NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa Season 2

Penerus Warisan Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)

Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.

Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.

Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.

Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.

Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 119: Ancaman Sang Dewi Es

Sebelum operasi penyerbuan ke Kapal Roh Klan Yao dimulai, suasana di ruang bawah tanah Sekte Langit Asura mendadak terasa lebih mencekam daripada medan perang mana pun yang pernah mereka hadapi. Bukan karena Niat Membunuh Zhao Xuan, melainkan karena aura sedingin es abadi yang memancar dari senyuman manis Xiao Mei.

Sang dewi Soul Transformation itu sedang berlutut merapikan kerah jubah hitam sutra milik Zhao Xuan. Sentuhannya sangat lembut, penuh dengan kasih sayang yang meluap-luap. Namun, saat Xiao Mei menatap mata hitam Zhao Xuan, senyum manis itu berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.

"Tuan Asura..." bisik Xiao Mei dengan nada merdu yang entah mengapa membuat suhu ruangan anjlok ke titik beku. "Dunia fana ini dipenuhi oleh putri-putri kerajaan dan gadis-gadis muda yang menggoda. Tubuh Tuan mungkin masih dua belas tahun sekarang, tapi kelak Tuan akan tumbuh menjadi pria dewasa yang luar biasa."

Jari telunjuk Xiao Mei yang seputih salju dan memancarkan Qi sedingin es perlahan turun menyusuri dada Zhao Xuan, lalu berhenti tepat di bawah perutnya.

"Mei'er rela mati demi Tuan," lanjut Xiao Mei, matanya yang berwarna zamrud menyipit dengan Niat Membunuh yang absolut. "Tapi... jika di masa depan Tuan berani melirik wanita lain, apalagi bermain di belakang Mei'er... Mei'er bersumpah demi langit dan bumi, Mei'er akan memotong habis 'pusaka masa depan' Tuan hingga tak tersisa sedikit pun. Tuan mengerti, kan?"

Srekkk!

Xiao Mei menjentikkan jarinya, dan sebuah bongkahan es kecil di sudut ruangan tiba-tiba terpotong bersih menjadi dua dengan suara yang sangat ngilu didengar.

Zhao Xuan mantan penguasa Jalan Asura, pria yang pernah membantai dewa-dewa Benua Tengah tanpa berkedip tiba-tiba merasakan keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya. Seluruh insting kosmiknya menjerit. Ia mungkin menguasai gravitasi dan ruang, tapi menghadapi ancaman mutilasi dari wanita Soul Transformation yang cemburu, Zhao Xuan benar-benar menggigil!

"A-Aku mengerti," jawab Zhao Xuan dengan nada datar yang dipaksakan, menelan ludah dengan susah payah. Di kehidupannya yang dulu, ia memang tidak pernah tertarik pada wanita lain, tapi ancaman ini terasa sangat, sangat nyata. "Hanya kau... satu-satunya, Mei'er."

Mendengar itu, aura membunuh Xiao Mei seketika menguap. Ia tersenyum sangat cerah, mengecup pipi Zhao Xuan dengan gembira. "Mei'er tahu Tuan adalah pria yang setia! Hati-hati di jalan, Sayang!"

Di belakang mereka, kelima Pemimpin Paviliun Sekte Langit Asura sedang berpelukan satu sama lain, menggigil ketakutan melihat adegan tersebut.

Tie Ba (Paviliun Fisik) secara instingtual menyilangkan kedua tangan raksasanya menutupi selangkangannya sendiri. "Otot tidak akan bisa menahan serangan semacam itu... Tidak akan bisa..."

Jian Yi (Paviliun Pedang) memeluk pedang berkaratnya erat-erat, wajahnya pucat pasi. "Pedangku adalah satu-satunya istriku. Wanita terlalu menakutkan. Aku bersumpah pada jalan pedang, aku tidak akan pernah menikah seumur hidupku!"

Bahkan Jue Ying, sang pembunuh berdarah dingin, hanya bisa mengangguk setuju dengan mata terbelalak ngeri.

"Sudah cukup main-mainnya," Zhao Xuan segera berdehem keras, berusaha mengembalikan wibawa Asura-nya yang sempat hancur lebur di depan murid-muridnya. Wajah remajanya sedikit memerah. "Jue Ying, bawa pasukanmu. Kita berangkat ke langit timur malam ini."

Satu jam kemudian, di atas awan Hutan Timur Kerajaan Zhao.

