Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pedang yang Belum Tercabut
Matahari tepat berada di atas kepala, membakar alun-alun Sekte Awan Hijau. Namun, panasnya matahari tidak sebanding dengan atmosfer mendidih di sekitar arena.
Seratus murid yang tersisa dari babak bertahan kini berdiri di bawah bayangan panggung utama. Mereka adalah elit sejati dari jajaran Murid Luar. Mulai dari babak ini, sistem yang digunakan adalah duel satu lawan satu.
Undian dilakukan menggunakan cermin giok raksasa yang melayang di udara. Nama-nama berkedip dengan cahaya keemasan.
"Pertandingan Ketiga: Zhao Yun melawan Li Kang!" suara diaken menggema.
Zhao Yun melompat ke atas Arena 2. Lawannya adalah seorang murid bertubuh gesit pemakai dua pisau pendek (Lapisan 5). Pertarungan berlangsung sengit. Zhao Yun beberapa kali tersayat, membasahi jubah abunya dengan darah. Namun, di saat-saat terakhir, ia memusatkan elemen Angin ke bilah pedangnya dan melepaskan Tebasan Sabit Angin, memukul mundur Li Kang hingga jatuh dari panggung.
Zhao Yun menang, meski ia harus turun panggung dengan napas tersengal dan kaki gemetar. Ia melirik ke arah Lin Xuan di sudut peserta dan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar.
Lin Xuan hanya merespons dengan anggukan tipis. Matanya kembali menatap cermin giok raksasa.
"Pertandingan Kedelapan: Mu Chen melawan Tie Shan!"
Seketika, kerumunan berdengung riuh.
"Tie Shan? Bukankah dia tangan kanan Tuan Muda Wang Long? Orang yang dijuluki 'Beruang Tembaga'?"
"Mampus si Mu Chen itu. Kudengar Tie Shan sudah mencapai Puncak Lapisan 6 dan menguasai Seni Tubuh Tembaga tingkat menengah!"
Dari kubu Fraksi Naga, seorang pemuda bertubuh raksasa hampir setinggi dua meter berjalan membelah kerumunan. Otot-ototnya menonjol seperti bongkahan batu bata. Ia membawa sepasang kapak pendek yang terlihat sangat berat.
Tie Shan melompat ke atas Arena 4, membuat lantai batu itu bergetar pelan. Ia menatap Lin Xuan yang sedang berjalan santai menaiki tangga arena.
Lin Xuan masih dengan penampilannya yang meremehkan: jubah hitam, topi caping bambu, dan pedang biasa yang tersarung di pinggang. Auranya masih ditekan di Lapisan 4.
Di tribun VIP, Wang Long mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya berkilat penuh dendam. "Tie Shan," gumamnya pelan, "jangan bunuh dia terlalu cepat. Hancurkan dulu seluruh meridian di keempat anggota tubuhnya."
Diaken wasit melayang di atas arena. "Aturan tetap sama. Mulai!"
Tie Shan tertawa terbahak-bahak. Suaranya serak dan berat. "Bocah, kau sangat sial. Tuan Muda meminta lengan dan kakimu. Tapi karena aku sedang berbaik hati, jika kau berlutut dan menggonggong tiga kali sekarang, aku akan membiarkanmu pingsan dengan satu tebasan saja."
Lin Xuan menatap raksasa di depannya dengan pandangan kosong.
"Terlalu banyak bicara," kata Lin Xuan pelan.
Mata Tie Shan memerah karena marah. "Cari mati!"
Raksasa itu menghentakkan kakinya. Kulitnya tiba-tiba berubah warna menjadi cokelat keemasan, memancarkan kilau logam yang keras. Itulah Seni Tubuh Tembaga, teknik penyempurnaan tubuh yang membuat kulit kebal terhadap senjata tajam mortal dan serangan elemen tingkat rendah.
Tie Shan menerjang maju seperti banteng gila. Sepasang kapaknya menyilang, mengincar leher dan pinggang Lin Xuan sekaligus. Kecepatannya mengejutkan untuk ukuran tubuh sebesar itu.
Angin dari kapak itu menyibakkan debu di lantai arena.
Sring!
Lin Xuan tidak mundur. Ia justru mengambil satu langkah ke depan, masuk langsung ke dalam jangkauan serang Tie Shan, area yang paling mematikan.
