NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu jam untuk kita

Dinda berdiri mematung di tengah lobi rumah sakit yang ramai. Matanya membelalak menyaksikan Kenzi Kaziro, pria yang ia harapkan bisa menjadi senjatanya, kini diseret kasar oleh petugas kepolisian. Kenzi terus memberontak, namun borgol di tangannya mengunci mati segala harga dirinya.

"Yoga! Kau akan menyesal!" teriak Kenzi sebelum tubuhnya dipaksa masuk ke dalam mobil patroli.

Dinda tidak berani mendekat. Ia merasa beribu pasang mata staf medis menatapnya dengan pandangan menghina—sebagai mantan istri yang mencoba menghancurkan pahlawan mereka. Dengan tangan gemetar, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan menekan sebuah nomor di ponsel.

"Cari pengacara paling mahal di kota ini. Aku tidak peduli berapa biayanya, bebaskan Kenzi Kaziro sekarang juga! Jika dia bicara, aku juga akan tamat!" bentaknya ke arah ponsel sebelum menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan area rumah sakit dengan hati yang penuh kebencian.

Di Ruang Kerja Yoga

Sementara itu, Yoga baru saja sampai di ruang kerjanya. Ia melepaskan jas dokternya dan melemparkannya ke sofa dengan helaan napas panjang. Ketegangan di ruang operasi tadi—meski hanya sandiwara—tetap menguras energinya. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengusir bayang-bayang kelicikan Dinda dan Kenzi dari pikirannya.

Tok... tok...

Pintu diketuk pelan. Yoga belum sempat menjawab ketika pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah cantik Anindya yang tersenyum lembut.

"Mas Yoga?" panggilnya pelan.

Seketika, beban di bahu Yoga terasa meluruh. Ia menegakkan duduknya dan tersenyum balik. "Anin... kau datang di waktu yang sangat tepat."

Anindya melangkah masuk sambil membawa tas bekal kain bermotif bunga. Ia bisa melihat guratan lelah di wajah suaminya, meski Yoga mencoba menyembunyikannya. Anindya meletakkan bekal itu di meja kerja Yoga, lalu berjalan ke belakang kursi suaminya. Dengan lembut, jemarinya mulai memijat bahu Yoga yang kaku.

"Aku dengar dari Cakra di bawah tadi... semuanya sudah selesai ya, Mas?" tanya Anindya lembut.

Yoga memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan istrinya. "Ya. Kenzi sudah dibawa polisi. Dinda mungkin sedang sibuk mencari bantuan hukum sekarang, tapi bukti yang aku punya terlalu kuat. Mereka tidak akan bisa lari."

Anindya menghentikan pijatannya sejenak, lalu berpindah ke samping Yoga. Ia menatap mata suaminya dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih sudah melindungiku, Mas. Dan terima kasih sudah melindungi rumah sakit Papa Reza."

Yoga menarik tangan Anindya, mengecup punggung tangannya dengan lama. "Ini adalah tugasku, Sayang. Menjaga apa yang menjadi milikmu, dan menjaga dirimu dari siapapun yang mencoba mengusik ketenangan kita."

Anindya tersenyum malu-malu, lalu mulai membuka kotak bekalnya. Bau harum masakan rumahan seketika memenuhi ruangan yang semula beraroma antiseptik itu.

"Ayo makan dulu. Aku masak ayam bumbu kuning kesukaanmu. Jangan pikirkan Dinda dulu untuk satu jam ke depan, ya?"

Yoga tertawa rendah, rasa lelahnya benar-benar hilang digantikan oleh binar bahagia. "Baiklah, Nyonya Aditama. Aku akan patuh."

Suasana di ruang kerja itu berubah menjadi sangat hangat dan intim, jauh dari kesan kaku sebuah kantor rumah sakit. Anindya membuka kotak bekalnya, lalu dengan telaten menyuapi Yoga sesendok demi sesendok.

"Ayo, Dokter Spesialis Internis yang hebat ini harus makan yang banyak supaya tidak gemetar saat memegang pisau bedah," canda Anindya sambil mengarahkan sendok ke mulut Yoga.

Yoga menerimanya dengan patuh, namun matanya terus menatap wajah Anindya yang berseri-seri. "Sejak kapan istriku jadi sedikit bawel seperti ini?" goda Yoga sambil mengacak rambut Anindya pelan.

Anindya menjulurkan lidahnya sedikit, lalu tertawa kecil saat menceritakan betapa Cakra tadi hampir terpeleset di lobi karena terburu-buru menghindar dari kejaran suster yang ingin meminta tanda tangan Yoga.

Mendengar tawa renyah dan candaan Anindya, Yoga ikut tertawa lepas. Suasana hatinya yang semula tegang kini benar-benar cair.

Ternyata dia bisa seceria ini, batin Yoga dalam hati. Pantas saja mendiang Arka begitu mencintainya. Dia bukan hanya lembut, tapi punya sisi menyenangkan yang bisa membuat siapapun merasa tenang di sampingnya.

Setelah makanan utama habis, Anindya merapikan kotak bekalnya. "Mas, aku punya 'pencuci mulut' yang manis untukmu," ucapnya dengan nada yang sedikit menggoda.

Yoga menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Mana?"

Anindya mendekat, lalu tanpa diduga, ia mengecup bibir Yoga dengan lembut. Ciuman itu singkat namun penuh dengan rasa manis dan kasih sayang yang tulus.

