NovelToon NovelToon
ASI Anak SMA

ASI Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia / Bad Boy / Perjodohan / Keluarga / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:22.1k
Nilai: 5
Nama Author: Malamfeaver

___

"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.

"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah

"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 terpaksa setuju

Suasana di dalam ruang privat restoran itu mendadak hening setelah Vanya dan Aiden kembali dari area taman. Vanya berjalan menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang masih memerah dan bibirnya yang terasa sedikit perih sebuah tanda nyata dari ciuman tegas Aiden yang merampas napasnya tadi.

​Aiden, di sisi lain, berjalan dengan langkah santai seolah tidak terjadi hal besar apa pun, meski tatapan matanya berkilat penuh kemenangan yang sulit disembunyikan.

​"Gimana, Vanya? Sudah tenang pikirannya?" tanya Papa Airlangga sambil menatap putrinya dengan tatapan menyelidik, mencoba membaca apa yang terjadi selama mereka di luar tadi.

​Vanya meremas ujung gaun putihnya dengan gugup. Ia melirik Aiden yang berdiri di sampingnya dengan wajah dingin yang menyebalkan, namun penuh kuasa.

"I-iya, Pa. Vanya setuju. menikah dengan Kak Aiden," ucap Vanya pelan, nyaris berbisik.

​Ia benar-benar merasa tidak punya pilihan lain. Ancaman Aiden tentang rahasia kondisi fisiknya jauh lebih menakutkan daripada ide pernikahan privat di usia muda ini. Setidaknya dengan Aiden, ia merasa ada seseorang yang paham situasinya.

​Mami Bella langsung bertepuk tangan ceria, wajahnya tampak sangat lega.

"Duh, pinter banget calon menantu Mami! Tenang saja, Vanya, urusan sekolah dan apartemen sudah Papi Mahesa atur dengan rapi. Kalian tinggal bawa badan dan fokus sekolah saja nanti."

​"Iya, yang penting Aiden bisa lebih stabil dan Vanya juga merasa nyaman," tambah Papa Andi Mahesa sambil menyesap kopinya dengan tenang.

"Malam ini kalian bisa mulai pendekatan lebih jauh. Aiden, kamu mau ajak Vanya ke mana?"

​Aiden melirik jam tangan mewahnya sejenak.

"Aiden minta izin bawa Vanya jalan-jalan sebentar, Pi. Mau cari beberapa keperluan pribadi untuk di apartemen nanti."

​"Boleh, boleh! Papa izinkan.

Hati-hati bawa mobilnya," sahut Papa Airlangga semangat.

​Tiba-tiba, sebuah suara mungil memecah percakapan serius orang dewasa itu. Vino, sang adik kecil Aiden, menarik-narik ujung kemeja kakaknya. Wajahnya yang bulat menggemaskan mendongak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​"Abwang... Abwang Aden... Iwuttt... Nino mau iwuttt awama Tata Anyaaa!" racau Vino dengan bahasa cadel khas anak kecil. Tata Anya adalah caranya yang unik memanggil Kakak Vanya.

​Vanya yang dasarnya memang sangat manja dan sangat menyukai anak kecil, langsung berlutut di depan Vino. "Duh, sayang... Vino mau ikut Kakak jalan-jalan ya?"

​"Nggak bisa, Vino," potong Aiden dengan suara dingin yang mutlak.

"Abang mau ada urusan orang dewasa. Kamu di sini saja sama Mami."

​"Nggak mawu! Mau iwut Tata Anyaaa! Huwaaaa!" Vino langsung meledak dalam tangisan yang kencang, kakinya menghentak-hentak lantai restoran yang mewah itu.

"Abwang Aden jahattt! Mami, bwang aden jahattt!"

​"Cup cup, Sayang. Sama Mami saja yuk, kita beli mainan baru lewat ponsel Papi," bujuk Mami Bella sambil menggendong Vino yang masih sesenggukan.

"Aiden, buruan pergi sana sebelum Vino makin histeris"

​Aiden segera menarik tangan Vanya menuju parkiran. Di dalam mobil sport berwarna abu-abu gelapnya, Aiden melajukan kendaraan membelah jalanan Jakarta yang masih cukup padat.

Sesekali, saat berhenti di lampu merah, Aiden melirik ke arah Vanya. Di pikirannya, ada rasa posesif yang semakin tumbuh kuat.

​Ia memikirkan bagaimana caranya agar Vanya bisa selalu berada di dekatnya tanpa harus merasa kesakitan akibat kondisi fisiknya itu.

