"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
...
...
Pagi di Hallstatt biasanya membawa ketenangan yang magis, namun bagi Kalea, ketenangan itu telah dicuri sejak deru mesin Mercedes-Benz hitam milik Liam Jionel parkir permanen di depan hotel seberang jalannya. Kalea terbangun dengan perasaan sesak. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, melihat matanya yang sembab karena kurang tidur. Di sampingnya, Leo masih terlelap, tangan kecilnya masih menggenggam miniatur helikopter logam pemberian Liam.
Kalea mencoba mengambil mainan itu pelan-pelan, namun Leo merengek dalam tidurnya dan memeluk mainan itu lebih erat. Hati Kalea mencelos. Kenapa secepat ini, Leo? Kenapa kamu seolah sudah mengenal jiwa pria itu?
Pukul tujuh pagi, ketukan pintu yang sopan namun tegas terdengar. Kalea tahu itu bukan Frau Schmidt yang mengantar roti. Ia membuka pintu dengan wajah kaku, dan benar saja, Liam berdiri di sana. Kali ini ia membawa keranjang rotan berisi pastry hangat dan dua gelas cokelat panas dengan marshmallow melimpah—persis seperti kesukaan Leo.
"Aku tidak mengizinkanmu datang sepagi ini," desis Kalea, mencoba menghalangi jalan masuk.
Liam hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang dulu sering membuat Kalea gemetar di mansion. "Udara pegunungan membuat orang cepat lapar, Kalea. Dan aku tidak ingin putraku sarapan hanya dengan sereal kotak."
Tanpa menunggu izin, Liam melangkah masuk. Ia meletakkan sarapan itu di meja kayu oak yang bersih. Matanya menyapu seisi rumah. Sederhana, hangat, dan sangat mencerminkan kepribadian Kalea yang asli. Tidak ada kemewahan palsu, hanya kenyamanan yang jujur.
"Om Liam!" Leo muncul dari balik pintu kamar, rambutnya yang berantakan membuatnya tampak sangat menggemaskan. Ia berlari kecil dan, yang membuat Kalea nyaris pingsan, Leo langsung memeluk kaki Liam.
Liam tertegun. Tubuhnya yang kaku mendadak meleleh. Ia berlutut, meletakkan tangannya di bahu kecil Leo. "Selamat pagi, Singa Kecil. Sudah siap petualangan hari ini?"
"Siap! Kita ke danau naik kapal?" tanya Leo antusias.
"Tentu. Tapi sarapan dulu," Liam mengacak rambut Leo dengan gerakan yang sangat natural, seolah ia sudah melakukannya selama bertahun-tahun.
Kalea hanya bisa berdiri mematung di dekat dapur. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Melihat interaksi mereka, Kalea menyadari satu hal yang menakutkan: ikatan darah itu nyata. Leo tidak pernah seakrab ini dengan pria manapun di desa ini, namun dengan Liam, bocah itu seolah menemukan potongan puzzle yang hilang.
Setelah sarapan yang penuh dengan celoteh cerdas Leo tentang jenis-jenis ikan di danau, Liam mengajak mereka ke dermaga. Kalea terpaksa ikut karena ia tidak akan membiarkan Leo pergi berdua saja dengan Liam.
Liam telah menyewa sebuah kapal kayu tradisional Hallstatt yang sangat mewah. Di atas kapal, Liam duduk di samping Leo, mengajarinya cara memegang kemudi kecil. Kalea duduk di ujung kapal, menatap mereka dengan perasaan campur aduk.
"Kalea, mendekatlah. Di sini anginnya terlalu kencang," ucap Liam tanpa menoleh.
"Aku nyaman di sini," jawab Kalea ketus.
Liam berdiri, melangkah menuju Kalea dan tanpa peringatan, ia menyampirkan jaket wol mahalnya ke bahu Kalea. Aroma sandalwood yang maskulin langsung membungkus indra penciuman Kalea.
"Jangan keras kepala. Jika kau sakit, Leo akan sedih," bisik Liam tepat di telinganya.
Kalea ingin menyentak jaket itu, tapi tatapan Liam yang dalam menahannya. Ada sesuatu yang berbeda di mata Liam. Kegilaan obsesifnya masih ada, tapi kini bercampur dengan sesuatu yang menyerupai... permohonan maaf.
"Kenapa kau melakukan ini, Liam? Setelah tiga tahun, kenapa kau tidak membiarkan kami tenang?" tanya Kalea lirih, memastikan Leo tidak mendengar.
Liam menatap riak air danau yang jernih. "Karena setiap malam di penjara, aku hanya memikirkan satu hal: bagaimana cara mengembalikan waktu. Aku tahu aku tidak bisa menghapus apa yang kulakukan padamu di Jakarta. Tapi aku bisa membangun masa depan yang baru untukmu dan Leo di sini."
"Masa depan bersamamu adalah penjara lain bagiku," balas Kalea pahit.
"Maka biarlah aku menjadi sipir yang paling mencintaimu," sahut Liam dengan suara rendah yang menggetarkan. "Aku tidak akan membawamu pulang ke Jakarta jika kau tidak mau. Aku akan memindahkan kantorku ke sini. Aku akan membangun rumah di atas bukit itu. Aku hanya ingin berada di radius yang sama denganmu, Kalea."
