NovelToon NovelToon
KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

KESEMPATAN KEDUA BAGI SEORANG IBU

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.

Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Epilog: Lavender yang Mekar

...— ✦ —...

Tiga bulan kemudian, bunga lavender itu mekar.

Amethysta yang pertama melihatnya — pagi-pagi, sebelum sarapan, ketika ia masih setengah mengantuk dengan rambut yang belum disisir dan piyama bergambar konstelasi yang sudah agak kebesaran karena ia tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan. Ia berdiri di depan ambang jendelanya, menatap pot keramik kecil itu, dan berteriak dengan volume yang tidak mengenal setengah-setengah.

"MAMA! PAPA! LAVENDERNYA MEKAR!"

Suara itu terdengar sampai ke kamar utama, sampai ke perpustakaan di mana Xavier sedang membaca sejak subuh, sampai ke dapur di mana Gwyneth baru saja menyalakan kompor untuk merebus air. Ketiganya berkumpul di kamar Amethysta dalam hitungan menit — Xavier dengan buku masih di tangan, Gwyneth masih mengenakan celemek, Seren yang ikut karena penasaran berdiri di ambang pintu.

Bunga lavender itu tidak besar. Tidak dramatis. Hanya setangkai kecil berwarna ungu muda yang mekar di pucuk tunas yang sudah menunggu berbulan-bulan — ungu yang persis sama dengan mata Amethysta, yang membuat gadis kecil itu tertawa kecil ketika Gwyneth mengatakannya.

"Itu bukan karena mataku," kata Amethysta. "Itu karena lavender memang ungu."

"Dua hal bisa benar sekaligus," kata Gwyneth.

Amethysta mempertimbangkan ini. Lalu mengangguk dengan ekspresi seseorang yang menerima argumen yang cukup logis.

...✦  ✦  ✦...

Tiga bulan adalah waktu yang singkat dan tidak singkat pada saat bersamaan.

Cukup singkat untuk membuat beberapa hal masih terasa baru — cara Gwyneth duduk di karpet kamar Amethysta, cara ia meminta tolong pada Seren dengan kalimat yang lengkap, cara ia menjawab telepon Ibu Zhang setiap Minggu dan berbicara lebih dari dua menit tanpa berusaha mengakhiri percakapan.

Cukup lama untuk membuat beberapa hal sudah terasa biasa — sarapan di meja kecil dapur, Xavier yang pulang pada jam yang wajar, Amethysta yang membawa buku ke mana-mana dan tidak lagi memegang ujung gaunnya ketika ada orang asing di rumah.

Dan cukup lama untuk beberapa hal mulai tumbuh menjadi sesuatu yang tidak lagi perlu diusahakan — hanya ada, seperti pohon yang sudah cukup berakar untuk berdiri sendiri tanpa perlu terus disiram setiap jam.

Gwyneth masih membaca surat Kirana kadang-kadang. Bukan setiap hari — sudah tidak perlu setiap hari. Tapi ada momen-momen tertentu, ketika sesuatu terasa sulit atau ketika ia merasa goyah, ketika ia membuka laci kiri meja dan mengeluarkan kertas yang sudah sedikit lusuh di lipatannya dan membaca satu atau dua kalimat.

Amethysta tadi meletakkan kepalanya di bahuku. Pertama kali. Ia bilang ia memilih.

Pengingat bahwa kepercayaan itu bisa diberikan dan bisa dijaga. Bahwa seseorang sudah membuktikannya, di dalam tubuh yang sama, dengan kesempatan yang sama.

...✦  ✦  ✦...

Perjalanan ke tempat yang langitnya gelap terjadi pada akhir bulan pertama.

Naira datang dengan neneknya — wanita enam puluhan yang ternyata memang tahu lebih banyak tentang astronomi dari yang siapapun duga, yang membawa teleskop kecil dan termos kopi dan sabar yang tidak terbatas dalam menghadapi dua anak perempuan yang bertanya tanpa henti.

Mereka pergi bertiga — Gwyneth, Xavier, Amethysta — dan bertemu Naira dan neneknya di titik yang sudah disepakati: lapangan terbuka di luar kota, jauh dari cahaya, di bawah langit yang — ketika mata mulai menyesuaikan diri dengan gelapnya — ternyata penuh dengan bintang yang tidak pernah bisa dilihat dari dalam kota.

