NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

BAB 9

RITME YANG ASING

​Bagi Adrian Aratama, waktu adalah komoditas yang diperas habis demi produktivitas. Hidupnya diatur oleh kalender digital yang presisi, pertemuan yang saling tumpang tindih, dan ambisi yang tidak pernah tidur. Namun, sejak Aisha Humaira masuk ke dalam orbit kerjanya, Adrian mulai menyadari adanya sebuah ritme lain—sebuah frekuensi yang berbeda yang selama ini tidak pernah ia anggap ada dalam dunia korporat yang bising.

​Minggu itu, intensitas pekerjaan meningkat dua kali lipat. Mereka sedang dalam tahap finalisasi tender untuk sub-kontraktor mekanikal dan elektrikal. Ruang rapat di lantai 47 telah berubah menjadi medan perang dokumen.

​"Kita harus menyelesaikan evaluasi vendor ini sebelum jam lima sore, Aisha," ujar Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan berkas di depannya. Pena di tangannya menari-nari, memberikan tanda silang merah pada proposal yang dianggapnya tidak masuk akal.

​Aisha, yang duduk di ujung meja dengan laptopnya, melirik jam digital di pergelangan tangannya. "Mohon maaf, Pak Adrian. Saya butuh waktu lima belas menit."

​Adrian mendongak, keningnya berkerut. "Lima belas menit? Untuk apa? Kopi? Kita tidak punya waktu untuk jeda kafein sekarang."

​"Bukan kopi, Pak. Sudah masuk waktu Ashar," jawab Aisha tenang sembari merapikan dokumennya.

​Adrian meletakkan penanya dengan suara tak yang menunjukkan ketidaksabaran. Ia bersandar pada kursi kulitnya, menatap Aisha dengan tatapan skeptis yang sudah menjadi ciri khasnya. "Lagi? Kita baru saja mulai satu jam yang lalu setelah jeda makan siang yang juga kau gunakan untuk... apa tadi? Zuhur?"

​"Benar, Pak. Ini adalah kewajiban yang tidak bisa saya tunda," Aisha berdiri, suaranya tetap lembut namun mengandung ketegasan yang tidak bisa didebat. "Logika Anda mungkin mengatakan ini adalah pemborosan waktu, tapi bagi saya, ini adalah cara saya mengisi ulang energi dan fokus. Saya akan kembali dalam lima belas menit dan bekerja lebih cepat untuk mengejar ketertinggalan."

​Adrian mendengus, memutar bola matanya. "Terserahlah. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena kau ingin bersujud, Aisha. Tapi proyek ini bisa berhenti kalau kita telat mengirimkan laporan."

​Aisha hanya memberikan anggukan hormat yang singkat lalu berjalan keluar ruangan.

​Adrian terdiam di ruangan yang mendadak sunyi itu. Rasa penasarannya yang biasanya tertuju pada struktur bangunan, kini beralih pada perilaku wanita itu. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu kaca ruang rapat, dan melihat ke arah lorong. Ia melihat Aisha memasuki ruangan kecil yang sudah ia minta Sarah siapkan sebagai musala darurat bagi staf muslim.

​Adrian melirik jam tangannya. Ia ingin membuktikan sesuatu. Ia ingin melihat apakah Aisha benar-benar hanya butuh lima belas menit, atau itu hanya alasan untuk melarikan diri dari tekanan kerja.

​Ia berdiri di dekat dispenser air, berpura-pura mengambil minum sembari mengawasi pintu musala. Tepat menit ke-dua belas, pintu terbuka. Aisha keluar dengan wajah yang tampak lebih segar—mungkin karena air wudu—dan langkah yang lebih ringan. Ia tidak tampak seperti orang yang baru saja melarikan diri; ia tampak seperti orang yang baru saja mendapatkan jawaban atas masalah yang rumit.

​Saat Aisha kembali ke ruang rapat, ia langsung duduk dan membuka laptopnya. "Terima kasih atas pengertiannya, Pak. Sekarang, mari kita lihat bagian sistem sirkulasi air di sektor C. Saya menemukan celah efisiensi yang bisa menghemat biaya operasional sepuluh persen."

​Adrian tertegun. Aisha benar-benar bekerja lebih cepat. Fokusnya seolah terkunci kembali pada tingkat maksimal.

​"Kau..." Adrian memulai, matanya menyipit. "Bagaimana bisa kau kembali dengan ide itu setelah hanya duduk diam di sana?"

​"Saya tidak hanya duduk diam, Pak," balas Aisha tanpa menoleh. "Saya menenangkan pikiran. Saat kita berhenti mengejar dunia sejenak, dunia justru sering kali memberikan jawabannya kepada kita."

​Adrian terdiam, menyesap air mineralnya dengan perasaan aneh. Ia mulai menyadari bahwa pola hidup Aisha bukanlah sebuah gangguan, melainkan sebuah disiplin yang ekstrem. Aisha tidak pernah makan sambil berdiri, ia tidak pernah bersentuhan fisik dengan staf pria manapun—bahkan saat memberikan dokumen, ia selalu meletakkannya di atas meja alih-alih memberikannya langsung ke tangan orang tersebut—dan ia selalu memiliki jeda-jeda sakral itu.

​Bagian dari diri Adrian yang skeptis menganggap itu aneh, kolot, dan membatasi. Namun, bagian dari dirinya yang selalu mencari efisiensi mulai melihat sesuatu yang menarik. Aisha tidak pernah mengalami burnout. Ia tidak pernah meledak karena stres. Ia memiliki ritme yang tetap, seperti detak jantung yang stabil di tengah badai.

