NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18 segel bintang dan sup.pemurni jiwa

Fajar baru saja menyingsing di Ibukota Kekaisaran Naga Biru, namun Jalan Utama Distrik Kuliner tidak menunjukkan tanda-tanda kedamaian. Saat Han Shuo dan Ying melangkah mendekati lokasi gerobak mereka, langkah kaki Han Shuo mendadak terhenti.

Tenda terpal biru pudar miliknya telah hilang. Sebagai gantinya, sebuah pagar pembatas dari sutra putih dengan simbol mata satu di tengahnya—simbol Kuil Bintang—mengelilingi area tersebut. Belasan pendeta berjubah perak berdiri tegak dengan tongkat kayu cendana di tangan mereka.

Di tengah-tengah lahan kosong itu, gerobak masak kesayangan Han Shuo telah ditutupi oleh jaring energi berwarna ungu gelap. Sebuah segel kertas emas bertuliskan huruf kuno "Terlarang" tertempel di wajan besinya.

"Tuan, itu Segel Bintang Penahan Roh," bisik Ying, matanya berkilat waspada. "Hanya otoritas dari Peramal Agung yang bisa menggunakannya. Mereka mengklaim tempat ini sebagai area terkontaminasi sihir hitam."

Han Shuo menyipitkan mata. Ia bisa melihat energi ungu itu perlahan-lahan mencoba membusukkan sisa-sisa bumbu dan energi murni yang tertinggal di area tersebut. Ini bukan sekadar penyegelan; ini adalah upaya untuk menghapus jejak keberadaannya.

"Berhenti di sana, Pendosa!"

Seorang pria paruh baya dengan topi tinggi dan wajah yang tampak seolah-olah baru saja menelan cuka muncul dari balik barisan pendeta. Dia adalah Inkuisitor Lu, tangan kanan Sang Peramal Agung.

"Han Shuo," suara Lu terdengar nyaring agar semua warga yang mulai berkumpul bisa mendengar. "Kau dituduh menggunakan bahan-bahan iblis dan teknik sihir terlarang untuk memanipulasi pikiran rakyat. Makanan yang kau sajikan bukan untuk mengenyangkan, melainkan untuk menciptakan kecanduan roh yang merusak jalur kultivasi!"

Konfrontasi: Logika Melawan Dogma

Kerumunan mulai berbisik-bisik. Sebagian tampak ragu, namun sebagian besar pelanggan setia Han Shuo berteriak protes.

"Bohong! Nasi gorengnya menyembuhkan rematikku!" teriak seorang kakek.

"Anakku jadi lebih fokus berlatih Qi setelah makan mie pedasnya!" sahut yang lain.

Inkuisitor Lu mengangkat tangannya, mengeluarkan aura Inti Emas Puncak yang membungkam kerumunan. "Efek sementara itu hanyalah umpan! Di balik itu, jiwa kalian perlahan-lahan terkikis. Hari ini, atas perintah Sang Peramal Agung, kami akan memurnikan tempat ini dan menangkap sang pelaku!"

Han Shuo melangkah maju, tangannya santai di dalam saku jubahnya. "Inkuisitor Lu, kau bicara soal pemurnian? Baumu sendiri seperti bau daging busuk yang ditutupi kemenyan murah. Kau ingin bukti bahwa masakanku tidak mengandung sihir hitam?"

"Kau tidak punya hak bicara, Penyihir!" bentak Lu.

"Bagaimana kalau kita taruhan?" Han Shuo tersenyum, senyum yang membuat Lu merasa tidak nyaman. "Di depan semua orang ini, aku akan memasak satu mangkuk sup. Jika sup ini terbukti mengandung energi gelap, aku akan menyerahkan kepalaku tanpa perlawanan. Tapi jika sup ini berhasil memurnikan 'Segel Bintang' buatanmu itu... maka kau harus berlutut dan meminta maaf kepada semua rakyat yang telah kau tipu."

Kerumunan bersorak. Lu merasa terpojok oleh tatapan ribuan mata. Sebagai perwakilan Kuil Bintang, menolak tantangan berarti menunjukkan kelemahan.

"Baik!" Lu mendengus. "Tapi kau harus memasak dengan bahan yang kami sediakan, untuk memastikan kau tidak memasukkan obat terlarang lagi!"

Lu memerintahkan bawahannya membawa sebuah keranjang berisi: Akar Pahit, Kubis Berlendir, dan Air Selokan Istana.

Bahan-bahan itu busuk, hambar, dan hampir beracun. Ying mengepalkan tinjunya. "Ini penghinaan! Tidak ada yang bisa memasak dengan itu!"

Han Shuo hanya tertawa kecil. "Ying, bagi seorang koki sejati, tidak ada bahan yang benar-benar 'sampah'. Yang ada hanyalah koki yang tidak tahu cara menghormati bahan tersebut."

Proses Memasak: Seni Transmutasi Rasa

Han Shuo mendekati gerobaknya yang disegel. Dengan jentikan jari yang dialiri Qi api, segel kertas itu terbakar habis dalam sekejap. Inkuisitor Lu terperanjat melihat betapa mudahnya Han Shuo menghancurkan segel tingkat tinggi itu.

Han Shuo mulai bekerja.

Ia mengambil Akar Pahit dan tidak memotongnya, melainkan menumbuknya dengan teknik Pukulan Getaran. Ia memisahkan racun pahitnya dari inti pati airnya yang sebenarnya sangat manis jika diolah dengan suhu yang tepat.