Kapal Roh raksasa Klan Yao mengambang dalam diam. Kapal itu dilindungi oleh Kubah Api Nirvana, sebuah formasi pertahanan tingkat Puncak Foundation Establishment yang tidak bisa ditembus oleh benda fisik maupun sihir apa pun tanpa memicu alarm spiritual di seluruh kapal.

Di atas sebuah awan gelap yang berjarak seratus meter dari kapal tersebut, Zhao Xuan dan kelima elitnya berdiri mengambang menggunakan modifikasi Seni Langkah Udara.

"Tuan, formasi api itu sangat rapat. Jika kita menyentuhnya, Yao Yan akan langsung tahu," lapor Jue Ying.

"Itu berlaku jika kita berjalan melewati ruangnya," Zhao Xuan mengangkat tangan kanannya. Cincin Jiwa Kuno di jarinya tidak menyala, melainkan Roda Bintang Kedua di dalam jiwanya yang mulai berputar. Cahaya biru kehampaan berpendar tipis di ujung jari telunjuknya. "Tetapi bagaimana jika kita berjalan di luar ruangnya?"

Zhao Xuan mengulurkan jarinya ke depan, lalu membuat gerakan seperti merobek tirai sutra.

SREKKK.

Tidak ada ledakan. Tidak ada suara keras. Hanya ada distorsi aneh di mana udara di depan Zhao Xuan tiba-tiba terbelah menjadi dua, memperlihatkan lorong hampa udara yang gelap gulita. Zhao Xuan secara harfiah telah melipat titik ruang A (awan tempat mereka berdiri) dan titik ruang B (geladak dalam kapal Yao) menjadi satu!

"Ikuti aku, dan tahan napas kalian. Di dalam retakan ini, hukum tidak berlaku," perintah Zhao Xuan.

Ia melangkah masuk ke dalam retakan dimensi itu, diikuti oleh Jue Ying dan yang lainnya. Tepat saat mereka semua masuk, retakan itu menutup seketika tanpa memicu riak sedikit pun pada kubah pelindung Klan Yao.

Dalam sekejap mata, mereka telah berdiri di lorong kayu gelap di dalam lambung Kapal Roh Klan Yao. Infiltrasi paling mustahil di alam semesta baru saja dilakukan oleh anak berusia dua belas tahun.

"Menyebar," bisik Zhao Xuan kepada kelima muridnya. "Jue Ying, Jian Yi, Tie Ba, bersihkan penjaga di lantai bawah. Xin'er, Mu Bai, racuni sirkulasi udara mereka. Sisakan para Tetua untukku."

Kelima bayangan itu mengangguk dan langsung melebur ke dalam kegelapan lorong.

Zhao Xuan berjalan santai menyusuri koridor berkarpet merah. Aura fananya tertutup sempurna oleh Seni Penyembunyian Napas. Di ujung koridor, sebuah pintu berukir naga terbuka.

Seorang Tetua Klan Yao tingkat Foundation Establishment Menengah melangkah keluar, wajahnya masih memerah karena mabuk anggur. Ia melihat seorang anak laki-laki berjubah hitam berdiri di tengah koridor.

"Hah? Siapa anak kecil ini? Apakah kau budak fana yang baru di—"

Ucapan Tetua itu terhenti.

Zhao Xuan tidak mencabut belati. Ia juga tidak melesat maju. Jarak di antara mereka masih sepuluh meter. Namun, Zhao Xuan perlahan mengangkat tangan kanannya dan menembuskannya ke udara kosong di depannya.

Tangan Zhao Xuan lenyap hingga sebatas pergelangan tangan, tertelan oleh riak dimensi kecil yang melayang di depannya.

Di saat yang sama, tepat di dada Tetua Yao tersebut, tanpa merusak jubah sutranya, tanpa memicu perisai Qi pasifnya, dan tanpa memotong kulitnya... sebuah tangan kecil muncul secara gaib langsung di dalam rongga dada sang Tetua!

Manipulasi Ruang Ekstrem. Mengabaikan materi luar untuk langsung menyentuh titik target di ruang koordinat yang berbeda.

Tetua itu membelalakkan matanya lebar-lebar. Mulutnya terbuka untuk menjerit, namun paru-parunya tiba-tiba tidak bisa memompa udara.

Zhao Xuan, yang masih berdiri sejauh sepuluh meter, mengepalkan telapak tangannya dengan dingin.

CRASH.

Jantung sang Tetua hancur berkeping-keping di dalam dadanya sendiri. Tangan gaib itu langsung menghilang, dan ditarik kembali utuh oleh Zhao Xuan dari udara kosong.

