Alexandra Quina tak punya pilihan selain menerima tawaran gila Nenek Evelyn, majikannya yang lumpuh. Sebagai perawat yatim piatu, hidupnya berubah total saat diminta menikahi Nicholas—cucu Evelyn yang koma selama dua tahun hanya demi memberikan keturunan bagi keluarga Rich melalui prosedur medis.
Harta dan kehidupan layak sudah di depan mata. Namun, saat janin mulai tumbuh, Evelyn meninggal. Di tengah ancaman pembunuhan dari keluarga Nicholas, Alexa memilih lari dan menghilang tanpa jejak.
Lima tahun kemudian, Nicholas terbangun sebagai—Presiden Gila—yang arogan dan tak tersentuh. Hingga di sebuah kompetisi renang, seorang gadis kecil menarik jas mahalnya dengan berani.
“Om Plesdil, mau ndak jadi Daddy kita?”
“Aku sudah punya istri,” jawab Nicholas dingin.
“Buang aja istlinya, Om itu Daddy kita.”
Nicholas mengira itu lelucon, sampai empat anak lainnya muncul dengan wajah yang merupakan jiplakan dirinya. Saat ia berhasil menemukan Alexa, Nicholas mengira ia bisa mengatur wanita itu dengan mudah. Tapi ia salah.
“Kalau mereka anakmu, apa yang kau mau? Hak asuh?” tantang Alexa.
“Ayo menikah!” titah Nicholas.
“Jadi istri kedua? No way! Lebih baik aku menjanda selamanya daripada jadi madumu. Jangan kira aku lemah seperti dulu!”
Alexa yang dulu penurut telah berubah menjadi wanita cerdas dan tangguh. Itu membuat Nicholas justru makin tergila-gila.
Akankah Nicholas berhasil menaklukkan hati Alexa yang sedingin es dan sekeras batu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Tidak Suka
Sore merambat di kediaman mewah keluarga Robertho. Daniel duduk gelisah di sofa ruang tamu, matanya terus berpindah dari jam tangan ke wajah Harris yang masih tak kunjung siuman. Telunjuknya mengetuk meja dengan ritme cepat, menunjukkan sisa kesabarannya yang kian menipis.
Padahal Daniel sudah tampil sangat rapi. Ia berniat menjemput Naira. Mengajaknya makan malam untuk sebuah rencana, tetapi agenda itu terhambat karena sekretaris satu ini. Alih-alih terlihat pingsan, Harris justru tampak menikmati tidurnya dengan sangat pulas.
Muak menunggu, Daniel berdiri dan menyambar segelas air dari dapur. Tanpa peringatan, ia menyiramkan air itu ke wajah Harris.
"Bangun juga kau, Harris!" bentak Daniel seraya membanting gelas ke meja dan bersedekap dada.
Harris terlonjak bangun dan napasnya memburu seperti baru saja terbebas dari mimpi buruk.
"Tuan Daniel? Mengapa Anda di sini? Dan... di mana ini?" tanyanya sambil memijat kepala yang pening.
Daniel menarik napas panjang mencoba meredam amarahnya. Lalu, ia mulai menjabarkan ulang seluruh peristiwa di stadion tadi. Harris hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong, berusaha memproses kenyataan yang terdengar gila itu.
"Jadi selama ini… Pak Presdir sudah punya anak dari wanita bernama Alexa?"
Daniel mengangguk tegas.
"Lantas mengapa Pak Presdir tidak tahu?" Harris semakin bingung.
"Ceritanya panjang. Kalau kau mau tahu, tanya sendiri pada bosmu itu," jawab Daniel sambil menunjuk ke arah tangga.
Di sana, Nicholas turun dengan langkah terburu-buru, bahkan hampir melewati mereka begitu saja. Daniel sigap mencegat langkah kakinya.
"Mau ke mana, Bang?"
"Aku harus membawa mereka kemari, Dan," jawab Nicholas dingin tanpa ekspresi.
"Lakukan lain kali. Sekarang fokus dulu jelaskan masalah ini pada Tante Gina."
"Tidak bisa. Kompetisi selesai, Alexa dan anak-anakku pasti akan segera kembali ke London. Ayah menyuruhku membawa mereka malam ini juga."
Nicholas sudah tahu orang tuanya telah bertemu Alexa karena informasi langsung dari Robertho.
Saat ini, pria tua itu sedang menemani Anggina di kamar setelah sempat panik mencari istrinya yang mendadak hilang dari rumah sakit, padahal Robertho hanya pergi sebentar ke toilet.
