NovelToon NovelToon
KELINCINYA ORION

KELINCINYA ORION

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Romantis / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Romansa / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TUJUH: DI BALIK PINTU

Puncak ketegangan di dalam kamar itu telah mencapai titik didih yang tak tertahankan. Orion Maximus Valentinus, dengan segala kebuasan yang terpancar dari otot-otot tubuhnya yang menegang, telah mengunci Seraphina di bawah dominasinya yang mutlak. Kepala miliknya yang besar dan berdenyut panas menekan dengan sangat intimidasi pada perbatasan terakhir kesucian Seraphina. Rasa panas yang membakar dan ukuran yang terasa tidak manusiawi itu membuat Seraphina bergidik hebat, setiap saraf di tubuhnya seolah mengirimkan sinyal bahaya yang memekakkan telinga.

Seraphina merasakan ujung yang licin dan keras itu mencoba menekan masuk, mendorong kulitnya yang masih sangat rapat dengan paksa. Dunia seolah melambat, menyisakan hanya suara detak jantung Seraphina yang berpacu liar dan deru napas Orion yang berat seperti serigala yang telah menemukan buruannya.

"Ah... ahh... tidak... Orion, kumohon..." rintihan ketakutan yang memilukan lolos dari bibir Seraphina yang bergetar.

Seluruh tubuhnya menegang kaku, jari-jemarinya mencengkeram sprei sutra di bawahnya hingga memutih. Air mata yang hangat sudah membanjiri pelipisnya, mengalir deras membasahi bantal mewah yang kini terasa seperti duri. Namun, bagi Orion, air mata itu hanyalah bumbu yang memperlezat penaklukannya. Matanya hanya terpaku pada inti tubuh Seraphina yang memerah dan bengkak, sebuah pemandangan yang membakar kewarasannya hingga habis tak bersisa.

"Kau akan menerimanya, kelinci kecil. Seluruhnya," geram Orion dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan iblis. "Kau akan belajar bagaimana cara meremas dan memuja milikku ini. Malam ini, kau resmi menjadi tawanan dari hasratku."

Tanpa memberikan kesempatan lagi bagi Seraphina untuk memohon, Orion menekankan berat tubuhnya ke bawah. Ia mendorong maju dengan kekuatan penuh, menghancurkan segala pertahanan yang tersisa. Seraphina merasakan tekanan yang menyiksa, sebuah sensasi robekan yang tajam dan panas di antara kedua pahanya. Rasanya seolah-olah tubuhnya sedang dibelah secara paksa menjadi dua bagian.

"NGGHHHH!" sebuah jeritan yang penuh dengan rasa sakit dan keterkejutan melengking tinggi, membelah kesunyian kamar yang dingin itu.

Tubuh Seraphina melengkung hebat, punggungnya terangkat dari ranjang seiring dengan rasa nyeri yang menusuk ke setiap inci sarafnya. Orion mendesis puas, merasakan bagaimana kehangatan dan kesempitan Seraphina menjepit miliknya dengan sangat ketat. Dengan satu dorongan kejam terakhir, ia menumbuk lebih dalam, menanamkan kehadirannya sepenuhnya ke dalam diri Seraphina yang masih perawan.

"AAARRGGHHH! SAKIT! SAKIT SEKALI!" Seraphina berteriak histeris, air matanya tak terbendung lagi.

Kaki-kakinya menendang liar di udara, sebuah reaksi naluriah untuk melarikan diri dari penderitaan yang tak tertahankan ini. Di atas sprei putih yang bersih, rembesan warna merah mulai muncul, menandai berakhirnya masa polos sang kelinci. Bau amis darah yang murni bercampur dengan aroma maskulin Orion yang pekat, menciptakan atmosfer yang sangat erotis sekaligus mengerikan.

Orion terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia merasakan miliknya terjepit begitu erat oleh dinding-dinding tubuh Seraphina yang panas dan basah. "Sialan," umpatnya dalam hati. "Ketatan ini benar-benar bisa membuatku gila."

