NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 8 - DARAH DI TAMBANG GUNTHER

Keesokan paginya, Ash terbangun dengan tubuh yang masih terasa pegal meski Morgana sudah menyembuhkan lukanya. Mungkin ini pegal mental, pikirnya. Hampir mati memang meninggalkan bekas yang tidak terlihat.

Eveline sudah bangun lebih dulu, seperti biasa. Dia duduk di tepi jendela, memandangi jalanan yang mulai ramai.

"Pagi," sapa Ash sambil duduk dan meregangkan tubuh.

"Pagi," balas Eveline tanpa menoleh. "Kita harus ke guild. Melaporkan insiden kemarin."

"Ugh, birokrasi lagi."

"Ini penting. Eclipse adalah ancaman Class S. Guild perlu tahu mereka aktif di area ini."

Mereka bersiap dan turun ke ruang makan. Sarapan sederhana, bubur dan roti, tapi cukup untuk mengisi perut. Setelah itu, mereka berjalan ke guild.

Guild Adventurer pagi ini tidak seramai biasanya. Mungkin karena banyak adventurer yang sedang di luar kota untuk quest. Mereka langsung menuju konter dan bertemu dengan petugas yang sama seperti kemarin.

"Selamat pagi," sapa petugas itu. "Ada yang bisa saya—oh, kalian yang kemarin." Dia melihat ekspresi serius di wajah Eveline. "Ada masalah?"

"Kami perlu bertemu Guild Master Theron," kata Eveline. "Soal insiden Eclipse kemarin."

Wajah petugas itu langsung berubah serius. "Tunggu sebentar."

Dia menghilang ke ruang belakang, dan beberapa menit kemudian kembali dengan mengangguk. "Guild Master akan menemui kalian. Ikut saya."

Mereka dibawa ke ruangan yang sama seperti kemarin. Theron sudah duduk di belakang mejanya, wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.

"Duduklah," ucapnya sambil menunjuk dua kursi di depan meja. "Aku sudah dengar laporan dari Tuan Gorman. Eclipse menyerang caravan dan membunuh Walikota Redstone dari kota Millhaven."

"Itu benar," konfirmasi Eveline. "Mereka sangat terorganisir. Dan kuat."

"Kalian beruntung selamat," Theron menatap Ash. "Gorman bilang ada seseorang yang menghentikan Eclipse. Wanita misterius dengan kekuatan yang tidak bisa diidentifikasi."

Ash mengangguk. "Namanya Morgana. Atau dia menyebut dirinya Nivraeth. Dia... menyelamatkanku. Menyembuhkan tulang rusukku yang patah."

Theron mengernyit. "Menyembuhkan? Dengan sihir?"

"Bukan seperti sihir biasa. Cahayanya gelap. Dan terasa... aneh."

"Gelap..." Theron menulis sesuatu di perkamen. "Ini informasi penting. Wanita bernama Morgana dengan kekuatan penyembuhan gelap yang bisa membuat Eclipse mundur." Dia menatap mereka lagi. "Apa dia bilang kenapa dia menolongmu?"

"Dia bilang aku menarik. Dan dia bosan," jawab Ash dengan nada yang menunjukkan dia sendiri tidak percaya dengan alasan itu.

"Menarik..." Theron bersandar di kursinya, jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme teratur. "Ash, aku harus bertanya. Sejak kejadian kemarin, apakah kau merasakan sesuatu yang berbeda? Dalam tubuhmu? Pikiranmu?"

Ash berpikir sebentar. "Tidak juga. Aku masih aku. Kenapa?"

"Karena energi purba dalam dirimu mungkin bereaksi terhadap situasi berbahaya. Dan aku khawatir..." Theron tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Khawatir apa?"

"Tidak apa. Mungkin hanya pikiranku saja." Theron berdiri. "Baiklah, terima kasih atas laporannya. Sebagai kompensasi untuk quest yang gagal, guild akan memberikan kalian akses ke quest rank D meskipun kalian masih rank F."

"Serius?" Ash langsung bersemangat.

"Tapi dengan syarat," lanjut Theron. "Kalian harus membentuk party resmi. Minimal tiga orang. Aku tidak akan membiarkan kalian mengambil quest berbahaya hanya berdua."

Eveline mengangguk. "Itu masuk akal."

"Ada quest yang kusarankan," Theron mengambil sebuah perkamen dari tumpukan di mejanya. "Tambang besi Gunther, sehari perjalanan dari sini. Diserang monster. Bukan monster biasa. Mereka makan besi, dan setiap kali mereka makan, mereka tumbuh lebih besar dan lebih kuat."

"Monster yang bisa evolusi?" tanya Ash.

