NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.25

...GETARAN YANG TAK SEHARUSNYA ADA...

Di koridor kampus yang selalu ramai itu, Ryn Moa berjalan sambil memeluk beberapa buku tebal. Rambutnya yang panjang dikuncir setengah, memberi kesan lugu, atau itu hanya menurut Jhope, yang saat ini berjalan di sampingnya sambil sibuk mengipasi diri dengan buku karena lupa membawa kipas listrik mini kesayangannya.

Jika diperhatikan lebih seksama, cara Ryn Moa berjalan selalu memiliki pola yang sama. Ia tidak pernah tergesa-gesa, tidak pernah pula melambat berlebihan. Seolah langkah kakinya mengikuti detak jantungnya sendiri, tenang, stabil, dan cenderung berhati-hati. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian, dan berjalan terlalu cepat sering kali berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti tersandung, menabrak orang, atau menjatuhkan barang. Langkah Ryn Moa, berjalan dengan ritme yang seolah ingin menyesuaikan diri dengan dunia di sekitarnya, bukan sebaliknya. Ujung sepatunya sesekali menyentuh garis tipis di lantai koridor, dan lengannya mengencang sedikit setiap kali ia merasa buku-buku itu hampir bergeser. Ada kebiasaan kecil yang bahkan tidak disadari Ryn Moa sendiri, setiap kali ia membawa banyak buku, ia akan sedikit menundukkan kepala, seperti ingin melindungi sesuatu yang rapuh. Bukan hanya buku-buku itu, tapi juga dirinya sendiri. Seolah dunia terlalu besar dan ia perlu menjaga jarak aman agar tidak terseret terlalu dalam.

Koridor itu penuh suara langkah kaki mahasiswa yang saling beradu, tawa kecil dari kelompok yang baru saja keluar kelas, suara dosen yang masih terdengar samar dari balik pintu, dan derit sepatu di lantai keramik yang mengkilap. Bau masakan dari kantin lantai bawah ikut menyusup, bercampur dengan aroma buku baru dan kertas fotokopian yang khas. Ada sesuatu yang menenangkan dari kekacauan teratur seperti ini. Setiap suara, setiap gerakan, setiap aroma saling bertabrakan tapi tetap berada dalam ritme yang bisa diprediksi. Tidak ada kejutan besar. Tidak ada ledakan emosi. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Semua itu adalah bagian dari rutinitas yang telah lama dikenal Ryn Moa. Hiruk pikuk yang dulu membuatnya gugup, kini terasa seperti latar belakang yang konstan. Ia bisa berjalan di tengah keramaian tanpa merasa ingin menghilang. Ia bisa bernapas normal. Bahkan, akhir-akhir ini, ia bisa tersenyum tanpa alasan jelas.

Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Tidak ada satu hari spesifik di mana Ryn Moa bangun dan merasa lebih berani. Namun perlahan, ia menyadari bahwa jantungnya tidak lagi berdegup terlalu kencang setiap kali berada di tempat ramai. Bahunya tidak lagi otomatis menegang. Dan pikirannya tidak lagi sibuk mencari jalan keluar setiap saat. Ryn Moa sebenarnya sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Sejak kuliah dikampus, lorong-lorong ramai menjadi bagian dari hidupnya. Namun, ada satu hal yang masih sering membuatnya sedikit kikuk, yaitu berjalan berdampingan dengan J-hope. Bukan karena J-hope membuatnya tidak nyaman, tapi justru sebaliknya, terlalu nyaman. Sampai ia lupa untuk menjaga jarak dan tidak sadar kapan ia mulai menertawakan lelucon-lelucon bodoh tanpa menimbang siapa yang melihat. Hingga tidak lagi memikirkan bagaimana seharusnya ia bersikap.