Ia berhenti sejenak, memberikan waktu bagi tubuh Seraphina untuk beradaptasi dengan invasi yang brutal ini. Orion menyeringai puas, menatap wajah Seraphina yang hancur oleh air mata dan ketakutan. Ia merasa seperti seorang penakluk yang baru saja memenangkan wilayah baru yang paling berharga dalam hidupnya.

"Bagaimana, kelinci? Kau merasakannya? Merasakan bagaimana aku mengisimu sepenuhnya?" bisik Orion dengan gairah gelap yang meluap-luap.

Seraphina hanya bisa terengah-engah, tubuhnya masih bergetar hebat akibat syok fisik dan mental. "Hiks... hiks... keluarkan... tolong... aku tidak kuat... keluarkan..." rintihannya terdengar sangat memilukan, diselingi isakan yang menyayat hati.

Namun, tepat saat Orion hendak memulai hentakan pertamanya untuk memulai perjamuan gelap itu, sebuah suara nyaring dan ceria tiba-tiba membelah ketegangan di dalam kamar. Suara itu diikuti oleh ketukan keras yang tidak sabaran pada pintu jati yang kokoh.

"ORIONKU SAYANG! MAMA BAWAKAN MINUMAN HANGAT! KAMU BELUM TIDUR, KAN? MAMA DENGAR ADA SUARA ANEH NIH DI KAMARMU! JANGAN-JANGAN KAMU SEDANG MENYIKSA ANAK BAWAHAN LAGI YAAAHHH!"

Ketukan itu semakin keras, disusul oleh lengkingan suara Giselle Valentinus yang terdengar sangat centil dan penuh rasa ingin tahu, nyaris menyerupai tingkah laku seorang remaja perempuan yang hiperaktif.

Orion membeku seketika. Wajahnya yang sebelumnya penuh dengan nafsu predator kini mengeras menjadi topeng amarah yang mengerikan. Mata hitamnya berkilat penuh ancaman. Giselle. Ibunya sendiri. Wanita paling merepotkan di keluarga Valentinus datang di saat yang paling tidak tepat.

"MAMA! AKU TIDAK APA-APA! AKU SEDANG BEKERJA, JANGAN GANGGU!" Orion berteriak membalas, suaranya sarat dengan kekesalan yang mendalam. Meskipun begitu, ia tetap tidak bergeming dari posisinya, membiarkan miliknya tetap tertanam dalam di dalam diri Seraphina.

Seraphina, yang berada di ambang ketidaksadaran karena rasa sakit, mendengar suara itu sebagai sebuah harapan. Seperti melihat cahaya di ujung terowongan yang gelap, ia mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.

"TOLONG! TOLONG SAYA! SIAPA PUN DI LUAR SANA, MOHON TOLONG SAYA!" Seraphina menjerit dengan suara serak namun penuh keputusasaan.

Wajah Orion menggelap seketika. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang tampak rapuh ini masih memiliki keberanian untuk berteriak di depan ibunya. "Diam, kau jalang kecil!" desis Orion sambil mencoba membungkam mulut Seraphina dengan tangannya.

Namun, semuanya sudah terlambat. Giselle Valentinus bukan tipe wanita yang mudah menyerah, apalagi jika menyangkut gosip atau hal-hal menarik di dalam rumahnya.

"ORION! SUARA APA ITU?! ITU JELAS SUARA PEREMPUAN MENJERIT! YA AMPUN, KAU BENAR-BENAR SEDANG MENYIKSA SESEORANG, KAN?!" suara Giselle terdengar semakin dekat.

Detik berikutnya, kenop pintu berputar. Meskipun pintu itu terkunci, Giselle sepertinya selalu punya cara—mungkin kunci cadangan atau bantuan pelayan. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan kepala Giselle yang menyembul dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang sangat kekanak-kanakan.

"Orion, Mama cuma mau li-- YA AMPUN! ORION MAXIMUS VALENTINUS!"

Giselle terdiam di ambang pintu. Matanya yang besar dan ceria kini melebar sempurna menyaksikan pemandangan yang sangat tidak senonoh di depannya.

