Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Koridor sekolah langsung ramai oleh siswa yang berjalan keluar kelas.
Quinn dan Vexa ikut keluar sambil membawa tas mereka.
“Finally…” Vexa meregangkan tangan. “Otak gue udah penuh rumus hari ini.”
Quinn tertawa kecil. “Padahal guru matematika cuma masuk satu jam.”
“Justru itu,” Vexa menggerutu. “Satu jam tapi rasanya kayak tiga jam.”
Mereka berjalan santai menyusuri koridor menuju parkiran.
Vexa masih mengomel.
“Dan tugas yang dia kasih—”
Tiba-tiba Quinn berhenti.
Vexa hampir menabraknya.
“Woi! Kenapa berhenti—”
Quinn menyipitkan mata ke arah depan.
“Xa.”
“Apa?”
Quinn menunjuk pelan.
“Lihat.”
Di ujung koridor, seseorang baru saja berbelok menuju area toilet wanita.
Vexa menoleh.
“…Naomi.”
Quinn mengangkat alis pelan.
Vexa langsung menangkap ekspresi itu.
“Kok gue ngerasa lo lagi mikir sesuatu yang berbahaya.”
Quinn tersenyum perlahan.
Senyum yang sangat jahil.
“Xa…”
Vexa menyipitkan mata.
“Ya?”
Quinn mendekat sedikit.
“Ayo bantuin gue.”
Vexa langsung tertarik.
“Apaan?”
Quinn mengangguk ke arah toilet.
“Tuh.”
Vexa menoleh lagi ke arah Naomi yang baru saja masuk.
Dua detik.
Lalu wajah Vexa berubah.
Senyum licik muncul.
“Oke. Kayaknya seru nih.”
Quinn pun menyeringai.
“Paham kan?”
Vexa mengangguk pelan.
“Paham banget.”
Keduanya saling menatap.
Lalu—
Mereka mengangguk kompak.
Senyum jahat muncul di wajah mereka.
“Gas.”
Mereka berjalan pelan menuju toilet wanita.
Setibanya di dekat pintu—
Quinn dan Vexa langsung celingukan.
Kiri.
Kanan.
Koridor sepi.
Vexa berbisik.
“Aman.”
Quinn melihat gagang kain pel yang bersandar di dinding dekat pintu.
Matanya langsung berbinar.
“Perfect.”
Vexa menahan tawa.
“Cepet sebelum dia keluar.”
Quinn dengan cepat mengambil gagang kain pel itu.
Perlahan—
Ia menyelipkannya di pegangan pintu dari luar sehingga pintu terganjal.
Klik.
Pintu terkunci dari luar.
Vexa menutup mulut menahan tawa.
Quinn mundur satu langkah.
Mereka saling menatap.
Lalu bertos-ria tanpa suara.
Vexa berbisik excited.
“ASTAGA ini jahat banget.”
Quinn tertawa kecil.
“Balas dendam itu indah.”
Vexa menyeringai.
“Bayangin mukanya nanti.”
Quinn meniru suara panik.
“‘Tolong! Tolong!’”
Vexa ikut menirukan.
“‘Kenapa pintunya nggak bisa dibuka?!’”
Mereka hampir tertawa keras tapi buru-buru menutup mulut.
Quinn berbisik.
“Cabut sebelum ketahuan.”
Vexa mengangguk.
Keduanya berjalan cepat menjauh dari toilet.
Begitu sampai ujung koridor—
Mereka akhirnya tertawa lepas.
“HAHAHA!”
Vexa memegang perutnya.
“Quinn! Gue nggak nyangka kita beneran ngelakuin itu!”
Quinn menyeringai puas.
“Balasan kecil.”
Vexa masih tertawa.
“Dia pasti panik nanti!”
Quinn mengangkat bahu santai.
“Biar tau rasanya dikurung.”
Sementara itu…
Di dalam toilet.
Naomi baru saja selesai mencuci tangan.
Ia merapikan rambutnya di depan cermin.
“Hari ini benar-benar melelahkan…”
Ia menghela napas.
“Quinn benar-benar menyebalkan.”
Naomi mengambil tasnya.
Lalu berjalan menuju pintu.
Ia memutar gagang pintu.
Klik.
Pintu tidak bergerak.
Naomi mengerutkan dahi.
“Hm?”
Ia mencoba lagi.
Klik.
Masih tidak terbuka.
Naomi sedikit kesal.
“Kenapa ini…”
Ia menarik pintu lebih kuat.
BRAK.
Tidak bergerak.
Naomi mulai panik.
“Sebentar…”
Ia memutar gagang lagi.
Menarik.
Mendorong.
Tetap tidak bisa.
Wajahnya mulai tegang.
“Kenapa pintunya nggak bisa dibuka?!”
Ia mengetuk pintu.
“Hello?!”
Tak ada jawaban.
Naomi mulai memukul pintu.
“TOLONG!”
Ia menarik pintu lagi.
