NovelToon NovelToon
The Crimson Legacy

The Crimson Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyeberangan Dunia Lain / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BlueFlame

‎Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.

‎Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.

‎Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.

‎Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.

‎Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.

bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4. Penyusup

*‎*Arthurian,

Kau pingsan lagi. Entah sudah berapa kali itu terjadi dalam dua bulan terakhir. Aku sudah menyalurkan cukup mana untuk menstabilkan Mana Heart-mu—bukan karena aku peduli, tapi karena jika kau mati, aku harus berhadapan dengan Duke Aldric dan menjelaskan bagaimana aku “membunuh” ahli warisnya.

Saat kau sadar, temui aku di Perpustakaan Utara. Jangan membuatku menunggu. Aku benci menunggu.

Oh, dan tolong sadarkan dirimu. Saat ini kau terluka parah dan berada dalam kondisi yang menyedihkan. Jadi, bisakah kau berhenti bersikap keras kepala dan benar-benar mendengarkanku, walau hanya sebentar?

Jadi, jangan coba-coba berlatih pedang lagi.

Bodoh.

...V. S.V...

Arthur menatap catatan itu sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Dia… peduli, tapi tak mau mengakuinya,” gumamnya. Sebagai politisi veteran, ia terbiasa membaca makna di balik kata-kata. Nada yang terdengar dingin terasa dipaksakan, sementara tindakannya justru berkata sebaliknya.

Tsundere klasik.

Ia terdiam, lalu merenung.

“Kemarin, meski aku tak bisa melihatnya dengan jelas… tatapannya itu jelas membenciku. Dia peduli, tapi juga membenci tubuh ini.”

Arthur menggeleng pelan. “Entahlah. Apa sebenarnya yang kupedulikan?”

Ia meletakkan catatan tersebut, kemudian memeriksa statusnya.

Arthur mengangguk perlahan. Sistem ini terasa responsif—setiap interaksi membawa konsekuensi.

Ia menarik napas panjang, menata kembali pikirannya. Memori milik Arthur Vancroft yang asli kini memberinya konteks yang sangat dibutuhkan.

“Jadi …” Arthur berbicara pada dirinya sendiri, kebiasaan lamanya saat menyusun strategi.

“Arthur yang asli adalah pejuang hebat, tapi bodoh secara emosional. Arogan. Dia menghormati Valerine—namun caranya menghormati adalah dengan memperlakukannya sebagai bagasi politik.”

‎Aku tidak mengerti cara berpikir Arthur yang asli, pikirnya.

Ia kembali menatap catatan itu.

“Valerine ini… dia bukan wanita lemah. Dia cerdas, kuat, dan memiliki harga diri yang tinggi. menurutku dia sangat luar biasa karena bisa bertahan selama tiga tahun bersama pria dengan pola pikir seperti itu…”

Rasa bersalah yang aneh perlahan merayap—meski ia tahu ini bukan sepenuhnya kesalahannya. Thomas Watson selalu berpegang pada satu prinsip: perlakukan setiap orang dengan rasa hormat yang layak mereka terima, bukan berdasarkan posisi mereka.

Sebenarnya, Arthur yang asli juga memiliki prinsip yang sama. Hanya saja, cara mereka menghormati seseorang sangat berbeda. Bagi Arthur yang asli, menghormati berarti menggunakan dan memanfaatkan. Bagi Thomas, menghormati berarti mengakui nilai seseorang sebagai manusia.

“Maka prioritas pertamaku,” putusnya akhirnya, “adalah memperbaiki hubungan dengan Valerine. Bukan hanya karena sistem menyarankannya—tapi karena dia adalah satu-satunya sekutu yang kumiliki di istana ini.”

Ia bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati, kali ini tanpa tergesa-gesa.

Tubuhnya masih terasa sakit, namun kondisinya jauh lebih baik dibandingkan sebelum ia pingsan.

Untuk hal ini… aku memang harus berterima kasih pada Valerine.

‎Arthur berjalan menuju lemari besar di sudut ruangan dan membukanya. Di dalamnya tersusun rapi pakaian-pakaian mewah. Setelah sesaat mempertimbangkan, ia memilih sesuatu yang sederhana: kemeja putih dengan bordir merah di kerah, celana hitam, dan vest merah gelap.

Saat menatap refleksinya di cermin, ia hampir tersedak ludah sendiri—terpukau oleh tubuh yang kini ia huni. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah sekalipun bertemu pria setampan ini.

Pria di cermin itu adalah Arthurian Vancroft—tampan, mematikan, dengan aura aristokrat yang kuat.

“Baiklah,” katanya pada bayangannya sendiri. “Saatnya bertemu istriku.”

