NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: GUDANG PELABUHAN

Pelabuhan timur Kota Selatan adalah tempat yang tidak pernah tidur.

Siang hari, ribuan petugas bongkar muat sibuk mengangkat karung-karung beras, peti-peti rempah, dan gulungan kain dari kapal-kapal besar. Tapi malam hari, suasana berubah. Gudang-gudang kosong menjadi tempat transaksi gelap, preman-preman berkeliaran, dan sesekali terdengar suara orang berkelahi diikuti tawa kasar.

Ha-neul tiba di tepi pelabuhan saat malam semakin larut. Bulan purnama bersinar terang, menciptakan bayangan tajam di antara tumpukan peti dan gudang-gudang tua. Ia bersembunyi di balik tumpukan karung, mengamati area sekitar.

Gudang yang disebut dalam pesan itu mudah dikenali—satu-satunya gudang dengan atap seng merah karatan dan pintu besar setengah terbuka. Dari dalam, samar-samar terlihat cahaya lampu minyak. Dua pria berjaga di luar, bersenjatakan pedang.

"Dua penjaga di luar. Mungkin lebih di dalam." suara Hyeol-geon.

"Aku lihat."

"Kau punya rencana?"

Ha-neul diam sejenak. Otaknya bekerja cepat. Jika ia menyerang dari depan, mereka akan memberi peringatan ke dalam. Soo-ah bisa celaka. Ia harus masuk tanpa diketahui.

"Guru, bisakah kau mengalihkan perhatian mereka?"

"Maksudmu?"

"Keluarlah dari cincin, buat suara di arah sana. Saat mereka periksa, aku masuk dari belakang."

Hyeol-geon berpikir sejenak. "Bisa. Tapi aku hanya bisa keluar sebentar. Kalau terlalu lama, energiku habis."

"Cukup beberapa detik."

"Baik. Siap."

Ha-neul bergerak ke belakang gudang, bersembunyi di balik tumpukan peti kayu. Dari sana, ia bisa melihat celah di dinding gudang—papan kayu yang longgar, cukup untuk dilalui orang kurus sepertinya.

Sementara itu, Hyeol-geon melayang keluar dari cincin. Sosok transparannya bergerak ke arah kiri gudang, lalu menjatuhkan beberapa peti kosong. BRAK!

Kedua penjaga terkejut. "Apa itu?" salah satu bertanya.

"Ke sana, cek!"

Mereka berlari ke arah suara. Ha-neul segera melesat ke celah dinding, menyelinap masuk ke dalam gudang.

---

Di dalam, gudang itu luas dan pengap. Bau apek bercampur dengan bau ikan asin dan minyak tanah. Beberapa lampu minyak digantung di tiang-tiang kayu, menciptakan cahaya temaram yang cukup untuk melihat.

Ha-neul melihatnya.

Soo-ah.

Adiknya duduk di lantai, tangan terikat ke tiang kayu. Wajahnya pucat, tapi matanya—matanya masih menyala. Ia tidak menangis. Ia menatap tajam ke arah orang-orang di depannya.

Dan di depan Soo-ah, berdiri sosok yang sangat dikenalnya.

Kang Dae-ho.

Sepupunya itu tersenyum puas, tangan bersedekap, dikelilingi enam pengawal bersenjata lengkap. Tidak ada Sung-min atau Jae-won—mungkin mereka masih cedera. Tapi enam pengawal ini cukup untuk membuat masalah.

"Dia pasti datang," kata Dae-ho pada pengawalnya. "Sampah itu sangat sayang sama adiknya. Kasihan, ya. Cacian selama tiga tahun, tapi masih peduli." Ia tertawa.

Soo-ah meludah ke arahnya. "Diam! Oppa akan datang dan menghancurkanmu!"

Dae-ho mengelap ludah di bajunya, wajahnya berubah kesal. "Berani kau, bocah." Ia mengangkat tangan, siap menampar.

Tapi tangannya berhenti di udara.

Karena di belakangnya, terdengar suara dingin yang sangat dikenalnya.

"Jangan sentuh dia."

Semua orang menoleh. Ha-neul berdiri di antara tumpukan peti, pedang kayu di tangan. Matanya—matanya seperti iblis. Kosong, tapi penuh amarah yang membara.

Dae-ho tersenyum lebar. "Akhirnya... muncul juga." Ia memberi isyarat pada pengawalnya. Empat orang maju, mengepung Ha-neul. Dua sisanya menjaga Dae-ho dan Soo-ah.

"Kau datang sendirian? Bodoh sekali." Dae-ho tertawa. "Dengar, Ha-neul. Kau punya dua pilihan. Satu, kau menyerah, aku bawa kalian berdua pulang ke klan, dan mungkin—mungkin—aku akan membiarkan adikmu hidup sebagai pembantu. Atau dua, kau lawan, dan kau lihat apa yang terjadi padanya."

Ia menarik rambut Soo-ah kasar. Adik itu meringis, tapi tidak berteriak.

Ha-neul merasakan darah mendidih. Tangannya gemetar menahan amarah.

"Tenang. Empat lawan satu, kau bisa. Tapi kau harus cepat."

Ha-neul menghela napas. Ia menatap Dae-ho. "Aku pilih opsi ketiga."

Dae-ho mengerutkan kening. "Apa?"

Ha-neul sudah bergerak.

Dua pengawal terdepan tidak sempat bereaksi. Ha-neul melesat ke kiri, menusuk titik leher pengawal pertama. Pria itu jatuh tercekik. Dengan satu gerakan, ia berputar, menusuk pangkal paha pengawal kedua. Lututnya lemas, ia roboh.

Dua pengawal lain panik. Mereka menyerang bersamaan. Ha-neul menghindar, memanfaatkan tumpukan peti sebagai pelindung. Pedang kayunya menari di antara bayangan, menusuk di sela-sela serangan.

