Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Berdarah
Aku tidak tidur semalaman. Hanya berbaring menatap langit-langit sambil pikiran berputar-putar seperti roda yang tidak bisa berhenti. Lorenzo. Cerutu. Kulit yang terbakar. Bau daging hangus yang masih menempel di hidungku walau sudah berjam-jam.
Dan tawaran kabur itu.
Gerbang belakang. Pukul dua pagi. Lorenzo bilang dia akan menunggu. Tapi aku tidak datang. Tentu saja tidak datang. Karena aku tahu itu jebakan. Entah dari Lorenzo atau dari Damian sendiri. Tidak ada bedanya, keduanya sama-sama berbahaya.
Pagi datang dengan pelayan yang membawa gaun lain. Gaun hitam panjang dengan detail renda di bagian lengan. Elegan tapi terasa seperti gaun berkabung.
"Malam ini akan ada acara, Nyonya," kata pelayan itu sambil meletakkan gaun di tempat tidur. "Jamuan keluarga besar Vincenzo. Tuan Damian meminta Nyonya untuk bersiap."
Keluarga besar, berarti akan ada lebih banyak orang seperti Lorenzo. Lebih banyak predator yang bersembunyi di balik senyum yang sopan.
"Berapa banyak yang akan datang?" tanyaku.
"Sekitar dua puluh orang, Nyonya. Paman, bibi, sepupu. Keluarga besar dari keluarga Vincenzo."
Dua puluh orang, dua puluh monster dalam satu ruangan. Dan aku harus duduk di sana, tersenyum, berpura-pura seperti istri yang bahagia.
***
Malam datang terlalu cepat, atau mungkin aku yang berharap waktu berjalan lebih lambat. Tapi waktu tidak peduli dengan harapan. Dia terus berjalan. Membawa aku lebih dekat ke mimpi buruk berikutnya.
Aku sudah siap. Gaun hitam pas di tubuh, rambut ditata rapi. Makeup menutupi wajah pucat dan mata bengkak. Dari luar, aku terlihat sempurna, tapi dari dalam, aku hancur berkeping-keping.
Damian masuk tanpa mengetuk. Seperti biasa. Mengenakan jas hitam dengan dasi perak, terlihat seperti raja yang akan menghadiri pesta kerajaan.
Atau algojo yang akan mengeksekusi tawanan. Dia berhenti di depanku. Menatapku dari atas sampai bawah.
"Indah sekali," katanya. Lalu dia meraih sesuatu dari sakunya, sebuah kotak kecil berlapis beludru, lalu ia membukanya.
Sebuah kalung berlian yang besar, dan mengkilat di bawah cahaya lampu. Terlihat indah dan begitu mahal. Tapi rasanya seperti sebuah rantai.
Dia berjalan ke belakangku. Mengalungkan kalung itu di leherku. Jari-jarinya menyentuh kulit leherku ketika mengaitkan pengaitnya. Dingin. Seperti menyentuh mayat.
"Sempurna," bisiknya di telingaku. "Malam ini kau akan bertemu keluargaku. Keluarga yang tersisa setelah ayahmu membantai yang lain."
Aku menatap pantulannya di cermin. Berdiri di belakangku. Tinggi, gelap, dan begitu menakutkan.
"Apa mereka tahu tentang ayah?" tanyaku pelan.
"Semua orang tahu," jawabnya. "Itulah kenapa mereka akan datang. Mereka datang untuk melihat putri pembunuh, yang sekarang jadi bagian dari keluarganya. Untuk menilai, dan untuk menghakimi."
Tangannya bergerak ke bahuku, lalu ia menggenggamnya.
"Tapi kau tidak usah takut," lanjutnya. "Karena kau milikku, dan siapa pun yang menyentuhmu dia akan mati."
Itu bukan menenangkan, tapi itu sebuah ancaman. Ancaman untuk mereka, dan untukku juga.
***
Ruang makan besar sudah penuh ketika kami turun. Meja panjang dengan taplak putih bersih. Lilin-lilin menyala di mana-mana. Peralatan makan perak mengkilat. Makanan mewah tersaji di piring porselen.
Dan orang-orang. Banyak orang yang duduk di sepanjang meja. Semua mengenakan pakaian mahal. Semua menatap kami ketika kami masuk.
Lebih tepatnya, menatap aku.
Dengan tatapan yang membuat kulitku merinding. Ada kebencian di sana. Rasa ingin tahu. Amarah. Dan sesuatu yang lebih gelap lagi. Damian membimbingku ke ujung meja. Tempat duduk utama. Dia duduk di kursi kepala meja. Aku di sampingnya.
"Selamat datang, keluarga," kata Damian dengan suara keras. Semua percakapan berhenti. "Terima kasih sudah datang. Aku ingin kalian bertemu istriku, Alexa."
