Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
istri bayaran
Gaun pengantin itu terasa berat.
Bukan karena payet atau lapisan satin yang menjuntai panjang di lantai hotel bintang lima tempat pesta diselenggarakan, melainkan karena tatapan ratusan pasang mata yang tertuju padanya.
Alina berdiri di ujung lorong aula megah itu, menggenggam buket bunga putih yang harum. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya ke segala arah, membuat ruangan tampak seperti istana. Musik orkestra mengalun pelan, elegan, mahal.
Semuanya sempurna.
Terlalu sempurna untuk pernikahan yang tidak memiliki cinta.
Di ujung sana, Arsen Wijaya menunggu. Setelan jas hitamnya pas di tubuh, wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Ia berdiri seperti patung yang dipahat dengan presisi—tampan, kuat, dan tidak terjangkau.
Alina melangkah maju ketika pintu aula terbuka penuh.
Bisik-bisik langsung terdengar.
“Itu dia pengantin wanitanya?”
“Cantik sih… tapi latar belakangnya biasa saja, kan?”
“Kudengar ayahnya hampir bangkrut.”
“Pantas saja Arsen menikahinya. Pasti ada sesuatu di balik ini.”
Alina mendengar semuanya. Setiap kata seperti serpihan kecil yang mencoba melukai harga dirinya.
Tapi wajahnya tetap tenang. Senyumnya terlatih. Punggungnya tegak.
Ia sudah memilih jalan ini.
Dan ia tidak akan berjalan dengan kepala tertunduk.
Langkahnya berhenti tepat di hadapan Arsen. Pria itu menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, cepat namun tajam.
“Jangan gemetar,” bisiknya pelan tanpa mengubah ekspresi.
“Aku tidak gemetar,” balas Alina halus.
Arsen sedikit memiringkan kepala, seolah terkejut dengan ketegasan suaranya.
Upacara berlangsung cepat. Janji suci diucapkan tanpa getaran emosi. Tanda tangan dilakukan di hadapan saksi dan kamera media.
Ketika cincin melingkar di jari manisnya, Alina menyadari satu hal.
Ini bukan hanya kontrak bisnis.
Ini adalah panggung.
Dan ia sekarang menjadi bagian dari keluarga paling berpengaruh di kota ini.
Resepsi berubah menjadi ajang pamer kekuasaan.
Para petinggi perusahaan, politikus, dan sosialita berdatangan memberikan ucapan selamat. Senyum mereka lebar, tapi mata mereka penuh perhitungan.
“Selamat ya, Nona Alina,” ujar seorang wanita paruh baya dengan gaun merah menyala. Bibirnya tersenyum, tapi nada suaranya tipis. “Beruntung sekali bisa langsung naik kelas seperti ini.”
Naik kelas.
Alina menahan diri untuk tidak tertawa kecil.
“Terima kasih,” jawabnya sopan.
Wanita itu melirik cincin di jarinya. “Semoga bisa bertahan lama di keluarga Wijaya.”
Kalimat itu terdengar seperti doa, tapi rasanya seperti ancaman.
Tak lama kemudian, seorang wanita muda dengan wajah cantik mendekat. Gaunnya glamor, rambutnya terurai indah. Tatapannya pada Alina tajam dan penuh kepemilikan.
“Arsen,” panggilnya manja, mengabaikan Alina. “Kau bahkan tidak memberitahuku akan menikah.”
Alina bisa merasakan atmosfer berubah.
Arsen menoleh sedikit. “Livia, ini bukan urusanmu.”
Livia.
Nama yang sering muncul di artikel gosip sebagai wanita yang paling dekat dengan Arsen Wijaya.
“Oh?” Livia tersenyum tipis, akhirnya memandang Alina. “Jadi ini pilihanmu?”
Tatapan mereka bertemu.
Alina melihat sesuatu di sana -kesombongan yang terluka.
“Saya harap kita bisa berteman,” kata Livia dengan suara lembut yang dibuat-buat.
Alina membalas dengan senyum yang sama halusnya. “Tentu. Saya juga berharap begitu.”
Arsen menghela napas pelan. “Cukup.”
Ia meraih tangan Alina -gerakan yang mengejutkannya dan menariknya sedikit lebih dekat ke sisinya.
Sentuhan itu terasa hangat di atas kulitnya.
“Dia istriku,” ujar Arsen singkat, nadanya tidak memberi ruang untuk perdebatan.
Livia terdiam sesaat sebelum tersenyum kaku. “Tentu saja.”
Ia pergi dengan langkah yang sedikit terlalu cepat.
Alina menatap Arsen sekilas. “Kau tidak bilang akan ada drama.”
“Kau tidak meminta detailnya,” balas Arsen tenang.
Ia melepaskan tangan Alina begitu saja, seolah sentuhan tadi tidak berarti apa-apa.
Dan mungkin memang tidak.
Malam semakin larut ketika akhirnya mereka meninggalkan hotel.
