NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: KEBENARAN YANG TAK TERBANTAHKAN

Seluruh aula membeku. Julian mematung, map di tangannya terjatuh ke lantai. Ia merasa seperti baru saja ditampar di depan umum. Rahasia yang ingin ia jadikan senjata justru sudah diledakkan sendiri oleh Revan dengan cara yang sangat terhormat.

Revan belum selesai. Ia menekan tombol lain di remot kontrolnya. Muncul sebuah draf laporan polisi.

"Kami sudah mengantongi alamat IP pengunggah pertama foto ini. Dan saya sangat menyarankan kepada siapa pun yang merasa terlibat dan bekerja sama dengan pengunggah tersebut, untuk segera menyiapkan pengacara terbaik kalian. Karena saya tidak akan menerima kata maaf."

Revan menutup mapnya dengan bunyi berdentum yang sangat memuaskan. Ia turun dari podium, melewati kerumunan mahasiswa yang kini menatapnya dengan rasa hormat sekaligus takut.

Luar Aula

Di ujung koridor, Hendrawan dan Adrian baru saja sampai. Mereka mendengar keributan itu. Adrian tampak sangat pucat, ia tidak menyangka Revan akan menyerang balik secara terbuka dan bahkan mengancam akan membongkar "kerjasama" pengunggah foto.

"Kau membongkarnya, Revanza?" geram Hendrawan sambil menghampiri Revan. "Kau mempermalukan nama Adiwijaya dengan mengakui pernikahan ini di depan publik!"

Revan menatap mertuanya tanpa rasa takut sedikit pun. Ia mendekat, berbisik tepat di telinga Hendrawan, namun matanya melirik tajam ke arah Adrian.

"Papa harusnya berterima kasih. Karena jika aku tidak mengakuinya sebagai istri, aku akan membongkar di depan media bahwa putra kesayangan Papa-lah yang menyebarkan foto adiknya sendiri di klub malam. Pilih mana, Pa? Skandal pernikahan dosen, atau skandal kakak yang mencoba menghancurkan adiknya demi harta?"

Hendrawan terdiam, wajahnya berubah pucat pasi. Adrian mencoba mundur, namun Revan menahan bahunya dengan cengkeraman yang menyakitkan.

"Permainanmu selesai, Adrian. Jangan pernah mendekati Valerie lagi, atau surat audit medis palsumu akan sampai ke meja dewan kedokteran sore ini juga."

Revan melepaskan cengkeramannya, lalu berjalan pergi menuju kantornya di mana Valerie sedang menunggu.

Revan berjalan dengan langkah mantap, mengabaikan tatapan syok dari rekan-rekan dosen hukum lainnya yang masih mematung di koridor. Setiap ketukan pantofelnya di lantai aula seolah menegaskan bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi tempat bersembunyi bagi siapa pun yang mencoba menyentuh istrinya.

Begitu sampai di depan pintu kantornya, Revan menarik napas panjang untuk menetralkan sisa kemarahan yang masih bergejolak di dadanya. Ia tidak ingin Valerie melihat sisi "monster" yang baru saja ia tunjukkan pada Adrian.

Di dalam ruangan, Valerie duduk di kursi kerja Revan yang besar, memeluk kedua lututnya dengan wajah pucat. Namun, begitu melihat sosok Revan masuk, ia langsung berdiri.

"Mas... apa yang terjadi? Aku dengar suara gaduh dari aula," bisik Valerie cemas.

Revan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menghampiri Valerie dan menarik gadis itu ke dalam pelukan erat, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Valerie. "Semuanya sudah berakhir, Erie. Tidak akan ada lagi rahasia. Tidak akan ada lagi yang berani menunjukmu dengan telunjuk mereka."

Valerie tertegun, ia merasakan tangan Revan yang biasanya kokoh kini sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena menahan emosi yang luar biasa untuk melindunginya. "Mas... kau benar-benar mengumumkannya? Karirmu..."

​"Karirku tidak ada artinya jika aku membiarkan istriku dihina di rumahku sendiri," jawab Revan serak. Ia melonggarkan pelukan, menangkup wajah Valerie dan mencium keningnya lama. "Aku sudah selesai bersikap sopan pada keluargamu. Dan aku sudah selesai membiarkan Julian merasa punya peluang."

​Flashback: 48 Jam yang Lalu – Ruang Kerja Pribadi Julian

​Malam itu, suasana di kantor Julian jauh dari kesan akademis yang suci. Di atas mejanya, berserakan cetakan foto-foto buram Valerie di sebuah klub malam. Di hadapannya, Adrian Adiwijaya duduk dengan kaki menyilang, menyesap cerutu dengan angkuh.

​"Kau yakin ini cukup untuk menjatuhkan Revan?" tanya Julian, matanya berkilat penuh ambisi sekaligus dendam karena merasa harga dirinya sebagai 'pria idaman kampus' terinjak oleh sikap dingin Revan.

​Adrian tertawa kecil, suara tawa yang kering dan manipulatif. "Pak Julian, kau terlalu polos. Di dunia hukum, fakta itu penting, tapi di dunia publik, persepsi adalah segalanya. Jika foto-foto ini tersebar dengan narasi bahwa Valerie adalah wanita liar yang 'dipelihara' oleh walinya sendiri, menurutmu berapa lama dewan etik fakultas akan mempertahankan Revan?"

​Julian mengusap dagunya, menatap foto Valerie dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia sangat cantik di sini. Sayang sekali jika reputasinya hancur."