Siang hari, saat Leo tertidur di kursi kapal karena kelelahan bermain, Liam duduk di hadapan Kalea. Ia mengeluarkan sebuah berkas dari tas kulitnya.
"Apa lagi ini? Kontrak baru?" sindir Kalea.
"Buka saja," jawab Liam tenang.
Kalea membukanya. Matanya membelalak. Itu adalah dokumen legal yang menyatakan bahwa Liam Jionel menyerahkan 50% seluruh aset pribadinya kepada Leo Jionel, dan 50% sisanya adalah milik Kalea, tanpa syarat apa pun. Tidak ada tuntutan hak asuh, tidak ada paksaan pernikahan.
"Ini... ini gila. Aku tidak butuh uangmu!"
"Itu bukan uang, Kalea. Itu adalah jaminan keamananmu. Dengan dokumen ini, kau punya kekuatan hukum yang lebih besar dariku. Jika suatu saat kau ingin mengusirku dari negara ini, kau bisa melakukannya dengan satu tanda tangan," Liam menatapnya serius. "Aku memberikan leherku padamu, Kalea. Kau bisa memenggalnya kapan saja."
Kalea terdiam seribu bahasa. Strategi Liam kali ini benar-benar di luar dugaannya. Pria ini tidak lagi menggunakan rantai emas, tapi ia menggunakan penyerahan diri total.
Sore harinya, saat mereka kembali ke toko bunga, seorang pria berjas hitam muncul dari balik bayangan pohon. Aris. Ia membisikkan sesuatu pada Liam.
Wajah Liam mendadak berubah gelap. "Kalea, bawa Leo masuk ke dalam rumah. Sekarang."
"Ada apa?" tanya Kalea waspada.
"Hanya urusan bisnis kecil. Masuklah," perintah Liam, namun kali ini suaranya mengandung nada protektif yang nyata.
Begitu Kalea dan Leo masuk, Liam berbalik menatap Aris. "Katakan."
"Clarissa, Tuan. Dia berhasil kabur saat pemindahan tahanan dua hari lalu. Jaringan gelapnya di Eropa Timur mendeteksi pergerakan kita di Austria. Dia tahu Anda menemukan Nona Kalea," lapor Aris dengan suara bergetar.
Liam mengepalkan tangannya hingga urat-uratnya menonjol. "Ular itu tidak pernah tahu kapan harus mati."
"Kami menemukan jejak orang suruhannya di Salzburg pagi ini. Mereka menuju ke arah Hallstatt, Tuan," tambah Aris.
Liam menoleh ke arah rumah kayu Kalea yang tampak sangat rapuh. Ia menyadari bahwa kehadirannya di sini bukan hanya membawa cinta, tapi juga membawa bahaya yang selama ini Kalea hindari.
"Perketat keamanan di seluruh desa. Tutup semua akses jalan masuk. Aku ingin setiap turis yang datang diperiksa identitasnya," perintah Liam dingin. "Dan Aris... jika mereka menyentuh seujung kuku pun milikku, aku akan memastikan mereka merangkak di dasar danau ini."
Malam harinya, Kalea duduk di ruang tamu, memperhatikan Liam yang berdiri di teras rumahnya, menatap kegelapan dengan waspada. Liam tidak masuk, ia hanya berjaga di luar seperti seekor anjing penjaga yang setia.
Kalea mendekati pintu, membawakan segelas kopi hangat. "Ada sesuatu yang terjadi, kan? Kau tidak akan seserius itu kalau hanya 'bisnis kecil'."
Liam menoleh, mengambil gelas itu. Tangannya yang besar sempat bersentuhan dengan tangan Kalea, mengirimkan aliran listrik yang familiar. "Jangan khawatir. Selama aku bernapas, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Terutama dia."
Kalea mengerutkan kening. "Dia? Maksudmu Clarissa?"
Liam tidak menjawab, tapi sorot matanya sudah menjelaskan segalanya. Kalea merasakan ketakutan lama itu kembali. Ternyata, meski ia sudah lari sejauh ribuan kilometer, dendam masa lalu tetap mengikutinya.
"Liam..." panggil Kalea pelan.
"Ya?"
"Terima kasih... karena sudah berjaga," ucap Kalea tulus untuk pertama kalinya.
Liam menatap Kalea dengan tatapan yang sangat lembut, sebuah tatapan yang tidak pernah Kalea lihat di Jakarta. "Aku sudah bilang, Kalea. Kau adalah api yang menjaga jiwaku tetap hangat. Aku tidak akan membiarkan api itu padam untuk kedua kalinya."
Malam itu, di bawah langit Hallstatt yang bertabur bintang, dua jiwa yang hancur itu berdiri berdekatan. Mereka dipisahkan oleh masa lalu yang kelam, namun disatukan oleh nyawa kecil yang sedang tertidur di dalam rumah. Badai Clarissa mungkin sedang mendekat, namun kali ini, sang singa Jionel tidak akan membiarkan sang merpati berjuang sendirian.
Dendam, obsesi, dan cinta kini melebur menjadi satu di tengah dinginnya Alpen. Dan perang sesungguhnya untuk melindungi "harta" yang paling berharga baru saja dimulai. beb_