Mobil mewah hitam meluncur halus di jalanan kota. Di dalam, keheningan mengisi ruang di antara mereka.
Alina memandang keluar jendela, melihat pantulan dirinya samar di kaca. Gaun pengantin itu masih melekat di tubuhnya, tapi ia sudah merasa berbeda.
Statusnya berubah.
Hidupnya berubah.
“Kita akan tinggal di rumah utama,” ucap Arsen tiba-tiba.
“Dengan orang tuamu?”
“Ya.”
Alina mengangguk pelan. Ia sudah menduga.
“Jangan berharap terlalu banyak,” lanjut Arsen. “Ibu saya… bukan tipe yang mudah menerima.”
“Aku juga bukan tipe yang mudah mundur,” jawab Alina tanpa menoleh.
Arsen meliriknya sebentar. Ada sesuatu yang nyaris seperti senyum di sudut bibirnya, tapi cepat menghilang.
Mobil berhenti di depan gerbang besar dengan lambang keluarga Wijaya terukir megah.
Rumah utama lebih mirip istana kecil. Pilar-pilar tinggi, taman luas dengan lampu-lampu temaram, dan pintu kayu besar yang terbuka perlahan ketika mereka mendekat.
Seorang wanita elegan berdiri di dalam, mengenakan kebaya modern berwarna gelap. Wajahnya cantik, tapi sorot matanya dingin.
Ibu Arsen.
“Jadi ini menantu pilihannya?” suaranya lembut namun tajam.
Alina menunduk sopan. “Selamat malam, Bu.”
Wanita itu tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri Alina seperti sedang memeriksa barang.
“Kudengar perusahaan ayahmu sedang kesulitan,” katanya akhirnya.
Arsen sedikit mengeraskan rahangnya. “Ibu.”
“Aku hanya memastikan,” jawab wanita itu santai. “Keluarga kita tidak terbiasa menanggung beban.”
Kalimat itu jelas diarahkan pada Alina.
Tapi Alina tidak tersinggung.
Ia hanya tersenyum kecil.
“Saya tidak akan menjadi beban,” katanya pelan namun mantap.
Ibu Arsen mengangkat alis, seolah terhibur dengan keberaniannya.
“Kita lihat saja.”
Kamar pengantin berada di lantai dua, luas dan didominasi warna gelap. Tempat tidur besar di tengah ruangan tampak seperti simbol dari peran yang harus mereka mainkan.
Begitu pintu tertutup, suasana berubah.
Arsen melepas jasnya, menggantungnya dengan rapi.
“Kita perlu menetapkan batasan,” katanya tanpa menoleh.
Alina melepas antingnya perlahan. “Setuju.”
“Kita tidur di ranjang yang sama demi menghindari kecurigaan. Tapi tidak ada sentuhan yang tidak perlu.”
“Baik.”
“Kita tampil sebagai pasangan harmonis di depan publik.”
“Baik.”
Arsen akhirnya menatapnya. “Dan jangan mencoba mencampuri urusan bisnis saya.”
Alina menahan senyum tipis. “Kalau kau tidak mencampuri urusan pribadiku.”
Keheningan sejenak.
Arsen mendekat beberapa langkah. Jarak di antara mereka menyempit, cukup untuk membuat napas Alina sedikit tidak teratur.
“Kita lihat saja,” ucapnya pelan.
Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, ada percikan yang tidak bisa dijelaskan.
Lalu Arsen mundur.
“Aku akan mandi dulu.”
Pintu kamar mandi tertutup, menyisakan Alina sendirian di ruangan besar itu.
Ia berjalan ke balkon, membuka pintu kaca, dan membiarkan angin malam menyentuh wajahnya.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor yang sama seperti tadi malam.
“Nona,” suara pria tua itu terdengar hormat. “Selamat atas pernikahan Anda.”
Alina tersenyum tipis. “Permainan sudah dimulai.”
“Semua aset luar negeri tetap aman. Jika Anda memberi perintah, kami bisa mengambil alih tiga perusahaan pesaing keluarga Wijaya dalam waktu sebulan.”
Alina menatap langit malam.
“Belum,” jawabnya pelan. “Biarkan mereka berpikir aku hanya istri bayaran.”
“Seperti yang Anda inginkan.”
Panggilan terputus.
Alina menatap ke dalam kamar, ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Arsen Wijaya.
Pria yang menikahinya demi strategi.
Pria yang mengira ia memegang kendali.
Alina menyentuh cincin di jarinya.
Satu tahun.
Satu tahun untuk melihat siapa yang akan menyerah lebih dulu.
Ia menarik napas dalam.
Di mata dunia, ia hanyalah wanita yang menjual diri demi menyelamatkan perusahaan ayahnya.
Tapi di balik semua itu, ada kebenaran yang belum terungkap.
Dan ketika hari itu tiba…
Bukan hanya keluarga Wijaya yang akan terkejut.
Arsen juga.
(BERSAMBUNG)