“ADA ORANG DI LUAR?!”
Koridor sudah sepi.
Tidak ada yang menjawab.
Naomi semakin panik.
“Tolong! Pintu ini macet!”
Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya.
“Tunggu… aku telepon aja…”
Ia membuka kontak.
Nama pertama yang muncul—
Ryuga.
Naomi langsung menekan tombol panggil.
Namun sebelum panggilan tersambung—
Ponselnya tiba-tiba mati.
Layar menjadi hitam.
Naomi menatap layar kosong itu.
“….”
Ia menekan tombol power.
Tidak menyala.
Matanya melebar.
“Jangan bilang…”
Ia bergumam frustrasi.
“Baterainya habis?!”
Naomi hampir menjerit.
“SERIOUSLY?!”
Ia menendang pintu kesal.
“ARGH!”
Naomi memukul pintu lagi.
“TOLONG!! ADA ORANG DI LUAR?!”
Tetap tidak ada jawaban.
Napasnya mulai berat.
Ia menyisir rambutnya dengan frustrasi.
“Ini pasti…”
Naomi berhenti.
Matanya menyipit.
Ia mengingat sesuatu.
Quinn yang tersenyum santai tadi siang.
Quinn yang berkata tidak takut padanya.
Naomi mengepalkan tangan.
“…Quinn.”
Wajahnya berubah kesal.
“Ini pasti ulah dia.”
Ia menendang pintu lagi.
“QUINN!”
Suara Naomi bergema di dalam toilet kosong.
“Kalau ini benar kamu…”
Ia menggertakkan gigi.
“Aku nggak akan maafin kamu!”
Namun di luar sana—
Quinn dan Vexa sudah jauh dari lokasi.
Masih tertawa sambil berjalan ke parkiran.
Vexa menyeka air mata karena terlalu banyak tertawa.
“Gue pengen lihat mukanya nanti!”
Quinn mengangkat bahu santai.
“Sayangnya kita nggak bisa.”
Vexa tersenyum licik.
“Tapi gue bisa bayangin.”
Quinn ikut tertawa.
“Pasti panik.”
Mereka berjalan pergi dengan langkah ringan.
Sementara Naomi masih terjebak di toilet—
Marah.
Frustrasi.
Dan semakin yakin…
Ini adalah balasan Quinn. 😈
...----------------...
Gerbang sekolah mulai sepi.
Sebagian besar siswa sudah pulang.
Quinn berdiri di dekat trotoar sambil memainkan tali tasnya.
Ia melirik jalan beberapa kali.
“Papa mana sih…”
Vexa sudah pulang lebih dulu karena dijemput kakaknya.
Jadi sekarang Quinn sendirian menunggu.
Tiba-tiba—
BRROOOM.
Suara motor sport berhenti tepat di depannya.
Quinn menoleh.
Motor sport hitam itu berhenti dengan elegan.
Pengendaranya membuka visor helm.
Itu Ryuga.
Quinn langsung menghela napas kecil.
“Lagi.”
Ryuga menatapnya tenang.
“Naik.”
Quinn langsung menjawab cepat.
“Ogah.”
Ryuga masih menatapnya.
Quinn menyilangkan tangan.
“Gue lagi nunggu jemputan.”
Ryuga santai.
“Bisa dibatalin.”
Quinn melotot.
“Enak aja.”
Ryuga hendak bicara lagi—
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka.
Pintu mobil terbuka.
Seorang pria turun dengan cepat.
Begitu melihat Quinn—
Ia langsung berteriak keras.
“SAYANG!!”
Quinn membeku.
Matanya melebar.
“….”
Pria itu langsung berlari ke arahnya.
“Sayang!”
Quinn bahkan belum sempat bereaksi ketika pria itu langsung memeluknya erat.
Quinn kaku seperti patung.
Pria itu adalah Darren.
Darren memeluk Quinn seolah tidak mau melepasnya.
“Sayang, kamu kok pindah nggak bilang aku sih?”
Quinn masih mematung.
“Darren—”
Darren memotong dengan suara memelas.
“Kamu masih marah sama aku?”
Ia menatap Quinn penuh harap.
“Sayang maafin aku ya…”
Darren memegang bahu Quinn.
“Sumpah aku kangen banget sama kamu.”
Quinn tidak membalas pelukannya.
Tangannya bahkan tidak bergerak.
Matanya justru melirik ke samping.
Ke arah Ryuga.
Ryuga masih duduk di motor.
Namun sekarang tatapannya tajam.
Sangat tajam.
Beberapa detik hening.
Lalu Ryuga bertanya datar.
“Ra.”
Quinn menoleh.
Ryuga menatap Darren.
“Dia siapa?”
Quinn membuka mulut.
“Dia—”
Namun sebelum Quinn menjawab—
Darren akhirnya menyadari keberadaan Ryuga.
Ia sedikit menjauh dari Quinn.
Matanya menyapu Ryuga dari atas sampai bawah.