"Semacam itu. Dalam dua hari, mereka berkembang dari Tier 3 ke Tier 4. Jika dibiarkan, mereka bisa mencapai Tier 2 dan menjadi ancaman serius."

"Dan kau mau kami basmi mereka?"

"Dengan party tiga orang, ya. Bayarannya lima belas silver, plus lima silver per kepala monster yang berhasil dimusnahkan." Theron menatap mereka. "Tapi aku tidak akan memaksa. Kalian bisa menolak dan mengambil quest yang lebih aman."

Ash melihat ke Eveline. Dia mengangguk tipis.

"Kami terima," kata Ash. "Tapi kami butuh satu orang lagi untuk party."

"Aku punya saran," ucap Theron. "Ada seorang adventurer yang baru mendaftar kemarin. Mantan LightOrder. Nama Razen. Dia mencari party."

Ash tersenyum. "Kebetulan sekali. Kami kenal dia."

---

Mereka menemukan Razen di tavern yang sama seperti kemarin. Dia duduk sendirian dengan mug bir di depannya, menatap kosong ke arah jendela.

"Razen," panggil Ash sambil mendekat.

Razen menoleh, sedikit terkejut. "Ash. Eveline. Kalian baik-baik saja setelah kemarin?"

"Masih hidup, itu yang penting," jawab Ash sambil duduk. "Kami mau tawarkan sesuatu. Mau join party kami?"

Razen mengangkat alis. "Party? Kalian berdua?"

"Guild Master Theron bilang kami butuh minimal tiga orang untuk ambil quest rank D. Dan kami punya quest bagus. Tambang monster. Bayarannya lumayan."

"Tambang Gunther?" tanya Razen. "Aku dengar soal itu. Rust Eater, bukan? Monster Tier 4 yang makan logam."

"Kau tahu soal mereka?"

"Aku pernah melawan yang serupa saat masih di LightOrder. Mereka tangguh, tapi bisa dikalahkan jika tahu kelemahannya." Razen meminum birnya. "Berapa bayarannya?"

"Lima belas silver plus lima per kill."

"Lumayan." Razen menaruh mugnya. "Oke. Aku ikut. Tapi dengan syarat."

"Syarat apa?"

"Aku yang memimpin saat pertempuran. Aku punya pengalaman lebih dari kalian berdua digabung."

Ash melihat ke Eveline. Dia mengangguk setuju.

"Deal," kata Ash sambil mengulurkan tangan.

Razen menjabatnya. "Kapan kita berangkat?"

"Besok pagi. Kita butuh waktu untuk persiapan."

"Baik. Temui aku di gerbang timur saat matahari terbit."

---

Sisa hari itu dihabiskan untuk persiapan. Eveline membeli racun tambahan untuk belatinya dan beberapa antidote. Ash... well, Ash tidak punya banyak pilihan karena dia tidak punya senjata dan tidak bisa pakai sihir.

"Kau perlu setidaknya pisau atau belati kecil," kata Eveline saat mereka berjalan di pasar. "Tidak bisa terus-terusan pakai kayu atau tongkat."

"Tapi aku tidak punya uang cukup untuk beli senjata bagus."

"Maka kita beli yang murah."

Mereka masuk ke sebuah toko senjata kecil di sudut pasar. Pemiliknya, seorang dwarf dengan janggut hitam tebal, menyambut mereka dengan senyum lebar.

"Selamat datang! Cari apa?" tanyanya dengan suara besar.

"Pisau atau belati yang murah tapi tidak mudah patah," jawab Eveline.

Dwarf itu mengangguk dan membawa mereka ke rak di pojok. Di sana ada berbagai pisau sederhana dengan harga yang masih terjangkau.

Ash memilih sebuah pisau dengan gagang kayu sederhana tapi mata pisau yang terlihat cukup tajam. Harganya tujuh copper.

"Ini oke," komentarnya sambil mengayunkan pisau itu sedikit. "Berasa seperti punya senjata sungguhan."

"Jangan ayun-ayun sembarangan di dalam toko!" tegur si dwarf.

"Maaf, maaf!"

Setelah membayar, mereka kembali ke penginapan. Ash melatih cara memegang pisau dengan benar di dalam kamar sementara Eveline mengasah belatinya.

"Eveline," panggil Ash tanpa berhenti melatih. "Aku punya pertanyaan."

"Apa?"

"Kenapa kau mau terus bersamaku? Maksudku, aku ini beban. Aku lemah. Aku tidak bisa sihir. Aku bahkan nyaris mati kemarin."

