NovelToon NovelToon
Aku Bukan Anak Tiri

Aku Bukan Anak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosanda_27

Sejak lahir, Kasih sudah dianggap kesalahan.
Satu kakinya tak berfungsi sempurna.
Dan bagi Rani, ibunya, itu cukup untuk meruntuhkan semua mimpi tentang anak yang sempurna.
Kasih tumbuh di rumah yang sama—namun tak pernah benar-benar tinggal di dalam hati siapa pun.
Selain ayahnya.
Di mata sang ayah, Kasih adalah anugerah.
Namun kecelakaan malam itu merenggut satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat.
Sejak usia tujuh tahun, Kasih kehilangan segalanya.
Ia kehilangan pelindung.
Kehilangan suara yang membelanya.
Dan perlahan… kehilangan dirinya sendiri.
Ibunya semakin dingin.
Kasih sayang sepenuhnya jatuh pada Raisa—kakaknya yang cantik, sempurna, dan selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Sementara Kasih hanya bayangan.
Beban.
Aib yang disembunyikan.
Bukan hanya kehilangan ayah, Kasih juga hidup dalam bayang-bayang trauma.
Suara klakson membuat jantungnya membeku.
Lampu kendaraan di malam hari membuat napasnya tersengal.
Duduk di dalam mobil terasa seperti menunggu maut datang kembali.
Setiap hari, ia mati-matian melawan ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.
Namun di usia tujuh belas tahun, seseorang hadir dan mengubah segalanya.
Edghan.
Ia tak melihat tongkat di tangan Kasih.
Tak melihat kekurangannya.
Tak melihatnya sebagai beban.
Ia melihatnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kasih merasa diterima.
Merasa cukup.
Merasa… pantas dicintai.
Tapi luka yang terlalu dalam tak pernah sembuh dengan mudah.
Akankah Kasih mampu berdiri tanpa rasa bersalah yang menghantuinya?
Akankah ia berani melawan trauma dan membuktikan bahwa dirinya bukan aib?
Dan ketika cinta datang… apakah itu cukup untuk membuatnya percaya bahwa ia layak bahagia?
Aku Bukan Anak Tiri adalah kisah tentang kehilangan, kecemburuan, trauma, dan perjuangan seorang gadis untuk mendapatkan satu hal yang paling sederhana—
dicintai tanpa syarat.
Karena terkadang, luka terbesar bukan berasal dari dunia luar…
melainkan dari rumah sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosanda_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Hati Yang Dingin Mulai Terusik

Pagi itu suasana Sekolah Nusa Bangsa lebih ramai dari biasanya.

Bukan karena upacara atau inspeksi mendadak—melainkan karena pertandingan persahabatan futsal antar kelas yang diadakan di lapangan belakang.

Sorakan terdengar dari berbagai sudut.

Anak-anak kelas sebelas berkerumun di pinggir lapangan, sebagian berteriak memberi semangat, sebagian lagi sibuk merekam.

Dira berdiri di antara kerumunan, menutup telinga sebelah karena terlalu bising.

“Kenapa sih tiap istirahat harus ada acara begini?” gerutunya.

Di sampingnya, Kasih tersenyum kecil. Tongkatnya menapak pelan di lantai semen.

“Daripada kelas tambahan.”

“Point.”

Sorakan semakin keras ketika Edghan—kapten tim kelas sebelah—berhasil mencetak gol.

Beberapa siswi menjerit histeris. Namanya dipanggil dari berbagai arah.

Kasih tak ikut bersorak. Ia hanya menoleh sekilas, lalu mengalihkan pandangan.

Namun di tengah keramaian itu, Edghan sempat menangkap sosoknya di tepi lapangan. Seragam yang terbalut oleh Blazer abu-abu rapi. Rambut tergerai lembut. Tatapan yang tidak ikut larut dalam euforia.

Dan entah kenapa, sorakan penonton terasa mendadak biasa saja.

Setelah pertandingan selesai dan bel masuk berbunyi, suasana sekolah kembali normal.

Beberapa siswa masih membahas gol terakhir Edghan, sementara yang lain kembali ke kelas masing-masing.

Kasih dan Dira memilih arah berbeda.