Amethysta tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit ketika pertama kali mendongak.

Satu menit yang panjang, dengan kepala terangkat dan mulut yang sedikit terbuka, menatap langit yang — untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang tujuh tahun — terlihat sebagaimana mestinya: penuh, dalam, tak terhitung.

"Andromeda," kata nenek Naira akhirnya, menunjuk ke arah yang tepat. "Di sana. Titik kabur yang agak memanjang itu."

Amethysta mencari. Menemukan. Dan membuat suara kecil yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata — bukan kata-kata, hanya suara seseorang yang melihat sesuatu yang sudah lama ingin dilihat dan ternyata lebih nyata dari yang dibayangkan.

Gwyneth berdiri di sampingnya dan juga mendongak. Ia tidak langsung menemukan Andromeda — matanya tidak selatih mata Amethysta — tapi ia menemukan sabuk Orion, tiga bintang yang berbaris rapi yang sudah ia kenal dari cerita-cerita yang dibaca dari surat Kirana. Dan di sebelahnya, Amethysta mengambil tangannya — bukan dengan cara hati-hati yang masih menjaga jarak, tapi dengan cara anak yang mengambil tangan ibunya karena ingin berbagi sesuatu yang indah — dan mengarahkannya ke titik yang tepat.

"Itu, Mama. Lihat."

Gwyneth melihat.

Dan untuk pertama kali, ia mengerti mengapa putrinya bisa menatap langit malam dan menemukan ketenangan di sana.

...✦  ✦  ✦...

Surat ibunya sudah dibaca berkali-kali sekarang.

Gwyneth tidak lagi menangis setiap kali membacanya — sudah tidak. Ada titik di mana tangis berganti menjadi sesuatu yang lain: pemahaman yang lebih tenang, penerimaan yang tidak perlu dibasahi air mata untuk menjadi nyata.

Ibunya tidak sempurna. Tidak pernah. Dan Gwyneth tidak sempurna juga — tidak pernah, tidak akan pernah, dan itu bukan kegagalan yang perlu ditanggung sebagai beban seumur hidup.

Yang bisa dilakukan adalah ini: sekarang dan ke depan. Pilihan yang dibuat hari ini. Cara ia duduk di karpet kamar Amethysta sore ini. Cara ia mengatakan terima kasih pada Seren besok pagi. Cara ia mengangkat telepon ketika Ibu Zhang menelepon Minggu depan dan benar-benar hadir dalam percakapan itu.

Satu hari dalam satu waktu.

Persis seperti yang ditulis Kirana di kertas yang sudah sedikit lusuh di lipatannya.

...✦  ✦  ✦...

Hari ini — hari lavender mekar — Xavier mengusulkan piknik di taman belakang.

Bukan acara besar. Hanya selimut di rumput, makanan yang sebagian disiapkan Gwyneth dan sebagian oleh Seren yang ikut bergabung ketika diundang, dan langit siang yang biru bersih di atas mereka.

Amethysta membawa atlasnya tentu saja — tapi kali ini ia tidak membukanya. Ia meletakkannya di pojok selimut, bantal untuk kepalanya ketika ia berbaring menatap langit siang yang tidak menampilkan bintang tapi yang, ia bilang dengan serius, tetap sama langitnya dengan langit malam yang penuh bintang.

"Bintangnya masih ada siang hari," jelasnya pada tidak ada yang bertanya khusus, tapi pada semua orang yang ada. "Cuma tidak kelihatan karena mataharinya lebih terang. Tapi mereka di sana."

"Seperti hal-hal yang tidak selalu terlihat tapi tetap ada," kata Gwyneth.

Amethysta menoleh ke arahnya. "Persis."

Seren menuangkan jus ke dalam gelas-gelas dan tidak berkata apa-apa tapi ada sesuatu di sudut bibirnya yang naik sedikit. Xavier mengambil sandwich dan memindahkan rambut Amethysta yang jatuh ke mukanya dengan gerakan yang sudah terasa alami. Dan Amethysta — yang tiga bulan lalu masih memegang ujung gaunnya sampai knuckle-nya memutih ketika ada orang di ruangan — berbaring di selimut dengan kepala di atas atlasnya dan menatap langit siang dengan ekspresi seseorang yang tidak sedang menunggu sesuatu yang buruk.

