Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar yang tak pernah hilang seson 2
Pagi di rumah kami berjalan seperti biasa.
Matahari menembus tirai tipis, membangunkan aku dari tidur yang ringan.
Di luar, suara dedaunan flamboyan bergesekan pelan; angin mengelus ranting yang tumbuh semakin tinggi.
Setiap kali aku melihatnya, aku selalu teringat bagaimana kami dulu menanam pohon itu dengan tangan gemetar—di tengah tanah basah dan hati yang ragu, tapi penuh harap.
Sekarang, lima tahun berlalu sejak hari pernikahan kami.
Rumah kecil ini telah menjadi tempat segala musim: tawa, tangis, sepi, dan hangat yang datang bergantian.
Kami sudah tidak lagi mencari arti cinta; kami memeliharanya, seperti taman di halaman belakang—disiram setiap hari, dijaga akarnya agar tak kering.
Pagi itu Raka sedang duduk di teras, menyeruput kopi sambil menatap taman.
Aku datang membawa dua roti panggang, duduk di sebelahnya.
“Udara hari ini tenang, ya,” katanya sambil menatap langit biru muda.
Aku mengangguk. “Tenang banget. Kayak nggak ada yang bisa ganggu.”
Dia tersenyum kecil, tapi di ujung matanya aku bisa melihat lelah.
Proyek yang dia pegang sedang besar, katanya, dan ia ingin menyelesaikannya dengan sempurna sebelum akhir tahun.
Sementara aku baru saja menerima tanggung jawab baru di sekolah—membimbing lomba lingkungan antar-sekolah se-kota.
Hari-hari kami kembali padat, tapi berbeda dari dulu.
Kami lebih tahu cara menyeimbangkan.
Malam-malam tak lagi dipenuhi pertengkaran; kalau Raka sibuk, aku duduk di sampingnya sambil membaca buku.
Kalau aku lelah, dia diam di dapur menyiapkan teh jahe hangat tanpa banyak bicara.
Begitulah cara kami sekarang: saling mengerti, bahkan tanpa kata.
Sore itu aku sedang di sekolah ketika awan mendadak menggelap.
Angin bertiup kencang, membuat daun-daun beterbangan.
Anak-anak berlarian menutup jendela kelas.
“Badai datang, Bu!” teriak salah satu muridku.
Aku tersenyum menenangkan mereka, tapi dadaku mulai tak enak.
Taman di rumah.
Flamboyan kami.
Hujan deras turun saat jam pulang.
Aku menunggu di ruang guru, menggenggam ponsel.
Pesan dari Raka masuk:
“Ly, di rumah aman. Jangan buru-buru pulang, ya. Jalan banjir.”
Aku mengetik balasan cepat:
“Taman gimana?”
“Masih berdiri. Tapi anginnya kuat banget.”
Aku menutup mata, membayangkan ranting-ranting yang menunduk diterpa angin.
Di luar, suara hujan seperti air jatuh dari langit tanpa henti.
Butuh dua jam sebelum aku bisa pulang.
Begitu sampai, jalan di depan rumah dipenuhi genangan.
Aku turun dari mobil, sepatu langsung basah.
Pintu rumah terbuka; Raka berdiri di sana dengan payung.
“Masuk, Ly!” serunya.
Begitu aku masuk, mataku langsung tertuju pada jendela belakang—ke taman kami.
Aku terdiam.
Bunga-bunga lavender yang dulu kami tanam rebah ke tanah.
Daunnya patah, sebagian tercabut dari akarnya.
Rumput terendam air, dan flamboyan besar itu… salah satu cabangnya patah, menimpa kursi kayu di bawahnya.
Hatiku ikut patah.
Aku menutup mulut, menahan napas.
Raka mendekat, memegang bahuku. “Nanti kita benerin bareng, Ly. Jangan sedih dulu.”
Aku mengangguk, tapi air mata sudah jatuh tanpa izin.
Bukan karena kehilangan bunga—tapi karena taman itu bukan sekadar tanah dan tanaman.
Itu bagian dari perjalanan kami.
Malam itu hujan tak berhenti.
Kami duduk berdua di dekat jendela, memandangi taman yang hancur sebagian.
Aku menyandarkan kepala di bahunya. “Kayak mimpi buruk.”
Raka mengusap rambutku pelan. “Kadang, Tuhan nyuruh kita mulai lagi dengan cara yang nggak kita mau.”
Aku menatapnya. “Kamu nggak sedih?”
“Sedih. Tapi aku juga percaya… akar yang kita tanam nggak akan hilang.”
Aku menatap taman gelap di luar sana.
Kata-katanya menenangkan, tapi tetap saja perih.