“Perpustakaan?” tanya Dira.

“Iya. Tugas sejarah belum selesai.”

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor yang mulai lengang.

Perpustakaan siang itu tenang. Terlalu tenang dibanding riuh lapangan tadi.

Cahaya matahari menembus jendela tinggi, jatuh membentuk garis-garis hangat di lantai. Aroma buku lama dan pendingin ruangan bercampur samar.

Kasih dan Dira duduk di meja pojok favorit mereka.

Beberapa buku terbuka. Catatan berserakan rapi. Tongkat Kasih tersandar di sisi kursi.

“Kalau perubahan struktur ekonomi pasca reformasi itu berarti dampaknya ke industri, kan?” tanya Dira sambil menggigit ujung pena.

Kasih mengangguk pelan. “Iya. Terutama sektor swasta yang mulai—”

Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka.

Ceklek.

Suara itu cukup membuat beberapa kepala menoleh.

Dan yang masuk bukan satu orang.

Tiga.

Edghan berjalan paling depan, langkahnya mantap meski ekspresinya sedikit canggung.

Di belakangnya dua sahabatnya—Candra dan Riank—ikut masuk dengan wajah bingung setengah mati.

“Gue nggak salah lihat, kan?” bisik Riank pelan.

“Ini perpustakaan?”

Candra menoleh kanan-kiri, seakan sedang memasuki museum. “Seumur hidup baru pertama kali.”

“Sekolah lama kita juga punya, kan?” Riank menyenggolnya.

“Iya. Tapi nggak pernah dimasukin.”

Beberapa siswa yang sedang membaca menatap mereka heran.

Tiga anak yang biasanya identik dengan lapangan, basket, dan kantin… kini berdiri canggung di antara rak buku.

Tak sedikit yang berbisik.

“Itu Edghan, kan?”

“Ngapain ke sini?”

Dira otomatis menoleh.

Dan saat melihat siapa yang masuk, alisnya terangkat tinggi.

Kasih juga menyadarinya beberapa detik kemudian.

Edghan.

Dan dua temannya.

“Kenapa mereka ke sini?” bisik Dira.

Kasih hanya menggeleng pelan

Di sisi lain ruangan, Edghan berpura-pura membaca papan kategori buku.

Padahal sejak masuk, matanya sudah menemukan satu tujuan.

Meja pojok.

Seorang gadis yang berseragam rapi dengan dibaluti blazer abu abu.

Dan tak lupa dengan Tongkat di sisi kursi.

Riank  berbisik, “Jadi ini alasan lo ke sini?”

Edghan tak menjawab. Hanya berjalan pelan melewati rak.

Candra dan Riank akhirnya mengikuti, meski masih terlihat seperti turis tersesat.

Edghan berhenti di rak dekat meja Kasih.

Mengambil satu buku secara acak.

Membaliknya.

Tak benar-benar membaca.

Riank  berdiri di belakangnya, berusaha terlihat sibuk.

Candra malah tanpa sadar menatap ke arah meja pojok.

Dan di sanalah matanya bertemu dengan seseorang.

Dira.

Tatapan itu terjadi begitu saja.

Sekilas.

Namun cukup lama untuk membuat waktu terasa melambat.

Dira yang awalnya hendak mengalihkan pandangan justru terdiam.

Candra juga.

Tak ada senyum.

Tak ada kata.

Hanya tatapan canggung yang entah kenapa sulit diputus.

Riank menyikut lengan Candra. “Ngapain lo bengong?”

Candra tersadar cepat. “Hah? Enggak.”

Sementara itu, Edghan akhirnya melangkah mendekati meja Kasih.

Sengaja menyenggol sisi meja ringan.

Sebuah buku terjatuh.

Bruk.

Kasih refleks menoleh.

“Eh—maaf,” ucap Edghan cepat, langsung berjongkok mengambil buku itu.

Dira menatap tajam. Jelas itu disengaja.

“Gak apa-apa,” jawab Kasih singkat.

Edghan berdiri, tapi tak pergi.

“Buku sejarah kelas dua di mana ya?” tanyanya, pura-pura bingung.

Dira menunjuk rak atas tanpa ekspresi. “Bagian atas.”

“Oh.”

