Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8~Langkah pertama menuju masa depan
Hari itu, aku berdiri di depan cermin kamar dengan perasaan campur aduk.
Seragam putih abu yang dulu jadi bagian dari keseharian, kini tergantung rapi di lemari.
Di depan cermin, aku mengenakan jaket kampus baruku — biru tua dengan logo universitas kecil di dada kiri.
Aku resmi jadi mahasiswa.
Dan itu artinya… babak baru hidupku dimulai.
“Ly, kamu udah siap?” panggil Mama dari ruang tamu.
“Udah, Ma!” jawabku cepat.
Aku menarik napas panjang. Satu hal yang belum benar-benar siap bukanlah kuliah — tapi kenyataan bahwa aku dan Raka sekarang tidak lagi satu sekolah, bahkan tidak satu kota.
Dia diterima di universitas negeri di Bandung. Aku di Jakarta.
Jaraknya memang nggak jauh-jauh banget, tapi cukup buat mengubah kebiasaan kami yang dulu bisa bertemu setiap hari.
Tapi sebelum berangkat kemarin, dia sempat berkata pelan,
|“Nggak apa-apa kita pisah kota, asal nggak pisah hati.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup buat jadi pegangan di hari-hari pertama tanpa dirinya.
Minggu pertama kuliah terasa sibuk luar biasa. Jadwal padat, dosen tegas, tugas menumpuk — semua datang sekaligus.
Aku sampai lupa waktu makan siang beberapa kali.
Tapi setiap kali aku membuka ponsel, ada satu hal yang selalu membuatku tersenyum:
Pesan dari Raka.
|Raka: “Udah makan belum, calon insinyur masa depan?”
|Alya: “Udah, tapi kayaknya perutku masih kosong karena kangen.”
|Raka: “Wah, gombalnya udah nular 😎.”
Kami jarang bertemu, tapi setiap pesan darinya terasa seperti pelukan kecil yang menenangkan.
Kadang malam-malam kami saling bercerita lewat video call: tentang kelas, teman baru, dan lucunya kehidupan mahasiswa.
Suatu kali, aku cerita tentang teman sekelompokku yang lucu banget.
“Namanya Fadil,” kataku. “Dia suka ngelucu waktu presentasi. Semua orang ketawa.”
Di layar, Raka menatapku dengan ekspresi setengah cemburu. “Lucunya ngalahin aku, nggak?”
Aku pura-pura berpikir. “Hmm… beda sih. Kalau kamu lucunya bikin deg-degan.”
Dia tertawa lebar. “Jawaban aman, tapi aku terima.”
Kami tertawa bareng. Dan di saat-saat seperti itu, jarak terasa nggak begitu jauh.
Tapi, tentu saja, hidup nggak selalu semanis pesan tengah malam.
Beberapa bulan kemudian, kesibukan mulai meningkat.
Ujian, tugas kelompok, acara kampus — semuanya datang bertubi-tubi.
Kadang aku terlalu lelah untuk membalas pesannya dengan cepat. Kadang dia juga sibuk sampai larut malam.
Suatu malam, aku mengetik pesan:
|Alya: “Kamu sibuk banget akhir-akhir ini, ya?”
Beberapa menit berlalu, belum ada balasan.
Aku menunggu… satu jam, dua jam.
Sampai akhirnya dia membalas,
|Raka: “Maaf, Ly. Aku baru kelar rapat panitia. Aku nggak lupa kok, cuma belum sempat buka HP.”
Aku menatap pesan itu lama. Entah kenapa, dadaku terasa sesak.
Bukan karena dia salah, tapi karena aku mulai rindu saat-saat sederhana — saat kami bisa ketemu di taman belakang sekolah dan tertawa tanpa khawatir waktu.
Akhir pekan itu, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri ke taman kota.
Anginnya sejuk, langitnya cerah, tapi hatiku kosong. Aku duduk di bangku dan menatap gelang hijau yang masih melingkar di pergelangan tanganku.
Masih sama, masih utuh. Tapi sudah sedikit pudar warnanya.
Aku tersenyum kecil. “Kamu di sana, lagi mikirin aku juga nggak, ya?” gumamku pelan.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
|Raka: “Lihat ke kanan.”
Aku spontan menoleh — dan hampir nggak percaya dengan apa yang kulihat.
Dia berdiri di seberang jalan, membawa sekotak brownies dan senyum yang aku rindukan selama berbulan-bulan.
“Raka?” suaraku hampir bergetar.
Dia berjalan mendekat, dengan langkah santai khas dirinya. “Surprise. Aku pulang mendadak. Ada rapat organisasi di Jakarta, tapi aku pikir… sekalian mampir ke orang yang paling penting.”
Aku berdiri, menatapnya dengan campuran haru dan bahagia. “Kamu gila, ya? Nggak bilang-bilang.”
Dia mengangkat bahu. “Kalau aku bilang, namanya bukan kejutan.”
Aku tertawa kecil, lalu tanpa sadar melangkah mendekat.
Dia menatapku lembut. “Kamu kangen?”
Aku mengangguk. “Banget.”
Dia tersenyum — senyum yang selalu berhasil menenangkan semuanya. “Aku juga. Tapi lihat, kan? Aku balik. Kayak yang aku janjiin dulu.”
Aku menatapnya lama. “Dan aku masih nunggu.”
Dia menghela napas lega, lalu duduk di bangku sebelahku. “Kamu tahu nggak, Ly? Setiap kali aku liat tanaman di taman kampus, aku selalu inget taman hidroponik kita. Aku jadi belajar, ternyata hubungan juga kayak tanaman. Kalau nggak dirawat, lama-lama bisa layu.”
Aku menatap gelang hijau itu. “Makanya aku nggak pernah berhenti nyiram.”
Dia tersenyum. “Aku juga.”
Hari itu kami menghabiskan waktu berdua, berjalan keliling taman sambil berbagi cerita. Tentang kampus, kehidupan baru, dan mimpi masa depan.
Raka bilang dia ingin jadi arsitek taman kota. Aku bilang aku ingin jadi guru biologi.
“Jadi nanti kamu yang desain taman, aku yang ngajarin anak-anak tentang tanaman,” kataku sambil tertawa.
“Deal,” jawabnya. “Nanti kita bikin taman yang punya nama kita berdua.”
Aku menatapnya geli. “Namanya ‘Taman Cinta SMA’ gitu?”
Dia tertawa. “Lebih kayak ‘Taman yang Tak Sengaja Jadi Takdir’.”
Aku menatapnya, tersenyum. “Kamu tuh… selalu bisa bikin hal biasa jadi istimewa.”
Dia menatapku dalam. “Itu karena orangnya istimewa.”
Matahari mulai turun perlahan, meninggalkan warna oranye di langit. Kami duduk berdua, diam tapi nyaman.
Raka meraih pergelangan tanganku pelan, menatap gelang hijau itu. “Aku janji, Ly. Nggak peduli sejauh apa nanti kita melangkah, aku akan tetap balik. Karena sejak awal, langkahku selalu berawal dari kamu.”
Aku menatap matanya, dan untuk pertama kalinya aku sadar — cinta bukan tentang seberapa sering bertemu, tapi seberapa kuat kita saling menjaga saat berjauhan.
“Dan aku,” kataku pelan, “akan selalu menunggu. Karena sejak awal, hatiku udah tahu siapa yang dituju.”
Kami saling tersenyum. Tidak ada pelukan, tidak ada janji besar, tapi di antara angin sore itu, kami tahu — cinta kami tidak sedang berhenti.
Hanya sedang tumbuh… seperti dulu di taman hidroponik itu.
✨ Bersambung ke Bab 9