Di dalam kepalanya, Gu Tianxie tertawa sinis. "Tubuh Tembaga? Memalukan. Itu bahkan tidak layak disebut teknik pelindung. Hancurkan cangkang kura-kura palsu itu, Lin Xuan!"
Saat kapak Tie Shan hampir merobek lehernya, Lin Xuan memiringkan kepalanya setengah inci. Kapak itu meleset, hanya memotong udara kosong. Di saat yang sama, tangan kiri Lin Xuan yang pucat meluncur ke atas, mencengkeram pergelangan tangan Tie Shan yang memegang kapak.
Tie Shan mendengus meremehkan. Dia mencoba menarik tangannya, yakin bahwa tenaga murid Lapisan 4 tidak akan mampu menahan kekuatan fisiknya.
Namun, lengannya tidak bergerak. Sama sekali.
Cengkeraman tangan pucat itu terasa seperti jepitan rahang naga baja. Mata Tie Shan melebar. "B-bagaimana bisa—"
"Tulangmu terlalu rapuh," bisik Lin Xuan.
KRAK!
Lin Xuan menyalurkan kekuatan murni dari Tulang Besi Hitam miliknya. Tanpa Qi yang mencolok, murni kekuatan otot dan kepadatan tulang asura. Pergelangan tangan Tie Shan, yang dilapisi pertahanan Tubuh Tembaga, hancur lebur di bawah cengkeraman Lin Xuan. Tulangnya remuk menjadi kepingan kecil.
"AAAAAARGH!" Tie Shan menjerit histeris. Kapaknya jatuh bergemerincing ke lantai.
Namun Lin Xuan belum selesai.
Sebelum Tie Shan sempat mundur, tangan kanan Lin Xuan yang tidak menyentuh pedang sama sekali membentuk kepalan. Qi padat dari Lapisan 5 yang disembunyikannya meledak di dalam tinjunya, bercampur dengan kekuatan brutal tubuh asuranya.
Lin Xuan meninju tepat di ulu hati Tie Shan.
BOOOOOOM!
Suara ledakan tumpul terdengar ke seluruh alun-alun. Bukan ledakan sihir, melainkan suara tulang dada yang ambles ke dalam.
Lapisan pertahanan emas di tubuh Tie Shan retak seketika, menyebar seperti jaring laba-laba, lalu hancur berantakan.
Raksasa setinggi dua meter itu terangkat dari lantai. Matanya melotot putih, mulutnya memuntahkan kabut darah segar. Tubuhnya melayang sejauh sepuluh meter di udara, menabrak pilar pembatas arena hingga pilar batu itu retak, sebelum akhirnya jatuh ke luar panggung seperti gumpalan daging tak bernyawa.
Hening.
Keheningan yang memekakkan telinga melanda ribuan penonton. Diaken wasit di udara bahkan lupa meniup peluit akhirnya.
Pertarungan itu hanya berlangsung selama dua kali tarikan napas. Tangan kanan terkuat Wang Long, murid Puncak Lapisan 6 dengan pertahanan Tubuh Tembaga, dikalahkan dengan satu cengkeraman dan satu pukulan murni.
Dan yang paling menakutkan: Pedang Lin Xuan masih tersarung rapi di pinggangnya.
"Dia... dia mengalahkan Tie Shan tanpa mencabut pedangnya?" seorang murid senior bergumam dengan bibir bergetar.
Di tribun VIP, Wang Long berdiri dari kursinya. Cangkir teh yang baru saja diganti oleh pelayannya kembali hancur di genggamannya. Wajahnya yang biasa tampan kini berkerut mengerikan, rahangnya mengeras hingga ototnya terlihat.
Lin Xuan berdiri di tengah arena. Dia mengeluarkan sapu tangan lusuhnya, membersihkan sedikit cipratan darah Tie Shan dari buku-buku jarinya.
Ia perlahan memutar tubuhnya, mendongak ke arah tribun VIP, langsung menatap Wang Long.
Lin Xuan tidak menunjuk atau membuat isyarat provokatif seperti sebelumnya. Kali ini, ia hanya tersenyum tipis. Senyum dingin yang tidak mencapai matanya, seolah sedang melihat tumpukan mayat.
"Pemenang, Mu Chen!" teriak diaken, suaranya sedikit gemetar saat menyadari aura pembunuh yang pekat dari pemuda bertopi caping itu.
Lin Xuan berbalik dan berjalan turun dari arena dengan tenang, membelah kerumunan yang kini mundur memberinya jalan dengan ekspresi ketakutan dan hormat.