NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Masalalu yang bertemu.

Matahari sudah naik tinggi.

Cahayanya jatuh lurus ke tanah, hangat namun tidak menyengat seperti di kota. Udara tetap terasa ringan—tidak pengap, tidak sesak. Pepohonan di sekitar desa menyaring panas, menyisakan angin yang bergerak pelan membawa aroma rumput dan tanah.

Lingkungan yang masih asri membuat segalanya terasa lebih tenang.

Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya nyata.

Haikal berjalan di sisi jalan desa bersama dua rekannya sesama tentara. Senjata tergantung rapi di dada, langkah mereka terukur, mata memindai setiap sudut.

Patroli rutin.

Sejak mereka ditempatkan di desa ini, pengamanan selalu ketat. Jalur masuk dijaga. Pergerakan dicatat. Malam hari patroli digandakan.

Namun tidak ada yang benar-benar tahu alasannya.

Penduduk desa tidak bertanya.

Mahasiswa tidak diberi penjelasan.

Yang mereka tahu hanya satu hal:

desa terpencil ini dijaga seperti titik penting yang tidak boleh jatuh.

Haikal melangkah di depan.

Wajahnya kembali dingin. Profesional. Tidak ada jejak dari malam sebelumnya—setidaknya dari luar.

“Situasi masih aman,” lapornya singkat pada alat komunikasi.

Di sisi lain desa—

kegiatan sukarelawan sudah dimulai sejak pagi.

Mahasiswa kesehatan membuka pos pemeriksaan sederhana. Warga desa mengantre dengan tertib. Beberapa mahasiswa lain ikut turun ke sawah, membantu petani memanen, belajar mengolah tanah yang selama ini mereka lihat hanya di buku.

Ada pula yang mengajar anak-anak membaca, berhitung, atau sekadar menggambar di teras rumah.

Dan Lian—

tidak berada di satu pun kelompok itu.

Ia berada di lapangan kecil dekat pepohonan.

Dikelilingi anak-anak desa.

Tawa mereka pecah.

Bukan tawa sopan. Bukan tawa kecil tertahan.

Tawa lepas.

“Kejar diaaaa!” teriak salah satu anak.

Lian berlari.

Bukan lari anggun.

Bukan lari tertib.

Ia berlari sambil tertawa, rambut panjangnya terlepas dari ikatan, kakinya berdebu, sendalnya hampir copot.

“Eh curang! Lempar sendal tuh dilarang!” teriak Lian sambil tertawa.

“Bu Lian duluan!” bantah seorang bocah sambil melempar sendal ke arah Lian.

Sendal itu meleset.

Anak-anak tertawa makin keras.

Lian membalas—mengejar mereka, merebut layangan yang jatuh, lalu berlari zig-zag sambil berteriak tidak jelas.

Tangkap lari.

Lempar sendal.

Kejar-kejaran layangan.

Bar-bar.

Persis seperti dirinya yang dulu.

Tidak ada topeng.

Tidak ada penahanan diri.

Tidak ada luka yang dipamerkan.

Ia hanya tertawa.

Dari kejauhan—

Haikal melihatnya.

Ia berhenti sejenak tanpa sadar.

Melihat Lian tertawa lepas, berdebu, berteriak, tertawa lagi saat terjatuh lalu bangkit tanpa mengeluh.

Anak-anak desa menyukainya.

Bukan karena ia sempurna.

Salah satu rekan Haikal menoleh mengikuti arah pandangnya.

“Itu istrimu, ya?” tanyanya pelan, tanpa nada menggoda.

Haikal tidak langsung menjawab.

Matanya masih tertuju pada Lian.

“Ya,” katanya akhirnya singkat.

“Dia… beda,” komentar rekannya.

Haikal mengangguk kecil.

Ia tahu.

Ia selalu tahu.

Lian tidak pernah cocok dengan definisi “tenang”.

Namun justru di kekacauan kecil itulah—

ia terlihat paling hidup.

Patroli dilanjutkan.

Namun hari itu, di bawah matahari yang sama—

dua orang yang saling mencintai

menjalani dunia yang berbeda,

hanya dipisahkan oleh jarak dan aturan.

Dan Haikal mulai menyadari sesuatu:

Jika suatu hari desa ini benar-benar tidak aman,

jika suatu hari ketenangan ini runtuh—

hal pertama yang akan ia lakukan

bukanlah melapor.

Melainkan mencari Lian.

 

Lapangan kecil itu masih riuh.

Anak-anak desa berlarian, tertawa tanpa beban. Layangan kembali terbang, ekornya melambai tertiup angin siang. Lian berdiri di tengah mereka, terengah, rambutnya berantakan, pipinya memerah karena panas dan tawa.

“Bu Lian capek!” teriak salah satu bocah.

