Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Cairan Ungu
Thaddeus menarik tangannya pelan dari genggaman ayahnya.
Ia menunduk menatap ibunya, menatap wajah sang ratu yang kian pucat, lalu menahan perasaan yang berdesakan di dadanya.
"Aku keluar sebentar," ujarnya.
Ia meninggalkan kamar itu tanpa menoleh lagi.
Thaddeus mengambil busur kayu miliknya, anak panah melesat, tapi meleset jauh dari pusat sasaran, tertancap tak berdaya di tanah.
Ia mengernyit pelan, mengambil anak panah lain, dan menarik lagi. Kali ini bahkan lebih buruk, panah itu terlepas sebelum ia sempat membidik dengan benar.
Tangannya sedikit gemetar, pikirannya melayang pada ibunya yang sakit.
Akhirnya ia menurunkan busur dengan frustrasi dan berjalan menjauh, menuju pancuran batu di sisi halaman yang jarang dikunjungi orang.
Air mengalir tenang di sana, jernih dan bening, memantulkan cahaya matahari. Thaddeus duduk di tepinya, menatap air yang terus mengalir.
"Andai manusia bisa sesederhana ini," gumamnya pada kesunyian.
Ia mencoba mengatur napas yang tersengal. Saat itulah, sebuah kilatan cahaya menangkap sudut matanya.
Seekor kupu-kupu kaca terbang pelan di udara. Makhluk itu terbang rendah, gerakannya anehnya terarah, seolah memiliki tujuan yang sangat spesifik.
Thaddeus mengerutkan kening.
"Bukankah itu kupu-kupu kaca yang aku tangkap tadi?" gumamnya.
Rasa ingin tahunya meningkat. Ia berdiri dan mulai melangkah, mengikuti ke mana kepakan sayap bening itu membawanya. Kupu-kupu itu bergerak menuju bangunan dapur castle.
...****************...
Aroma ramuan kering, sisa panggangan roti, dan bau logam ringan dari panci-panci besar bercampur di udara.
Kupu-kupu itu melayang masuk lewat jendela tinggi yang terbuka, lalu berputar sebentar di langit-langit sebelum akhirnya hinggap di atas sebuah botol kaca kecokelatan yang diletakkan di sudut meja kayu yang paling gelap.
Thaddeus mendekat dengan hati-hati. Botol itu tidak diberi label. Isinya adalah cairan berwarna ungu tua, begitu pekat hingga tampak hampir kehitaman di bagian dasar.
Warna yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dalam ramuan obat atau bumbu dapur mana pun di kerajaan ini.
Rasa curiga yang selama ini mengendap di dasar hatinya mulai naik ke permukaan. Saat ia menjulurkan tangan, bermaksud untuk mengambil dan memeriksa botol itu lebih dekat, ujung lengan bajunya yang longgar atau mungkin sikunya tanpa sengaja menyenggol pinggiran meja.
Botol itu pecah, cairan ungu itu tumpah ke lantai batu, mengalir perlahan dan kental seperti tinta yang memiliki nyawa sendiri.
Bau aneh langsung menyebar ke seluruh ruangan. Bukan bau busuk seperti bangkai, bukan pula harum bunga yang menenangkan. Itu adalah bau kimiawi yang menusuk hidung.
Thaddeus refleks mundur beberapa langkah, menutupi hidungnya dengan punggung tangan. Di saat yang sama, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari lorong luar. Ia menoleh cepat dan melihat bayangan seseorang muncul di ambang pintu.
Grace.
Jantung Thaddeus berdetak lebih kencang. Ia takut jika ketahuan oleh Grace. Namun, keberuntungan atau mungkin takdir yang belum ingin ia ketahuan berpihak padanya.
Grace berhenti sejenak di depan pintu, seolah indranya menangkap sesuatu yang tidak beres, namun sebelum ia sempat melangkah masuk sepenuhnya, seorang pelayan lain memanggilnya dari koridor belakang.
"Grace, Yang Mulia Raja memanggilmu ke aula utama segera."
"Iya, aku segera ke sana," jawab Grace singkat.
Thaddeus menghela napas lega yang panjang, namun ia tahu waktunya sangat sempit. Ia menatap kembali cairan di lantai.