​"Jangan munafik, Julian," potong Adrian tajam. "Kau menginginkan Valerie, dan kau membenci Revan karena dia menghalangi jalanmu. Aku ingin Valerie kembali ke rumah agar aku bisa mengurus aset kakek tanpa gangguannya. Kita punya musuh yang sama."

​Adrian menyodorkan sebuah flashdisk hitam ke arah Julian.

​"Di dalam ini ada alamat IP yang sudah aku siapkan lewat pihak ketiga. Unggah foto-foto ini lewat akun anonim dari area kampus besok pagi saat Revan sedang rapat senat. Buat dia tidak punya waktu untuk bereaksi. Biarkan massa yang menghakiminya. Setelah Revan dipecat karena skandal moral, kau bisa tampil sebagai pahlawan yang menyelamatkan Valerie dari 'wali predator' itu, bukan?"

​Julian tersenyum miring. Rencana itu sempurna. Ia meraih flashdisk tersebut. "Dan kau yakin ayahmu tidak akan marah?"

​"Papa? Dia hanya peduli pada nama baik," jawab Adrian santai. "Begitu Revan jatuh, aku akan meyakinkan Papa bahwa Valerie butuh 'perawatan kejiwaan' di tempat rekanku. Dia akan hilang dari peredaran, dan Revan tidak akan punya kekuatan hukum lagi untuk mencarinya."

​Keduanya bersulang dengan gelas berisi wiski, merayakan kehancuran Revan dan Valerie yang mereka pikir sudah di depan mata. Mereka tidak menyadari bahwa Revanza, pria yang mereka remehkan sebagai "pesuruh kakek", telah memasang penyadap di perangkat yang digunakan Adrian untuk mengakses data lama Valerie.

​Kembali ke Masa Kini

​Di dalam kantornya, Revan menuntun Valerie untuk duduk kembali. Ia mengambil ponselnya yang kini dipenuhi pesan singkat dari Dekan dan Rektor yang meminta penjelasan, namun Revan mengabaikan semuanya.

​"Julian berpikir dia sangat pintar," gumam Revan sambil mengusap jemari Valerie. "Dia tidak tahu bahwa setiap langkah yang dia ambil bersama Adrian sudah tercatat dalam log server yang aku retas semalam."

​Valerie menatap suaminya dengan tatapan tak percaya. "Jadi, kau sudah tahu kalau Pak Julian terlibat?"

"Aku sudah curiga sejak dia mengirimkan pesan makan siang itu, Erie. Pria yang menggunakan alasan kesehatan keluarga untuk mendekati wanita tidak akan berhenti di situ. Dia haus akan validasi," Revan mengecup punggung tangan Valerie.

"Sekarang, biarkan mereka panik. Adrian akan sibuk mencoba menyelamatkan ijin praktiknya, dan Julian... dia akan menyadari bahwa pintu Fakultas Hukum ini sudah tertutup selamanya untuknya."

Revan berdiri, mengambil jasnya dan memakaikannya ke bahu Valerie yang kecil. "Ayo pulang. Aku tidak ingin kau menghirup udara di gedung ini lebih lama lagi untuk hari ini."

Saat mereka keluar dari kantor, koridor sudah sepi, namun di ujung jalan, mereka melihat Julian berdiri dengan wajah hancur, menatap mereka dari kejauhan. Revan tidak berhenti, ia bahkan tidak melirik. Ia hanya merangkul pinggang Valerie dengan protektif, menunjukkan pada dunia bahwa badai sebesar apa pun tidak akan bisa memisahkan apa yang sudah disatukan oleh janji di depan Tuhan dan hukum.

1
Lilik Juhariah
konflik jangan extrime kak
My: tenang kak, othor pecinta perdamaian 🤭
total 1 replies
Lilik Juhariah
aduuuh
Lilik Juhariah
waduh , Erri harus kasih tau tu kelakuan nadia
Lilik Juhariah
gak gitu juga kali Revan , Erie bukan manekin
Lilik Juhariah
aduhh Revan jangan sampe makan minum apapun ntar dimasukin obat perangsang, aku yakin author GK buat alur sprt kebanyakan novel
Lilik Juhariah
seru kalau fokus sama Hoby , kayak makan ikan asin nasi hangat sama Pete wkkw
Lilik Juhariah
ya karena Nadia selalu deketin Revan makanya Revan bilang gak mau terikat emosional buat nolak kamu Nad
Lilik Juhariah
astagaaa Nadia, bagus Lo ceritanya ,
Lilik Juhariah
gak Eri gak seperti yg kamu bayangkan
Lilik Juhariah
untung ada Revan , ini produk ambisi orang tua,
Lilik Juhariah
om Revan keren tegas
Lilik Juhariah
karya author bagus banget , setiap kata demi kata bikin aku terpukau
Lilik Juhariah
ceritanya bagus banget , thor , aku suka ,
Lilik Juhariah
gak ada bukti , kekerasan mana
Lilik Juhariah
aduuuh cepet datang revan
sweet chil
wah.. mantab Thor aku otw, tapi tunggu baca 2 bab lagi yah 🤭
My: Siap, aku selalu menunggumu 🥰🤭
total 1 replies
sweet chil
wah .. ada gila-gila nya ini si Adrian
My: hehehe.. 🤭
total 1 replies
putri
wahh.. emak macem apa ini?
sweet chil
gak kebayang sih kalo jdi Valerie.. untungnya masih ada Revan
sweet chil
Revan sweet banget yah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!