Tubuh Tetua Yao itu ambruk ke lantai tanpa suara, mati seketika dengan mata melotot ngeri. Tidak ada setetes darah pun yang tumpah ke luar karpet. Tidak ada luka gores. Ia mati layaknya terkena serangan jantung fatal.

"Terlalu mudah," gumam Zhao Xuan datar. Ia menatap telapak tangannya yang bersih. Kekuatan Roda Bintang Kedua ini adalah kutukan absolut bagi kultivator yang membanggakan perisai Qi mereka. Perisai apa pun tidak ada gunanya jika serangannya langsung ter-teleportasi ke dalam organ vital mereka.

Berjalan santai melintasi tiga lantai kapal, Zhao Xuan mengeksekusi lima Tetua Klan Yao tingkat Foundation Establishment dengan cara yang sama. Merobek ruang, meremukkan organ dalam dari jarak jauh, dan membiarkan mayat mereka jatuh tanpa luka luar. Tidak ada yang sempat membunyikan alarm. Tidak ada yang sempat melihat wajah pembunuhnya.

Sementara itu, di lantai dasar, kelima Pemimpin Paviliun bekerja dengan efisiensi iblis. Kabut racun Xin'er merayap melalui ventilasi, membuat puluhan penjaga pingsan sebelum leher mereka digorok secara rahasia oleh Jue Ying dan pedang Jian Yi.

Kapal Roh raksasa yang seharusnya menjadi simbol dominasi Klan Yao itu, kini perlahan berubah menjadi peti mati terbang yang sunyi senyap.

Di Aula Utama kapal yang mewah.

Yao Yan, sang Tuan Muda, sedang mondar-mandir dengan gelisah. Ia telah mengirim pesan giok kepada para Tetuanya untuk berkumpul sejak lima menit yang lalu, namun tidak ada satu pun yang menjawab.

"Tetua Wu?! Tetua Lin?!" teriak Yao Yan marah ke arah pintu ganda aula yang tertutup rapat. "Apakah kalian semua tuli?!"

Tiba-tiba, Yao Yan menyadari sesuatu yang aneh. Suara Qi kapal terdengar normal, namun... tidak ada suara langkah kaki penjaga di luar. Tidak ada suara napas. Kapal ini terasa seperti kuburan.

Hawa dingin yang menusuk tulang belakang merayap di tengkuk Yao Yan. Ia perlahan mundur, memanggil pedang apinya.

Kriet...

Pintu ganda aula utama perlahan bergeser terbuka.

Bukan Tetua Yao yang masuk, melainkan seorang remaja fana berusia dua belas tahun, mengenakan jubah sutra hitam. Di belakang remaja itu, udara dipenuhi bau anyir darah segar, dan di lantai koridor, Yao Yan bisa melihat tumpukan mayat anak buahnya yang bergelimpangan.

Remaja itu melangkah masuk dengan santai, melangkah melewati genangan darah tanpa mengotori sepatunya sedikit pun. Ia menatap Yao Yan dengan mata hitam pekat yang seolah menyedot seluruh cahaya di ruangan itu.

"Yao Yan dari Klan Tungku Api," suara renyah remaja itu bergema pelan di aula yang sunyi. Sudut bibirnya melengkung, mengukir senyum dominasi yang membuat Yao Yan secara instingtual gemetar ketakutan.

"Maaf aku datang tak diundang. Tapi sepertinya kau sedang mencari tikus fana yang membunuh anak buahmu." Zhao Xuan menjentikkan jarinya, dan pintu aula tertutup rapat di belakangnya, mengunci mereka berdua di dalam.

"Sekarang... mari kita bicara tentang turnamen perburuan kalian."

1
MF
fghuihffxdfgghju
Yanka Raga
😎🤩
Yanka Raga
🤩😎
Yanka Raga
😎🤩
alexander
bagus ceritanya
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiii manggg minnnn
saniscara patriawuha.
sikatttttt sudahhhhh
abyman😊😊😊
Hahahah🤣
saniscara patriawuha.
gassssdddd...
Rinaldi Sigar
lnjut
abyman😊😊😊
Bantaiiiiiiiiiiii 💪💪💪
saniscara patriawuha.
wadohhhhhh wadohhhhh
Rinaldi Sigar
lanjut
Yanka Raga
😎🤩
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
ohh yessss
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
bantaiiii habisssd manggg suannnn
saniscara patriawuha.
apa nggak terkencing kencing itu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!