Taman itu adalah lambang cinta kami—dan sekarang sebagian tumbang.
Namun di dalam dada, ada keyakinan kecil bahwa mungkin, seperti cinta, taman ini hanya butuh waktu untuk tumbuh lagi.
Keesokan harinya, badai berhenti, menyisakan udara lembap.
Aku dan Raka keluar membawa sekop dan sarung tangan.
Tanah masih becek; sepatu kami tenggelam di lumpur.
Kami mulai membersihkan puing ranting, menegakkan pot yang terbalik.
Saat memungut cabang flamboyan yang patah, aku terdiam.
“Sayang banget, Rak. Padahal ini cabang yang paling sering kita dudukin.”
Dia mendekat, memegang ujung cabang itu. “Nggak apa-apa. Nanti tumbuh lagi. Flamboyan ini kuat, kayak kamu.”
Aku menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Kamu selalu tahu cara ngomong yang bikin hati tenang.”
Kami bekerja sampai sore.
Tubuh lelah, tapi ada perasaan damai di tengah kekacauan.
Taman kami memang rusak, tapi kerja sama kami hari itu terasa seperti doa.
Malamnya aku duduk di ruang tamu sambil menulis di buku catatan.
Suara hujan sisa terdengar lembut di atap.
Raka datang membawa teh. “Masih kerja?”
“Nggak, cuma nulis.”
“Menulis apa?”
Aku menatapnya sambil tersenyum. “Tentang taman kita yang nggak pernah benar-benar mati.”
Dia duduk di sebelahku. “Aku suka kalimat itu.”
“Akar cinta juga gitu, kan? Kadang tertimbun, tapi nggak hilang.”
Raka mengangguk pelan. “Aku percaya.”
Kami terdiam lama, hanya mendengar detak jam dinding dan suara hujan di luar.
Dan di momen itu, aku sadar—bahwa cinta tidak selalu berbentuk pelukan hangat.
Kadang ia hadir lewat keheningan dua orang yang masih mau duduk bersama setelah badai datang lagi.
Beberapa hari berlalu sejak badai itu pergi, tapi bekasnya masih terasa.
Tanah taman kami belum sepenuhnya kering, dan beberapa bunga yang selamat kini terlihat layu.
Namun setiap pagi, aku dan Raka tetap datang ke sana, menyiram perlahan, menyiangi rumput yang mati, dan menata ulang batu-batu kecil yang berserakan.
Raka bilang, “Taman ini kayak hubungan kita dulu, Ly. Waktu sempat porak-poranda, tapi kita nggak nyerah. Lihat sekarang, mulai tumbuh lagi, kan?”
Aku tersenyum kecil, menatap akar flamboyan yang mulai menembus tanah baru. “Aku pikir dulu patahnya bakal bikin dia mati.”
Raka menatapku lembut. “Akar yang kuat nggak gampang mati. Kadang cuma butuh waktu buat tumbuh arah baru.”
Kata-kata itu menancap di hatiku seperti mantra.
Aku sadar, mungkin Tuhan menurunkan badai itu bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengingatkan — bahwa segala sesuatu yang kita cintai harus dijaga, bahkan saat kita pikir semuanya baik-baik saja.
Hari-hari berikutnya menjadi masa pemulihan.
Aku sibuk menyiapkan lomba lingkungan di sekolah, sementara Raka mulai memulihkan proyeknya setelah sempat tertunda karena cuaca.
Kami jarang bicara panjang, tapi selalu saling tahu kehadiran satu sama lain.
Suatu sore, aku pulang lebih cepat dari biasanya.
Rumah sepi, tapi terdengar suara dari taman.
Aku berjalan keluar, dan di sana — Raka sedang menanam sesuatu.
“Raka?”
Dia menoleh, wajahnya berkeringat tapi penuh senyum.
“Aku tambahin sesuatu buat taman kita.”
Aku mendekat, lalu melihat deretan kecil tanaman baru berwarna hijau muda.
“Apa ini?”
“Pohon kenanga,” katanya pelan. “Biar nanti kalau mekar, wanginya nyebar ke seluruh halaman.”
Aku berjongkok di sebelahnya, menatap bibit kecil itu. “Kamu suka banget sama simbol, ya.”
Dia tertawa kecil. “Iya, soalnya setiap tanaman bisa jadi doa.
Flamboyan buat kekuatan, lavender buat ketenangan, dan kenanga buat kenangan.”
Aku menatapnya lama. “Kalau gitu, kita udah punya tiga hal yang paling penting.”
Dia tersenyum. “Tinggal satu lagi.”
Aku menatapnya penasaran. “Apa?”
“Kesabaran.”
