NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Selesai mandi aku mengganti pakaianku dan merapikan sedikit wajahku dengan makeup tipis. Entah kenapa pagi itu aku ingin terlihat lebih kuat, lebih percaya diri. Bukan untuk siapa-siapa… tapi untuk diriku sendiri.

Aku baru saja menyapukan lip cream ketika tiba-tiba—

Brak!

Pintu kamar terbuka lebar tanpa permisi.

Aku menoleh. Monika berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam penuh kebencian.

“Pantesan kau mau jadi yang kedua, ternyata kamu secentil itu dan murahan!” serunya dengan nada mengejek.

Aku memutar tubuhku sepenuhnya menghadapnya. Dadaku naik turun menahan emosi, tapi aku tidak ingin terlihat lemah.

“Terserah apa kata kamu, Mon. Yang jelas aku tidak punya muka dua seperti kamu!”

Monika tertawa keras. Tawanya menggema di seluruh ruangan, tapi tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. Hanya racun.

“Hahahaha, Rania… Rania! Kau pikir aku baik beneran dan memaafkan kamu? Setelah semua yang kamu lakukan ke aku? Oh tidak, Rania! Aku akan balas semua perbuatan kamu!” ancamnya, matanya menyala penuh dendam.

Aku melangkah mendekat satu langkah. Kali ini aku tidak ingin mundur.

“Terus aku harus takut?”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tegas. Tanpa gemetar.

Senyum Monika memudar perlahan, berganti ekspresi dingin yang lebih mengerikan dari amarahnya tadi.

“Kita lihat saja nanti,” bisiknya pelan, sebelum berbalik dan menutup pintu dengan keras.

Aku terdiam beberapa saat setelah kepergiannya. Tanganku masih sedikit gemetar, bukan karena takut… tapi karena sadar.

“Rania, kamu berangkat ke rumah sakit sama Monika ya?” seru Mas Bram dari ruang tengah.

Jantungku langsung berdegup tak nyaman. Aku segera keluar dari kamar dengan wajah yang masih menyimpan sisa kekesalan tadi.

“Apa, Mas?! Kamu janji mau antar aku!” seruku, tak bisa menyembunyikan nada kecewa.

Mas Bram terlihat tak enak, tapi tetap saja ia menghela napas panjang. “Gak bisa, Ran. Aku harus meeting, nggak bisa ditinggal.”

Meeting.

Selalu saja ada alasan.

Dari belakangnya, Monika berdiri anggun dengan senyum tipis yang terlalu manis untuk terlihat tulus. Senyum licik yang membuat darahku mendidih. Tatapannya seolah berkata, lihat? Aku yang menang.

“Iya, Rania… aku antar kamu. Aku ingin tahu keadaan bayi kita,” serunya lembut, terdengar begitu peduli.

Bayi kita?

Tanganku refleks mengepal.

“Itu bayi aku, Mon,” balasku dingin, menatap lurus ke matanya. “Dan Mas Bram suamiku.”

Monika tidak tersinggung. Justru senyumnya semakin melebar.

“Suamimu? Oh ya? Kita lihat saja nanti,” bisiknya pelan, cukup agar hanya aku yang mendengar.

Mas Bram berdiri di antara kami, tapi entah kenapa rasanya seperti dia berada sangat jauh dariku. Tatapannya lebih banyak menghindar daripada menjelaskan.

“Ran, jangan bikin suasana tegang. Ini cuma antar ke dokter. Monika cuma mau bantu.”

Bantu?

Sejak kapan Monika ingin membantuku tanpa maksud tersembunyi?

Namun aku sadar, memaksa sekarang hanya akan membuatku terlihat emosional. Dan Monika pasti menikmati itu.

Baiklah.

Aku akan ikut permainanmu, Mon.

Aku mengambil tasku dan berjalan mendahului mereka. Saat melewati Monika, aku berhenti sejenak.

“Kalau kamu sampai macam-macam… aku tidak akan diam.”

Senyumnya tak pudar. “Aku juga tidak akan diam, Rania.”

Langkahku terasa berat menuju mobil. Entah kenapa firasatku sangat buruk.

Dan benar saja, Monika tidak mau satu mobil denganku.

“Aku naik mobil sendiri saja,” ucapnya ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.

Aku hanya tersenyum tipis. Sudah kuduga.

“Dasar ular…” gumamku pelan sambil masuk ke dalam mobil.

Kami pun berangkat dengan mobil masing-masing. Mobil Monika berada di depan, sementara aku mengikuti dari belakang. Jarak kami tidak terlalu jauh, tapi cukup membuatku merasa sendirian.