Eveline berhenti mengasah. Dia menatap Ash dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Karena kau tidak melihatku sebagai alat," jawabnya pelan. "Semua orang melihatku sebagai assassin Nightshade. Sebagai pembunuh. Sebagai senjata. Tapi kau... kau melihat Eveline. Dan itu berarti sesuatu bagiku."

Ash tersenyum. "Kau memang Eveline. Bukan senjata. Bukan alat. Kau teman terbaikku di dunia ini."

Eveline tidak menjawab. Tapi senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

---

Pagi berikutnya, mereka bertemu Razen di gerbang timur tepat saat matahari mulai muncul. Razen sudah lengkap dengan armor dan pedang besarnya. Di pinggangnya juga tergantung sebuah kantong kecil yang mungkin berisi potion atau item penting.

"Kalian siap?" tanyanya.

"Siap," jawab Ash dengan semangat yang mungkin terlalu berlebihan untuk pagi-pagi.

Mereka berangkat. Perjalanan ke Tambang Gunther melewati jalan yang berbeda dari kemarin. Lebih ke arah pegunungan, dengan udara yang semakin dingin dan jalanan yang semakin menanjak.

Razen berjalan di depan dengan langkah pasti. Sesekali dia menjelaskan tentang Rust Eater.

"Mereka buta, tapi pendengaran mereka sangat tajam. Jangan buat suara keras kalau tidak perlu. Kulit mereka seperti karat hidup, sangat keras, tapi ada celah di antara pelat-pelat kulitnya. Targetkan celah itu jika kalian mau membunuh dengan cepat."

"Kalau racun?" tanya Eveline.

"Efektif, tapi butuh dosis besar. Mereka punya resistensi tinggi terhadap racun biasa."

"Berarti racunku mungkin tidak cukup."

"Lebih baik fokus pada serangan fisik presisi."

Mereka tiba di Tambang Gunther saat matahari sudah tinggi. Lokasinya di lereng gunung, sebuah terowongan besar yang mulutnya seperti mulut raksasa yang gelap dan menakutkan.

"Sepertinya sudah ditinggalkan," bisik Razen saat mereka mendekat. Tidak ada penjaga. Hanya gerbang kayu yang patah dan gerobak tambang yang terbalik.

Dari dalam terdengar suara gemerisik logam. Seperti sesuatu yang mengunyah besi.

"Kita masuk perlahan," instruksi Razen. "Formasi segitiga. Aku di depan, Eveline di sayap kiri, Ash di tengah belakang."

"Maksudnya aku di tengah dikerumuni?" protes Ash.

"Kau yang paling lemah. Lebih aman di tengah."

"...oke, fair."

Mereka memasuki kegelapan. Razen menyalakan sebuah batu bercahaya yang dia ambil dari kantongnya. Cahayanya redup tapi cukup untuk menerangi jalan.

Dan kemudian, mereka melihatnya.

Monster itu seperti kepiting batu, tapi dengan enam kaki logam dan mulut yang penuh roda gigi berputar. Ukurannya sebesar anjing besar. Kulitnya seperti karat yang hidup, berwarna coklat kemerahan dengan bercak-bercak hitam.

Dan di depannya, ada sisa-sisa gerobak besi yang sedang dilahapnya.

KRUNCH. KRUNCH.

Suara mengunyah itu membuat bulu kuduk Ash berdiri.

"Rust Eater," bisik Razen. "Tier 3. Satu kita bisa tangani. Tapi lihat, ada lebih banyak."

Dari bayangan, mata-mata merah lainnya menyala. Empat. Lima. Enam.

"Mereka berkelompok," kata Eveline. "Harus kita pisahkan."

"Bagaimana?" tanya Ash.

"Dengan umpan," Razen melihat ke Ash. "Kau lari ke terowongan kiri. Buat keributan. Beberapa akan mengikutimu. Kami akan bunuh yang di sini, lalu kami susul."

"AKU JADI UMPAN LAGI?!"

"Kau yang paling cocok. Kau bisa lari cepat, dan kau punya regenerasi kan? Theron bilang padaku soal itu."

"Regenerasi bukan berarti aku kebal sakit!"

"Tapi kau tidak akan mati. Sekarang pergi sebelum mereka mendengar kita."

Ash menatap Razen dan Eveline dengan putus asa. Tapi dia tahu ini satu-satunya cara. Dengan napas dalam, dia berlari ke terowongan kiri sambil berteriak.

"HEY MONSTER JELEK! KE SINI! AKU ADA BANYAK BESI DI SINI! Maksudku, tubuhku mengandung zat besi!"

Beberapa Rust Eater, tiga dari mereka, berbalik dan mulai mengejar. Razen dan Eveline langsung menyerang yang tersisa.

