Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
CEMBURU YANG TIDAK TERKENDALI
Hari Minggu pagi, Khatulistiwa datang ke rumah Tenggara untuk belajar bersama menyusun makalah tentang sejarah kerajinan makanan tradisional Sulawesi Selatan. Mereka duduk di ruang tamu yang teduh, dengan buku-buku dan catatan tersebar rapi di atas meja besar kayu.
"Aku menemukan beberapa referensi menarik tentang proses pembuatan burasa dan cara penyajiannya pada acara adat," ucap Khatulistiwa dengan antusias sambil menunjukkan halaman buku yang dia bawa.
"Bahkan ada catatan tentang bagaimana makanan ini digunakan sebagai simbol persahabatan antara kerajaan-kerajaan di masa lalu."
Tenggara hanya mengangguk dengan tidak terlalu fokus, matanya sering melirik ke arah pintu seperti sedang menunggu sesuatu. Khatulistiwa merasa ada yang tidak beres dengan teman lamanya tersebut. "Kamu tidak apa-apa kan, Tenggara? Kamu terlihat kurang fokus saja."
"Ah, tidak apa-apa," jawabnya dengan senyum paksa. "Cuma sedikit lelah saja karena kerja proyek kampus kemarin malam."
Namun beberapa menit kemudian, ketika Khatulistiwa sedang menjelaskan poin penting dalam makalah mereka, ponselnya berbunyi. Dia melihat layar dan tersenyum lebar sebelum menjawab panggilan suara. "Halo Danes, apa kabarmu?"
Tenggara langsung merasakan sesuatu yang terbakar di dalam dadanya ketika mendengar nama tersebut. Dia mencoba tetap tenang namun matanya tidak bisa tidak mengikuti gerakan Khatulistiwa yang sedang berbicara dengan senyum ceria.
"Oh benar ya, ide kamu tentang pameran makanan tradisional itu menarik sekali... Boleh saja kamu bergabung dengan kelompok kita... Tentu, kita bisa bertemu di kampus besok untuk membicarakannya lebih lanjut..."
Setelah mengakhiri panggilan, Khatulistiwa kembali fokus pada makalah mereka. "Danes ingin bergabung dengan kelompok kita untuk proyek pameran makanan tradisional. Katanya dia punya ide menarik tentang bagaimana mempromosikan produk-produk lokal melalui acara tersebut."
Tenggara akhirnya tidak bisa menahannya lagi. "Mengapa kamu harus menerima dia? Kamu tahu kan bagaimana perilakunya selama ini!" ucapnya dengan suara yang lebih keras dari biasanya.
Khatulistiwa terkejut melihat reaksi Tenggara yang tidak biasa. "Apa masalahnya? Dia sudah berubah dan ingin membantu dengan baik kok. Kita butuh semua dukungan yang bisa kita dapatkan untuk membuat proyek ini sukses."
"Ataukah kamu sudah mulai merasa nyaman dengan dia?" tanya Tenggara dengan nada yang sedikit menyakitkan. "Aku melihat bagaimana kamu tersenyum ketika dia meneleponmu tadi!"
Khatulistiwa merasa tersinggung dengan kata-kata tersebut. "Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Aku hanya menerima bantuan saja. Bukankah kamu sendiri yang selalu bilang kita harus saling membantu satu sama lain di kampus?"
"Aku tahu, tapi bukan dengan orang seperti dia!" jawab Tenggara dengan emosi yang mulai meningkat. "Dia hanya ingin mengambil keuntungan dari kamu, seperti yang dia lakukan pada perempuan lain sebelumnya!"
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia sekarang!" balik Khatulistiwa dengan suara yang juga naik. "Dia sudah meminta maaf dan berusaha untuk berubah. Mengapa kamu tidak mau memberinya kesempatan yang sama seperti yang kamu berikan pada orang lain?"
Perdebatan mereka semakin memanas hingga akhirnya Khatulistiwa berdiri dengan marah. "Aku tidak bisa bekerja denganmu saat kamu dalam kondisi seperti ini. Aku pulang saja dulu."
Tanpa menunggu jawaban, dia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah Tenggara dengan hati yang sangat sakit. Tenggara hanya bisa duduk terdiam, menyadari bahwa dia telah berkata hal-hal yang tidak pantas dan menyakiti perasaan orang yang paling dia cintai.
Nenek Fatimah yang sedang berada di dapur mendengar seluruh perdebatan tersebut kemudian mendekat ke cucunya. "Apa yang telah kamu lakukan, cucu?" ucapnya dengan suara yang lembut namun tegas. "Khatulistiwa adalah anak yang baik hati dan selalu melihat sisi baik dari setiap orang. Kamu tidak boleh menyalahkannya hanya karena kamu merasa cemburu."
"Tapi Nenek, aku khawatir dia akan terluka lagi seperti sebelumnya," jawab Tenggara dengan suara yang penuh penyesalan. "Aku tidak bisa melihatnya tersakiti karena orang lain."
"Kamu harus mempercayainya dan mempercayai pilihan yang dia buat," jelas nenek Fatimah dengan penuh hikmat. "Cemburu adalah tanda bahwa kamu mencintainya, tapi kamu tidak boleh membiarkannya menguasai dirimu dan membuatmu berkata hal-hal yang menyakitkan. Pergilah mencari dia dan minta maaf dengan tulus."
Tenggara mengangguk dengan penuh rasa menyesal. Dia segera mengambil sepeda motornya dan pergi mencari Khatulistiwa. Setelah berkendara selama beberapa menit, dia menemukan dia sedang duduk di taman kecil dekat rumahnya, menangis pelan sambil melihat ke arah danau kecil di tengah taman.
Dia berhenti sepedanya dan mendekat dengan hati-hati. "Khatulistiwa... maafkan aku."
Khatulistiwa menoleh dengan mata merah karena menangis. "Mengapa kamu berkata hal-hal seperti itu padaku?"
"Aku tidak punya alasan yang baik," jawab Tenggara dengan suara yang penuh penyesalan. "Aku hanya merasa cemburu dan khawatir kamu akan terluka. Tapi aku salah besar untuk tidak mempercayaimu dan berkata hal-hal yang menyakitkan. Aku sangat menyesal."
Khatulistiwa menghela nafas perlahan. "Aku mengerti bahwa kamu khawatir padaku, Tenggara. Tapi kamu harus mempercayai aku bahwa aku tahu apa yang aku lakukan. Danes memang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi dia berusaha untuk berubah dan aku ingin memberinya kesempatan."
"Aku mengerti," ucap Tenggara dengan lembut. "Aku akan mencoba untuk menerima dia dan bekerja sama dengannya dengan baik. Yang penting kamu aman dan bahagia."
Mereka diam sejenak sebelum Khatulistiwa membuka mulutnya lagi. "Kamu tahu tidak, Tenggara? Aku sangat senang kamu cemburu karena itu berarti kamu benar-benar peduli padaku. Tapi jangan pernah lagi menyalahkanku tanpa tahu kebenarannya ya."
"Tidak akan pernah lagi," janjinya dengan serius. "Aku akan selalu mempercayaimu dan berbicara dengan terbuka jika ada yang membuatku khawatir