NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Matahari pukul sepuluh pagi di Desa Asih sudah cukup menyengat untuk membuat siapa pun yang berdiri di pelataran terbuka merasa gerah. Di teras Balai Desa, Mika duduk di barisan depan bersama Siti, Asia, dan Arga. Di seberang mereka, beberapa perangkat desa dan warga yang penasaran sudah mulai berkumpul. Suasananya tegang, namun bagi tim KKN, ini adalah momen "kemenangan" kecil atas sabotase yang hampir menghancurkan masa depan akademik mereka.

Mika berkali-kali melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka sepuluh lewat lima belas menit. "Mana sih Lilis? Jangan-jangan dia kabur ya!" celetuk Asia sambil mengipasi wajahnya dengan buku catatan.

Arga yang duduk tepat di samping Asia, tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Asia dengan lembut. Wajah Arga yang biasanya sedatar papan kayu itu kini tampak melembut. "Sabar, sayang. Pak Kades pasti sudah mengirim orang untuk menjemputnya kalau dia benar-benar mangkir."

Mika dan Siti yang melihat pemandangan itu secara langsung serempak menoleh. Mereka saling pandang dengan ekspresi antara ingin tertawa dan ingin melempar sandal.

"Gue pengen mual denger Arga ngebucin..." ledek Mika sambil memasang wajah seolah ingin muntah. "Mau juga dong, Ga, dipanggil sayang. Biar telinga gue nggak panas dengerin lo berdua doang yang dunia serasa milik berdua, sisanya kos-kosan."

Siti tertawa kencang. "Gue setuju sama Mika. Ga, lo itu kaku kayak kanebo kering, tapi sekali dapet pacar langsung jadi bucin level internasional. Inget tempat, Ga! Ini balai desa, bukan pelaminan!"

Arga hanya berdehem pelan, meski telinganya memerah. Asia sendiri sudah menunduk malu namun tidak melepaskan genggaman tangan Arga. Keadaan canggung itu terhenti saat suara derap langkah dari arah gerbang terdengar.

Lilis datang. Ia berjalan dengan langkah berat, didampingi oleh ibunya yang terus menunduk malu. Wajah Lilis merah padam, matanya bengkak—jelas sekali ia habis menangis semalaman—namun sisa-sisa keangkuhan masih terpancar dari dagunya yang sedikit terangkat.

Begitu Lilis berdiri di tengah pelataran, Alvaro keluar dari ruangannya. Ia mengenakan seragam dinas harian (PDH) berwarna cokelat yang sangat rapi. Kharismanya sebagai pemimpin langsung membuat suasana yang tadinya riuh menjadi sunyi senyap. Alvaro berdiri di samping Mika, memberikan jarak yang profesional namun sorot matanya yang sesekali melirik Mika memberikan kesan perlindungan yang nyata.

"Jadi, Mbak Lilis. Mau minta maaf sekarang atau saya tuntun Mbak biar mulutnya lebih lancar?" tanya Mika dengan suara yang jernih namun penuh penekanan. Ia berdiri dari kursinya, melipat tangan di dada dengan gaya menantang.

Lilis menatap Mika dengan kebencian yang masih tersisa, lalu beralih menatap Alvaro. Namun, Alvaro sama sekali tidak membalas tatapan Lilis. Pria itu justru menatap lurus ke arah warga, seolah Lilis hanyalah seorang pelanggar hukum biasa yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Lilis," suara Alvaro berat dan dingin. "Saya tidak punya waktu seharian. Lakukan apa yang sudah kita sepakati di kantor kemarin."

Lilis menarik napas panjang. Dengan suara yang gemetar, ia mulai berbicara di depan pengeras suara. "Saya... Lilis Suryani... memohon maaf kepada tim KKN Universitas Perairan, terutama kepada Mikayla..." Ia berhenti sejenak, tenggorokannya seolah tersumbat. "Atas tindakan saya merusak alat filter sungai kemarin. Saya mengaku bersalah dan bersedia menjalankan sanksi membersihkan balai desa selama satu bulan."