Aku tertawa kecil. “Itu yang paling susah ditanam.”
Raka berdiri, mengulurkan tangan padaku. “Makanya kita tanam bareng-bareng, biar bisa tumbuh pelan tapi pasti.”
Kami berdiri di tengah taman, membiarkan sore jatuh perlahan.
Angin membawa aroma tanah dan harapan baru.
Di langit, cahaya oranye lembut menembus awan sisa hujan, seperti senyum kecil dari langit yang memaafkan bumi.
Beberapa minggu berlalu.
Lavender mulai tumbuh kembali, meski belum seindah dulu.
Flamboyan menumbuhkan cabang baru di sisi yang patah, dan kenanga yang ditanam Raka kini sudah setinggi lutut.
Malam itu, kami duduk di teras seperti biasa.
Raka menatap langit yang dipenuhi bintang. “Aneh, ya. Badai kemarin bikin taman kita jadi lebih indah dari sebelumnya.”
Aku tersenyum. “Mungkin karena kita ngerawatnya pakai lebih banyak cinta kali ini.”
Dia menatapku, matanya teduh. “Kamu tahu, Ly… dulu aku pikir cinta itu soal janji besar. Tapi sekarang aku tahu, cinta itu soal bertahan di hal kecil — kayak nyiram taman meski cuma satu gayung air, atau nyapa pagi meski lagi sibuk.”
Aku menatapnya lama. “Kamu makin bijak aja, ya.”
Dia tertawa pelan. “Efek sering diajak ngomong sama kamu.”
Kami berdua tertawa kecil.
Angin malam lewat, menepuk lembut daun flamboyan.
Aku memejamkan mata, menikmati suara alam di sekeliling kami.
“Raka,” bisikku pelan, “aku takut kalau nanti badai datang lagi.”
Dia diam sebentar, lalu menggenggam tanganku erat.
“Kalau nanti badai datang, kita nggak akan lari. Kita bakal berdiri di sini, bareng-bareng. Karena kita udah tahu, akar kita nggak ke mana-mana.”
Mataku panas. Air mata jatuh tanpa sempat kutahan.
Tapi kali ini bukan karena sedih — karena aku merasa aman.
Aman dicintai, aman mempercayai.
Esok paginya, aku ke sekolah lebih pagi.
Anak-anak di kelas menyiapkan maket kecil untuk lomba lingkungan.
Mereka menggambar taman sekolah, lengkap dengan tulisan di tengahnya:
“Tanaman tumbuh karena cinta, bukan karena disiram saja.”
Aku tersenyum melihat tulisan itu.
Dan tanpa sadar, air mata menetes lagi.
Karena di antara kata-kata polos anak-anak itu, aku menemukan refleksi hidupku sendiri.
Sore itu, lomba selesai. Sekolah kami menang.
Aku pulang membawa piala kecil, dan langsung memanggil Raka di halaman.
“Rak, lihat ini!”
Dia keluar dengan wajah penuh tanya.
“Kita juara satu?”
Aku mengangguk. “Iya. Tapi bukan pialanya yang paling aku suka.”
Dia mengernyit. “Terus apa?”
Aku menunjukkan tulisan yang ditempel di piala:
“Didedikasikan untuk yang percaya bahwa setiap taman bisa hidup kembali.”
Raka menatapku lama, lalu tersenyum. “Itu kayak tulisan buat kita.”
Aku mengangguk. “Iya, buat kita.”
Malam itu, kami menyalakan lampu taman.
Cahaya kuning hangat memantul di daun basah flamboyan, di bunga lavender, dan di kenanga kecil yang mulai berdiri tegak.
Raka menyalakan musik lembut dari ponsel.
Kami berdiri di tengah taman, hanya berdua.
Dia menatapku, lalu berkata, “Kita udah ngelewatin banyak hal, Ly. Tapi tiap kali aku lihat taman ini, aku sadar satu hal.”
“Apa itu?”
“Cinta nggak butuh sempurna. Dia cuma butuh akar yang nggak mau lepas.”
Aku menatapnya, tersenyum sambil berbisik, “Dan kamu, Rak… akar aku.”
Dia tersenyum, menarikku ke pelukannya.
Hujan kecil tiba-tiba turun, seperti sapaan lembut dari langit.
Kami tak beranjak.
Di bawah hujan itu, di tengah taman yang dulu hancur tapi kini hidup lagi, aku tahu — kami tidak hanya menjaga tanah dan bunga, tapi juga doa yang tumbuh bersama waktu.
Dan di malam yang lembut itu, aku berjanji dalam hati:
Selama akar kami masih saling menggenggam, tak akan ada badai yang bisa memisahkan kami.