Ia berlutut, mencoba mendekat untuk memastikan apa sebenarnya cairan itu. Tangannya hampir menyentuh pecahan botol yang tajam saat indra pendengarannya yang tajam menangkap langkah kaki lain yang mendekat dengan cepat.
Bukan langkah pelayan yang santai, melainkan langkah seseorang yang tahu persis apa yang ia cari.
Tidak ada waktu lagi. Thaddeus berdiri secepat kilat dan keluar lewat pintu belakang dapur.
Hanya selisih beberapa belas detik setelah Thaddeus menghilang, Grace masuk kembali ke dapur. Matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan di sudut meja.
Pecahan botol di lantai. Warna ungu yang tumpah. Wajah Grace yang biasanya tenang seperti permukaan danau mendadak menegang.
Ia mengunci pintu dapur dari dalam dengan gerakan cepat. Ia berlutut di depan tumpahan itu, memeriksa pecahan kaca dengan ketelitian seorang alkemis, lalu menghirup udara di atas cairan itu dengan sangat hati-hati. Matanya menyipit, memancarkan kilatan yang dingin.
"Tidak mungkin," gumamnya pelan, suaranya mengandung nada kecemasan yang tersembunyi.
Ia tahu persis apa ini. Ini bukan sekadar ramuan biasa yang bisa ditemukan di buku-buku pengobatan istana. Ini adalah katalis.
Cairan ini dihasilkan dari ekstraksi bunga malam yang hanya mekar di bawah gerhana dan jamur ungu beracun dari kedalaman hutan utara yang abadi.
Dalam dosis kecil, ia sama sekali tidak mematikan. Namun, jika dicampurkan secara konsisten ke dalam minuman atau makanan dalam jangka waktu lama, ia akan bekerja layaknya rayap pada kayu.
Ia melemahkan paru-paru, mengikis sistem imun dari dalam, dan akhirnya membuat kematian tampak seperti akibat alami dari penyakit yang wajar.
Ia menatap pintu dapur yang tertutup, pikirannya berputar liar mencari siapa yang mungkin telah masuk ke sini.
"Pelayan ceroboh," gumamnya lagi, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah kecelakaan biasa, bukan sabotase atau mata-mata.
Grace segera mengambil kain lap tebal dan sebotol cairan pembersih kuat. Ia menggosok lantai itu dengan gerakan cepat dan teliti, memastikan tidak ada sisa cairan ungu yang tertinggal di pori-pori batu.
Tidak boleh ada jejak. Jika ada pelayan lain yang melihat warna ini, semua rencana yang telah disusun dengan rapi selama ini akan runtuh dalam semalam.
Namun, saat ia sedang membersihkan sisa terakhir, ada sesuatu yang mengganggu sudut matanya. Kupu-kupu kaca itu. Makhluk itu masih di sana, melayang pelan menuju jendela terbuka.
Sayapnya berkilau memantulkan cahaya matahari, seolah sedang menertawakan usaha Grace untuk menyembunyikan noda tersebut.
...****************...
Sementara itu, Thaddeus kembali ke kamarnya. Ia duduk termenung di tepi tempat tidur. Bau tajam yang menusuk hidungnya tadi seolah menempel di pakaian dan rambutnya, menolak untuk hilang.
Ia memang bukan seorang ahli ramuan, tapi ia cukup cerdas untuk menyadari satu hal, cairan ungu itu tidak terasa seperti obat yang akan menyembuhkan. Itu terasa seperti kematian yang dikemas dalam keindahan.
Kecurigaannya pada Grace bukan lagi sekadar perasaan tidak suka karena wanita itu terlalu dingin atau terlalu dekat dengan raja. Ini adalah bukti.
Saat Thaddeus termenung memikirkan cairan ungu tadi, ada satu kupu-kupu kaca terbang ke arah kamar Thaddeus, bahkan masuk lewat jendela.
"Kenapa kupu-kupu ini seperti mengikutiku?" batin Thaddeus heran.
Kupu-kupu kaca itu hinggap di ujung jari telunjuk Thaddeus seolah-olah ingin memberi tahu sesuatu.