Ia pura-pura menjangkau, padahal terlalu tinggi.

“Kursinya boleh pinjam?”

Kasih terdiam sesaat sebelum menggeser kursi kosong. “Iya.”

Edghan berdiri di atas kursi. Riank menahan tawa.

Candra mencoba fokus, tapi matanya sesekali kembali ke arah Dira—yang kini pura-pura membaca, meski jelas tidak.

Saat turun, kaki Edghan sedikit oleng.

Kasih refleks menegakkan tubuhnya, seolah siap membantu.

Mata mereka bertemu.

Beberapa detik.

“Thanks,” ucapnya pelan.

Kasih cepat mengalihkan pandangan. “Iya.”

Suasana hening.

Lalu Edghan menarik napas kecil, seperti sedang mengumpulkan keberanian.

“Aku Edghan.”

Tangannya terulur.

Beberapa detik Kasih hanya menatapnya.

Lalu ia menjabat singkat. “Kasih.”

“Aku tahu,” balasnya pelan.

Riank mendesah pelan. “Akhirnya kenalan juga.”

Edghan meliriknya tajam.

“Oh iya,” katanya kemudian, menunjuk ke belakang. “Ini Riank. Sama Candra.”

Riank mengangguk santai.

Candra sedikit gugup saat pandangannya kembali bertemu Dira.

“Dira,” ucap Dira tiba-tiba, memperkenalkan diri sebelum suasana jadi lebih canggung.

Candra tersenyum kecil. “Candra.”

Nama itu seperti menggantung di udara.

Dan untuk beberapa detik yang aneh—

Dira dan Candra kembali saling menatap.

Tidak lama.

Tidak terang-terangan.

Namun cukup untuk membuat Riank  berbisik pelan, “Wah…”

Edghan tak menyadari apa pun.

Fokusnya hanya pada satu orang.

“Minimal sekarang kita nggak sepenuhnya orang asing,” ucapnya pada Kasih.

Kasih tak menjawab, tapi kali ini ia tak langsung berdiri untuk pergi.

—————-

Koridor sekolah kembali ramai setelah mereka keluar dari perpustakaan.

Riank masih menatap Edghan dengan ekspresi setengah tak percaya.

“Serius, sejak kapan sih lo mulai merhatiin dia?” tanyanya lagi.

Kali ini Edghan tidak menghindar.

Ia menarik napas pelan.

“Dari pertama kali gue lihat dia.”

“Di Mana ?” Candra mengerutkan dahi.

Edghan menjawab.

“Di sini. Waktu lomba antar sekolah.”

Edghan larut dalam pikirannya mengingat kembali momen di mana iya pertama kali melihat kasih

Sekolah Nusa Bangsa mengadakan lomba besar antar SMA—olahraga dan seni. Basket, futsal, debat, sampai lomba menggambar.

Edghan datang sebagai perwakilan tim basket sekolah lamanya. Aula dan lapangan hari itu penuh spanduk dan suara sorakan.

Pertandingan basketnya dijadwalkan sore. Siang itu ia sempat pergi ke toilet dekat gedung aula.

Saat kembali, ia salah belok. Tanpa sengaja ia melewati ruangan lomba menggambar, pintu terbuka setengah, awalnya ia hanya ingin lewat,

namun langkahnya terhenti.

Ruangan itu sunyi. Berbeda sekali dari lapangan yang berisik. Hanya suara gesekan pensil dan kuas.

Dan di sudut dekat jendela, ia melihatnya.

Seorang gadis duduk dengan tongkat tersandar di kursi.

Kepalanya sedikit menunduk, rambutnya jatuh lembut menutupi sebagian pipi. Tangannya bergerak tenang di atas kertas.

Edghan tidak tahu kenapa ia diam di sana.

Tatapannya terkunci pada gadis itu.

Bukan karena tongkatnya.

Bukan karena rasa kasihan.

Tapi karena caranya fokus.

Seolah-olah dunia di luar ruangan itu tidak ada.

Cahaya siang masuk dari jendela, menyinari separuh wajahnya.

Ada ketenangan yang sulit dijelaskan.

Untuk pertama kalinya, Edghan merasa… tertarik mendekat pada seseorang tanpa alasan jelas.

