NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: TITIK BALIK PERLAWANAN

​Setelah makan malam selesai, Revan memutar sebuah piringan hitam tua yang ia temukan di lemari vila. Alunan musik jazz klasik yang lembut mulai memenuhi ruangan. Ia berdiri di hadapan Valerie, mengulurkan tangannya dengan gaya seorang ksatria.

​"Boleh aku meminta dansa ini, Istriku?"

​Valerie tersenyum malu-malu, meletakkan tangannya di telapak tangan Revan yang kokoh. "Aku tidak terlalu pandai berdansa, Mas."

​"Ikuti saja langkahku. Aku tidak akan membiarkanmu terjatuh," bisik Revan.

​Revan menarik Valerie mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Satu tangannya berada di pinggang Valerie, sementara tangan lainnya menggenggam jemari kecil istrinya. Mereka bergerak perlahan, berayun mengikuti irama musik di depan perapian yang berderak.

​Valerie menyandarkan kepalanya di dada Revan, mendengarkan detak jantung suaminya yang tenang namun kuat. "Mas... terima kasih karena tetap menjadi pria baik untukku. Meski dulu kau punya banyak alasan untuk membenci keluargaku, kau tidak pernah melampiaskannya padaku."

​Revan mengecup puncak kepala Valerie. "Membencimu adalah hal yang mustahil bagi pria yang sudah melihatmu sebagai pusat dunianya sejak lama, Erie. Kau adalah satu-satunya hal murni di keluarga itu. Menjagamu tetap murni adalah satu-satunya cara bagiku untuk tetap merasa menjadi manusia baik."

​Langkah dansa mereka melambat, hingga akhirnya mereka hanya berdiri diam sambil berpelukan di tengah ruangan. Revan mengangkat dagu Valerie dengan jari telunjuknya, memaksa gadis itu menatap matanya yang berkilat penuh kasih.

​"Malam ini, aku hanya ingin kau mengingat satu hal," ujar Revan serius. "Besok, saat kita kembali ke Jakarta, apa pun yang terjadi, jangan pernah lepaskan tanganku. Dunia mungkin akan kembali berisik, tapi di dalam sini," ia menyentuh dada Valerie, "aku ingin kau selalu merasa tenang karena kau adalah milikku."

​Valerie tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjinjit, melingkarkan lengannya di leher Revan, dan memberikan kecupan lembut di bibir suaminya sebagai jawaban. Kecupan yang dimulai dengan rasa manis itu perlahan berubah menjadi ciuman yang mendalam dan penuh komitmen, menyegel janji mereka di malam terakhir itu.

Keesokan Paginya

​Fajar menyingsing dengan warna emas yang mewah. Valerie terbangun bukan karena alarm, melainkan karena merasakan usapan lembut di pipinya. Ia membuka mata dan menemukan Revan sudah rapi dengan kemeja hitamnya, menatapnya dengan senyum tipis.

​"Bangunlah, Putri Tidur. Kita harus bersiap," bisik Revan.

​Valerie menggeliat, merasakan sisa-sisa kebahagiaan semalam masih menyelimutinya. "Sudah waktunya pulang?"

​"Iya. Tapi kali ini, kita pulang sebagai satu tim yang utuh," Revan membantu Valerie duduk dan memberikan segelas air hangat. "Minumlah. Aku sudah memasukkan semua barang ke mobil. Kita akan sarapan di perjalanan."

​Saat mereka melangkah keluar dari vila dan mengunci pintunya, Valerie sempat menoleh ke belakang sekali lagi ke arah balkon tempat ia melukis kemarin. Ia merasa seperti meninggalkan versi dirinya yang rapuh di vila ini, dan membawa pulang versi dirinya yang baru, seorang wanita yang siap berdiri tegak di samping suaminya.

Saat mobil mulai meluncur menuruni jalan pegunungan, Revan meraih tangan Valerie di atas tuas transmisi dan mengecupnya.

​"Siap menghadapi mereka, Ny. Revanza?"

​Valerie mengangguk mantap, jarinya menaut erat pada jemari Revan. "Selama bersamamu, aku siap."

​Namun, tepat saat mereka memasuki perbatasan kota, ponsel Revan yang tadinya sunyi mendadak bergetar hebat. Sebuah pesan dari asisten pribadinya muncul di layar dasbor mobil:

​"Pak Revan, kondisi darurat. Adrian baru saja memindahkan Kakek secara paksa dari rumah sakit ke lokasi yang tidak diketahui. Hendrawan juga memutus semua akses komunikasi keluarga."

​Wajah Revan yang tadinya tenang seketika berubah. Garis rahangnya mengeras, dan tatapannya kembali tajam seperti predator yang sedang melacak mangsa. Liburan benar-benar telah usai. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Mobil hitam Revan melaju membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang stabil namun penuh determinasi. Suasana di dalam kabin yang tadinya hangat kini berubah menjadi dingin dan taktis. Revan tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun cengkeramannya pada kemudi menunjukkan betapa besarnya amarah yang sedang ia tekan.

​Valerie duduk di sampingnya, mencoba tetap tenang meski napasnya sedikit pendek. Ia tahu, jika Revan sudah masuk ke dalam mode ini, artinya keadaan benar-benar gawat.

​"Mas... apa Adrian akan menyakiti Kakek?" tanya Valerie lirih.