Ekspresinya berubah tidak suka.
Namun Darren justru tersenyum percaya diri.
Ia merangkul pinggang Quinn dengan santai.
Quinn langsung melotot.
“Darren—”
Namun Darren sudah lebih dulu mengulurkan tangan ke arah Ryuga.
“Gue Darren.”
Ia berkata dengan nada bangga.
“Pacarnya.”
Quinn langsung menatapnya dengan tatapan protes sekaligus peringatan.
“Darren.”
Namun Darren mengabaikannya.
Ia masih menatap Ryuga.
“Lo siapa?”
Ia mengangkat alis.
“Temen barunya?”
Quinn benar-benar ingin menendang Darren saat itu juga.
Sementara itu—
Tangan Ryuga di setang motor mengepal.
Matanya sedikit menyempit.
Namun wajahnya tetap dingin.
Beberapa detik hening.
Lalu Ryuga menjawab pendek.
“Bukan.”
Ia menyalakan mesin motor.
BROOOMM.
Tanpa berkata apa-apa lagi—
Ryuga langsung melaju pergi.
Cepat.
Quinn menatap punggungnya yang menjauh.
Perasaannya tiba-tiba tidak nyaman.
Aneh.
Seperti…
…baru saja ketahuan selingkuh.
Padahal tidak.
Namun tetap terasa aneh.
“Quinn—”
BUGH!
Quinn langsung memukul kepala Darren.
“AWWW!”
Darren memegang kepalanya.
“Kenapa mukul?!”
Quinn melotot marah.
“SIAPA YANG PACAR LO?!”
Darren berkedip.
“Hah?”
Quinn menunjuk wajahnya.
“KITA UDAH PUTUS!”
Ia menunjuk kepala Darren.
“Lo pikun?!”
Darren langsung panik.
“Sayang—”
“JANGAN PANGGIL GUE SAYANG!”
Darren langsung memelas.
“Quinn, dengar dulu—”
Quinn memotong kesal.
“Apaan sih lo tiba-tiba muncul di sini?!”
Darren terlihat putus asa.
“Aku nyari kamu!”
Quinn mendengus.
“Buat apa?”
Darren menatapnya serius.
“Aku mau balikan.”
Quinn langsung tertawa pendek.
“HAHAHA.”
Darren memegang tangan Quinn.
“Sayang, aku serius—”
Quinn langsung menarik tangannya.
“Udah telat.”
Darren terlihat semakin panik.
“Quinn, aku beneran nyesel!”
Quinn menyilangkan tangan.
“NyeseI setelah ketahuan selingkuh?”
Darren langsung gugup.
“Itu cuma salah paham—”
Quinn mendengus.
“Salah paham kepala lo.”
Darren mencoba lagi.
“Quinn, kita udah setahun bareng…”
Quinn menjawab dingin.
“Dan lo hancurin itu sendiri.”
Darren terlihat hampir putus asa.
“Kasih aku kesempatan lagi.”
Quinn menggeleng.
“Nggak.”
Darren masih memohon.
“Quinn please—”
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka.
Pintu belakang terbuka.
Quinn langsung masuk tanpa melihat Darren lagi.
Darren panik.
“QUINN!”
Ia mengetuk jendela mobil.
“Quinn tolong dengar dulu!”
Namun pintu sudah tertutup.
Di dalam mobil—
Armand, ayah Quinn yang duduk di kursi kemudi lantas menoleh.
Ia melihat Darren yang masih menggedor jendela.
“Ra.”
Ia menoleh ke Quinn.
“Barusan itu Darren, pacarmu kan?”
Quinn langsung menjawab.
“Bukan, Pa.”
Armand mengangkat alis.
“Bukan?”
Quinn menatap keluar jendela.
“Udah putus.”
Armand mengangguk mengerti.
“Ah... Begitu.”
Ia tidak bertanya lagi.
Mobil pun mulai berjalan meninggalkan gerbang sekolah.
Darren masih berdiri di sana.
Ia bahkan sempat mengejar mobil beberapa langkah.
“QUINN!”
Namun mobil sudah pergi.
Di dalam mobil—
Quinn menyandarkan kepala ke kursi.
Diam.
Pikirannya justru kembali ke Ryuga.
Tatapan tajam tadi.
Cara dia pergi tanpa bicara.
Quinn menggigit bibirnya sedikit.
Ia merasa…
…bersalah.
Quinn menggeleng kecil.
"Isssh..."
Dalam hati ia menggerutu.
"Apaan sih?!"
Ia memalingkan wajah ke jendela.
"Ngapain juga gue ngerasa bersalah."
Quinn menghela napas kecil.
"Toh dia juga udah pacaran sama Naomi."
Namun entah kenapa—
Tatapan Ryuga tadi tetap terbayang di kepalanya.
Dan itu membuat dadanya terasa sedikit… tidak nyaman.
...****************...
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Jangan berani²...
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