Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Kabar Astrid
🛑
#
Beberapa lama setelah mereka berlalu dari pos tempat Pak Satpam berjaga, Addam mulai berpikir untuk mengorek informasi dari Naya, sudah banyak pertanyaan yang menggulung dalam pikirannya.
Tapi Addam harus berusaha keras menahan keinginannya itu. Ia bertekad untuk menanyakannya pada Naya ketika nanti sampai di tempat tinggal mereka–tempat yang memberi mereka lebih banyak privasi dan rasa aman. Addam takut ia tak bisa menahan diri jika mereka membicarakan hal itu di depan umum.
Tiba di tempat tinggal mereka, Addam akhirnya melancarkan pertanyaan yang sejak tadi membuat kepalanya hampir meledak.
“Nay. Tadi itu kamu kenapa tiba-tiba nanyain pertanyaan itu ke Pak Satpamnya?” Addam menghentikan langkah Naya. Mereka berdiri di depan pintu kos Naya yang terkunci rapat.
“Kak, baiknya kita bicarain ini di dalam. Ayo, Kak,”
Naya membuka kunci tempat tinggalnya dan mempersilakan Addam masuk mengikutinya.
Ketika langkah kaki Addam menuntunnya memasuki hunian kecil Naya, pria itu merasa seperti benar-benar memasuki ruang tinggal selayaknya manusia. Berbeda dengan petak pertama di tempat tinggalnya yang sangat sunyi, petak pertama tempat tinggal Naya terlihat lebih hidup karena keberadaan meja tempat Naya bekerja.
Kemudian sesuatu di atas meja itu lah yang kembali menarik perhatian Addam. Sebuah papan styrofoam yang di atasnya terdapat beberapa lembar foto polaroid yang di-pin dan terhubung dengan benang merah. Terlihat seperti papan investigasi ala detektif.
Dan seperti mengetahui isi kepala Addam, Naya melangkah cepat menuju meja kerjanya kemudian mengambil papan styrofoam itu bersama dengan sebuah buku catatan.
“Kak. Aku nulis beberapa catatan tentang masalah ini…” Naya menyodorkan buku catatan itu pada Addam.
Addam menautkan kedua alisnya. Ia tak pernah berpikir bahwa langkah Naya sudah jauh didepannya.
Pada buku catatan itu Addam melihat beberapa poin yang Naya maksudkan. Diantaranya:
1. Astrid mengatakan ‘penipu’ dalam pesan suara. Penipu berarti orang ini adalah orang yang telah Astrid kenal.
2. Orang yang terakhir dekat dengan Astrid adalah ‘guru ganteng’. Siapa si guru ganteng???
3. Astrid tidak bercerita tentang rencana cuti, tapi kenapa sekolah bilang Astrid sedang cuti ketika ia mengirim pesan itu??
4. Astrid cuti ke mana? Mau apa? Sama siapa?
“Tunggu, apa karena ini kamu tadi nanyain guru yang single ke pak satpam itu?” Addam menyimpan buku catatan itu di lantai.
“Betul, Kak. Aku inget Astrid pernah cerita kalau dia lagi lumayan deket sama guru di sekolahnya. Tapi dua atau tiga bulan lalu Astrid bilang kalau mereka udah gak ada harapan. Dia sempet satu kali nunjukin foto guru itu. Tapi karena aku gak begitu inget orangnya yang mana, makanya aku tanyain ke satpam yang di sana. Aku gak nyangka guru yang itu malah udah gak ada,” kata Naya sambil meraih buku catatan yang baru saja Addam simpan. “Berarti poin nomor dua ini aku coret aja ya, Kak.”
“Iya Nay. Coret aja. Tapi lho aku baru tahu si dek Astrid pernah deket sama orang itu, Nay. Dia gak pernah cerita,” kata Addam dengan nada suara terdengar lemah.
Naya tampak terdiam sesaat sebelum akhirnya ia membalas ucapan Addam. “Astrid juga gak pernah cerita ke aku kalau si ganteng-nya udah gak ada…”
Saat itu jemarinya bergerak perlahan membentuk garis panjang mencoret tulisan poin nomor dua.
Kemudian Naya membuat tulisan baru di bawah poin nomor empat:
5. Irvan (si guru ganteng) meninggal hari senin, 20 Februari
“Eh tapi untung si bapaknya tipe orang yang gak begitu kepo dan hobi ngobrol lho, Kak. Kalau aja si bapak tadi lebih banyak tanya, aku gak yakin bisa ngarang jawaban apa yang yakinin dia buat ngasih info kayak tadi,” Naya menatap foto polaroid yang menempel pada papan styrofoam.
