NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:390.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Elios

“Kau sudah sadar ternyata.”

Suara itu terdengar datar, tanpa sedikit pun kehangatan.

Naomi menoleh ke arah pintu. Di ambang pintu berdiri Carlos, kakak kandungnya. Di belakangnya, berjejer keluarga Elios, yaitu Nyonya Ruby, Tuan Leon, Erick, dan Viviane. Kehadiran mereka membuat suhu ruangan seolah turun drastis.

Belum sempat siapa pun bereaksi, Max sudah melangkah maju setengah langkah. Sorot matanya tajam, nadanya dingin.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Ia menatap satu per satu tanpa ramah. “Kalau hanya untuk menyakiti Naomi, lebih baik kalian pergi.”

Nyonya Arumi ikut berdiri, wajahnya mengeras. “Benar,” katanya tegas. “Apa tujuan kalian datang? Kehadiran kalian tidak dibutuhkan di sini.”

Nyonya Ruby mendengus kesal. “Kalian tidak berhak mengusir kami,” ucapnya tinggi. “Bagaimanapun juga, Naomi itu putri kami.”

Nyonya Arumi tersenyum, senyum tipis yang sama sekali tak mengandung kehangatan. “Putri?”

Ia menatap Ruby tajam. “Sejak kapan kalian menganggap Naomi sebagai putri? Kalian hanya menjadikannya bayangan bagi putri pungut kalian itu.”

Wajah Nyonya Ruby langsung memerah. Matanya melotot penuh amarah. “Kau. Tutup mulutmu, kau—”

“Sudah, Mami,” potong Viviane dengan cepat. Ia menarik tangan Ruby lembut, seolah menenangkan. “Mami tidak boleh marah-marah.”

Viviane lalu melangkah sedikit ke depan, menundukkan kepala sopan. “Maafkan kami, Bibi,” katanya halus. “Kami hanya ingin menjenguk Kak Naomi.”

Mendengar namanya disebut, Naomi hanya memutar bola matanya malas. Ia tetap bersandar di ranjang, tak berniat bergerak sedikit pun.

Carlos mengerutkan kening, nadanya meninggi. “Naomi, apa kau tidak menjamu kami? Kami ini keluargamu.”

Naomi perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam dan dingin.

“Apa kau buta?” katanya tenang dan menusuk. “Ini bukan tempat menyambut tamu. Ini rumah sakit. Dan aku pasiennya.”

Semua orang terbelalak.

Tuan Leon terdiam. Nyonya Ruby terkejut. Viviane membeku. Bahkan Nyonya Arumi dan Tuan Bastian saling pandang singkat. Biasanya, Naomi akan langsung bangkit, menghampiri mereka, berbicara lembut dan penuh harap. Tapi sekarang, kini berbeda.

Erick, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. “Jaga ucapanmu, Naomi.”

Naomi menoleh ke arahnya. “Apa aku salah?” tanyanya datar. “Sejak kapan pasien wajib menjamu tamu?”

Erick terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tak ada satu kata pun keluar.

Tangan Naomi mengepal di atas selimut. Dadanya terasa sesak. Melihat mereka semua di hadapannya hanya membuat rasa muaknya memuncak.

“Kak Naomi,” Viviane kembali bersuara, lembut dan hati-hati, “kami tidak bermaksud—”

Naomi menatapnya dingin. Tatapan yang membuat Viviane terdiam di tempat.

Akhirnya, Tuan Leon berdeham dan berkata tegas, “Cukup, Naomi. Kami datang ke sini untuk menjengukmu. Harusnya kau senang. Kami bahkan meluangkan waktu kami.”

“Benar,” sambung Carlos cepat. “Kami juga datang agar kau meminta maaf kepada Viviane.”

Max langsung menoleh tajam ke arah Carlos. “Apa maksudmu, minta maaf?”

Carlos mengangkat dagu sedikit, menatap Max tanpa gentar. “Ya, Naomi harus minta maaf,” katanya dingin. “Gara-gara Naomi, tangan dan kaki Viviane lecet dan terkilir.”

Ruangan kembali hening.