Semua mata tertuju padaku. Aku mencoba tersenyum, tapi rasanya seperti memakai topeng yang retak.
"Dia cantik sekali, Damian," kata seorang wanita tua di seberang meja. Wajahnya keriput tapi matanya begitu tajam. "Sangat cantik, dan kudengar, dia cantik seperti ibunya."
"Tante Clara selalu punya mata yang baik," jawab Damian sambil menuangkan wine ke gelasku.
"Dan ayahnya?" tanya pria gemuk di ujung sana. Suaranya keras. Provokatif. "Bagaimana dengan ayahnya yang membunuh keluarga kita?"
Ruangan langsung senyap, dan berubah menjadi tegang. Damian meletakkan botol wine perlahan. Menatap pria itu dengan tatapan dingin.
"Paman Vittorio selalu langsung ke intinya," katanya. Suaranya tenang tapi ada bahaya di sana.
Vittorio. Paman Damian. Pria gemuk dengan wajah merah dan mata yang berkilat amarah.
"Aku hanya ingin tahu," kata Vittorio sambil mengambil gelas wine-nya, "kenapa keponakan kesayanganku harus menikahi putri, dari musuh bebuyutan kita. Apa karena cinta?"
Dia tertawa. Tawa yang sarkastik.
"Atau karena ada alasan lain?"
"Alasan apa yang paman maksud?" tanya Damian. Masih tenang. Terlalu tenang.
"Kau tahu apa yang kumaksud," kata Vittorio sambil bersandar di kursi. "Kau selalu punya rencana, Damian. Sejak kecil. Sejak kau yah... mengambil alih posisi ayahmu."
Ruangan semakin senyap. Semua orang menatap dengan napas tertahan.
"Hati-hati dengan kata-katamu, paman," kata Damian pelan.
"Atau apa?" tantang Vittorio. "Kau akan bunuh aku seperti kau membunuh ayahmu dulu?"
KRAK!
Gelas wine di tangan Damian pecah. Serpihan kaca jatuh ke meja. Darah mengucur dari tangannya. Tapi dia tidak bergerak. Hanya menatap Vittorio dengan tatapan yang membuat darahku membeku.
"Aku tidak membunuh ayahku," katanya. Setiap kata keluar dengan sangat jelas.
"Benarkah?" Vittorio berdiri. Wajahnya merah padam. "Lalu kenapa dia mati dengan peluru di kepalanya, tepat setelah kau bertengkar dengannya? Tepat setelah dia bilang akan mencabut hakmu sebagai pewaris?"
Aku menatap Damian, jantungku berdetak kencang. Apa yang paman ini bicarakan?
"Itu bunuh diri," kata Damian. Suaranya mulai bergetar. Sedikit. "Dia depresi setelah keluarga kita dibantai. Dia..."
"BOHONG!" teriak Vittorio. "Aku tahu! Aku yang menemukan mayatnya! Ada tanda perjuangan! Dia dibunuh! Dan hanya kau yang ada di rumah malam itu!"
Dia menunjuk Damian dengan jari gemetar.
"Kau membunuh ayahmu sendiri untuk merebut tahta! Dan sekarang kau menikahi putri pembunuh keluarga kita! Untuk apa? Untuk menghinakan kita semua?"
Damian berdiri perlahan. Seperti binatang buas yang bangun dari tidur.
"Duduklah, paman," katanya pelan. Berbahaya.
"Tidak!" Vittorio juga melangkah mendekat. "Aku sudah diam terlalu lama! Dua puluh tahun aku diam! Tapi sekarang kau membawa wanita itu ke rumah ini, putri pembunuh itu, aku tidak akan diam lagi!"
Dia meludah ke arah kakiku. Semuanya terjadi sangat cepat setelah itu. Damian bergerak seperti kilat. Meraih garpu perak dari meja. Dan menusukkannya tepat ke mata kiri Vittorio.
Jeritan yang mengerikan memenuhi ruangan. Vittorio jatuh ke lantai. Tangannya memegang wajahnya, darah mengalir dari mata yang tertusuk garpu. Garpu yang masih menancap di sana.
"DAMIAN!" seseorang berteriak.
Tapi Damian tidak berhenti. Dia berjongkok di samping Vittorio. Menarik garpu itu keluar secara perlahan. Sangat perlahan. Vittorio menjerit lebih keras, tubuhnya bergetar hebat.
"Kau bilang aku membunuh ayahku," kata Damian sambil menatap garpu berdarah di tangannya. "Kau benar sekali."
Ruangan membeku. Semua orang langsung terdiam.