​Sore harinya, saat mereka harus meninjau lokasi pembangunan yang sudah mulai gelap, Adrian memperhatikan hal lain. Ia secara tidak sengaja menjatuhkan senter besar yang ia bawa saat melintasi tumpukan kayu.

​Aisha bergerak refleks untuk mengambilnya, begitu juga Adrian. Tangan mereka nyaris bersentuhan di atas gagang senter yang dingin. Namun, secepat kilat, Aisha menarik tangannya kembali, membiarkan Adrian mengambil senter itu sendiri.

​"Maaf," gumam Aisha pelan.

​Adrian berdiri, memegang senter itu sembari menatap Aisha. "Aku bukan penderita kusta, Aisha. Sentuhan kulit yang tidak sengaja tidak akan membunuhmu."

​"Ini bukan tentang penyakit, Pak Adrian," jawab Aisha, matanya menatap lurus ke arah kegelapan proyek. "Ini tentang menjaga kehormatan dan batasan yang sudah ditetapkan. Bagi saya, jarak fisik ini adalah bentuk penghormatan saya kepada diri saya sendiri, dan juga kepada Anda."

​"Penghormatan?" Adrian tertawa sinis, meski hatinya merasa terusik. "Di duniaku, jabatan dan uang adalah penghormatan. Jarak fisik seperti ini justru sering dianggap sebagai tanda permusuhan atau ketidaksukaan."

​"Maka dunia Anda sangat melelahkan," sahut Aisha halus. "Karena Anda harus terus-menerus membuktikan nilai Anda melalui hal-hal di luar diri Anda. Batasan saya justru membuat saya merasa bebas. Saya tidak perlu khawatir tentang persepsi orang lain terhadap fisik saya, karena saya sudah menetapkan garisnya."

​Adrian terdiam. Ia mematikan senternya sejenak, membiarkan cahaya bulan menyinari area proyek yang masih berupa kerangka besi. Ia mulai melihat pola itu sebagai sebuah benteng. Aisha membangun benteng di sekeliling dirinya, bukan untuk mengasingkan diri, tapi untuk memastikan hanya hal-hal yang berkualitas yang bisa masuk ke dalam hidupnya.

​"Kau tahu..." suara Adrian merendah, terdengar lebih reflektif. "Awalnya aku menganggap semua aturan hidupmu itu beban. Sangat tidak praktis untuk kehidupan modern yang serba cepat. Tapi melihatmu tetap tenang saat fondasi kita hampir runtuh minggu lalu, dan melihatmu selalu punya jawaban di saat aku mulai panik... aku mulai berpikir."

​"Berpikir tentang apa, Pak?"

​"Tentang kemungkinan bahwa mungkin akulah yang terlalu kacau, dan kau adalah variabel tetap yang selama ini tidak aku miliki dalam perhitunganku."

​Aisha menoleh ke arah Adrian. Dalam kegelapan, matanya tampak berbinar terkena pantulan cahaya kota dari kejauhan. "Semua orang butuh pegangan, Pak Adrian. Anda memegang kendali bisnis Anda, tapi kendali itu bisa lepas kapan saja. Saya memegang sesuatu yang tidak akan pernah lepas, meski dunia ini runtuh."

​Adrian tidak menjawab. Ia merasa ada sesuatu yang bergeser dalam dirinya. Ia mulai merasa bahwa pola hidup Aisha bukan lagi sesuatu yang harus ia lawan atau ia tertawakan. Itu adalah sebuah studi kasus yang menarik bagi logikanya yang haus akan kebenaran. Ia mulai diam-diam memperhatikan jadwal sholat melalui aplikasi di ponselnya—bukan untuk ikut melakukannya, tapi untuk mengetahui kapan ia harus memberikan ruang bagi Aisha.

​Ia juga mulai menjaga jaraknya secara sadar. Jika sebelumnya ia sengaja ingin melanggar batas untuk melihat reaksi Aisha, kini ia justru menjadi orang yang paling depan dalam memastikan tidak ada staf pria lain yang berdiri terlalu dekat dengan arsiteknya.

​"Aneh," gumam Adrian malam itu saat ia kembali ke apartemennya. Ia menatap ke arah sajadah yang tidak pernah dipakai di sudut kamarnya—sebuah peninggalan dari mendiang neneknya.

​Ia tidak percaya pada apa yang Aisha percayai. Baginya, Tuhan tetaplah sebuah abstraksi yang tidak bisa dibuktikan di atas kertas desain. Namun, ia tidak bisa membantah hasil nyata dari kepercayaan itu pada diri Aisha. Kedisiplinan, ketenangan, dan integritas yang tidak tergoyahkan.

​Adrian mengambil sebuah buku sketsa tua. Ia tidak menggambar gedung malam itu. Ia menggambar sebuah garis vertikal dan horisontal yang saling berpotongan. Garis vertikal untuk hubungan Aisha dengan dunianya yang tidak terlihat, dan garis horisontal untuk hubungan mereka di proyek ini.

​"Kau adalah teka-teki yang paling menarik yang pernah kutemui, Aisha Humaira," bisiknya. "Logikaku membencimu, tapi instingku... instingku ingin tahu lebih banyak tentang ritme yang kau jalani."

​Ia menyadari bahwa rasa terganggunya telah berubah total. Kini, ia tidak lagi merasa terganggu karena tidak bisa membaca wajah Aisha. Ia justru merasa terganggu karena ia mulai bisa "merasakan" kehadiran Aisha melalui prinsip-prinsip yang wanita itu pegang teguh. Dan itu, jauh lebih berbahaya bagi seorang ateis yang membanggakan kemandiriannya daripada sekadar wajah cantik yang terlihat.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!