Beberapa menit pertama perjalanan terasa biasa saja.

Sampai akhirnya aku sadar…

Ada satu mobil hitam di belakangku. Sejak keluar dari kompleks, mobil itu tidak pernah menjauh. Bahkan ketika aku mempercepat laju kendaraan, mobil itu ikut mempercepat. Saat aku melambat, dia pun melambat.

Perasaanku mulai tidak enak.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Aku menggenggam setir lebih erat.

Jangan panik, Rania.

Untuk memastikan, aku pura-pura menyalakan lampu sein dan berhenti di pinggir jalan, seolah ingin mengecek sesuatu.

Mobil itu…

Ikut berhenti.

Darahku seperti berhenti mengalir sesaat.

Aku menatap kaca spion. Kaca mobil itu gelap, tak bisa melihat siapa pengemudinya. Tapi jelas… dia mengawasiku.

Mobil Monika berada di depan, beberapa meter dari tempatku berhenti. Anehnya, mobilnya juga melambat… lalu berhenti.

Aku menyipitkan mata.

Kenapa dia ikut berhenti?

Apakah ini kebetulan?

Atau…

Jangan-jangan mereka saling mengenal?

Tiba-tiba pintu mobil hitam itu sedikit terbuka. Bayangan seseorang keluar perlahan.

Napasnya tercekat.

Siapa itu?

Aku refleks meraih ponselku. Kalau ini permainan Monika, maka dia sudah melangkah terlalu jauh.

Kaca spion kembali menangkap bayangan itu… pria bertubuh tinggi berjalan mendekat ke arah mobilku.

Tanganku mulai gemetar.

Ini bukan sekadar kebetulan.

Ini jebakan.

Dan aku sendirian.

Tanganku gemetar saat mencoba menelepon Mas Bram.

Tuut… tuut…

Lalu langsung mati.

Ponselnya tidak aktif.

Aku mengatupkan mata sesaat. Pasti dia sudah mulai meeting. Selalu saja saat aku benar-benar butuh, dia tak pernah bisa dihubungi.

“Mas… angkatlah…” gumamku putus asa.

Aku segera mencari nama lain di daftar kontak.

Arumi.

Tanpa berpikir panjang aku menekan tombol panggil.

Tuut… tuut… tuut…

Tak ada jawaban.

“Ayo Arum, angkat…” suaraku hampir menangis.

Tapi layar ponsel tetap menyala tanpa respons sampai akhirnya panggilan terputus sendiri.

Napas pria yang tadi keluar dari mobil hitam itu semakin dekat. Di kaca spion, bayangannya makin jelas. Langkahnya tenang. Terlalu tenang.

Aku benar-benar sendirian.

Tidak ada pilihan lain.

Jariku berhenti di satu nama yang sebenarnya paling ingin kuhindari.

Leon.

Entah kenapa hanya dia yang terlintas di pikiranku sekarang. Mungkin karena dia satu-satunya orang yang terlihat tidak takut pada Mas Bram… dan tidak terintimidasi oleh Monika.

Aku menelan ludah.

Kalau aku meneleponnya… berarti aku masuk ke dalam dunianya.

Tapi kalau tidak…

Aku bisa celaka.

Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku menekan tombol panggil.

Tuut…

Baru satu dering.

“Rania?”

Suara berat itu langsung terdengar di seberang sana.

Dia mengangkatnya cepat sekali.

Dadaku semakin sesak.

“Leon… aku…” suaraku bergetar.

“Kenapa? Kamu di mana?” tanyanya tegas, nadanya berubah serius dalam hitungan detik.

Aku menatap kaca spion lagi.

Pria itu sudah berdiri beberapa langkah dari mobilku.

“Sepertinya aku diikuti… ada mobil hitam sejak tadi membuntutiku. Sekarang dia berhenti di belakangku…”

Hening sepersekian detik.

“Jangan keluar dari mobil,” perintahnya tegas. “Kunci pintu. Tetap di dalam. Kirim lokasi kamu sekarang.”

Perintahnya lugas. Tanpa basa-basi.

Aneh… tapi justru itu membuatku sedikit lebih tenang.

“Leon…” bisikku pelan.

“Aku datang,” katanya singkat.

Panggilan terputus.

Jantungku berdegup semakin keras.

Pria di luar sana kini mengetuk kaca mobilku.

Tok. Tok. Tok.

Aku memejamkan mata.

Tuhan… semoga aku tidak salah memilih orang yang kuhubungi.

****

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!