"Aku membunuhnya," lanjut Damian. Suaranya dingin. "Karena dia lemah. Karena dia ingin damai dengan pembunuh keluarga kita. Karena dia hanya seorang pengecut."
Dia menatap semua orang yang duduk di meja.
"Dan aku mengambil alih posisinya. Membangun kerajaan ini dari abu, menjadikannya lebih kuat, lebih kaya, dan lebih berkuasa."
Dia berdiri. Menatap ke bawah pada Vittorio yang masih berdarah.
"Jadi ya... aku membunuh ayahku. Dan aku akan membunuh siapa pun yang mencoba menghalangi kekuasaanku."
Lalu dia menusukkan garpu itu lagi. Kali ini ke mata kanan Vittorio. Jeritan terdengar lagi, bahkan lebih keras, dan lebih mengerikan.
Kekacauan meledak. Orang-orang berdiri, berteriak, dan berlarian. Beberapa mencoba keluar tapi pengawal sudah mengunci semua pintu.
Tiga pria yang sepertinya saudara Vittorio bangkit. Mencoba menyerang Damian. Marco dan pengawal lain langsung bergerak. Tembakan meledak. Satu. Dua. Tiga.
Tubuh-tubuh berjatuhan. Aku hanya duduk di sana. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa berteriak. Hanya menatap dengan mata terbuka lebar pada kekacauan di depanku.
Darah di mana-mana. Di lantai marmer putih. Di taplak meja putih. Di piring-piring porselen.
Empat orang mati dalam hitungan menit. Dan Damian berdiri di tengahnya. Seperti raja yang berdiri di atas gunung mayat musuh-musuhnya. Dia berbalik menatapku. Wajahnya terciprat darah, matanya begitu gelap. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu seperti kesedihan?
"Sekarang kau tahu kan," katanya pelan. Hanya untuk aku dengar. "Sekarang kau tahu, monster macam apa yang kau nikahi ini."
Dia membunuh ayahnya sendiri. Dia membunuh ayahnya sendiri hanya untuk kekuasaan. Dan aku menikah dengan pembunuh itu.
Lutut terasa lemas. Kepala berputar. Aku jatuh dari kursi. Tapi sebelum kepalaku membentur lantai, tangan Damian menangkapnya lalu mengangkatku, dan menggendongku.
"Sssttt..." bisiknya sambil membawaku keluar dari ruang makan. "Sudah selesai, semuanya sudah selesai."
Tapi tidak ada yang selesai, mimpi buruk ini tidak akan pernah selesai. Di koridor, aku masih bisa mendengar tangisan. Suara orang-orang yang masih hidup, yang harus melihat keluarga mereka mati.
Seperti aku yang harus melihat ayahku mati. Seperti Damian yang membunuh ayahnya sendiri.
Kami semua sama, sama-sama hancur, rusak, dan hilang di kegelapan yang tidak ada ujungnya. Damian membawaku ke kamar. Membaringkan aku di tempat tidur, lalu duduk di sampingku.
"Maafkan aku," bisiknya sambil mengelus rambutku. "Maafkan aku yang harus membuatmu melihat itu."
Tapi aku tidak mendengar, aku hanya menatap langit-langit dengan mata kosong.
Dia membunuh ayahnya sendiri. Jika dia bisa membunuh ayahnya sendiri, apa yang membuatku berpikir dia tidak akan membunuhku suatu hari nanti?
Apa yang membuatku berpikir dia benar-benar peduli padaku?
Mungkin aku hanya alat, seperti yang dia bilang dari awal. Alat untuk balas dendam, dan ketika alat itu sudah tidak berguna lagi, dia akan membuangnya. Atau membunuhnya, seperti dia membunuh semua orang yang menghalangi jalannya.
Air mata mengalir di pelupuk mataku. Tapi aku tidak menangis, aku bahkan tidak merasakan sedih. Aku tidak merasakan apapun lagi, semuanya benar-benar kosong.
Damian terus mengelus rambutku. Berbisik kata-kata yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak ada yang bisa menenangkan jiwa yang sudah mati.
Dan jiwaku sudah mati di altar pernikahan itu, ketika peluru pertama menembus kepala ayahku. Sisanya hanya mayat yang masih berjalan, menunggu giliran untuk benar-benar mati.
Tapi satu pertanyaan terus bergema di pikiranku yang kosong: jika Damian bisa membunuh ayahnya sendiri demi kekuasaan, jika dia bisa menusuk mata pamannya sendiri di meja makan, jika dia bisa melakukan semua itu tanpa ragu, apa lagi yang akan dia lakukan?
Apa yang terjadi ketika aku sudah tidak berguna lagi untuknya? Dan yang paling menakutkan, apakah dia mencintaiku, atau aku hanya mainan yang akan dia hancurkan ketika dia sudah bosan?