Naomi menatap mereka satu per satu, matanya gelap, tanpa emosi seolah sesuatu di dalam dirinya baru saja benar-benar runtuh. Harusnya dari awal ia sudah sadar dengan sikap mereka.

Naomi terdiam. Ingatan itu kembali menghantamnya tanpa ampun.

Di kehidupan pertamanya, memang seperti ini akhirnya. Ia dipaksa meminta maaf. Padahal seharusnya merekalah yang berterima kasih padanya. Jika bukan karena dirinya, Viviane sudah lebih dulu tertabrak mobil itu.

Naomi masih ingat jelas ia mendorong Viviane ke arah trotoar, tubuhnya sendiri terpental setelah mobil itu menghantamnya dengan keras.

Saat itu Naomi sempat berpikir, keluarganya akan bangga. Setidaknya sedikit peduli.

Nyatanya? Ia justru disalahkan. Sungguh sangat menggelikan.

Naomi menggeleng pelan. Ia tak habis pikir, kenapa dulu ia sebodoh itu. Kenapa ia mau-maunya menolong Viviane. Harusnya ia membiarkan gadis itu ditabrak mobil. Setidaknya, rasa sakit ini tak perlu ia tanggung sendirian.

“Benar-benar manusia sampah.”

Suara Max menariknya kembali dari lamunannya.

Max melangkah maju, wajahnya dingin dan penuh kemarahan. “Apa kalian ini bodoh?” ucapnya tajam, “atau memang tidak pernah mengecap pendidikan?”

Semua mata tertuju padanya.

“Apa maksudmu?” tanya Carlos.

Max tersenyum sinia. “Seharusnya kalian berterima kasih,” lanjut Max tanpa menahan nada pedasnya, “karena Naomi menyelamatkan anak pungut kalian itu. Bukan malah menuntut minta maaf.”

Ia menatap Viviane sekilas. “Lagipula dia tidak mati. Hanya lecet. Luka Naomi justru lebih parah tapi kalian tidak peduli.”

Suasana langsung memanas.

Wajah keluarga Elios mengeras. Nyonya Ruby melotot tajam. Carlos mengepalkan tangan. Erick melangkah maju setengah langkah dan menatap Max dengan dingin.

“Jangan ikut campur,” kata Erick.

Max membalas tatapan itu tanpa gentar. “Naomi adikku,” katanya tegas. “Aku berhak melindunginya.”

Carlos langsung menyahut, emosinya naik. “Kau—”

“Cukup!”

Suara Naomi memotong tajam. Sekejap, semua pandangan beralih padanya.

Naomi mengangkat wajahnya, ekspresinya tenang. “Kalian ingin aku minta maaf, bukan?”

Max, Nyonya Arumi, dan Tuan Bastian serempak hendak berbicara.

“Naomi—”

“Tidak bisa—”

“Itu tidak perlu—”

Naomi mengangkat tangannya. “Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Aku baik-baik saja.”

Carlos dan Erick langsung saling pandang, lalu mengangguk puas.

“Harusnya dari kemarin kau minta maaf pada Viviane,” kata Carlos.

“Benar,” sambung Erick. “Jangan keras kepala.”

Naomi tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tak sampai ke matanya. Dalam hati, ia akhirnya benar-benar sadar, idak pernah ada tempat untuknya di keluarga itu.

Harusnya mereka berpikir, kemarin Naomi kritis. Mana ada orang tak sadarkan diri datang meminta maaf.

Naomi akhirnya bergerak turun dari ranjang.

“Naomi!” Max refleks memegang tiang infus agar tidak tertarik. “Apa yang kau lakukan?”

Naomi tidak menjawab. Ia berjalan perlahan, langkahnya masih sedikit goyah, menuju Viviane. Tangan kirinya yang diinfus terlihat mengeluarkan sedikit darah.

Viviane tersenyum kecil, penuh kemenangan.

Keluarga Elios pun ikut tersenyum, menunggu kalimat maaf yang selama ini mereka tuntut. Namun senyum mereka membeku saat sesuatu yang mereka tidak sangka terjadi.

Plak!

Tamparan keras mendarat tepat di pipi Viviane.