Hanya ada. Hanya ini.

...✦  ✦  ✦...

Sore hari, ketika piknik sudah selesai dan Amethysta masuk untuk menelepon Naira tentang lavender yang mekar, Gwyneth duduk sebentar di bangku taman sendirian.

Pohon pir di pojok. Tanaman Pak Wirawan yang terawat. Bangku besi yang sudah ia duduki berkali-kali dalam tiga bulan terakhir, yang sudah terasa seperti tempat yang ia kenal.

Ia mengeluarkan kertas dari saku celemeknya — surat Kirana, yang ia bawa hari ini karena ada momen-momen ketika ia masih ingin memegangnya — dan menatap halaman terakhirnya.

Terima kasih untuk tubuh ini. Untuk kesempatan ini. Untuk Amethysta.

Gwyneth menatap kalimat itu lama.

Lalu, dengan cara yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya dalam hidupnya — bukan karena ada yang melihat atau menilai, hanya karena terasa tepat — ia mengucapkan sesuatu dengan pelan, untuk udara taman dan pohon pir dan langit sore yang mulai berubah warna.

"Terima kasih juga," katanya. "Untuk memulainya."

Angin bergerak di antara daun-daun pohon pir dengan suara yang pelan dan tidak terburu-buru.

Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada — Kirana sudah pergi, kembali ke kehidupannya yang lain, ke apartemen sempitnya dan laptopnya dan cerita-cerita yang menunggu untuk ditulis. Gwyneth tidak tahu apakah perempuan itu ingat, apakah yang terjadi di sini terasa nyata dari sana, apakah ada cara keduanya menyentuh tepian dunia yang sama.

Mungkin tidak. Mungkin iya. Mungkin ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan untuk menjadi nyata.

...✦  ✦  ✦...

Malam itu, Gwyneth menidurkan Amethysta untuk pertama kalinya dengan cara yang berbeda.

Bukan hanya masuk dan memastikan selimut sudah rapi dan lampu sudah mati. Ia duduk di tepi ranjang, dan Amethysta yang sudah mengantuk tapi belum sepenuhnya tidur menatapnya dengan mata yang setengah terbuka.

"Mama mau cerita?" tanya Amethysta, suaranya sudah tebal kantuk.

Gwyneth memikirkan sebentar. "Boleh aku cerita tentang bintang?"

"Mama tahu cerita tentang bintang?"

"Sedikit. Yang kamu ajarkan."

Amethysta mengangguk pelan — anggukan seseorang yang hampir tidur tapi masih cukup sadar untuk mendengarkan.

Gwyneth mulai bercerita. Tentang Orion yang merupakan pelindung. Tentang bintang kutub yang tidak pernah pindah, yang selalu ada untuk yang tersesat.

Tentang Andromeda yang jaraknya jutaan tahun cahaya tapi masih bisa dilihat kalau langitnya cukup gelap dan matanya cukup sabar.

Suaranya pelan. Tidak sempurna — ia tidak hafal semua detailnya, kadang ragu, kadang mengulang yang sudah dikatakan. Tapi Amethysta tidak mengoreksinya. Amethysta hanya berbaring dengan mata yang semakin berat, mendengarkan suara ibunya bercerita tentang bintang-bintang, dan perlahan-lahan tenggelam ke dalam tidur dengan ekspresi wajah yang — Gwyneth perhatikan, sambil terus bercerita dengan suara yang semakin pelan — tidak menyimpan ketakutan sebagai lapisan pertamanya.

Hanya tenang.

Hanya ini.

Gwyneth bercerita sampai napas Amethysta sudah teratur dan dalam. Lalu berhenti. Duduk di tepi ranjang dalam keheningan kamar yang sudah gelap, mendengarkan putrinya tidur, dengan pot lavender yang mekar di ambang jendela — ungu kecil yang bersinar samar dalam cahaya lorong yang masuk melalui pintu yang sedikit terbuka.

Ia tidak langsung pergi.

