Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: PENAGIHAN PERTAMA
Malam di Paviliun Pengobatan biasanya sunyi, hanya diiringi suara jangkrik dan sesekali suara letupan kecil dari tungku alkimia yang apinya belum sepenuhnya padam. Namun, malam ini berbeda. Tian Feng yang baru saja merebahkan tubuhnya di kasur tipis merasakan suasana yang tidak biasa. Udara di dalam kamarnya yang kecil terasa statis, seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak menghilang.
Feng duduk di tepi ranjang, meraba liontin giok di dadanya yang kini berdenyut dengan frekuensi yang lebih cepat. "Sudah datang?" bisiknya.
Tepat saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, sebuah ledakan petir yang sangat keras mengguncang atap paviliun.
KRAAAKKKK!
Bukan guntur biasa. Suaranya terdengar seperti langit yang sedang robek. Feng melompat berdiri, matanya menatap ke arah jendela kecilnya. Di luar, awan hitam pekat berputar-putar tepat di atas kamarnya, membentuk pusaran yang memancarkan cahaya merah darah yang menyeramkan.
"Hutang karma untuk satu butir Pil Embun Pagi ternyata bukan sekadar nasib buruk," gumam Feng, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Tiba-tiba, dari pusat pusaran awan itu, seberkas cahaya merah melesat turun secepat kilat. Bukannya menghancurkan atap, cahaya itu menembus kayu dan genting seolah benda padat itu tidak ada, lalu mendarat tepat di tengah kamar Feng.
Cahaya itu mulai memadat, membentuk sesosok makhluk yang mengerikan. Tingginya hampir menyentuh langit-langit, tubuhnya terdiri dari gumpalan asap hitam yang terus bergejolak, dan sepasang matanya menyala seperti bara api yang haus darah. Di tangannya, makhluk itu memegang sebuah sabit besar yang bilahnya terbuat dari energi petir merah.
"Pesan Sistem: Penagih Karma Tingkat Rendah telah bermanifestasi. Lunasi hutangmu atau serahkan nyawamu."
Feng menelan ludah. "Hanya untuk satu pil murahan, kau mengirimkan malaikat maut?"
Tanpa peringatan, makhluk asap itu mengayunkan sabitnya. Gerakannya begitu cepat hingga hanya meninggalkan jejak merah di udara. Feng secara insting menjatuhkan dirinya ke lantai, berguling di bawah kolong tempat tidur.
SRAAAKKK!
Tempat tidur kayu milik Feng terbelah dua seolah hanya terbuat dari kertas. Potongan kayunya hangus terbakar dengan bau belerang yang menyengat.
"Hei! Itu satu-satunya tempat tidurku!" teriak Feng, kemarahannya mulai muncul di balik rasa takutnya.
Makhluk itu tidak peduli. Ia berbalik, sabitnya kembali bersiap untuk tebasan horizontal. Feng tahu ia tidak bisa terus bersembunyi. Jika ia tidak melawan, kamar ini akan menjadi makamnya.
Ia memusatkan Chi yang baru saja ia dapatkan dari proses Arus Balik tadi siang. Energi itu terasa panas dan liar di meridiannya. Feng melompat berdiri, mengepalkan tinjunya. Ia tidak memiliki teknik bela diri yang elegan seperti murid-murid elit, tapi ia memiliki energi Tao yang murni yang mengalir dari liontin gioknya.
"Kau ingin menagih? Baiklah, ambil ini sebagai bunganya!"
Feng menerjang maju. Saat sabit merah itu turun menuju kepalanya, Feng memiringkan tubuhnya sedikit dan menghantamkan tinjunya tepat ke arah dada makhluk asap tersebut.
BOOM!
Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang mementalkan semua perabotan di kamar Feng. Tangan Feng terasa seperti menghantam dinding baja yang panas, namun energi hijau zamrud dari gioknya meledak keluar, menembus gumpalan asap hitam makhluk itu.
Makhluk asap itu meraung—sebuah suara yang tidak terdengar oleh telinga manusia, melainkan langsung menghantam jiwa. Tubuhnya bergetar, asap hitamnya mulai buyar. Namun, sabitnya masih sempat menggores lengan Feng sebelum ia meledak menjadi tumpukan abu hitam yang dingin.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Feng terengah-engah, memegangi lengan kirinya yang berdarah. Darahnya tidak berwarna merah terang, melainkan sedikit kehitaman karena pengaruh racun karma yang baru saja masuk ke tubuhnya.
"Ugh... sakit sekali," rintih Feng. Ia melihat ke arah tangannya yang gemetar.
"Status: Penagihan Selesai. Hutang Karma: Lunas. Efek samping: Racun Karma terdeteksi di lengan kiri."
Feng terduduk di antara reruntuhan tempat tidurnya. "Jadi ini harganya. Kekuatan instan dibayar dengan pertarungan hidup mati. Surga benar-benar pedagang yang licik."
Namun, masalah Feng belum berakhir. Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari luar koridor.
"Tian Feng! Apa yang terjadi di dalam?! Aku mendengar suara ledakan!"