Ia berbalik menuju pintu—lalu berhenti.

‎DING.

‎╔══════════════════════════════════╗

‎║  【QUEST ALERT】                 ║

‎╚══════════════════════════════════╝

‎QUEST: First True Conversation

‎Objective: Bertemu Valerine di Perpustakaan Utara dan berbicara dengan jujur (tanpa arogansi Arthur yang lama)

‎Reward:

‎- +5% Relationship dengan Valerine 

‎- +2% Magical Power (jika Valerine bersedia membantu secara aktif) 

‎- Unlock: Valerine's Background Story

‎Failure:

‎- -10% Relationship 

‎- Valerine akan menutup diri sepenuhnya

‎Note: Valerine sangat perceptive. Kebohongan akan terdeteksi. Kejujuran adalah kunci—tapi bukan kejujuran tentang transmigrasi. Tunjukkan perubahan melalui tindakan dan sikap.

Arthur tersenyum—senyuman yang pernah menenangkan para pemimpin dunia di meja negosiasi.

“Aku sudah merundingkan perjanjian damai dengan diktator dan teroris,” gumamnya tenang. “Aku bisa menghadapi satu istri yang marah.”

Ia membuka pintu dan melangkah keluar dari kamar, memasuki koridor panjang Fortress of Scarlet Dawn.

Namun di dalam hatinya, satu pikiran bergema tanpa ampun.

Sial. Kenapa aku takut sekali?

Seharusnya dulu aku belajar cara menghadapi istri—meski belum pernah menikah.

Untuk pertama kalinya, lawan yang harus ia hadapi bukanlah negara, bukan pula teroris.

Melainkan hati seorang wanita.

Ia teringat ucapan asistennya di masa lalu: bahwa yang paling sulit ditebak dan diluluhkan di dunia ini bukanlah politik atau kekuasaan—melainkan hati seorang wanita.

Namun Thomas Watson—The People’s President—tak pernah mundur dari tantangan.

Koridor Fortress of Scarlet Dawn membentang seperti labirin megah. Dinding-dinding granit merah diukir dengan relief pertempuran kuno, langit-langitnya menjulang tinggi dengan lampu-lampu kristal yang melayang tanpa penopang, sementara jendela-jendela kaca patri menampilkan sejarah panjang Keluarga Vancroft dalam warna-warna cahaya yang agung.

Arthur melangkah pelan. Setiap langkah diperhitungkan—tidak terlalu cepat hingga tampak tergesa, tidak pula terlalu lambat hingga terkesan lemah. Punggungnya tegak, dagu sedikit terangkat, tangan kiri bertumpu ringan pada gagang pedang seremonial di pinggangnya.

Setiap pelayan maupun pengawal yang berpapasan segera menunduk dan memberi hormat.

“Yang Mulia, Archduke.”

Dari luar, ia adalah The Crimson Aegis—Archduke legendaris, tak terkalahkan, sosok yang menakutkan.

Dari dalam, setiap langkah terasa seperti siksaan.

Tahan. Jangan tunjukkan kalau kau sedang kesakitan.

Otot-ototnya berteriak protes. Magic Circuits yang putus menimbulkan sensasi seperti arus listrik mati—sesekali menyengat, sesekali mati rasa. Mana Heart-nya berdetak tidak beraturan—

deg… deg-deg… deg—

seperti mesin tua yang nyaris mogok.

Namun wajah Arthur tetap tenang. Mata merahnya menatap lurus ke depan, tanpa goyah.

Presidensi mengajarkanku satu hal, pikirnya, mengulang mantra lama yang tertanam dalam benaknya.

Kamera selalu merekam. Publik selalu menilai. Jangan pernah—jangan pernah—biarkan mereka melihatmu lemah.

‎TAP. TAP. TAP.

Langkah kaki menggema dari kejauhan.

Seorang prajurit muda dengan zirah merah–hitam milik kediaman Vancroft muncul dari tikungan—lalu seketika membeku saat melihat Arthur.

Mata prajurit itu membelalak. Dalam satu gerakan refleks, ia menghantamkan kepalan tangan kanannya ke dada kiri—

CLANG—

sebuah salam militer untuk atasan.

“YANG MULIA ARCHDUKE!” teriaknya. Suaranya bergema di sepanjang koridor. Kepalanya tertunduk dalam, tubuhnya kaku.

Arthur nyaris terkejut setengah mati.

Namun wajahnya tetap tenang. Ia hanya melirik prajurit itu sekilas, lalu mengangguk pelan.

“Siapa namamu?”