Entah kenapa, bersama laki-laki itu, suasana selalu terasa lebih riuh, bukan karena bising, tapi karena energinya yang berlebihan. J-hope adalah tipe orang yang tidak pernah setengah-setengah. Jika ia merasa panas, seluruh dunia harus tahu. Jika ia merasa senang, ekspresinya akan terlihat dari jarak sepuluh meter. Jika ia merasa kesal, dramanya bisa mengalahkan sinetron jam prime time. Ia tidak pernah berjalan biasa. Ia selalu bergerak seolah dunia ini adalah panggung besar yang menunggu reaksinya. Bahkan cara ia menghela napas pun terdengar dramatis, seolah setiap keluhan adalah bagian dari monolog panjang yang harus diperhatikan.

“Ryn… aku kayaknya mau mati kepanasan,” keluh J-hope dramatis.

Ia menghentikan langkah sejenak, mengipasi wajahnya lebih cepat seolah sedang berada di tengah padang pasir, bukan di koridor kampus ber-AC setengah mati. Gerakannya begitu berlebihan hingga seorang mahasiswa yang lewat sempat menoleh dua kali, memastikan bahwa tidak ada keadaan darurat yang sedang terjadi. Namun J-hope tampak tidak peduli. Ia terlalu sibuk memainkan perannya sebagai korban cuaca ekstrem.

Ryn Moa meliriknya sekilas. Keringat di pelipis J-hope memang nyata, tapi cara ia mengekspresikannya selalu terasa berlebihan. Namun anehnya, Ryn Moa tidak pernah merasa terganggu. Ia justru merasa… terhibur. Ada sesuatu yang menular dari energi J-hope. Sesuatu yang membuat Ryn Moa yang biasanya cenderung menahan diri, merasa boleh bereaksi apa adanya. Tidak perlu berpikir terlalu jauh. Tidak perlu menimbang setiap ekspresi.

“Kau bilang itu setiap hari, Hobi,” jawab Ryn Moa sambil tertawa kecil.

Ia menyesuaikan tumpukan buku di lengannya, memastikan tidak ada yang hampir jatuh. Tawanya ringan, alami, tanpa beban, sesuatu yang akhir-akhir ini semakin sering muncul saat J-hope ada di dekatnya.

J-hope menoleh, matanya menyipit sedikit ketika melihat senyum itu. Ada kepuasan kecil yang tidak ia sembunyikan. Ia suka ketika Ryn Moa tertawa karena ulahnya. Ia suka menjadi alasan di balik ekspresi itu, meski hanya sebentar. Bagi J-hope, tawa Ryn Moa terasa berbeda. Tidak keras, tidak berlebihan, tapi jujur. Seolah setiap kali Ryn Moa tertawa, dunia memberinya tanda kecil bahwa ia melakukan sesuatu yang benar.

“Tapi hari ini lebih panas daripada biasanya,” J-hope meratap, lalu menatap Ryn Moa sambil setengah curiga. “Atau jangan-jangan… aku kepanasan karena kau?”

Kalimat itu meluncur begitu saja, dengan nada bercanda yang sudah menjadi ciri khasnya. J-hope tidak berhenti berjalan, seolah tidak mengantisipasi dampaknya. Ryn Moa berhenti mendadak. Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Langkahnya terhenti, napasnya tersangkut sepersekian detik, dan tangannya refleks mencengkeram buku lebih erat.

“ASTAGA!” Ryn Moa hampir menjatuhkan bukunya. “Jangan gombal donk!”

Suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. Matanya membesar, dan ia secara refleks menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada terlalu banyak orang yang mendengar. Beberapa mahasiswa di sekitar mereka melirik. Ada yang tersenyum kecil, ada yang pura-pura tidak melihat. Situasi seperti ini bukan hal asing di koridor kampus, tapi tetap saja, Ryn Moa merasa pipinya memanas. J-hope tertawa puas, seolah baru saja memenangkan sebuah kompetisi tidak resmi bernama ‘Siapa Paling Berhasil Membuat Ryn Moa Salah Tingkah Hari Ini’.