Itu suara Guru Lin. Pintu kamar Feng yang sudah miring dihantam hingga terbuka. Guru Lin masuk dengan tangan yang sudah memancarkan cahaya hijau terang—siap untuk bertarung. Namun, ia tertegun melihat kondisi kamar yang hancur berantakan dan Feng yang duduk di lantai dengan lengan berdarah.
Guru Lin melihat ke arah abu hitam di lantai, lalu menatap langit-langit yang sebenarnya utuh namun menyisakan aroma belerang. Ekspresinya berubah dari khawatir menjadi sangat gelap dan serius.
"Bocah... apa yang baru saja kau panggil ke dalam kamar ini?" tanya Guru Lin, suaranya rendah dan penuh tekanan.
Feng segera menyembunyikan lengannya di balik jubah. "Guru... itu... tadi ada kucing hutan besar masuk lewat jendela! Saya mencoba mengusirnya, tapi dia malah mengamuk dan menghancurkan semuanya!"
Guru Lin tidak bergerak. Ia berjalan mendekati tumpukan abu hitam, mengambil sedikit dengan jarinya, dan menciumnya. "Kucing hutan tidak meninggalkan debu jiwa yang terbakar petir merah, Feng."
Guru Lin mencengkeram kerah baju Feng dan menariknya berdiri. Matanya menatap tajam ke arah liontin giok di dada Feng yang masih memancarkan sisa-sisa panas.
"Jangan berbohong padaku! Aku sudah mencium bau ini tiga puluh tahun yang lalu, saat kakekmu mencoba menantang takdir! Kau menggunakan teknik Arus Balik, bukan?!"
Feng membeku. Ia tidak menyangka Guru Lin akan mengenali jejak tersebut secepat ini. Penyamarannya yang ia bangun selama bertahun-tahun sebagai murid pemalas hancur hanya dalam satu malam.
"Saya... saya hanya tidak ingin menjadi sampah selamanya, Guru," bisik Feng, kepalanya tertunduk.
Guru Lin melepaskan kerah baju Feng, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat letih. Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah langit yang kini sudah kembali tenang.
"Kau tidak tahu apa yang kau mulai, Feng," kata Guru Lin tanpa menoleh. "Teknik itu bukan jalan menuju kekuatan, itu adalah jeratan leher. Setiap kali kau menggunakannya, kau menarik perhatian Sesuatu yang seharusnya tetap tidur. Kau pikir kau bisa membayar hutang itu dengan berkelahi?"
Guru Lin berbalik, wajahnya kembali galak tapi ada gurat kesedihan di sana. "Lenganmu. Berikan padaku."
Feng ragu-ragu sejenak, lalu menunjukkan lengan kirinya yang terluka. Luka itu mulai menghitam, dan urat-urat di sekitarnya tampak menonjol.
Guru Lin mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan perak dan menyiramkannya ke luka Feng. Rasa perih yang luar biasa membuat Feng hampir berteriak, namun Guru Lin menahan bahunya dengan kuat.
"Ini adalah Cairan Pembersih Bulan. Ia akan menahan racun karma itu agar tidak mencapai jantungmu. Tapi ini hanya sementara," jelas Guru Lin. "Mulai besok, kau tidak akan lagi hanya membersihkan tungku. Kau akan mulai belajar alkimia medis yang sebenarnya di bawah pengawasanku."
Feng tertegun. "Maksud Guru?"
"Jika kau tetap menggunakan teknik Arus Balik tanpa dasar medis yang kuat untuk memurnikan racunnya, kau akan mati sebelum mencapai tingkat Pengumpulan Chi berikutnya. Aku akan mengajarimu cara 'mencuci' hutangmu sebelum penagih itu datang lagi."
Guru Lin berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Dan satu lagi. Jika ada murid lain atau tetua yang bertanya tentang kamarmu, katakan saja eksperimen alkimia yang aku berikan padamu meledak. Biarkan mereka mengira kau adalah kelinci percobaan kegagalanku. Itu jauh lebih aman daripada mereka tahu kau adalah seorang penganut Tao."
Feng melihat kepergian Guru Lin dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bersyukur namun juga terbebani. Rencananya untuk menjadi kuat secara malas-malasan kini berubah menjadi latihan keras di bawah pengawasan tabib paling cerewet di perguruan.
Ia kembali melihat ke arah perkamen di tangannya.
"Peringatan: Penagih berikutnya tidak akan sendirian. Tingkatkan basis kultivasimu atau siapkan peti mati."
Feng meremas perkamen itu dan menyembunyikannya kembali. "Peti mati ya? Kita lihat saja siapa yang akan masuk ke dalamnya duluan."
Malam itu, di tengah reruntuhan kamarnya, Tian Feng tidak tidur. Ia duduk bersila, merasakan aliran energi yang masih bergejolak di tubuhnya. Ia baru saja menyadari bahwa di dunia ini, kekuatan adalah candu yang sangat mahal harganya, dan dia baru saja meminum tegukan pertamanya.