Satu jatuh. Satu lagi jatuh.

Empat pengawal lumpuh dalam hitungan detik.

Dae-ho terbelalak. Kedua pengawal di sisinya langsung maju, menarik pedang. Tapi mereka ragu—mereka baru saja melihat empat rekannya roboh dalam sekejap.

"TANGKAP DIA!" teriak Dae-ho panik.

Kedua pengawal itu menyerang, tapi sudah kehilangan keberanian. Ha-neul dengan mudah menghindar, lalu melumpuhkan mereka satu per satu. Yang terakhir jatuh dengan jeritan, memegangi siku yang copot.

Kini hanya Dae-ho yang tersisa.

Ia mundur, menarik Soo-ah sebagai perisai. Di tangannya, sebilah pisau pendek tiba-tiba muncul, ditempelkan di leher Soo-ah.

"JANGAN DEKAT!" teriaknya. Matanya liar, ketakutan. "AKU BUNUH DIA!"

Ha-neul berhenti. Ia menatap Dae-ho dengan mata dingin.

"Lepaskan dia."

"TIDAK! Kau... kau iblis! Apa yang terjadi padamu? Dulu kau sampah, sekarang kau bisa begini?" Dae-ho gemetar. "Apa kau... kau belajar ilmu terlarang?"

Ha-neul tidak menjawab. Ia melangkah maju satu langkah.

"BERHENTI! Aku serius!" Pisau itu menekan leher Soo-ah, sedikit berdarah. Soo-ah meringis, tapi masih tidak menangis. Matanya menatap kakaknya, berkata: Oppa, aku percaya padamu.

Ha-neul berhenti.

"Dia terlalu jauh. Jika kau bergerak, dia bisa melukai Soo-ah sebelum kau mencapai." suara Hyeol-geon.

"Apa saranmu?"

"Kau harus buat dia lengah. Bicara."

Ha-neul menghela napas. Ia menurunkan pedang kayunya.

"Dae-ho, dengar. Aku tidak akan bunuh kau."

"BOONG!"

"Sungguh. Kau masih saudaraku. Sepupuku. Meski kau jahat, meski kau menyakitiku, aku tidak akan bunuh kau." Suara Ha-neul lembut, menenangkan. "Lepaskan Soo-ah. Kau boleh pergi. Aku janji tidak akan kejar."

Dae-ho tertawa histeris. "Kau pikir aku bodoh? Saat kau bebas, kau akan cari aku!"

"Aku tidak akan." Ha-neul menggeleng. "Aku hanya ingin hidup tenang dengan adikku. Jauhi klan. Jauhi masalah. Itu saja."

Mata Dae-ho berkedip. Ragu. Pisau di tangannya sedikit kendur.

"Kau... kau sungguh?"

"Sungguh."

Detik itu, Dae-ho lengah.

Ha-neul bergerak secepat kilat. Ia melompat, tubuhnya melesat seperti anak panah. Pedang kayunya tidak menusuk Dae-ho, tapi menyodok lengannya—tepat di titik saraf.

Dae-ho menjerit. Pisau jatuh. Ha-neul menarik Soo-ah ke pelukannya, memutarbalikkan tubuh, dan dalam gerakan yang sama, lututnya naik menghantam ulu hati Dae-ho.

Sepupunya itu terkulai, napas tersengal.

Ha-neul tidak membunuhnya. Ia hanya berdiri, memeluk Soo-ah erat-erat.

Soo-ah menangis. Tangis lega, tangis bahagia. "Oppa... Oppa... Soo-ah takut..."

"Maaf, Soo-ah. Maaf Oppa telat."

Mereka berpelukan di tengah gudang yang penuh mayat hidup—pengawal-pengawal yang tergeletak kesakitan, tak bisa bergerak.

Dae-ho merangkak mundur, ketakutan. Wajahnya pucat pasi.

"Kau... kau iblis..." bisiknya.

Ha-neul menatapnya. "Pergi. Bawa anak buahmu. Dan ingat ini: jika kau atau siapa pun dari klan menyentuh adikku lagi, aku tidak akan selembut ini. Aku akan cari kau ke ujung dunia. Paham?"

Dae-ho mengangguk cepat. Ia merangkak, bangkit dengan susah payah, lalu berlari keluar gudang. Meninggalkan anak buahnya yang masih tergeletak.

Ha-neul tidak peduli. Ia hanya memeluk Soo-ah erat.

"Oppa, kita pergi dari sini?"

"Iya. Kita pergi. Jauh. Sampai mereka tidak bisa temukan."

---

Malam itu, mereka meninggalkan Kota Selatan.

Ha-neul membawa Soo-ah melewati jalan belakang, menjauhi keramaian, menjauhi pelabuhan. Mereka tidak kembali ke losmen—terlalu berisiko. Ha-neul sudah mengambil uang dari kantong Jin Dae-hyun. Cukup untuk memulai hidup baru.

Di pinggir kota, mereka berhenti sejenak. Ha-neul menatap kota yang mulai ditinggalkan. Lampu-lampu masih berkelip di kejauhan.

"Oppa, kita ke mana sekarang?" tanya Soo-ah.

Ha-neul tersenyum. "Ke utara. Guru bilang ada sesuatu di sana. Mungkin itu bisa membantu kita."

"Gua Naga Abadi," bisik Hyeol-geon. "Sudah waktunya kau tahu lebih banyak, Ha-neul."

Ha-neul mengangguk. Ia meraih tangan Soo-ah.

"Ayo."

Mereka melangkah ke dalam kegelapan, meninggalkan kota di belakang. Di langit, bintang-bintang bersinar terang, seolah memberi jalan.

Perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai.

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!