Melihat senyum Astrid yang tertangkap dalam foto polaroid itu sedikit banyak memberi Naya harapan sekaligus menghadirkan kekhawatiran yang terus membuncah dalam dadanya.
Sebelum Addam kembali melanjutkan perbincangannya dengan Naya, ponselnya keburu berbunyi karena sebuah pesan yang masuk.
“Yah…” Addam terlihat tak senang. “Nay, sorry aku harus balik dulu. Tiba-tiba banget ada rapat,” sambungnya.
Naya mengangguk pelan. “Ooh, oke Kak…” balas Naya singkat.
Addam bergegas pergi meninggalkan Naya dan percakapan yang masih menyisakan tanda tanya.
Saat itu Naya kembali hanya berteman sepi dan risau. Ia terduduk lesu di lantai sambil membuka halaman demi halaman buku catatannya yang masih kosong itu.
Namun suasana di sana mendadak berbeda 180° ketika Naya mengecek ponselnya yang baru saja berbunyi. Sebuah pesan masuk dari akun anonim yang tak diharapkan itu merubah suasana hati dan pikirannya seketika.
Pada bilah pemberitahuan di bagian atas ponselnya, Naya bisa ‘mengintip’ pesan yang diterimanya barusan.
1111worst || NAYYYAAAA…. suasana hatiku sedang bagus, jadi aku akan memberi kabar tentang teman baikmu walaupun kamu tidak merindukannya.
Kemudian akun tersebut mengirim Naya sebuah foto.
Sebenarnya, hanya dengan membaca pesannya saja sudah membuat degup jantung Naya menjadi lebih cepat. Tapi didorong rasa ingin tahu, cemas, dan firasat buruk yang berkumpul menjadi satu, Naya memberanikan diri membuka pesan itu.
Sesaat setelah Naya membuka pesan dan melihat foto yang dikirim oleh seseorang yang tak diketahui identitasnya itu, Naya tampak berusaha membekap mulutnya dengan kedua tangan menahan jeritan yang akan keluar. Ponselnya meluncur begitu saja dari genggamannya.
“Astrid…” lirih Naya. Kedua matanya memerah dan mulai berkaca-kaca.
1111worst || temanmu ini keras kepala, selalu menolak makanan pemberianku. tapi kamu tidak perlu khawatir, dia tidak akan kekurangan nutrisi karena aku menjaganya dengan sangat baik! melebihi siapapun!!!
Saat itu Naya ingin berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama Astird namun ia tak bisa, suaranya seperti terkunci di tenggorokan. Dadanya semakin sesak menahan tangis yang tak bisa ia luapkan. Bahunya naik turun, nafasnya semakin tak teratur kala tangisnya pecah dalam kesunyian.
Bagaimana tidak, foto yang diterima Naya menampilkan Astrid yang terduduk lemas, tubuhnya terikat pada tiang. Astrid tampak tak sadarkan diri dengan mulut yang tersumpal kain. Pakaian lusuh yang melekat padanya menunjukkan berapa lama ia dibiarkan tak terurus. Wajah pucat dan tubuh tak berdaya itu jelas menyiratkan satu hal, Astrid tengah berada dalam kondisi yang lemah dan tersiksa.
Di lain tempat, tawa kencang pria bertudung itu menggema memenuhi ruangan kumuh dan tak terawat itu, rasa girang dalam hatinya benar-benar tak bisa ia bendung.
Sepertinya sofa butut itu adalah tempat favoritnya di sana. Atau mungkin, sesuatu yang berada tepat didepannya-lah yang membuatnya terus menempati sofa itu.
Dan sesuatu itu adalah… Astrid.
#
Butuh cukup banyak waktu untuk Naya mencoba menata kembali pikirannya. Foto yang diterimanya dari akun misterius itu benar-benar membuatnya sangat terguncang.
Sekarang, Naya membulatkan tekad untuk memberi tahu Addam dan Mahesa tentang temuan terbarunya itu. Gadis itu mengusap bulir air mata yang masih berada di pipinya dan ia bergegas memulai langkahnya untuk menemui Addam.
Tetapi ketika Naya berada di tepi pintu kamar kontrakan Addam, ia bisa mendengar bahwa Addam masih belum selesai dengan kesibukannya–seperti katanya tadi ketika berpamitan. Hingga saat itu pun Addam masih ikut serta dalam rapat daring yang memang mengharuskannya untuk hadir.
Karena hal itu, Naya memilih berbalik dan mencoba memberi tahu Mahesa terlebih dulu.