerem, ia menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Aluna.
"Kenapa, Na? Ada yang salah?"
Aluna meremas kemeja Azeus, matanya bergerak gelisah tak berani menatap langsung.
"Kak... aku mau tanya sesuatu. Selama tiga tahun ini... Kakak... Kakak belum pernah itu-ituan kan sama cewek lain?"
Hening sejenak. Azeus mengerutkan dahi, mencoba mencerna istilah "itu-ituan" yang keluar dari mulut Aluna. Sedetik kemudian, bahu Azeus bergetar. Si CEO narsis itu tidak bisa lagi menahan tawa yang meledak dari dadanya. Ia tertawa geli, menatap Aluna dengan pandangan gemes maksimal.
"Itu-ituan apaan sih, Na? Istilah kamu ada-ada aja," goda Azeus sambil mencubit kecil hidung Aluna, dengan tawa yang masih terselip.
Lalu, dengan wajah tanpa dosa dan suara bariton yang lantang, Azeus menyambung.
"Maksud kamu hubungan seks? Making love? Hmm?"
Blush!
Wajah Aluna seketika semerah tomat. Ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, merutuki pertanyaannya sendiri yang dijawab Azeus dengan begitu frontal tanpa sensor.
"Iih! Kamu! Jangan disebut!" gumam Aluna memalingkan wajahnya malu.
Azeus semakin gila melihat reaksi Aluna. Ia menarik Dagu Aluna agar ia bisa kembali menatap mata jernih itu.
"Denger ya, Nana Sayang. Tiga tahun ini aku kayak mayat hidup. Boro-boro mau itu-ituan sama cewek lain, liat cewek cantik di kantor aja aku cuekin, karena cuma kebayang muka kamu. Jangankan disentuh, dilirik aja nggak. Nggak ada yang sanggup gantiin kamu Na"
Azeus mengecup kening Aluna lama, mencoba menyalurkan ketulusannya.
"Aku ini cuma mau sama kamu, Na. Cuma kamu yang punya kuncinya. Jadi jawabannya, ya Belum. Dan nggak akan pernah itu ituan, kecuali sama kamu."
Aluna tertegun, rasa hangat menjalar di hatinya. Kepercayaan dirinya kembali pulih mendengar pengakuan jujur bin narsis dari pria yang kini mengungkungnya itu.
Azeus tidak lagi memberikan ruang untuk kata-kata. Setelah pengakuan jujur yang mematikan itu, ia kembali melahap bibir Aluna dengan intensitas yang jauh lebih besar. Ciuman kali ini tidak lagi menuntut, melainkan memuja. seolah ia sedang meneguk air di tengah padang pasir setelah dahaga selama tiga tahun.
"Hnghh... Nana..." Erangan kecil keluar dari kerongkongan Azeus. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan hasrat yang kian membara. Setiap sentuhan tangannya di pinggang Aluna terasa membakar, membuat suasana di apartemen mewah itu semakin panas dan menyesakkan.
Aluna, di bawah kungkungan tubuh tegap sang CEO, justru tersenyum di sela-sela ciumannya. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya saat mendengar Azeus yang biasanya dingin dan berwibawa di kantor, kini terdengar begitu rapuh dan haus hanya karena dirinya.
Namun di balik senyum itu, jantung Aluna berdegup gila. Ia merasa takut sekaligus geli membayangkan istilah itu-ituan yang tadi mereka bahas akan benar-benar terjadi sekarang.
Aluna punya firasat kuat. Hari ini, Azeus tidak akan melepaskannya. Pria obsesif ini akan membawanya ke titik terjauh, sebuah dunia baru yang selama ini hanya ia baca dalam novel atau ia dengar dalam bisikan.
Tangan Azeus mulai bergerak lebih agresif, menyusup ke balik pakaian Aluna, mencari kehangatan kulit gadisnya yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
"Aku nggak bisa nahan lagi, Na... Tolong, jangan suruh aku berhenti malam ini," bisik Azeus parau tepat di depan bibir Aluna.
Aluna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya melingkarkan lengannya lebih erat di leher Azeus, menarik pria itu semakin dalam ke dalam dekapannya. Isyarat pasrah yang justru menjadi bahan bakar paling mematikan bagi jiwa lelaki Azeus yang sudah lama puasa.