Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Waktu terus berjalan.
sampai Siang, setelah jam pelajaran selesai, Arif masih duduk di kursi meja belajarnya.
Dari kursi itu, Arif duduk memperhatikan Laras yang sedang merapikan meja dan memasukkan barang-barang ke dalam tasnya.
Sedangkan murid-murid lain ramai-ramai pergi dari kelas itu, hingga ruangan kelas terasa sepi, menyisakan hanya Arif dan Laras.
Sebenarnya Laras masih duduk menunggu Arif. Saat Laras berdiri dari kursi itu, Arif langsung memanggilnya, "Laras."
Laras berdiri dan menatap ke arah Arif. Tatapannya begitu tajam. Saat Arif mendekat, Laras bertanya, "Kenapa?"
"Kamu mau ke mana?" tanya Arif mendekat ke arahnya.
"Aku mau pulang. Tadi Mama sempat meneleponku, disuruh pulang ke rumah."
"Bukankah hape kamu ketinggalan di rumahku?"
"Iya, teleponnya juga kan pagi tadi waktu di rumahmu."
"Ya sudah, kita ke rumahku dulu. Nanti, setelah mengambil hape kamu, aku antar kamu pulang, bagaimana?" Arif tersenyum sambil menatap Laras.
"Ehm, iya, ayo," Laras menganggukkan kepalanya.
Lalu, mereka berdua pun melangkah keluar kelas dan menuju parkiran sekolah.
Sesampainya di parkiran, dari belakang Arif, seorang pria menarik bahunya. Arif terhenti melangkah, dia membalikkan badannya lalu menatap ke arah pria yang tangannya masih memegang bahu.
"Rio, ngapain?" tanya Arif sambil menyingkirkan tangannya.
"Santai, Bro. Tumben lo sama cewek cantik? Biasanya juga sama Ryuken, kalau enggak sama Abdul?" ucap Rio, menatap Arif sesekali melirik Laras yang berdiri di belakang Arif.
"Enggak, gue lagi mau jalan sama pacar," Arif tersenyum, sesekali membalikkan kepalanya menatap ke Laras.
"Oh, pacaran? Tapi kalau gue lihat-lihat, lo itu enggak cocok sama dia. Dia cocoknya sama gue."
"Apaan sih, enggak jelas banget," Arif dengan wajah kesal sambil mendorong Rio, hingga sedikit mundur.
"Weh, ngajak ribut?" Dengan senyum sinis, Rio melangkah mendekat ke arah Arif. Namun, dari belakang Rio, seorang guru...
"Eh, eh, ada apa ini?" ucap guru itu dengan tegas, hingga membuat Rio membalikkan badannya.
"Eh, Pak Agus, enggak ada apa-apa, Pak," Rio tersenyum menatap guru itu.
Arif menatap lekat ke Rio. Arif lalu membalikkan badannya, dia langsung melangkah sambil berbicara, "Ayo, Sayang." Ucapnya pelan. Arif menarik tangan Laras menuju kendaraannya.
Di depan mobil, Laras dan Arif langsung masuk. Saat Laras duduk sambil menutup pintu, dia berbicara, "Barusan itu anak kelas berapa sih? Aneh banget," tanyanya.
"Biasa, Playboy. Sudah jangan bahas dia, lagian enggak penting juga," ucap Arif lalu menyalakan mesin dan melajukan kendaraannya untuk pergi keluar dari sekolah.
***
Sedangkan Sasa yang berada di Coffe shop, dia sedang duduk sendiri setelah bertemu investor. Saat ini, dia sedang memegang telepon genggam dan menelepon Laras.
"Kenapa sih, susah banget ditelepon?" Sasa sambil melihat telepon genggam, dia kembali meneleponnya.
Panggilan pun terus menyambungkan, namun panggilan berakhir tanpa diterima sama sekali oleh Laras.
Sasa lalu mencari nomor telepon lain. Kini, dia pun menelepon Bu Ani untuk memastikan Laras.
Tak lama setelah dia menelepon Bu Ani, panggilan telepon pun tersambung. Sasa langsung berbicara,
"Halo, Bi, Laras sudah pulang belum?" ucap Sasa ke telepon genggam itu.
"Belum, Mba. Mba Laras belum pulang ke rumah, memang kenapa?" suara Bu Ani dari telepon genggam itu.
"Ini, Bi, dari tadi Laras ditelepon enggak diangkat-angkat."
"Mungkin masih belajar di sekolah, Mba, jadi enggak diangkat."
"Ehm, bisa jadi. Ya sudah kalau begitu, saya mau menelepon Laras lagi," ucapnya. Lalu, dia pun menjauhkan telepon genggam dari telinganya dan langsung mematikan panggilan telepon itu.
Sasa langsung mencari nomor Laras, lalu dia pun meneleponnya.