Ash berlari secepat mungkin. Terowongan itu sempit dan berbelok-belok. Suara kaki logam mengejarnya semakin dekat. Dia berbelok ke sebuah ruangan kecil yang mungkin bekas ruang istirahat penambang.

Tapi tidak ada jalan keluar.

"Sial, buntu!"

Tiga Rust Eater memasuki ruangan. Mulut mereka berputar cepat, roda gigi saling beradu menciptakan suara mengerikan.

Ash mundur sampai punggungnya menempel dinding.

"Oke. Ini saatnya. Keluarkan kekuatan. Keluarkan. KELUAR!"

Tapi tidak ada. Hanya ketakutan.

Rust Eater pertama melompat. Ash mengangkat tangan untuk melindungi wajah.

Dan sesuatu terjadi.

Bukan cahaya emas seperti biasa.

Tapi sesuatu yang lebih halus. Seperti lapisan pelindung tipis berwarna emas muncul di kulit lengannya. Hanya sedetik.

KLANG!

Gigi-gigi monster itu menggigit, tapi terpental. Seperti menggigit baja.

Ash terkejut. "Wah! Aku punya armor invisible!"

Tapi pelindung itu langsung menghilang. Dan Rust Eater itu marah. Mereka menyerang bersama-sama.

Ash berguling, menghindar. Dia mengambil sebatang besi panjang dari lantai, sisa perkakas, dan mengayunkannya.

THWACK!

Rust Eater terkena, tapi tidak mati. Hanya terguling. Yang lain menerjang. Ash berkelit, tapi satu berhasil mencakar kakinya. Sakit tajam. Darah mengalir.

"ASTAGA!" Dia menjatuhkan besinya, memegang luka.

Rust Eater mendekat, mulut berputar siap menghancurkan.

Dan di saat itu, Ash merasakannya. Kemarahan. Ketakutan. Dan sesuatu yang lebih dalam... sesuatu yang lapar.

Segel di dalam dirinya, yang pertama sudah pecah, sekarang yang kedua mulai retak.

Cahaya emas keluar dari telapak tangannya, tapi kali ini berbentuk seperti pukulan energi kecil. Ia menerjang Rust Eater terdekat, merobek tubuh karatnya menjadi dua.

Monster itu mati seketika. Tapi dua lainnya semakin agresif.

Ash berlutut, lelah. Kekuatan itu mengurasnya. Dan racun dari cakar monster mulai bekerja. Penglihatannya kabur.

"Razen... Eveline... tolong..."

Kemudian, dari bayangan di sudut ruangan, sesuatu bergerak.

Bukan Razen.

Bukan Eveline.

Seseorang berjubah hitam, wajahnya tersembunyi di balik kerudung. Dia berjalan mendekat dengan langkah senyap yang tidak wajar.

Ash mencoba fokus. "Siapa...?"

Orang itu tidak menjawab. Di tangannya, ada belati dengan mata pisau berwarna ungu, berkilau dengan cahaya berbahaya. Beracun.

"Maaf," bisik suara laki-laki dari balik kerudung. Suaranya dingin, tanpa emosi. "Tapi keberadaanmu mengganggu rencana."

Ash mencoba berdiri, tapi kakinya lumpuh oleh racun monster. "R-rencana apa?"

"Kebangkitan yang salah."

Belati itu diangkat tinggi-tinggi.

Dan kemudian, dengan gerakan cepat yang tidak bisa dihindari, ditikamkan ke punggung Ash.

Sakit.

Sakit yang lebih tajam dari cakar monster.

Dingin menyebar dari titik tusukan, racun dari belati itu jauh lebih mematikan daripada racun monster. Ash terbatuk, darah keluar dari mulutnya. Penglihatannya semakin gelap.

Orang berjubah itu menarik belatinya, melihat Ash yang terjatuh dengan darah menggenang di bawah tubuhnya.

"Selamat tinggal, vessel Uroboros," ucapnya pelan.

Dia melangkah mundur ke dalam bayangan dan menghilang, meninggalkan Ash sendirian dengan dua Rust Eater yang masih hidup dan racun yang dengan cepat menghentikan detak jantungnya.

Di kejauhan, teriakan Razen dan Eveline terdengar. Mereka sudah menyelesaikan monster mereka dan sedang berlari ke arahnya.

Tapi terlambat.

Ash terbaring di lantai dingin, darahnya menggenang di sekitar tubuhnya. Matanya melihat langit-langit gua yang gelap.

Dan dalam pikirannya yang semakin kabur, satu suara bergema, suara yang dalam, purba, dan sangat, sangat marah.

"TIDAK. BELUM."

Lalu, segel kedua pecah berantakan.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!