“Tapi aku serius,” katanya sambil berkedip cepat.

Nada suaranya ringan, hampir main-main. Namun di balik itu, ada sesuatu yang tidak ia ucapkan. Sesuatu yang ia sendiri belum sepenuhnya pahami. Ia tidak mengatakan bahwa melihat Ryn Moa bereaksi seperti itu membuat dadanya terasa hangat. Ia tidak mengatakan bahwa ia mulai menunggu momen-momen kecil seperti ini. Ia hanya membiarkan semuanya mengalir, seperti kebiasaannya menghadapi perasaan dengan tawa dan candaan. Ryn Moa mendorong bahunya, tapi pipinya merah. Sentuhan itu singkat. Ringan. Hampir tidak berarti. Namun bagi siapa pun yang melihat, terutama dari kejauhan, momen itu tampak begitu akrab. Dan pemandangan itu… tidak luput dari seseorang.

Taehyung, yang sedang berdiri di depan kelas bersama Jungkook, memalingkan wajah pelan, seperti tidak sengaja melihat interaksi itu. Namun, sudut bibirnya turun sedikit, halus, hampir tidak terlihat… kecuali bagi Jungkook yang super peka.

Taehyung sebenarnya tidak berniat memperhatikan. Awalnya ia hanya berdiri santai, bersandar di dinding dengan tas selempang menggantung di bahu, menunggu dosen yang katanya ‘sebentar lagi datang’ sejak lima belas menit lalu. Ia menatap layar ponselnya sesekali, membalas pesan singkat, lalu menyimpannya kembali. Rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia sudah terbiasa dengan penundaan. Terbiasa dengan waktu yang molor. Terbiasa dengan kebosanan ringan yang datang sebelum kelas dimulai. Namun tawa Ryn Moa yang terdengar jelas meski teredam hiruk pikuk koridor, menarik perhatiannya tanpa permisi. Itu bukan tawa yang asing. Ia pernah mendengarnya sebelumnya. Namun kali ini, rasanya berbeda. Lebih lepas. Lebih hidup. Ada bagian dalam dirinya yang mengenali perubahan itu bahkan sebelum pikirannya sempat menganalisisnya.

“Kau kenapa?” tanya Jungkook, memiringkan kepala.

Ia mengikuti arah pandang Taehyung, lalu langsung mengerti.

“Tidak apa-apa,” jawab Taehyung cepat.

Jawaban refleks, Terlalu cepat. Seolah ia ingin menutup topik itu bahkan sebelum benar-benar dimulai. Jungkook menaikkan alisnya sedikit, tapi tidak langsung menanggapi. Ia sudah cukup lama berteman dengan Taehyung untuk tahu bahwa “tidak apa-apa” sering kali berarti “ada sesuatu, tapi aku tidak mau membicarakannya”. Tetapi matanya masih mengikuti sosok Ryn Moa yang kini tertawa karena J-hope sedang mempraktekkan gaya model runway di lorong kampus.

J-hope berjalan maju mundur dengan gaya berlebihan, bahu ditegakkan, dagu diangkat, langkah dibuat panjang seperti sedang berada di panggung Paris Fashion Week versi kampus. Beberapa mahasiswa lain melirik, ada yang tertawa, ada pula yang menggeleng tak habis pikir. Ada yang merekam diam-diam. Ada yang bertepuk tangan kecil. Dan J-hope tentu saja menikmati setiap detiknya. Ryn Moa menutup mulutnya sambil tertawa, matanya menyipit karena terlalu senang. Ia bahkan lupa menahan diri. Lupa siapa saja yang mungkin memperhatikan. Lupa bahwa biasanya ia akan merasa canggung dalam situasi seperti ini. Dan saat itu, tanpa bisa ia cegah… Taehyung menyadari ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya pada Ryn Moa, Tapi juga pada dirinya sendiri.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!