Kepala Viviane langsung tertoleh ke samping.

Plak!

Plak!

Naomi melayangkan tiga tamparan bolak-balik.

“Viviane!”

“Ya Tuhan!”

“Apa-apaan ini?!”

Suara teriakan langsung memenuhi ruangan.

Erick buru-buru menarik Viviane ke dalam pelukannya, menatap Naomi dengan amarah membara. “Apa yang kau lakukan, Naomi?!”

Carlos maju hendak mendorong Naomi, tapi Naomi dengan cepat bergerak dan berlindung di dekat Max.

Naomi lalu tersenyum polos, menatap Viviane yang masih terkejut.

“Aku minta maaf yaa, Vivian,” katanya lembut. “Sudah menamparmu.”

Ia menoleh ke arah keluarga Elios, wajahnya tenang. “Sudah, kan?” lanjutnya santai. “Aku sudah minta maaf padanya.”

Wajah mereka membeku, mereka tidak menyangka Naomi melakukan hal itu.

1
Si Topik
Good Ending.. semua sudah menemukan kebahagiaan 😊
beberapa pergi dg penyesalan dan maaf, dan ada yg berakhir dg ending yg buruk 🙂
Si Topik
aku ngebayangin nya peradaban semi-futuristik
dunia yg baru, kehidupan baru, dan tantangan yg juga baru ☺️
Si Topik
alam mempunyai cara nya sendiri tuk pulih ☺️
Nining Chili
👍
Si Topik
asli, butterfly effect itu Fenomena mengerikan 🥲
kita tidak bisa menebak hal kecil yg keliatan nya sepele, bisa menjadi efek besar dimasa mendatang 🥲🥲
Si Topik
astaga, aku sampai lupa soal kiamat es nya euyy :"-V

ternyata ini gejala awalnya, ku kira lah serangan musuh 😭
Si Topik
Maxim : Tuhan, kalau dia jodoh orang, buatlah orang itu aku ya Tuhan 😭
Husna
heiii... ini bisa kita siapkan dr sekarang....
denger-denger world war 3 bentar lagi walaupun Indonesia katanya tdk masuk sasaran tp pasti kena dampaknya jg...

5 poin ini bisa kita aplikasikan di dunia nyata loh, bisa mulai dr sekarang
Si Topik
yang kata nya sejak Piyik di didik bisnis? nyata nya kosong, sama kek isi kepala nya, kosong 😂😂
tau nya menghamburkan uang, selamat menumpuk hutang Viviane wkwkwk 😂
Si Topik
semoga Naomi tidak luluh dan tidak kembali dg keluarga durjana ini 😐

memaafkan mungkin, tapi untuk kembali, Big No ☺️
Si Topik
penyesalan mah emang selalu belakangan, klo diawal nama nya pendaftaran :-v
Si Topik
wkwkwk kau tidak bisa mengalahkan orang tua sepuh yg kenyang dg berbagai asam garam pengalaman biawak 😂
Si Topik
Yeeeyyy Mamah Arumi mulai memancing awkwkwk 😂😂
Si Topik
biasa nya orang kek gini mesti dipancing dulu biar ketar ketir 🙂
Si Topik
awokwokwok koplak emang 😂😂
Si Topik
nangkep elu lah Tim, apalagi wkwk 😂
Si Topik
apa yg terjadi yaa kalo Volkov tau keterlambatan nya karena ulah Timmy dan bestie2 nya wkwkwk 😂
Si Topik
owalahhh.. maka nya kata si asisten di awal " tuan ingin penyelidikan tidak diketahui Nona Cecilia? "

ternyata oh ternyata ada udang dibalik bakwan ☺️
Si Topik
nama nya penyelidikan ya kali di umbar2 bjirr, tentu dilakukan dgn senyap tanpa terendus :"-v
yakali mau menyelidiki suatu individu, diberi info dulu
Si A : " heeii si B, aku mau menyelidiki kamu.. hati hati yaa "

si B : hohoo baiklah ☺️
Si Topik
terkadang penghianat justru berasal dari orang terdekat yg sudah kenal lama.. 🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!