⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 (Part 1) The Golden Hour Tension
Matahari Jakarta kalau mau tenggelam itu emang nggak pernah santai. Warnanya oranye pekat, hampir ke ungu, menciptakan siluet yang kalau di-posting di feeds Instagram pasti dapet ribuan likes. Tapi bagi Gia, golden hour kali ini bukan soal estetika, tapi soal bertahan hidup dari deg-degan yang levelnya udah di luar nalar.
Pak Radit masih berlutut di depannya. Tangan pria itu—yang ukurannya hampir dua kali lipat tangan Gia—masih melingkar di pergelangan kakinya. Hangat. Mantap. Dan entah kenapa, bikin Gia merasa aman sekaligus terancam di saat yang sama.
"Sakitnya di sebelah sini?" tanya Pak Radit pelan. Jarinya menekan pelan bagian mata kaki.
"Aw! Iya, Pak... di situ. Kayaknya uratnya lagi clash atau gimana gitu," ringis Gia. Dia berusaha tetap terlihat imut di tengah rasa sakit, walau dia tahu mukanya pasti udah merah padam kayak kepiting rebus.
Pak Radit menghela napas. Dia melepaskan pegangannya, tapi nggak langsung berdiri. Dia malah duduk bersila di depan Gia, di atas aspal lapangan yang masih menyisakan hawa panas siang tadi.
"Urat clash itu nggak ada istilahnya, Gia. Kamu itu kurang pemanasan tapi langsung mau sok-sokan lari kencang. Physically, badan kamu itu kaget," ujar Pak Radit. Dia melepas peluit dari lehernya dan meletakkannya di lantai. "Bisa berdiri?"
Gia mencoba bertumpu pada kaki kirinya, tapi begitu kaki kanannya menyentuh lantai, rasa nyut-nyutan itu balik lagi. "Aduh, Pak... error nih kakinya. Nggak bisa diajak kompromi."
Pak Radit menatap langit sebentar, lalu beralih ke jam tangannya. "Udah jam lima lewat. Pak Satpam biasanya udah mau keliling kunci gerbang belakang. Kamu nggak bisa jalan sampai depan kalau kayak gini."
"Terus saya gimana, Pak? Masa saya menginap di gudang bola? Nanti saya dikira hantu penunggu ring basket," canda Gia, berusaha mencairkan suasana yang mendadak terasa sangat... intens.
Pak Radit tidak tertawa, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Tipis banget, sampai Gia ragu itu senyum atau cuma kedutan otot. "Ya nggak mungkin saya tinggalin. Tunggu sini."
Pak Radit berdiri, lalu berjalan menuju pinggir lapangan. Gia melihat gurunya itu mengambil tas olahraga dan jaket parasutnya. Detik kemudian, Pak Radit balik lagi dan tanpa aba-aba, dia memunggungi Gia sambil berjongkok.
"Naik," perintahnya singkat.
Gia melongo. "Hah? Bapak mau... gendong saya? Piggyback ride kayak di drakor itu?"
"Gia, jangan kebanyakan nonton Netflix. Saya gendong kamu karena ini cara tercepat ke UKS biar kaki kamu bisa dikompres es. Lagian kalau saya tuntun, kita sampai gerbang depan, jam delapan malam. Naik sekarang, atau saya tinggal?"
Gia nggak butuh tawaran kedua. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, dia melingkarkan tangannya di leher Pak Radit. Begitu badannya terangkat, Gia bisa merasakan otot punggung Pak Radit yang keras dan kokoh. Wangi parfum woodsy itu makin menyerang indra penciumannya. Wanginya bukan tipe parfum murah yang menyengat, tapi tipe yang bikin orang pengen naruh muka di sana lama-lama.
"Bapak... saya berat nggak?" tanya Gia pelan, suaranya hampir hilang tertiup angin sore.
"Lumayan. Kamu kebanyakan makan seblak ya?" jawab asal Pak Radit santai sambil mulai berjalan menuju lorong kelas yang sudah sepi.
"Ihh, Bapak mah jujur banget! Itu namanya body shaming lho, Pak!"
"Itu namanya fakta, Gia. Tapi nggak papa, setidaknya saya tahu kalau murid saya makannya banyak, berarti tenaganya harusnya kuat buat lari. Ternyata cuma casing-nya doang, mesinnya ringkih."
Gia memanyunkan bibirnya, menyandarkan dagunya di bahu Pak Radit. Dari posisi ini, dia bisa melihat garis rahang Pak Radit dari samping. Tajam. Clean-shaven. Gia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah fanfiction yang dia baca di Novel semalam.
"Pak," panggil Gia lagi.
"Apa lagi?"
"Makasih ya. Bapak ternyata nggak se-red flag yang saya kira."
Pak Radit menghentikan langkahnya sebentar di tengah lorong yang remang-remang, lalu lanjut jalan lagi. "Emang menurut kamu saya red flag?"
"Ya habisnya Bapak dingin banget. Galak lagi. Suka nyita HP orang sembarangan. Di mata anak Gen Z, itu tuh tipe-tipe cowok yang harus dihindari biar mental nggak kena breakdown."
Pak Radit terkekeh pelan. Kali ini beneran terkekeh. Suara tawanya rendah dan berat, getarannya terasa sampai ke dada Gia yang menempel di punggungnya. "Saya tegas karena itu tugas saya, Gia. Kalau saya lembek sama kamu, kamu nggak bakal lulus ujian praktik. Terus kalau kamu nggak lulus, saya yang dimarahin Kepala Sekolah."
"Tapi Bapak peduli kan sama saya? Buktinya Bapak mau gendong saya," goda Gia, memberanikan diri.
"Saya peduli sama semua murid saya, Gia. Jangan baper," balas Pak Radit telak.
"Dih, si Bapak bisa aja ngancurin mood."
....
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..