"Percuma, Bang. Dia tidak akan mau ikut begitu saja. Jangan pakai paksaan, wanita tidak suka itu," jelas Daniel.
"Kau harus pelan-pelan. Tunjukkan kalau kau bisa menjamin keamanan anak-anaknya."
Harris yang menyimak ikut mengangguk setuju. Nicholas terdiam, teringat kejadian kemarin saat ia mencium Alexa secara paksa dan berakhir dengan penolakan.
"Jadi, apa usulmu?" tanya Nicholas kemudian.
Harris tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat sang bos yang keras kepala mau membuang harga diri demi meminta saran mengenai seorang wanita.
"Dia ibu tunggal. Untuk mendapatkan hatinya, kau harus ambil hati anak-anaknya dulu. Kalau anak-anak sudah memihakmu, jalannya akan lebih mudah," pungkas Daniel dengan senyum yakin.
Nicholas kembali terpekur. Ia teringat Byan dan Cecilia yang mulai dekat dengannya. Selain Idol, ternyata Daniel juga bisa menjadi penasehat yang bisa diandalkan.
Kini tugasnya adalah menaklukkan Asha, Cloe, dan Deva. Terutama Asha, si sulung yang sangat posesif pada ibunya. Sedikit saja Nicholas membuat kesalahan, anak itu pasti akan menjadi orang pertama yang mengusirnya.
“Baiklah, aku pergi dulu,” ucap Daniel hendak berbalik badan, namun cekalan tangan Nicholas menahannya.
“Mau ke mana?” tanya Nicholas menyelidik.
“Ada urusan penting,” sahut Daniel singkat tanpa mau memberi penjelasan lebih lanjut.
Brum!
Suara deru mesin mobil Daniel terdengar menjauh meninggalkan area kediaman Robertho dengan kecepatan tinggi.
Nicholas kini mengalihkan pandangannya pada Harris.
“Harris, aku punya tugas untukmu.”
Harris langsung berdiri tegap, memasang sikap siap siaga di depan bosnya. “Apa, Pak?”
“Tadi pagi aku sudah mengirim sampel DNA milikku dan Byan ke laboratorium. Aku ingin kau sendiri yang mengawasi prosesnya sampai hasilnya keluar,” perintah Nicholas.
Sebelah alis Harris terangkat. Ia merasa heran karena Nicholas tampak sangat yakin bahwa kelima anak itu adalah darah dagingnya, namun pria itu tetap menuntut pembuktian medis.
“Untuk apa Anda melakukan tes DNA? Apa Tuan masih merasa ragu?” tanya Harris memberanikan diri, tak ingin menyimpan rasa penasaran.
“Aku tidak ragu sedikit pun,” jawab Nicholas dingin. “Aku hanya ingin membuktikan pada Ibuku bahwa kami punya hubungan darah. Anak-anak yang Alexa lahirkan adalah cucu yang dulu sempat ia ragukan keberadaannya. Ini juga akan menjadi alat untuk membungkam mulut saudara tiriku."
Harris mengangguk paham dengan rasa hormat. Tanpa membuang waktu, sekretaris itu segera melangkah pergi untuk melaksanakan instruksi tuannya.
Saat Nicholas hendak melangkah menuju kamar ibunya, ponsel di sakunya bergetar. Ia merogoh benda itu, dan seketika rahangnya mengeras. Tangannya terkepal kuat saat melihat nama yang tertera di layar.
Kattie.
Nicholas sudah bersiap untuk mencecar kakak tirinya itu, namun niatnya surut saat mendengar suara di seberang sana. Bukan suara Kattie, melainkan suara kecil seorang anak laki-laki.
"Ha-halo, Om…."
"Axel? Ada apa hubungi Om?" nada bicara Nicholas mendadak melembut. Meski ia sangat membenci Kattie, anak sekecil itu tidak pantas menerima kemarahannya.
"Ibuku… a-apa ada di situ, Om?"
Nicholas mengernyit. Anak itu menelepon menggunakan ponsel ibunya, tapi Kattie justru tidak bersamanya? Ke mana wanita itu?
"Ibumu tidak ada di sini, Axel," jawab Nicholas jujur.
Seketika, suara tangis Axel pecah di telepon.
"T-telus Ibu Acel di mana, Om?"
Nicholas baru saja akan menyahut sebelum mendengar suara laki-laki lain di sisi Axel.
"Axel, kenapa di luar, Nak? Mana ibumu?"
"Ayah… Ibu pelgi dali lumah. Belum pulang-pulang dali sole. Acel takut."