"Lebih keras, Mbak. Warga yang di belakang belum denger tuh," timpal Mika pedas. Ia bukan ingin jahat, tapi ia ingin memberikan pelajaran bahwa cemburu buta tidak boleh merugikan kepentingan umum.

Lilis mengulangi kalimatnya dengan lebih keras sampai suaranya serak. Setelah selesai, ia langsung berlari pergi dari balai desa tanpa menoleh lagi, diikuti ibunya yang meminta maaf berkali-kali kepada warga.

Setelah kerumunan bubar, warga kembali ke aktivitas masing-masing. Arga, Asia, dan Siti memutuskan untuk kembali ke posko lebih dulu karena harus menyiapkan data teknis yang baru.

"Mika, lo nggak balik?" tanya Siti sambil melirik Alvaro yang masih berdiri di teras.

"Gue... gue ada yang mau ditanya soal administrasi dulu sama Pak Kades. Kalian duluan aja," jawab Mika dengan alasan yang sangat klise.

Begitu teman-temannya menghilang di tikungan jalan, suasana di teras Balai Desa menjadi sepi. Alvaro menoleh ke arah Mika, senyum tipis—hampir tak terlihat—menghiasi bibirnya.

"Tadi kamu galak sekali. Saya hampir kasihan pada Lilis," ucap Alvaro sambil melangkah mendekati Mika.

Mika mendongak, matanya bertemu dengan mata Alvaro yang dalam. "Saya nggak galak, Pak. Saya cuma tegas. Lagian, siapa suruh dia main sabotase? Kalau saya nggak tegas, nanti ada Lilis-Lilis lain yang berbuat seenaknya cuma gara-gara... cemburu."

Alvaro menumpukan tangannya di pilar teras, mengurung Mika dalam jarak yang cukup dekat. "Jadi, kamu mengakui kalau dia cemburu itu ada alasannya?"

Wajah Mika mendadak panas. "Ya... ya alasannya kan karena dia suka sama Bapak. Tapi itu urusan dia, bukan urusan saya!"

"Bukan urusan kamu?" Alvaro condong ke depan, jarak wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter. Aroma parfum woody dari tubuh Alvaro yang bercampur dengan hawa panas matahari menciptakan kombinasi yang memabukkan bagi Mika. "Padahal saya pikir, kamu juga punya alasan yang sama untuk merasa... berkuasa di desa ini."

Tangan Alvaro bergerak, menyelipkan sehelai rambut Mika ke belakang telinga. Sentuhan jarinya yang kasar namun hangat membuat bulu kuduk Mika meremang. Di pelataran yang sunyi itu, bayangan mereka di lantai beton seolah menyatu.

"Sana masuk, Pak. Nanti dilihat staf Bapak," bisik Mika, meskipun kakinya terasa lemas dan tidak ingin beranjak.

"Staf saya sedang makan siang di kantin belakang. Kita punya waktu lima menit," sahut Alvaro rendah. Ia mengambil tangan Mika, lalu mengecup telapak tangan gadis itu dengan lembut namun lama. "Terima kasih sudah bertahan di sini, Mikayla. Saya tahu ini tidak mudah buat kamu."

Mika tertegun. Kekakuan Alvaro yang biasanya menyebalkan kini berubah menjadi kelembutan yang sangat intens. "Bapak... jangan begini terus. Saya bisa lupa jalan pulang ke Jakarta kalau Bapak manis begini."

Alvaro terkekeh, suara tawanya yang dalam terdengar sangat maskulin di telinga Mika. "Itu tujuannya. Biar kamu tetap di sini, menemani 'Fir'aun' ini mengurus desa."

Mika tertawa kecil, ia menarik tangannya pelan dan memukul bahu Alvaro. "Udah ah! Saya mau balik. Kasihan Siti sendirian di posko, nanti dia malah beneran mual liat Arga ngebucin."

Saat Mika berjalan menjauh, ia sempat menoleh ke belakang. Alvaro masih berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan kepemilikan. Mika menyadari satu hal: Lilis mungkin merusak alatnya, tapi Lilis juga tanpa sengaja mempercepat proses "pemasangan" perasaan di antara dirinya dan sang Kepala Desa.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!