Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Elios
“Kau sudah sadar ternyata.”
Suara itu terdengar datar, tanpa sedikit pun kehangatan.
Naomi menoleh ke arah pintu. Di ambang pintu berdiri Carlos, kakak kandungnya. Di belakangnya, berjejer keluarga Elios, yaitu Nyonya Ruby, Tuan Leon, Erick, dan Viviane. Kehadiran mereka membuat suhu ruangan seolah turun drastis.
Belum sempat siapa pun bereaksi, Max sudah melangkah maju setengah langkah. Sorot matanya tajam, nadanya dingin.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Ia menatap satu per satu tanpa ramah. “Kalau hanya untuk menyakiti Naomi, lebih baik kalian pergi.”
Nyonya Arumi ikut berdiri, wajahnya mengeras. “Benar,” katanya tegas. “Apa tujuan kalian datang? Kehadiran kalian tidak dibutuhkan di sini.”
Nyonya Ruby mendengus kesal. “Kalian tidak berhak mengusir kami,” ucapnya tinggi. “Bagaimanapun juga, Naomi itu putri kami.”
Nyonya Arumi tersenyum, senyum tipis yang sama sekali tak mengandung kehangatan. “Putri?”
Ia menatap Ruby tajam. “Sejak kapan kalian menganggap Naomi sebagai putri? Kalian hanya menjadikannya bayangan bagi putri pungut kalian itu.”
Wajah Nyonya Ruby langsung memerah. Matanya melotot penuh amarah. “Kau. Tutup mulutmu, kau—”
“Sudah, Mami,” potong Viviane dengan cepat. Ia menarik tangan Ruby lembut, seolah menenangkan. “Mami tidak boleh marah-marah.”
Viviane lalu melangkah sedikit ke depan, menundukkan kepala sopan. “Maafkan kami, Bibi,” katanya halus. “Kami hanya ingin menjenguk Kak Naomi.”
Mendengar namanya disebut, Naomi hanya memutar bola matanya malas. Ia tetap bersandar di ranjang, tak berniat bergerak sedikit pun.
Carlos mengerutkan kening, nadanya meninggi. “Naomi, apa kau tidak menjamu kami? Kami ini keluargamu.”
Naomi perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya tajam dan dingin.
“Apa kau buta?” katanya tenang dan menusuk. “Ini bukan tempat menyambut tamu. Ini rumah sakit. Dan aku pasiennya.”
Semua orang terbelalak.
Tuan Leon terdiam. Nyonya Ruby terkejut. Viviane membeku. Bahkan Nyonya Arumi dan Tuan Bastian saling pandang singkat. Biasanya, Naomi akan langsung bangkit, menghampiri mereka, berbicara lembut dan penuh harap. Tapi sekarang, kini berbeda.
Erick, yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. “Jaga ucapanmu, Naomi.”
Naomi menoleh ke arahnya. “Apa aku salah?” tanyanya datar. “Sejak kapan pasien wajib menjamu tamu?”
Erick terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tak ada satu kata pun keluar.
Tangan Naomi mengepal di atas selimut. Dadanya terasa sesak. Melihat mereka semua di hadapannya hanya membuat rasa muaknya memuncak.
“Kak Naomi,” Viviane kembali bersuara, lembut dan hati-hati, “kami tidak bermaksud—”
Naomi menatapnya dingin. Tatapan yang membuat Viviane terdiam di tempat.
Akhirnya, Tuan Leon berdeham dan berkata tegas, “Cukup, Naomi. Kami datang ke sini untuk menjengukmu. Harusnya kau senang. Kami bahkan meluangkan waktu kami.”
“Benar,” sambung Carlos cepat. “Kami juga datang agar kau meminta maaf kepada Viviane.”
Max langsung menoleh tajam ke arah Carlos. “Apa maksudmu, minta maaf?”
Carlos mengangkat dagu sedikit, menatap Max tanpa gentar. “Ya, Naomi harus minta maaf,” katanya dingin. “Gara-gara Naomi, tangan dan kaki Viviane lecet dan terkilir.”
Ruangan kembali hening.
Naomi menatap mereka satu per satu, matanya gelap, tanpa emosi seolah sesuatu di dalam dirinya baru saja benar-benar runtuh. Harusnya dari awal ia sudah sadar dengan sikap mereka.
Naomi terdiam. Ingatan itu kembali menghantamnya tanpa ampun.
Di kehidupan pertamanya, memang seperti ini akhirnya. Ia dipaksa meminta maaf. Padahal seharusnya merekalah yang berterima kasih padanya. Jika bukan karena dirinya, Viviane sudah lebih dulu tertabrak mobil itu.