Ia duduk di sana beberapa menit lagi, hanya karena bisa. Hanya karena ada. Hanya karena hari ini lavender mekar dan Amethysta tertawa dengan volume yang tidak minta izin dan Xavier membuat piknik dengan selimut di rumput dan Seren duduk bersama mereka ketika diundang dan langit siang menyimpan bintang yang tidak terlihat tapi tetap ada.

Hanya karena hari ini adalah hari yang baik.

Dan besok — besok mungkin lebih sulit, mungkin ada langkah mundur, mungkin ada momen ketika yang lama terasa lebih mudah dari yang baru. Tapi hari ini sudah terjadi dan tidak bisa tidak terjadi lagi. Hari ini sudah menjadi bagian dari cerita yang ditulis, dari fondasi yang dibangun, dari rantai yang dipilih untuk diputus.

Gwyneth berdiri. Mengecup dahi Amethysta dengan pelan — pelan sekali, tidak cukup untuk membangunkan, hanya cukup untuk ada.

"Selamat tidur," bisiknya.

Lalu ia berjalan ke pintu, berbalik sekali untuk melihat siluet kecil yang tidur di bawah selimut biru muda, dan menutup pintu — tidak sepenuhnya, sedikit terbuka, seperti yang sudah menjadi cara mereka.

...✦  ✦  ✦...

Di suatu tempat yang jauh dari sana — di apartemen sempit di lantai empat gedung yang tidak terlalu baru, di depan layar laptop yang cahayanya adalah satu-satunya pencahayaan di ruangan — seorang perempuan berusia tiga puluh tahun terbangun dari tidur yang sangat dalam dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

Bukan mimpi yang buruk. Bukan pun mimpi yang bisa ia ingat dengan jelas. Hanya perasaan yang tertinggal, seperti hangat dari secangkir teh yang sudah habis — tidak ada lagi tapi bekasnya masih terasa di telapak tangan.

Kirana Seo menatap layar laptopnya yang masih menyala. Dokumen yang terbuka. Novel yang selesai — bab penutup yang ia tulis semalam sebelum tertidur di depan layar, dengan akhir yang sudah ia tentukan sejak awal dan yang tetap ia tulis meski tangannya sedikit gemetar.

Ia menggeser kursinya. Membaca paragraf terakhir yang ia tulis.

Lalu ia menghapusnya.

Bukan karena buruk. Tapi karena ada akhir yang berbeda yang tiba-tiba terasa lebih benar — akhir yang tidak ia rencanakan, yang datang dari tempat yang tidak bisa ia tunjukkan di peta, yang terasa seperti sesuatu yang ia tahu bukan karena membayangkan tapi karena ingat.

Tangannya bergerak. Kata-kata mengalir.

Ia tidak tahu dari mana cerita baru ini datang. Ia hanya tahu bahwa ada gadis kecil dengan mata ungu yang sudah tidak menyimpan ketakutan sebagai lapisan pertamanya, ada bunga lavender yang mekar di ambang jendela, ada bintang-bintang yang selalu ada meski siang hari menyembunyikannya.

Dan ada seseorang yang memilih — bukan karena harus, tapi karena memilih — untuk memutus rantai yang panjang.

Kirana menulis sampai fajar. Tangannya tidak gemetar lagi.

...✦  ✦  ✦...

Di langit di atas dua tempat yang tidak bisa saling melihat, bintang-bintang tetap pada tempatnya.

Orion dengan sabuknya yang tiga. Bintang kutub di ujung ekor Ursa Minor. Cassiopeia yang berbentuk W atau M tergantung musimnya. Andromeda yang jaraknya jutaan tahun cahaya tapi tetap bisa dilihat kalau langitnya cukup gelap.

Selalu ada.

Untuk yang tersesat, untuk yang mencari, untuk yang mendongak dan mau melihat.

Petunjuk arah yang tidak pernah pindah.

...— T A M A T —...

...✦  ✦  ✦...

A Mother's Second Chance

Thank you for visiting, I hope you like this work 🤗

1
Anonymous
Cerita yg filosofis banget. Dan dalem banget. Bagus 👍🏻👍🏻
AinaAsila: terimakasih 🙏😄
total 1 replies
Freg ftu
mantap 💪
AinaAsila: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!