Di atas ranjang, ia melihat Seraphina. Gadis itu terbaring telanjang setengah badan, gaun sutra emerald-nya tersingkap hingga ke pinggang, memamerkan keindahan tubuhnya yang malang. Kedua kaki Seraphina masih terbuka lebar dalam posisi yang sangat rentan. Di sana, miliknya Orion masih menancap penuh, memberikan kontras yang mengerikan antara kejantanan yang kasar dan kewanitaan yang lembut. Bercak merah yang mengotori sprei putih seolah menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja terjadi.

Wajah Seraphina yang hancur oleh tangisan menatap Giselle dengan tatapan yang nyaris putus asa. Ia terlihat seperti bayi kelinci yang baru saja diterkam serigala—rapuh, polos, dan sangat menyedihkan.

Namun, reaksi Giselle sungguh di luar dugaan siapa pun. Alih-alih marah, jijik, atau mengusir Seraphina, mata biru Giselle justru berbinar-binar dengan kebahagiaan yang tidak masuk akal. Sebuah senyum lebar yang sangat tulus merekah di bibirnya yang tebal.

"ASTAGA! ANAK SIAPA INI?! YA AMPUN, BEGITU CANTIK! BEGITU IMUT! BEGITU GEMESIN! ORION! KAU INI KENAPA TIDAK BILANG KALAU AKAN PUNYA ANAK PEREMPUAN SECANTIK INI DI KAMARMU!"

Giselle segera merangsek masuk ke dalam kamar, mengabaikan fakta bahwa putranya masih berada di atas tubuh gadis itu dalam keadaan yang paling intim. Ia melangkah cepat menuju ranjang, matanya tidak lepas dari sosok Seraphina yang terengah-engah.

"Oh, Sayangku! Siapa namamu? Kenapa kau menangis sampai sesenggukan begini? Ya ampun, Orion, kau ini pasti kasar sekali padanya! Lihat ini, dia sampai terluka begini!" Giselle meraih tangan Seraphina yang gemetar, menggenggamnya dengan penuh kasih sayang yang berlebihan.

Bagi Giselle, pemandangan ini bukan sebuah kejahatan. Ia melihatnya dengan cara pandang yang sangat menyimpang—baginya, Seraphina adalah "mainan" atau "boneka hidup" yang sangat ia impikan untuk dimiliki.

"Oh, Mama sudah bilang berkali-kali, kan, Orion? Jangan terlalu bersemangat kalau punya mainan baru! Lihat, perimu ini jadi ketakutan!" omel Giselle sambil terus mengelus pipi Seraphina.

Orion hanya bisa mematung, menatap ibunya yang memiliki kepribadian "cegil" itu dengan kemarahan yang membara namun juga kebingungan. Miliknya masih tertanam di dalam Seraphina, namun seluruh gairah yang tadi membakarnya kini bercampur dengan rasa frustrasi yang luar biasa. Ibunya benar-benar gila. Bagaimana mungkin dia mengira situasi ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan tentang "anak perempuan"?

"MAMA! APA YANG MAMA LAKUKAN?! KELUAR DARI SINI!" raung Orion, suaranya menggelegar penuh amarah.

Giselle menoleh pada putranya dengan tatapan menyipit, tidak takut sedikit pun. "Apa? Mama mau menolong anak perempuan manis ini! Dia terlihat seperti peri hutan yang tersesat di kamarmu yang suram! Dan kamu... kamu benar-benar tidak punya perasaan ya? Kasihan dia!"

Ia kembali menatap Seraphina dengan senyum yang semakin lebar dan sedikit genit. "Jangan khawatir, Sayang. Mama akan melindungimu dari serigala nakal ini. Mama akan memanjakanmu, membelikanmu gaun-gaun cantik yang berkilauan, memberimu es krim setiap hari, dan tidak akan membiarkan Orion menyakitimu lagi dengan cara yang membosankan seperti ini!"

Seraphina, yang masih dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan menyakitkan, menatap Giselle dengan mata memelas. Di matanya yang kabur oleh air mata, wanita ini—meskipun terlihat sangat aneh dan tidak waras—tampak seperti satu-satunya penyelamat yang ia miliki di neraka yang diciptakan oleh Orion. Sebuah awal dari dinamika yang jauh lebih rumit di dalam keluarga Valentinus baru saja dimulai.

1
lucky
tolol ini cewe. bukan polos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!