Telepon pun tersambung, namun Laras sama sekali tidak mengangkatnya. Sasa kembali menelepon lagi, dan kembali tidak diangkat oleh Laras.
Sasa menghela napas kasar. Dia pun menaruh telepon genggam di meja, sesaat dia terdiam, lalu berbicara, "Kenapa sih, susah banget?" ucapnya. Lalu, dia mengambil gelas yang berada di atas meja itu.
Dia mulai minum. Dari telepon genggam yang tersimpan di atas meja, tiba-tiba telepon genggam itu menyala dan menampilkan panggilan telepon yang masuk dari Laras.
Sasa menaruh minuman di atas meja. Dia kembali memegang telepon genggamnya, lalu dia pun mengangkat panggilan telepon dari Laras.
"Laras, dari tadi Mama telepon, kenapa sih enggak diangkat-angkat?" ucap Sasa dengan tegas dan sedikit kesal.
"Maaf, Ma. Soalnya ponselku ketinggalan di rumah teman," suara Laras dari telepon genggam itu.
"Ya sudah, cepat pulang! Jangan ada alasan lagi. Kalau Mama sampai rumah, kamu sudah di rumah!" ucapnya dengan keras. Lalu, ia mematikan panggilan telepon itu.
Sasa menghela napas kasar. Lalu, dia mematikan panggilan telepon dan menaruhnya kembali di atas meja.
***
Arif yang berdiri di depan pintu kamarnya, berbicara, "Kenapa?" tanya dengan tatapan lekat ke arahnya.
Laras menarik napas. "Mama marah-marah gara-gara aku enggak angkat telepon," jawabnya, dengan tangan memasukkan telepon genggam ke dalam sakunya.
"Ya sudah, aku antar kamu pulang sekarang, tapi kamu tunggu di ruang tamu, ya?"
"Memang mau apa dulu?"
"Aku mau ganti pakaian dulu."
"Ya sudah, cepatlah, jangan lama-lama, aku tunggu," ucap Laras, lalu dia pun melangkah pergi keluar dari kamar itu.
Arif yang masih berdiri di depan pintu sampai Laras berlalu pergi, menarik pintu dan menutupnya.
Di dalam kamar, Arif melangkah menuju lemari untuk mencari pakaian yang harus dipakainya. Di depan lemari yang terbuka, Arif melihat dan mencari pakaian yang akan dipakainya.
Tampil mewah enggak penting, tampil kece enggak penting. Yang terpenting, dia bisa tampil apa adanya.
Dia mengambil celana jins pendek hitam biasa dan kaus putih. Lalu, dia pun mengganti pakaiannya.
Di ruang tamu, Laras sedang duduk. Tangannya memegang telepon genggam, tatapannya lekat ke layar telepon genggam itu.
Dia begitu sibuk dengan telepon genggam, bahkan sampai Arif selesai berganti pakaian. Arif berdiri di samping kursi yang sedang ditempati Laras.
Di layar telepon genggam itu, Laras sedang menonton drama Korea. Yang awalnya dia merasa kesal, dia mulai tersenyum saat melihat adegan romantis.
Arif yang berdiri ikut menonton, dia pun berbicara, "Seru juga ya nonton Drakor." ucapnya pelan dengan wajah tersenyum.
"Loh, kok udah selesai sih? Ih, enggak bilang-bilang kalau udah selesai," Laras dengan tatapan tertuju ke Arif yang masih berdiri.
"Hehe," Arif tertawa, lalu kembali berbicara, "Sudah, ayo, aku antar kamu pulang," ucapnya.
"Ehm, ayo, tapi takut Mama masih marah," ucapnya sedikit gugup.
"Agar Mamamu enggak marah, nanti kita mampir beli bakso."
"Mamaku enggak suka bakso, tau."
"Sukanya apa?"
"Entahlah, aku enggak pernah tahu sih. Lagian, Bibi yang tahu Mama sukanya apa."
"Coba kamu tanyakan Bibimu."
"Sebentar, ya?" Laras lalu mengalihkan tatapannya ke layar, dia pun menghubungi Bu Ani.
Panggilan telepon pun tersambung ke Bu Ani. Tak lama, panggilan telepon tersambung, Laras langsung berbicara,
"Halo, Bi," ucap Laras dengan telepon genggam di telinga.
"Iya, halo, Mba Laras. Oh iya, Mba Laras dicariin, tahu, sama Mama," ucap Bu Ani dari telepon genggam itu.
"Iya, Bi, tahu. Bibi, kalau makanan kesukaan Mama itu apa sih?"
"Paling suka, apa suka banget?"
"Ih, Bibi, malah main tebak-tebakan. Paling Mama suka apa?"
"Biasanya sih Mama suka belinya," Bu Ani terdiam, mungkin sedikit berpikir dan mencari tahu dalam pikirannya.