Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Sebulan telah berlalu, dan dinamika hubungan mereka telah menjadi rahasia umum yang paling manis di seantero kampus. Fharell tidak lagi canggung menggandeng tangan Paroline di sepanjang koridor, dan Paroline tidak lagi menundukkan kepala saat desas-desus tentang dirinya berbisik di udara.
Pagi itu di area parkir fakultas, Fharell bersandar pada pintu mobilnya, menunggu sosok yang kini menjadi pusat rotasi dunianya. Namun, ada yang berbeda. Paroline turun dari mobilnya sendirian. Tidak ada stroller, tidak ada tas bayi bermotif lucu, dan tidak ada suara celoteh cadel yang biasanya langsung memanggil Papa.
Fharell mengerutkan kening, melangkah menghampiri dengan wajah yang dibuat-buat sedih. "Sayang, ada yang hilang. Apa Sunny sedang mogok kuliah hari ini atau dia sedang berada di rumah Oma-nya?"
Paroline tertawa kecil, merapikan kemeja satinnya yang berkilau tertimpa cahaya pagi. "Iya, Rell. Mommy sama Daddy sudah pulang dari Paris tadi malam. Sebulan ini aku bawa Sunny ke kampus karena mereka lagi perjalanan bisnis dan aku tidak mau meninggalkannya hanya dengan pengasuh. Sekarang, kakek dan neneknya sedang melepas rindu berat pada cucu mereka."
Fharell mendesah dramatis, bahunya merosot seolah beban dunia baru saja menimpanya. "Berarti aku tidak akan melihat putraku lagi setiap hari, Paro? Hidupku terasa hampa tanpa asisten kecilku itu."
Paroline gemas, ia melangkah maju dan mencubit perut Fharell dengan cukup keras hingga pria itu mengaduh. "Jangan berlebihan, Fharell! Nanti kan bisa video call kalau kamu merindukannya. Lagipula, kamu harus fokus belajar, sebentar lagi ujian tengah semester."
"Belajar itu gampang, merindu itu yang susah," sahut Fharell sambil merangkul bahu Paro, menuntunnya menuju gedung kelas dengan langkah ringan.
Setelah jam kuliah yang melelahkan berakhir, keduanya sepakat untuk makan siang di kantin pusat. Suasana kantin sedang sangat ramai, namun Fharell dengan sigap menemukan meja pojok yang sedikit lebih tenang, tempat favorit mereka.
Fharell datang membawa nampan berisi dua porsi pasta dan dua gelas jus jeruk dingin. Ia duduk di depan Paroline, menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu dalam, seolah ia sedang melihat karya seni paling berharga di museum.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Paro, mulai merasa pipinya menghangat.
Fharell menggeser kursinya lebih dekat ke sudut meja, sehingga lutut mereka bersentuhan di bawah sana. Ia meraih jemari Paroline, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari yang kasar namun hangat.
"Aku baru sadar," bisik Fharell, suaranya merendah, menciptakan gelembung privasi di tengah kebisingan kantin. "Tanpa Sunny di antara kita hari ini, kau terlihat bukan seperti seorang ibu, tapi seperti pacarku yang sangat cantik. Aku merasa seperti sedang berkencan dengan primadona kampus yang paling sulit didapatkan."
Paroline tersenyum simpul, matanya berbinar. "Memang sulit, kan? Kau butuh waktu berbulan-bulan dan bantuan seorang bayi untuk meluluhkan pertahananku."
"Dan aku akan melakukannya seribu kali lagi jika harus," balas Fharell serius. Ia mengambil selembar tisu, lalu dengan lembut mengusap sedikit saus yang tertinggal di sudut bibir Paroline. Gerakannya begitu pelan, begitu intim, hingga beberapa mahasiswa di meja sebelah hanya bisa menatap mereka dengan iri.
"Paro," panggil Fharell lembut.
"Ya?"
"Terima kasih sudah membiarkanku masuk ke dalam duniamu. Aku tahu tidak mudah membiarkan orang baru menyentuh luka dan rahasiamu. Tapi aku janji, aku bukan sekadar mampir. Aku ingin membangun rumah di sana, bersamamu dan Sunny."
Paroline merasakan dadanya sesak oleh kebahagiaan yang meluap. Ia menggenggam balik tangan Fharell, meremasnya kuat. Di tengah riuh rendah suara piring dan obrolan mahasiswa lain, di kantin yang biasa saja ini, Paroline merasa hidupnya baru saja dimulai kembali.
"Aku tahu, Fharell. Aku bisa merasakannya," bisik Paro.
Fharell tersenyum, lalu dengan jahil ia mengangkat tangan Paroline dan mencium telapak tangannya. "Nah, sekarang habiskan makanmu, Mama. Setelah ini aku ingin mengajakmu ke toko mainan. Aku ingin membelikan Sunny sesuatu agar dia tetap ingat kalau Papanya ini adalah orang paling keren di dunia."
Paroline tertawa lepas, sebuah tawa yang jernih dan bebas. Kehadiran Fharell memang gila, tapi itu adalah kegilaan terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