“Capek apaan,” balas Lian sambil menyeka keringat dengan punggung tangan. “Ayo sini, siapa yang berani kejar aku?”

Teriakan anak-anak kembali pecah.

Namun sebelum permainan itu berlanjut, sebuah suara dewasa menyela.

“Lian?”

Langkahnya terhenti.

Suara itu—

terlalu familiar.

Lian menoleh perlahan.

Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya. Tubuhnya tinggi, rapi, dengan kemeja lapangan bertuliskan identitas Relawan Medis. Wajahnya lebih matang dari terakhir kali Lian mengingatnya. Rambutnya dipotong pendek. Tatapannya—

masih sama.

Vano.

Untuk sesaat, dunia Lian seperti berhenti berputar.

Anak-anak masih tertawa di sekelilingnya, namun suara mereka terdengar jauh, seolah teredam air.

“Vano,” ucap Lian pelan.

Pria itu tersenyum kecil. Senyum yang dulu sering ia pakai saat menunggu Lian selesai marah, selesai bertengkar, selesai menjadi dirinya sendiri.

“Udah lama banget,” katanya.

Lian mengangguk.

“Iya.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada keterkejutan berlebihan. Hanya dua orang yang sama-sama tahu—mereka pernah sangat dekat.

Anak-anak desa mulai bubar perlahan, tertarik ke permainan lain. Lapangan itu mendadak terasa terlalu luas, terlalu terbuka.

“Kamu ikut sukarelawan juga?” tanya Lian akhirnya.

“Iya,” jawab Vano. “Jurusan kedokteran. Baru tahu kamu ikut juga… pas daftar ulang.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Aku hampir nggak yakin itu kamu.”

Lian terkekeh kecil.

“Aku juga hampir nggak yakin itu kamu.”

Ada jeda.

Jeda yang berisi terlalu banyak kenangan.

Mereka pernah pacaran.

Cukup lama.

Cukup serius.

Dan mereka putus—

sepihak.

Hari itu Lian menghilang. Memutuskan tanpa penjelasan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada orang ketiga—setidaknya bukan yang Vano tahu.

Yang Vano tidak tahu saat itu adalah satu hal:

Lian sudah menikah.

Perjodohan yang datang terlalu cepat.

Janji yang tidak bisa ia ceritakan.

Dan keputusan yang membuatnya memilih pergi tanpa menoleh.

“Aku sempat nyari kamu,” kata Vano tiba-tiba, suaranya lebih rendah. “Kamu hilang gitu aja.”

Lian menarik napas.

“Aku tahu.”

“Kenapa?” tanya Vano, menatapnya lurus. “Aku berhak tahu alasannya, kan?”

Lian mengangguk pelan.

“Iya,” katanya jujur. “Kamu berhak.”

Ia menatap tanah sebentar, lalu kembali menatap Vano.

“Aku menikah,” ucapnya singkat.

Vano membeku.

“Apa?”

“Saat itu,” lanjut Lian. “Aku menikah karena perjodohan.”

Hening jatuh di antara mereka.

Wajah Vano berubah. Bukan marah. Bukan kecewa.

Tapi hancur—pelan dan rapi.

“Kamu nggak bilang apa-apa,” katanya lirih.

“Karena aku nggak boleh,” jawab Lian. “Dan karena aku tahu… kalau aku bilang, aku bakal ragu.”

Vano tersenyum pahit.

“Kamu selalu begitu,” katanya. “Selalu mutusin sendiri.”

“Maaf,” ucap Lian.

Itu satu-satunya kata yang bisa ia beri.

Vano mengangguk pelan.

“Aku masih cinta sama kamu, Lian,” katanya akhirnya, jujur, tanpa menekan. “Aku nggak nyalahin kamu. Aku cuma… belum bisa sepenuhnya lepas.”

Lian terdiam.

Ia tidak panik. Tidak goyah.

Perasaan itu sudah tidak tinggal di hatinya.

“Aku udah move on,” kata Lian pelan tapi tegas. “Dan sekarang… aku cinta sama suamiku.”

Kata suami itu keluar tanpa ragu.

Vano menatapnya lama.

Lalu mengangguk.

“Berarti dia orang yang beruntung,” katanya, meski senyumnya rapuh.

Dari kejauhan—

sepasang mata memperhatikan mereka.

Haikal.

Ia sedang patroli di sisi lain lapangan saat melihat Lian berbicara dengan seorang pria. Posisi mereka terlalu dekat untuk sekadar basa-basi.

Haikal tidak mendekat.

Namun rahangnya mengeras.

Ia tidak tahu siapa pria itu.

Tidak tahu masa lalu apa yang sedang berdiri di hadapan Lian.

Yang ia tahu hanya satu:

Lian terlihat tenang. Tegak. Tidak ragu.

Dan itu—entah kenapa—membuat dadanya sedikit lebih lapang.