Naomi masih ingat jelas ia mendorong Viviane ke arah trotoar, tubuhnya sendiri terpental setelah mobil itu menghantamnya dengan keras.
Saat itu Naomi sempat berpikir, keluarganya akan bangga. Setidaknya sedikit peduli.
Nyatanya? Ia justru disalahkan. Sungguh sangat menggelikan.
Naomi menggeleng pelan. Ia tak habis pikir, kenapa dulu ia sebodoh itu. Kenapa ia mau-maunya menolong Viviane. Harusnya ia membiarkan gadis itu ditabrak mobil. Setidaknya, rasa sakit ini tak perlu ia tanggung sendirian.
“Benar-benar manusia sampah.”
Suara Max menariknya kembali dari lamunannya.
Max melangkah maju, wajahnya dingin dan penuh kemarahan. “Apa kalian ini bodoh?” ucapnya tajam, “atau memang tidak pernah mengecap pendidikan?”
Semua mata tertuju padanya.
“Apa maksudmu?” tanya Carlos.
Max tersenyum sinia. “Seharusnya kalian berterima kasih,” lanjut Max tanpa menahan nada pedasnya, “karena Naomi menyelamatkan anak pungut kalian itu. Bukan malah menuntut minta maaf.”
Ia menatap Viviane sekilas. “Lagipula dia tidak mati. Hanya lecet. Luka Naomi justru lebih parah tapi kalian tidak peduli.”
Suasana langsung memanas.
Wajah keluarga Elios mengeras. Nyonya Ruby melotot tajam. Carlos mengepalkan tangan. Erick melangkah maju setengah langkah dan menatap Max dengan dingin.
“Jangan ikut campur,” kata Erick.
Max membalas tatapan itu tanpa gentar. “Naomi adikku,” katanya tegas. “Aku berhak melindunginya.”
Carlos langsung menyahut, emosinya naik. “Kau—”
“Cukup!”
Suara Naomi memotong tajam. Sekejap, semua pandangan beralih padanya.
Naomi mengangkat wajahnya, ekspresinya tenang. “Kalian ingin aku minta maaf, bukan?”
Max, Nyonya Arumi, dan Tuan Bastian serempak hendak berbicara.
“Naomi—”
“Tidak bisa—”
“Itu tidak perlu—”
Naomi mengangkat tangannya. “Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Aku baik-baik saja.”
Carlos dan Erick langsung saling pandang, lalu mengangguk puas.
“Harusnya dari kemarin kau minta maaf pada Viviane,” kata Carlos.
“Benar,” sambung Erick. “Jangan keras kepala.”
Naomi tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tak sampai ke matanya. Dalam hati, ia akhirnya benar-benar sadar, idak pernah ada tempat untuknya di keluarga itu.
Harusnya mereka berpikir, kemarin Naomi kritis. Mana ada orang tak sadarkan diri datang meminta maaf.
Naomi akhirnya bergerak turun dari ranjang.
“Naomi!” Max refleks memegang tiang infus agar tidak tertarik. “Apa yang kau lakukan?”
Naomi tidak menjawab. Ia berjalan perlahan, langkahnya masih sedikit goyah, menuju Viviane. Tangan kirinya yang diinfus terlihat mengeluarkan sedikit darah.
Viviane tersenyum kecil, penuh kemenangan.
Keluarga Elios pun ikut tersenyum, menunggu kalimat maaf yang selama ini mereka tuntut. Namun senyum mereka membeku saat sesuatu yang mereka tidak sangka terjadi.
Plak!
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Viviane.
Kepala Viviane langsung tertoleh ke samping.
Plak!
Plak!
Naomi melayangkan tiga tamparan bolak-balik.
“Viviane!”
“Ya Tuhan!”
“Apa-apaan ini?!”
Suara teriakan langsung memenuhi ruangan.
Erick buru-buru menarik Viviane ke dalam pelukannya, menatap Naomi dengan amarah membara. “Apa yang kau lakukan, Naomi?!”
Carlos maju hendak mendorong Naomi, tapi Naomi dengan cepat bergerak dan berlindung di dekat Max.
Naomi lalu tersenyum polos, menatap Viviane yang masih terkejut.
“Aku minta maaf yaa, Vivian,” katanya lembut. “Sudah menamparmu.”
Ia menoleh ke arah keluarga Elios, wajahnya tenang. “Sudah, kan?” lanjutnya santai. “Aku sudah minta maaf padanya.”
Wajah mereka membeku, mereka tidak menyangka Naomi melakukan hal itu.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....