Saat itu ia bahkan belum tahu namanya.

Ia hanya tahu satu hal—

ia ingin melihatnya lagi.

Pertemuan kedua jauh berbeda.

Beberapa hari setelah pertemuan pertama itu.

Sore itu ia dan juga beberapa temanya lewat di area taman, tak jauh dari sana ia melihat gadis bertongkat berdiri di pinggir jalan menunggu waktu yang pas untuk menyebrang.

Dari jarak yang masih lumayan Edghan menatap gadis itu ia merasa fameliar dengan gadis tersebut.

Ingatannya langsung tertuju pada gadis yang ia lihat beberapa hari lalu saat lomba.

Langit cerah. Angin pelan.

Breng— jaraknya semakin dekat  

Ia melihat gadis tersebut langsung membeku 

Wajahnya pucat.

Tangannya gemetar.

Tatapannya kosong.

Melihat itu Edghan mematikan mesin motornya dan bergegas menghampiri gadis tersebut 

Ia melihat bagaimana Dira panik, memanggil namanya pelan.

Ia melihat bagaimana gadis yang terlihat begitu kuat di ruang lomba beberapa hari lalu … mendadak terlihat rapuh.

Dan sesuatu dalam dirinya terusik.

Itu bukan sekadar ketertarikan lagi.

Itu kekhawatiran.

Ia ingin tahu apa yang membuat suara itu begitu menakutkan bagi Kasih.

Lalu kemarin, Ia melihat sisi lain lagi.

Gedung tinggi di tengah kota.

Blazer cream.

Langkah tegap bertongkat memasuki pintu kaca besar.

Ia hampir tak percaya itu orang yang sama.

Gadis pendiam di sekolah.

Gadis yang bisa gemetar hanya karena suara knalpot.

Tapi di sana—

ia terlihat berbeda.

Dewasa.

Berwibawa.

Seolah memiliki dunia yang jauh lebih besar dari yang ia perlihatkan di sekolah.

“Jadi lo udah tiga kali lihat sisi dia yang beda-beda?” Riank menyimpulkan pelan.

Edghan mengangguk.

“Yang pertama, dia tenang banget. Yang kedua… dia kelihatan rapuh. Yang ketiga… dia kayak orang lain.”

Candra terdiam, mulai memahami.

“Makanya lo penasaran.”

“Bukan cuma penasaran,” jawab Edghan jujur. “Gue kagum.”

Riank menaikkan alis. “Sama yang mana?”

Edghan tersenyum tipis.

“Sama semuanya.”

Ia menatap lurus ke depan.

“Gue nggak tahu apa yang sebenarnya dia sembunyiin. Tapi tiap kali gue lihat dia, rasanya kayak lagi lihat potongan puzzle yang belum lengkap.”

Candra menyeringai kecil. “Dan lo mau jadi orang yang nyusun puzzle itu?”

Edghan tidak menyangkal.

“Iya.”

Riank menggeleng pelan, kali ini tanpa protes.

“Ya udah. Kalau itu yang bikin lo tertarik, kita dukung.”

Candra mengangguk. “Full support.”

Edghan tersenyum.

Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan nanti.

Tentang trauma itu.

Tentang gedung tinggi itu.

Tentang dunia yang tidak pernah diceritakan Kasih pada siapa pun.

Tapi satu hal pasti—

ia tidak lagi tertarik hanya karena rasa ingin tahu.

Ia tertarik karena ia melihat kekuatan, luka, dan misteri… dalam satu orang yang sama.

Dan itu jauh lebih menarik daripada sekadar kesempurnaan luar biasa yang sering orang banggakan.

Sementara itu, di dalam perpustakaan yang kembali sunyi—

Kasih masih duduk di kursinya.

Buku sejarah terbuka di depannya.

Namun sejak pintu tadi menutup dan langkah tiga anak itu menjauh, tak satu kalimat pun benar-benar ia baca.

Dira menoleh pelan.

“Lo nggak fokus.”

Kasih menghela napas kecil. “Aku lagi fokus.”

“Bohong.”

Kasih terdiam.

Ia memang dikenal sebagai siswa pendiam.

Datang. Duduk. Belajar. Pulang.