Prajurit yang ditanya tampak berseri—dadanya mengembang, suaranya tegas dan formal, khas militer.

“Siap! Saya Corporal Edric, dua puluh dua tahun. Bergabung dengan Crimson Guard sejak tiga tahun lalu!”

‎“Corporal Edric,” ujar Arthur dengan suara dalam dan tenang. “Patroli malam berjalan baik?”

Prajurit itu tersentak. Kepalanya terangkat sedikit, matanya membulat karena terkejut. Hanya karena namanya disebut langsung oleh sang Archduke, wajah Edric tampak seperti nyaris menangis.

“Y-Ya, Yang Mulia! Patroli berjalan lancar! Tidak ada aktivitas mencurigakan di perimeter timur!”

“Bagus.” Arthur mengangguk. “Jaga kesehatan. Musim hujan akan datang—pastikan semua pos patroli memiliki persediaan yang cukup.”

“Y-Ya, Yang Mulia!”

Arthur melanjutkan langkahnya, meninggalkan prajurit muda itu berdiri kaku dengan wajah penuh kekaguman.

Lalu—

kakinya tersangkut.

Sial.

Keseimbangannya hilang dalam sekejap. Tubuhnya condong ke depan—jatuh tak terhindarkan.

Habislah aku.

Dengan refleks panik, Arthur memutar tubuhnya untuk memaksa diri tetap berdiri. Lengannya ikut terayun tanpa kendali—

BRUK!

Lengannya menghantam seseorang yang berdiri tepat di belakangnya. Sosok itu terlempar ke dinding batu dengan keras dan langsung terkulai, tak bergerak.

Eh? Ehhh?

“YANG MULIA!”

Para pengawal dan Edric berlari menghampiri Arthur. Dalam hitungan detik, mereka mengepung sosok yang tergeletak itu.

“Pembunuh!” salah satu pengawal berteriak.

Sebuah pisau terlepas dari genggaman orang itu dan jatuh berdering ke lantai.

“Maafkan kami, Yang Mulia,” kata Edric cepat, suaranya penuh rasa bersalah. “Sampai hal seperti ini pun harus Anda tangani sendiri. Hamba akan segera melapor pada kapten untuk memperketat keamanan.”

Di dalam hatinya, Edric bergetar kagum.

Luar biasa…

Cara Yang Mulia menghindarinya—begitu halus. Benar-benar hebat.

Arthur berdiri kaku. Otaknya kosong.

Di depannya, pisau itu tergeletak jelas di lantai.

Jika tadi ia tidak tersandung, pisau itu pasti sudah mengenainya.

Jika ia tidak berputar secara refleks—

Arthur melirik pedang yang tadi digenggam penyerang itu.

Ia pasti sudah tertusuk… sampai mati.

1
Xiao Ling Yi
Imutnya~
Xiao Ling Yi
Kurangg/Frown/
Xiao Ling Yi
Semangat updatenya Thor~/Smile/
Fel N: Makasih banyak, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kawaii😍
Fel N: 🤭🤭🤭😅😅
total 1 replies
Khns_
setting yang detail, penjelasan yang rinci di setiap kejadian, bahasa yang enak dibaca, dan penggambaran karakternya yang joss bgt sih yg bikin betah baca 1 bab lagi, lagi, dan lagi.
Fel N: Makasih banyak, kak.😭😭😭🥰🥰🥰
total 1 replies
Khns_
kakak author update tiap kapan ya?
Fel N: Tiap hari, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
blueberry
lucu bgt pasangan ini🤭
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Satu banget nih Thor?/Grievance/
blueberry
semangat thor up nya
Fel N: makasih kak 🥰🥰☺️☺️☺️
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Suka banget sama ceritanya, semangat!!/Smile/
Fel N: makasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Lanjut Kak Othor~!💪💪
Fel N: siap🥰🥰🥰☺️
total 1 replies
Jack Strom
Mantap... 😁
anak panda
🔥🔥🔥
Jack Strom
Keren... 😁
anak panda
gasss up 2-3 bab🔥🔥🔥
🤭🤭
Fel N: Semoga bisa yah kak🥰
total 1 replies
anak panda
lanjutt
Jack Strom
Wow... Keren... 😁😁😛😛😛
Jack Strom
Bikin Penasaran... 😁😛😛😛
Fel N: makacih 🥰
total 1 replies
Jack Strom
Mantap!!! 😁😛😛😛
Jack Strom
Eh... Tubuh Arturian itu biologis apa cyborg kah... 🤔🤔🤔...😛😛😛😛
Fel N: biologis kak😭. Nanti bakal ada penjelasan tentang world building nya. jadi bersabarlah kak Jack .🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!