Di bawah matahari siang itu, masa lalu datang mengetuk.

Namun Lian tidak membuka pintu.

---

Baik. Ini BAB 18 (lanjutan) ditulis panjang, detail, emosional namun dewasa, menekankan pelukan sebagai pelepasan, bukan pengkhianatan, serta rasa bersalah Lian pada masa lalu.

---

Udara siang itu tetap hangat.

Angin berembus pelan, menggerakkan ekor layangan yang masih terikat di bambu, membuatnya berdesir lirih seperti napas panjang yang ditahan terlalu lama.

Vano melangkah maju.

Satu langkah.

Lian sempat terkejut—bukan karena takut, melainkan karena ia tidak menduga jarak itu akan dihapus begitu saja. Namun sebelum sempat berkata apa-apa, lengan Vano sudah melingkarinya.

Memeluknya.

Erat.

Bukan pelukan yang menuntut.

Bukan pelukan yang ingin memiliki.

Pelukan seseorang yang akhirnya menyerah pada rindu yang terlalu lama dipendam.

Wajah Vano membenam di bahu Lian.

Dan pria itu menangis.

Tangisnya tidak keras. Tidak dramatis. Hanya isak yang tertahan—napas yang patah-patah, bahu yang bergetar pelan.

“Aku nyoba,” katanya terbata, suaranya teredam di bahu Lian. “Aku beneran nyoba buat lupa.”

Lian menutup mata.

Ia mengangkat tangannya perlahan, lalu membalas pelukan itu. Tidak menekan. Tidak mengikat. Hanya cukup untuk menenangkan.

Tangannya menepuk punggung Vano pelan, berulang.

“Maaf,” ucap Lian lirih. “Ini salah aku.”

Ia membiarkan Vano menangis.

Karena ia tahu—

rasa sakit itu memang tidak seharusnya dipotong cepat-cepat.

Dulu, Vano selalu sabar.

Dengan kenakalan Lian.

Dengan sifat bar-barnya.

Dengan cara Lian yang sering bicara tanpa pikir panjang.

Vano tidak pernah menghakimi.

Saat mereka bertengkar—dan itu sering—Vano selalu yang lebih dulu mengalah. Lebih dulu mendekat. Lebih dulu berkata udah, kita baikan.

Lian ingat itu.

Ia juga ingat bagaimana suatu hari ia menghilang begitu saja.

Tanpa penjelasan.

Tanpa kesempatan bagi Vano untuk bertanya.

Pelukan ini—

adalah satu-satunya ruang yang tersisa untuk permintaan maaf yang tidak pernah sempat diucapkan.

“Harusnya aku jelasin,” kata Lian pelan, menepuk punggung Vano dengan ritme yang menenangkan. “Tapi waktu itu… aku nggak punya pilihan.”

Vano menggeleng kecil, masih terisak.

“Aku nggak marah,” katanya. “Aku cuma… kehilangan.”

Lian menarik napas panjang.

“Aku tahu,” katanya jujur. “Dan aku bener-bener minta maaf.”

Pelukan itu berlangsung beberapa detik lagi.

Lalu perlahan—sangat perlahan—Vano melepasnya.

Ia mundur setengah langkah, menyeka wajahnya dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang tercecer.

“Terima kasih,” katanya. “Karena nggak ngejauh.”

Lian menggeleng kecil.

“Kamu nggak salah apa-apa,” jawabnya. “Aku yang pergi.”

Di kejauhan—

seorang prajurit berhenti melangkah.

Haikal.

Ia melihat pelukan itu.

Melihat bagaimana Vano memeluk Lian erat. Melihat kepala pria itu bersandar di bahu istrinya. Melihat tangan Lian yang menepuk punggung dengan gerakan tenang.

Ada sesuatu yang menegang di dadanya.

Bukan amarah.

Bukan cemburu yang meledak.

Melainkan kesadaran pahit—

bahwa sebelum dirinya, ada seseorang yang pernah menjaga Lian dengan caranya sendiri.

Haikal tidak mendekat.

Ia memilih berdiri.

Mengamati.

Dan di saat yang sama—mempercayai.

Karena yang ia lihat bukan pengkhianatan.

Yang ia lihat adalah perpisahan yang akhirnya selesai.

Saat Vano benar-benar mundur dan memberi jarak, Lian berdiri tegak. Wajahnya tenang. Tidak ada keraguan di matanya.

Itu cukup.

Haikal melanjutkan patroli.

Namun langkahnya terasa lebih berat—

bukan karena takut kehilangan,

melainkan karena kini ia tahu:

Mencintai Lian berarti menerima seluruh perjalanan hidupnya,

termasuk orang-orang baik yang pernah ia tinggalkan demi janji yang tidak bisa ia tolak.

Dan malam nanti—

akan ada banyak hal yang tidak bisa lagi disangkal.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!