Deg.
Pergi dari rumah?
"Halo, Noah! Ini aku, Nicholas. Kau dengar?" panggil Nicholas pada sambungan yang masih terhubung. Namun, panggilan itu mendadak terputus.
Nicholas mendecak kesal. Ia segera menghubungi anak buahnya. "Cari tahu keberadaan Kattie sekarang!" perintahnya tegas.
"Baik, Pak. Akan kami lakukan."
Panggilan berakhir. Nicholas mengembuskan napas kasar dengan tangan kembali mengepal. Ia yakin Kattie sengaja menghilang setelah melihat si kembar melalui rekaman di stadion yang viral. Wanita itu pasti ketakutan.
Nicholas kemudian menaiki tangga menuju kamar Anggina. Saat tangannya hendak memutar knop pintu, suara isak tangis dari dalam menghentikan gerakannya. Itu suara Anggina, tangisan yang penuh dengan nada penyesalan.
"Ke-kenapa Papa tidak kasih tahu Mama kalau anak-anak itu cucu kita?" tanya Anggina terisak di depan Robertho.
"Bagaimana mau cerita kalau Mama tiba-tiba hilang dari rumah sakit," sahut Robertho dengan wajah cemberut.
"Kalau begitu… selama ini Kattie dan Jessy sudah membohongi kita?"
"Tidak hanya itu, mereka sudah memperalat kita, Ma," ucap Robertho dengan kilat amarah di matanya.
"Pa… lakukan sesuatu. Pikirkan cara agar cucu-cucu kita tinggal di sini," mohon Anggina sambil mengusap air matanya.
Nicholas pun mendorong pintu dan melangkah masuk. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan serius.
"Kalau Mama mau mereka tinggal di sini, Mama harus minta maaf pada Alexa. Bukan hanya Mama, Papa juga!" tuntut Nicholas dingin.
Kedua orang tua itu terdiam sejenak.
"Apa Alexa akan memaafkan kita?" tanya Robertho ragu sambil melirik istrinya yang juga tampak bimbang.
"Kita sudah melakukan kesalahan besar padanya. Papa tidak yakin dia mau menerima maaf kami."
"Papa tidak akan tahu kalau tidak mencoba. Jika kalian sungguh-sungguh, aku yakin dia akan luluh," tutur Nicholas tenang.
‘Aku juga harus minta maaf padanya,’ gumam Nicholas dalam hati.
Setelah Nicholas beranjak keluar, Anggina buru-buru menahan lengan Robertho yang hendak berdiri dari sisi tempat tidur.
“Pa, kalau Alexa kembali ke rumah ini, bagaimana Lizzy? Kita kan sudah sepakat akan menikahkan Nicholas dengannya,” ujar Anggina cemas.
Robertho mendesis, ia benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir istrinya. “Kenapa harus memikirkan Lizzy lagi, Ma? Kita sudah punya Alexa. Dia yang akan menjadi menantu kita, dia ibu dari cucu-cucu kita.”
“Tapi… Alexa itu kan hanya—”
“Ma, Alexa sudah bukan lagi gadis biasa yang bisa Mama remehkan. Dia sudah sukses! Mama ingat pakaian-pakaian mahal yang sering Mama pesan dari London? Semuanya keluaran Lexaquina. Itu brand milik Alexa.”
Mata Anggina membulat sempurna. “Maksud Papa, semua baju bagus yang Mama koleksi itu buatan tangan Alexa sendiri?”
Anggina menggeleng keras, seolah menolak kenyataan. “Tidak mungkin, Pa. Mama tahu sendiri dulu gadis itu cuma bisa melakukan pekerjaan rumah. Tidak mungkin dia punya keterampilan sehebat itu!”
“Terserah Mama mau percaya atau tidak. Yang jelas, Papa akan membantu Nicholas membawa mereka pulang ke rumah ini,” ucap Robertho tegas. Tanpa menunggu balasan lagi, ia melangkah keluar meninggalkan istrinya sendirian.
Anggina mendengus kesal. Tatapannya terjatuh pada sebuah dress indah yang tergantung di sisi lemari pakaiannya.
“Tidak mungkin dia yang membuat ini. Pasti dia pakai jasa orang lain!” gumamnya dengan nada tidak suka.
“Nicholas juga pasti sudah dicuci otaknya. Lizzy jauh lebih sempurna dari segala hal!”
______
To be continued….
aku menunggu aksi mantan bibi jahat vs bibi jahat tawuran😂💪