Tidak pernah ikut kerumunan.

Tidak pernah terlibat gosip.

Tidak pernah memulai percakapan dengan siapa pun selain Dira.

Dan hari ini—

kapten tim futsal yang paling banyak dipanggil namanya di lapangan…

masuk ke perpustakaan hanya untuk menjatuhkan buku di mejanya.

Rasanya aneh.

Canggung.

Kasih menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang hampir lolos.

“Dia sengaja banget,” gumam Dira.

“Iya.”

“Aneh nggak sih?”

Kasih terdiam sebentar.

“Aneh.”

Tapi di balik nada datarnya, ada sesuatu yang berbeda.

Lucu.

Ya, mungkin itu kata yang tepat.

Cara Edghan pura-pura bingung mencari buku.

Cara ia berdiri di atas kursi terlalu percaya diri.

Cara ia menggaruk tengkuk saat memperkenalkan diri.

Semua terasa… tidak seperti biasanya.

Kasih tahu bagaimana Edghan di lapangan.

Percaya diri. Santai. Jadi pusat perhatian.

Tapi tadi—

ia terlihat gugup.

Dan entah kenapa, itu terasa sedikit menggelikan.

Dira menyipitkan mata. “Lo senyum.”

“Aku nggak.”

“Lo senyum, Kasih.”

Kasih cepat-cepat merapikan ekspresinya. “Aku cuma heran.”

Heran kenapa orang seperti itu mau repot-repot mendekat padanya.

Namun di sisi lain—

ia tidak merasa terganggu.

Itu yang membuatnya lebih heran lagi.

Sepulang sekolah, saat ia berjalan perlahan di lorong dengan tongkatnya, bayangan tadi siang kembali terlintas.

Tatapan Edghan.

Jabat tangan singkat itu.

“Minimal sekarang kita nggak sepenuhnya orang asing.”

Orang asing.

Kasih sudah terbiasa menjaga jarak dari semua orang.

Bukan karena sombong, tapi karena lebih aman

Ia tumbuh bukan dalam pelukan hangat.

Ia tumbuh dalam tekanan.

Dalam tatapan meremehkan.

Dalam rasa bersalah yang tak pernah ia minta.

Cinta—

kata itu terasa asing.

Cintanya sudah lama pergi.

Terkubur bersama raga ayahnya.

Sejak malam kecelakaan itu, hatinya seperti membeku.

Ia belajar berdiri sendiri.

Belajar tidak berharap.

Belajar tidak menggantungkan perasaan pada siapa pun.

Karena setiap kali ia berharap—

yang datang hanya kehilangan.

Maka ketika Edghan tersenyum padanya,

ketika ia berusaha mendekat—

Kasih tidak pernah berpikir itu tentang cinta.

Ia bahkan tidak tahu seperti apa rasanya.

Baginya, itu hanya interaksi biasa.

Aneh.

Sedikit mengganggu ritme hidupnya.

Sedikit lucu.

Namun tidak lebih.

“Aku nggak ngerti kenapa dia kayak gitu,” katanya pelan pada Dira saat mereka sampai di gerbang.

“Lo yakin nggak ngerti?” tanya Dira pelan.

Kasih menatap lurus ke depan.

“Aku nggak mikir ke sana.”

Dan itu jujur.

Ia tidak pernah membayangkan seseorang menyukainya.

Tidak pernah menganggap dirinya sebagai pusat perhatian siapa pun.

Baginya, hidup adalah tentang bertahan.

Tentang membuktikan diri.

Tentang menjaga rahasia.

Bukan tentang perasaan remaja yang berbunga-bunga.

Hatinya terlalu lama dingin untuk mengenali kehangatan kecil yang mulai mengetuknya.

Gerbang sekolah mulai lengang.

Sinar matahari jatuh miring di atas aspal, memantulkan bayangan panjang dari langkah-langkah yang berjalan pulang.

Kasih dan Dira berhenti di titik biasa mereka berpisah.

Di sisi kanan, parkiran mobil siswa.

Di sisi kiri, area jemputan tempat Bang Usman biasanya menunggu dengan mobil lama berwarna gelap.

“Besok jadi ke perpustakaan lagi?” tanya Dira sambil merapikan tasnya.