Lalu, ia mengambil Kubis Berlendir. Ia menggunakan teknik Niat Pisau: Musim Gugur untuk menyayat lapisan lendirnya tanpa merusak struktur daunnya. Daun-daun itu kemudian direbus dalam Air Selokan yang telah ia saring menggunakan Lidah Penghakiman untuk memisahkan kotoran dari molekul air murni melalui penguapan cepat.

"Lihat itu!" gumam seorang warga. "Air kotor itu berubah menjadi bening seperti kristal di tangannya!"

Aroma yang keluar dari panci Han Shuo kali ini tidak agresif. Baunya tenang, sejuk, dan mengingatkan orang pada aroma hutan setelah hujan.

"Ini adalah Sup Embun Pemurni Hati," kata Han Shuo.

Ia menuangkan sup bening itu ke dalam sebuah mangkuk tanah liat sederhana. Uap yang keluar tidak membumbung tinggi, melainkan mengalir rendah ke tanah, perlahan-lahan menyentuh kaki para pendeta dan Inkuisitor Lu.

Keajaiban dan Penyingkapan

Saat uap sup itu menyentuh pagar sutra Kuil Bintang, energi ungu gelap yang menyelimuti area itu mulai memucat. Sring! Jaring energi itu pecah berkeping-keping seperti kaca.

"Apa?!" Lu terbelalak. "Segel Bintang... hancur hanya karena uap?"

"Cobalah, Inkuisitor," Han Shuo menyodorkan mangkuk itu. "Jangan takut, ini hanya sayuran."

Dengan tangan gemetar, Lu meminum sup itu.

Seketika, wajahnya yang kaku berubah. Ia merasa seolah-olah ada tangan lembut yang memijat organ dalamnya, membersihkan kotoran-kotoran dari obat-obatan peningkat kultivasi murahan yang selama ini ia konsumsi untuk menutupi bakatnya yang terbatas.

Tapi ada efek sampingnya. Sup Pemurni Hati memaksa peminumnya untuk jujur pada diri sendiri.

"Aku..." Lu mulai bicara tanpa sadar. "Aku sebenarnya tidak merasakan energi gelap... Peramal Agung hanya ingin anak ini karena dia punya kunci menuju Kotak Bumbu Raja... Kami hanya ingin kekuasaan..."

Suasana menjadi sunyi senyap. Inkuisitor Lu menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pucat pasi. Ia baru saja membocorkan rahasia negara di depan ribuan orang.

"Terima kasih atas kejujurannya," kata Han Shuo dingin.

Kerumunan meledak dalam kemarahan. Mereka mulai melempari para pendeta dengan sayuran busuk dan batu. Para pendeta yang ketakutan segera melarikan diri, membawa Inkuisitor Lu yang masih tampak linglung.

Kemenangan Moral dan Langkah Baru

Malam itu, gerobak Han Shuo kembali berdiri dengan tegak. Rakyat membantunya mendirikan tenda baru yang lebih besar sebagai tanda terima kasih.

Han Shuo duduk di dalam, menatap Kitab Rasa Semesta yang bersinar terang.

[Prestasi Terbuka: Sang Pemurni Truth]

[Hadiah: Mata Wawasan (Insight Eye) - Dapat melihat kualitas dan sejarah sebuah bahan atau alat masak hanya dengan melihatnya)]

[Hadiah Tambahan: Peta Lokasi "Kotak Bumbu Raja" - Terdeteksi di kedalaman Sekte Awan Merah]

"Jadi, kita benar-benar harus kembali ke Sekte Awan Merah," gumam Ying. "Tempat di mana semuanya dimulai."

Han Shuo mengangguk. "Tapi kali ini, aku tidak akan kembali sebagai budak dapur. Aku akan kembali sebagai seseorang yang akan membuat mereka berlutut di depan meja makan."

Tiba-tiba, seorang pria misterius berjubah cokelat masuk ke dalam tenda. Ia tidak membawa senjata, melainkan sebuah gulungan bambu kuno.

"Tuan Han Shuo," pria itu membungkuk dalam. "Saya adalah utusan dari Faksi Koki Pemberontak. Kami telah lama menunggu seseorang yang bisa melawan otoritas Kuil Bintang lewat rasa. Jika Anda berniat pergi ke Sekte Awan Merah, ada sesuatu yang harus Anda ketahui tentang Penatua Agung Mu Chen."

Han Shuo mengangkat alisnya. "Bicara."

"Mu Chen bukan lagi manusia. Dia telah memakan Bumbu Terlarang: Garam Jiwa Hitam. Dia membutuhkan Kotak Bumbu Raja bukan untuk memasak, tapi untuk mencerna jiwa seluruh murid sekte agar dia bisa mencapai tingkat Transformasi Dewa."

Han Shuo mengepalkan tangannya. "Kalau begitu, aku punya alasan tambahan untuk memasaknya."

Statistik Karakter & Progres Bab 18

Kategori

Status Saat Ini

Kultivasi

Pondasi Dasar Tahap Akhir (Puncak)

Gelar Koki

Koki Roh Bintang 4

Kemampuan Baru

Mata Wawasan (Melihat struktur energi bahan)

Lokasi Tujuan

Sekte Awan Merah (Pegunungan Awan Merah)

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!