Aroma manis dan segar yang dihasilkan tubuh Vanya kembali memenuhi kabin mobil, membuat Aiden merasa jauh lebih tenang dari biasanya. Ia merasa sangat beruntung karena hanya ia yang boleh merasakan kehadiran gadis ini sedekat ini.

​"Kak, kok liatin aku terus sih? Nyetir yang bener dong!" protes Vanya dengan sifat barbarnya, mencoba menutupi rasa gugup karena terus diperhatikan.

​"Gue cuma lagi mikir, gaun lo itu terlihat kurang nyaman. Apa nggak terlalu menekan di bagian... dada?" tanya Aiden sambil memberikan lirikan yang penuh arti.

​"Ih! Mesum banget sih" Vanya memukul lengan Aiden cukup keras, wajahnya kembali memanas.

​Mereka sampai di salah satu mal kelas atas di kawasan Jakarta Pusat. Karena hari sudah beranjak malam, suasana di sana terasa lebih elegan dan tenang.

Saat Vanya sibuk melihat-lihat deretan baju tidur dan perlengkapan wanita di sebuah butik mewah, Aiden memisahkan diri sejenak menuju area perlengkapan kesehatan yang lebih tertutup.

​Aiden berdiri di depan rak yang cukup tersembunyi. Matanya mencari sesuatu yang ia butuhkan sebagai bentuk tanggung jawabnya nanti setelah menikah.

Ia tahu, setelah mereka tinggal satu atap minggu depan, ia harus memastikan keamanan Vanya dalam segala hal. Ia mengambil beberapa perlengkapan kesehatan dan pelindung dengan berbagai varian, lalu membayarnya di kasir dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah sedang membeli keperluan biasa.

​Setelah itu, ia kembali menghampiri Vanya yang sedang tampak bingung memilih pakaian tidur. Namun, saat berjalan di koridor dekat sebuah kafe, seorang wanita dengan pakaian minim mencoba mencegat langkahnya.

​"Hei, Tampan... sendirian saja? Mau ditemani?" goda wanita itu sambil mencoba menyentuh lengan Aiden.

​Aiden hanya melirik wanita itu dengan tatapan sangat dingin dan penuh penghinaan.

Ia menepis tangan wanita itu dengan kasar sebelum kulit mereka bersentuhan. "Pergi sebelum gue panggil keamanan untuk menyeret lo keluar dari gedung ini," desis Aiden tajam.

​Tanpa menoleh lagi, Aiden langsung masuk ke butik dan menghampiri Vanya yang sedang memegang dua stel baju.

"Mana yang lebih bagus, Kak? Yang pink atau yang putih?" tanya Vanya polos.

​"Ambil dua-duanya. Biar gue yang bayar," sahut Aiden pendek. Ia langsung mengambil baju-baju itu dan membawanya ke kasir, membuat Vanya melongo senang.

​"Gitu dong, baru namanya Papi Aiden!" canda Vanya manja, yang hanya dibalas dengan dengusan kecil oleh Aiden.

​Selesai belanja, mereka berjalan menuju stan es krim terkenal. Vanya memesan es krim cokelat ukuran besar dengan berbagai topping, sementara Aiden hanya berdiri memperhatikannya dengan tangan bersedekap.

​"Aaaaa... Kak, cobain dikit! Enak tahu!" Vanya menyodorkan sesendok es krim ke arah mulut Aiden.

​Aiden awalnya ingin menolak, tapi melihat wajah Vanya yang begitu ceria dan tulus, ia akhirnya membuka mulutnya.

"Manis,"

gumam Aiden setelah menelan es krim itu.

​"Iya kan? Es krimnya beneran enak banget!"

​"Bukan es krimnya. Maksud gue... lo yang manis," bisik Aiden sambil mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Vanya.

"Ingat ya, setelah ini kita pulang. Dan gue nggak mau melihat lo merasa kesakitan sendirian lagi. Mulai minggu depan, semua beban itu... biar gue yang bantu tangani langsung."

​Vanya tersedak es krimnya seketika, wajahnya memerah padam sampai ke telinga.

"Kak Aiden!!! Berhenti ngomong begituan!" teriak Vanya manja sambil memukul dada Aiden pelan, sementara Aiden hanya terkekeh dingin melihat calon istrinya yang sangat menggemaskan itu.

1
Enz99
menarik
cepat wushh
Suka nih yang genre begini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!