“Jadi. Tugas sejarah belum selesai.”

Dira mengangguk. Lalu menatap sahabatnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Lo nggak kepikiran apa-apa soal tadi?”

Kasih tahu maksudnya.

Ia mengangkat bahu kecil. “Nggak.”

Jawaban itu terdengar ringan. Terlalu ringan.

Dira menyipitkan mata, tapi belum sempat membalas—

Ponsel di tangan Kasih bergetar pelan.

Bukan nada dering keras.

Hanya getaran singkat.

Namun cukup membuat Kasih refleks melirik layar.

Email masuk.

Nama pengirimnya langsung terbaca di notifikasi.

D, itu adalah inisial

Detik itu juga, ekspresinya berubah sangat halus—hanya sepersekian detik. Tapi Dira menangkapnya.

“Siapa?” tanya Dira santai, meski rasa penasarannya muncul.

Kasih segera mematikan layar dan memasukkan ponsel ke dalam tas.

“Bukan apa-apa. Newsletter doang.”

“Newsletter?” ulang Dira, jelas tak sepenuhnya yakin.

Kasih mengangguk cepat. “Iya. Spam mungkin.”

Padahal ia tahu betul—

Danuel tidak pernah mengirim sesuatu tanpa alasan penting.

Di dalam email itu kemungkinan besar ada revisi daftar tamu gala dinner, atau konfirmasi hotel tambahan, atau laporan vendor keamanan.

Dua dunia.

Dalam satu tas sekolah yang sama.

Dira memperhatikan wajah sahabatnya sebentar lagi.

Ada sesuatu yang selalu Kasih sembunyikan.

Bukan kebohongan besar—tapi jarak.

Namun Dira sudah terlalu lama mengenalnya untuk memaksa.

Kalau Kasih belum mau cerita, berarti memang belum waktunya.

“Ya udah,” ujar Dira akhirnya, berusaha terdengar biasa. “Hati-hati ya.”

“Iya. Kamu juga.”

Beberapa meter dari sana, Bang Usman sudah membuka pintu mobil.

Kasih melangkah perlahan ke arahnya.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara tongkatnya teratur menyentuh aspal.

Dira berdiri sebentar, memperhatikan punggung sahabatnya itu sebelum akhirnya berbalik menuju parkiran mobilnya sendiri.

Dalam hati, ia masih bertanya-tanya.

Newsletter?

Rasanya bukan.

Tapi ia memilih diam.

Karena jika ada satu hal yang ia tahu tentang Kasih—

ia hanya akan bercerita saat ia benar-benar siap.

Kasih masuk ke dalam mobil bagian belakang seperti biasanya, raisa sudah duduk di depan sambil memainkan ponselnya sama sekali tidak memperhatikan kasih yang baru saja masuk ke dalam mobil.

Pintu tertutup.

Begitu mobil mulai bergerak menjauh dari gerbang sekolah, barulah ia kembali mengeluarkan ponselnya.

Ia membuka email itu.

Subjeknya singkat:

Revisi Final – Daftar VIP & Keamanan Gala

Isi pesannya panjang.

Beberapa nama baru dari luar negeri.

Permintaan tambahan sistem akses privat.

Konfirmasi bahwa undangan sudah dikirim ke seluruh mitra strategis—

termasuk PT Aditya Group.

Jari Kasih berhenti sesaat saat membaca nama itu.

Entah kenapa, bayangan Edghan muncul di benaknya.

Cepat-cepat ia menggeleng kecil.

Tidak ada hubungannya.

Ia mematikan layar.

Setelah itu kembali menundukkan kepalanya.

Di sekolah, ia hanya siswa pendiam yang hampir tak pernah berbicara dengan siapa pun selain Dira.

Di dunia lain, ia sedang merancang acara bisnis yang akan dihadiri para pemilik perusahaan besar.

Dan di antara dua dunia itu—

ia berdiri sendirian.

Tanpa tahu bahwa seseorang mulai mencoba masuk…

bukan ke perusahaan megahnya—

melainkan ke hatinya yang lama membeku.

1
Ssl Mda
suka bgt sm kasihhh 🤭🤭
Lysia Novianna
kasian wehh😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!