"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
Ke esokan paginya, Keyla sudah berada di Kampus. Ia duduk sendirian di pojok kafe fakultas untuk menunggu kedatangan Vino.
"Mana sih dia? Jangan-jangan cuma omong kosong doang mau bantu," gerutu Keyla sambil mengaduk jus jeruknya.
"Key! Lo ngapain di sini kayak buronan?"
Keyla tersentak. Rena muncul dengan napas terengah-engah, langsung menjatuhkan tasnya di kursi sebelah Keyla.
"Re, syukurlah lo dateng. Gue butuh bantuan lo buat jaga pintu kalau-kalau ada orang yang gue kenal lewat," bisik Keyla serius.
Rena mengernyitkan dahi. "Jaga pintu? Lo mau ngerampok bank kampus? Key, lo beneran kacau ya semenjak masalah foto itu? Gue udah denger dikit-dikit dari grup angkatan, katanya bokap lo marah besar?"
Keyla mengangguk lesu. "Bukan marah lagi, Re. Gue dikurung, ponsel gue hampir disita kalau gue nggak pinter sembunyiin. Tante Siska... dia dalang di balik semua ini. Dia kirim foto-foto gue sama Om Arlan ke Papa dengan narasi kalau Om Arlan itu predator."
"Sialan! Terus Om Arlan gimana?"
"Dia mau jadi pahlawan kesiangan dengan cara menjauh dulu. Katanya buat jaga reputasi gue. Padahal gue nggak butuh reputasi, gue butuh dia di samping gue!" Keyla mengepalkan tangannya. "Makanya, gue janjian sama Kak Vino di sini. Gue butuh rekaman CCTV gerbang kampus malam itu. Gue yakin ada mobil atau orang mencurigakan yang ngikutin mobil Om Arlan."
Rena melotot. "Vino? Mentor ganteng yang kayaknya naksir lo itu? Key, lo gila ya? Itu namanya keluar dari mulut buaya masuk ke mulut harimau!"
"Gue nggak punya pilihan, Re. Cuma dia yang punya akses ke anak-anak IT dan BEM buat minta rekaman itu tanpa prosedur ribet."
Tepat saat itu, Vino muncul. Ia masih terlihat sesempurna biasanya, mengenakan jaket almamater dengan senyum yang sulit dibaca. Ia membawa sebuah flashdisk di tangannya, memainkannya seperti sebuah kunci emas.
"Hai, Key. Hai, Rena," sapa Vino santai sambil duduk di hadapan mereka.
Rena menatap Vino dengan tatapan menyelidik. "Mana barangnya? Jangan bilang lo cuma mau modus doang."
Vino tertawa kecil, ia meletakkan flashdisk itu di meja, tapi menutupinya dengan telapak tangan saat Keyla hendak meraihnya. "Sabar, Keyla. Gue udah dapetin apa yang lo mau. Rekaman CCTV gerbang utara jam tujuh malam. Ada mobil Honda Jazz silver yang parkir di seberang jalan sejak satu jam sebelum mobil pacar lo itu dateng. Dan tebak siapa yang turun buat ambil foto?"
"Siapa?!" tanya Keyla dan Rena serempak.
"Seorang pria paruh baya, kayaknya fotografer sewaan. Tapi di akhir rekaman, dia nyamperin mobil mewah warna krem. Mobil yang sama yang lo ceritain ke gue kemarin," ucap Vino.
Keyla bernapas lega. "Itu Siska! Gue tau itu dia!"
"Tapi, Key..." Vino menatap Keyla dalam-dalam. "Gue nggak ngasih ini gratis. Gue udah mempertaruhkan reputasi gue di depan anak-anak IT buat ambil ini."
Rena mendengus. "Udah gue duga. Mau apa lo? Uang? Keyla bisa bayar."
Vino menggeleng, dengan matanya yang tetap tertuju pada Keyla. "Gue nggak butuh uang. Gue cuma mau Keyla ikut gue ke acara gathering fakultas Sabtu malam nanti. Sebagai pasangan gue. Cuma satu malam, setelah itu flashdisk ini milik lo."
"Nggak bisa! Sabtu malam gue ada jan—" Keyla terdiam. Ia ingat Arlan sedang menjauhinya, itu artinya ia tidak punya janji apa pun Sabtu ini.
"Key, jangan!" bisik Rena. "Kalau Om Arlan tau, dia bisa meledak!"
"Om Arlan lagi nggak ada, Re," ucap lirih Keyla. "Dia milih buat mundur. Kalau gue nggak dapet bukti ini, Papa nggak bakal pernah percaya lagi sama dia. Hubungan kami beneran tamat."
Keyla menatap Vino. "Oke. Sabtu malam. Tapi cuma sebagai temen, dan lo nggak boleh macem-macem."
Vino tersenyum penuh kemenangan, lalu ia menggeser flashdisk itu ke arah Keyla. "Kesepakatan yang adil. Gue jemput jam tujuh."
Setelah Vino pergi, Rena langsung memegang bahu Keyla. "Key, lo beneran nekat. Lo tau kan Arlan itu posesifnya level dewa? Kalau dia tau lo jalan sama Vino demi bersihin nama dia, dia bukannya seneng, malah mungkin ngerasa harga dirinya keinjek-injek."
"Gue lebih milih dia marah karena cemburu daripada dia pergi karena ngerasa bersalah, Re," jawab Keyla sambil menggenggam flashdisk itu ditangannya. "Besok, gue bakal kasih lihat ini ke Papa. Gue bakal tunjukin kalau wanita terhormat yang Papa bela itu cuma tukang fitnah."
Rena menghela napas, ia menarik jus jeruk Keyla dan meminumnya sampai habis. "Oke, terserah lo. Tapi kalau Sabtu malam nanti terjadi perang dunia ketiga di kampus, jangan bilang gue nggak peringatin lo ya."
Keyla hanya terdiam, menatap flashdisk di tangannya. Di pikirannya hanya ada satu bayangan wajah Arlan saat ia membuktikan bahwa cinta mereka pantas diperjuangkan, meski ia harus bermain api dengan pria lain untuk melakukannya.