​Revan melirik sekilas, lalu meraih tangan Valerie dan meremasnya pelan untuk memberikan ketenangan. "Adrian butuh Kakek tetap hidup untuk menandatangani dokumen pengalihan aset. Dia tidak akan menyakitinya secara fisik, tapi dia akan menekan mental Kakek. Itu yang tidak akan kubiarkan."

​Kantor Hukum Revanza & Co. – 10.00 WIB

​Begitu sampai, Revan tidak melewati pintu depan. Ia membawa Valerie masuk melalui lift khusus menuju lantai teratas yang hanya bisa diakses olehnya. Di sana, sudah menunggu tiga orang pria berpakaian santai namun dengan tatapan mata yang sangat tajam, tim investigasi khusus bentukan Revan yang jarang diketahui publik.

​"Laporannya," ucap Revan singkat tanpa basa-basi saat ia melangkah masuk ke ruang rapat utama.

Salah satu pria, sang ketua tim bernama Bram, langsung menyalakan layar besar. "Mobil ambulans swasta yang membawa Kakek keluar dari rumah sakit pukul 04.00 pagi tadi. Mereka menggunakan rute memutar untuk menghindari CCTV jalan protokol. Tapi kami berhasil melacak sinyal GPS dari salah satu perawat yang disuap Adrian."

​Layar menunjukkan sebuah titik merah yang berkedip di kawasan perumahan tua di pinggiran Jakarta.

​"Gudang tua milik perusahaan cangkang Adiwijaya yang sudah tidak beroperasi," sambung Bram. "Adrian tidak membawanya ke rumah utama karena dia tahu Anda akan langsung mencarinya di sana."

​Revan menatap titik merah itu dengan mata menyipit. "Dia pikir dia pintar dengan bermain di 'wilayah mati'."

Revan berbalik ke arah asistennya. "Siapkan draf tuntutan atas penculikan dan malpraktik. Pastikan surat tugas dari kepolisian sudah siap di tangan kita dalam satu jam. Aku tidak ingin masuk ke sana sebagai 'keluarga', aku ingin masuk ke sana sebagai aparat hukum yang mengeksekusi penjahat."

"Lalu bagaimana dengan Adrian, Pak?"

"Biarkan dia merasa menang untuk beberapa jam ke depan," Revan menoleh pada Valerie yang berdiri di sudut ruangan, memperhatikan suaminya dengan rasa kagum. "Bram, siapkan tim untuk pengamanan Ny. Revanza. Dia akan tetap di sini di bawah perlindungan maksimal."

"Tidak, Mas!" potong Valerie tiba-tiba. Ia melangkah maju, menatap Revan dengan teguh. "Aku harus ikut. Kakek pasti ketakutan. Jika dia melihatmu datang bersamaku, dia akan tahu bahwa kita sudah menang. Dan aku... aku tidak ingin hanya menunggu di sini seperti pengecut."

Revan mendekati Valerie, memegang kedua bahunya. "Ini berbahaya, Erie. Adrian sudah nekat. Dia mungkin akan menggunakanmu sebagai sandera terakhir."

"Dia sudah mencoba menghancurkanku selama bertahun-tahun, Mas. Dan sekarang, aku punya kau," jawab Valerie tanpa ragu. "Biarkan aku berdiri di sampingmu saat kita menjatuhkannya."

Revan menatap mata Valerie cukup lama, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah keberanian yang baru saja mekar. Revan menghela napas, lalu memberikan kecupan singkat di kening Valerie.

"Baiklah. Tapi kau tidak akan lepas dari jangkauan pandanganku, sejengkal pun."

1
Lilik Juhariah
konflik jangan extrime kak
My: tenang kak, othor pecinta perdamaian 🤭
total 1 replies
Lilik Juhariah
aduuuh
Lilik Juhariah
waduh , Erri harus kasih tau tu kelakuan nadia
Lilik Juhariah
gak gitu juga kali Revan , Erie bukan manekin
Lilik Juhariah
aduhh Revan jangan sampe makan minum apapun ntar dimasukin obat perangsang, aku yakin author GK buat alur sprt kebanyakan novel
Lilik Juhariah
seru kalau fokus sama Hoby , kayak makan ikan asin nasi hangat sama Pete wkkw
Lilik Juhariah
ya karena Nadia selalu deketin Revan makanya Revan bilang gak mau terikat emosional buat nolak kamu Nad
Lilik Juhariah
astagaaa Nadia, bagus Lo ceritanya ,
Lilik Juhariah
gak Eri gak seperti yg kamu bayangkan
Lilik Juhariah
untung ada Revan , ini produk ambisi orang tua,
Lilik Juhariah
om Revan keren tegas
Lilik Juhariah
karya author bagus banget , setiap kata demi kata bikin aku terpukau
Lilik Juhariah
ceritanya bagus banget , thor , aku suka ,
Lilik Juhariah
gak ada bukti , kekerasan mana
Lilik Juhariah
aduuuh cepet datang revan
sweet chil
wah.. mantab Thor aku otw, tapi tunggu baca 2 bab lagi yah 🤭
My: Siap, aku selalu menunggumu 🥰🤭
total 1 replies
sweet chil
wah .. ada gila-gila nya ini si Adrian
My: hehehe.. 🤭
total 1 replies
putri
wahh.. emak macem apa ini?
sweet chil
gak kebayang sih kalo jdi Valerie.. untungnya masih ada Revan
sweet chil
Revan sweet banget yah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!