Namun, Yoga bukan tipe pria yang akan menyia-nyiakan kesempatan emas. Saat Anindya hendak menarik dirinya kembali, tangan kokoh Yoga dengan cepat menahan tengkuk istrinya. Ia menarik Anindya kembali ke dalam pelukannya, menyambut ciuman itu dengan lebih dalam dan penuh kerinduan.

Ruang kerja yang biasanya sunyi itu kini hanya diisi oleh suara napas mereka yang menderu. Yoga melumat bibir istrinya dengan gairah yang baru saja tersulut kembali, seolah ingin menunjukkan bahwa tidak ada makanan penutup di dunia ini yang lebih manis daripada Anindya.

Di tengah momen mesra itu, ponsel Yoga yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar hebat. Kali ini bukan dari rumah sakit, melainkan sebuah pesan video dari nomor yang tidak dikenal.

Yoga melepaskan ciumannya dengan enggan, napasnya masih sedikit memburu. Ia meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut. Matanya menyipit saat melihat rekaman video berdurasi singkat itu.

Dalam video tersebut, terlihat Dinda sedang menangis histeris di depan Dokter Reza, namun di belakang mereka, tampak Kenzi Kaziro yang ternyata sedang bicara dengan pengacaranya lewat telepon seluler di dalam mobil tahanan—ia terlihat menyeringai, seolah punya kartu as yang belum dikeluarkan.

"Sepertinya 'perang' ini belum benar-benar berakhir, Anin," bisik Yoga sambil menunjukkan layar ponselnya.

Yoga mematikan layar ponselnya tanpa ragu, lalu meletakkannya dalam posisi terbalik di atas meja. Baginya, dunia di luar pintu ruangan ini bisa menunggu. Saat ini, hanya ada dia dan Anindya.

"Mas? Tidak diangkat?" tanya Anindya pelan, menyadari perubahan ekspresi suaminya sesaat tadi.

Yoga menggeleng, lalu kembali menarik pinggang Anindya agar lebih mendekat ke arahnya. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya, menghirup aroma parfum Anindya yang menenangkan—campuran wangi vanila dan bunga segar yang selalu berhasil menjadi obat penawar stres paling ampuh bagi Yoga.

"Biarkan saja. Untuk satu jam ke depan, aku bukan dokter, bukan CEO, dan bukan siapa-siapa bagi keluarga Rahardjo. Aku hanya suamimu," bisik Yoga dengan suara rendah yang menggetarkan.

Anindya merasakan desiran halus di dadanya. Ia melingkarkan tangannya di leher Yoga, membelai rambut belakang suaminya dengan lembut. "Tapi Mas, kalau itu penting bagaimana?"

Yoga mendongak, menatap mata Anindya dengan intensitas yang dalam. "Yang paling penting bagiku sekarang adalah memastikan istriku tahu bahwa dia adalah prioritas utamaku. Masalah Dinda atau Kenzi... mereka sudah masuk ke dalam jaringanku. Mereka tidak akan lari ke mana-mana."

Yoga kemudian mengangkat tubuh Anindya dengan mudah, membawanya duduk di atas meja kerjanya yang luas di antara tumpukan dokumen medis. Anindya sedikit terpekik kaget, namun tawa kecil keluar dari bibirnya.

"Mas Yoga... ini di meja kerja!" protes Anindya sambil memegang bahu suaminya.

"Meja ini sudah terlalu sering melihatku bekerja keras, Anin. Sekarang biarkan dia melihatku berbahagia," jawab Yoga dengan seringai tipis yang nakal.

Ia kembali menyatukan bibir mereka, kali ini dengan ritme yang lebih lambat dan penuh perasaan. Yoga mengecap setiap jengka bibir Anindya, seolah sedang menghafal rasa manis yang diberikan istrinya. Ruangan itu terasa semakin panas, bukan karena terik matahari Surabaya di luar jendela, melainkan karena gairah yang kembali membuncah di antara pasangan yang baru saja mengecap kebahagiaan sejati ini.

Anindya membalas ciuman itu dengan keberanian yang baru ia temukan. Ia merasakan tangan Yoga yang hangat mengelus pipinya, lalu turun ke pinggangnya, memberikan rasa aman sekaligus percikan adrenalin yang menyenangkan. Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, mereka seolah menciptakan dunia kecil mereka sendiri, di mana tidak ada dendam, tidak ada penculikan masa lalu, dan tidak ada gangguan dari Dinda.

Satu Jam Kemudian

Setelah suasana mulai mendingin dan mereka duduk bersandar di sofa besar di pojok ruangan, Yoga merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Anindya menyandarkan kepala di bahu Yoga, tampak begitu damai.

"Mas," panggil Anindya.

"Hmm?"

"Apa pun yang terjadi nanti di Jakarta... atau apa pun yang direncanakan Dinda, janji ya kita akan menghadapinya bersama? Jangan menyembunyikan apa pun dariku hanya karena ingin melindungiku."

Yoga terdiam sejenak, lalu mengecup kening Anindya. "Aku janji. Kita adalah satu tim sekarang."

Yoga kemudian meraih ponselnya kembali. Ia melihat ada pesan tambahan dari Cakra.

> Cakra: "Bos, pengacara Kenzi Kaziro sudah tiba di kantor polisi. Mereka mencoba mengajukan penangguhan penahanan. Dan satu hal lagi... Ibu Kanaya baru saja menelepon, dia menangis mencari Anindya."

Yoga menatap Anindya. "Sepertinya waktu tenang kita sudah habis, Sayang. Ibumu ingin bicara."

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!