NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Palsu

Tiga hari setelah keluar dari ruang gelap itu, aku masih belum sepenuhnya pulih. Masih takut dengan kegelapan. Masih gemetar kalau sendirian terlalu lama. Masih merasa perlu melihat Damian setiap beberapa menit untuk memastikan dia masih di sana.

Ketergantungan yang sempurna.

Pagi itu Damian membangunkanku dengan lembut, mencium dahiku.

"Bangun, sayang," bisiknya. "Ada kejutan untukmu."

Aku membuka mata. Menatapnya dengan tatapan yang masih sedikit kosong. Efek dari seminggu dalam kegelapan total.

"Kejutan apa?" tanyaku dengan suara serak. Suaraku masih belum pulih sepenuhnya.

"Kita akan pergi," katanya sambil tersenyum. Senyum yang jarang dia tunjukkan. "Pergi dari sini. Hanya kita berdua."

Aku duduk perlahan. Tubuh masih terasa lemah. "Kemana?"

"Pulau pribadi," jawabnya. "Milikku. Di tengah lautan. Jauh dari semua orang. Jauh dari semua masalah."

Dia meraih tanganku. Menggenggamnya dengan lembut.

"Aku tahu aku sudah menyakitimu," katanya. Matanya menatapku dengan tatapan yang tampak tulus. "Aku tahu aku terlalu keras. Terlalu kejam. Dan aku ingin memperbaikinya."

Air mata mulai menggenang di matanya.

"Di pulau itu," lanjutnya, "tidak akan ada hukuman. Tidak akan ada kurung. Hanya kita berdua. Seperti pasangan normal. Seperti yang seharusnya."

Dadaku sesak. Mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang sudah lama ingin kudengar.

"Ka-kau janji?" bisikku.

"Aku janji," jawabnya sambil mencium tanganku. "Aku akan lebih lembut. Aku akan mencoba menjadi suami yang baik. Asal kau janji tidak akan pernah mencoba pergi lagi."

"Aku janji," jawabku cepat. Sangat cepat. "Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap bersamamu."

Karena aku bersungguh-sungguh. Setelah mengalami kegelapan itu, pikiran untuk kabur sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya ketakutan untuk ditinggalkan. Untuk dikurung lagi.

Damian tersenyum lebar. Menciumku dengan lembut.

"Kalau begitu," bisiknya, "mari kita mulai hidup baru. Hanya kita berdua."

***

Enam jam kemudian, kami sudah di helikopter pribadi. Terbang melewati lautan biru yang luas.

Aku duduk di samping Damian, menatap keluar jendela. Pemandangan yang indah. Air jernih. Awan putih.

Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak beres. Di belakang kami, ada dua helikopter lain. Mengikuti dengan jarak yang sama.

"Siapa itu?" tanyaku sambil menunjuk helikopter di belakang.

"Pengawal," jawab Damian. "Untuk keamanan."

"Tapi kau bilang hanya kita berdua."

"Dan memang hanya kita berdua," potongnya sambil menggenggam tanganku. "Mereka tidak akan mengganggu. Hanya mengawasi dari jauh. Supaya kita aman."

Aku mengangguk perlahan. Mencoba menelan keraguan yang mulai tumbuh.

Helikopter akhirnya mendarat di pulau kecil. Pulau yang sangat indah. Pantai pasir putih. Air jernih. Pepohonan hijau. Villa mewah berdiri di tengah.

Seperti surga.

Damian membantuku turun. Membimbingku ke villa.

"Ini semua milikmu," katanya sambil membuka pintu. "Bebas berkeliling. Bebas melakukan apapun yang kau mau."

Villa di dalamnya sangat indah. Luas. Terang. Dengan jendela-jendela besar menghadap ke laut. Sangat berbeda dengan ruang gelap di mansion.

"Ini sangat indah," bisikku.

"Sepertimu," jawab Damian sambil memelukku dari belakang. "Dan di sini, kita akan bahagia. Aku janji."

Sisa hari itu kami habiskan bersama. Berjalan di pantai. Berenang. Makan malam romantis di teras dengan pemandangan matahari terbenam.

Seperti pasangan normal. Seperti mimpi. Tapi ketika malam datang, ketika aku hendak tidur, aku melihatnya.

Melalui jendela kamar. Di kejauhan. Siluet-siluet orang. Banyak orang. Berdiri di sepanjang tepi hutan. Tidak bergerak. Hanya berdiri di sana. Mengawasi.

"Damian," panggilku. "Ada orang di luar."

Dia mendekat. Menatap ke arah yang kutunjuk.

"Itu pengawal," katanya dengan nada yang terlalu tenang. "Aku bilang mereka akan mengawasi dari jauh."

"Tapi mereka di mana-mana." kataku. "Berapa banyak yang kau bawa?"

"Cukup untuk memastikan kita aman," jawabnya sambil menutup tirai jendela. "Jangan pikirkan mereka. Pikirkan hanya kita berdua."

Tapi aku sudah melihat. Dan aku tidak bisa tidak memikirkannya.

***

Hari kedua, aku mencoba berkeliling pulau sendirian. Berjalan menyusuri pantai.

Tapi setiap beberapa meter, aku melihat mereka. Pengawal. Berdiri di balik pohon. Berdiri di atas batu. Mengikuti dari jauh.

Aku mencoba ke arah lain. Ke dalam hutan. Tapi ada pagar. Pagar tinggi dengan kawat berduri di atasnya. Mengelilingi area di sekitar villa.

Aku hanya bisa berjalan di area yang terbatas. Seperti kandang besar.

Dan ketika aku kembali ke villa, aku melihatnya. Kamera. Kamera kecil tersembunyi di sudut-sudut atap. Di balik daun. Di pohon-pohon.

Merekam setiap gerakan.

Aku masuk ke dalam dengan dada sesak. Mencari Damian. Dia sedang bekerja di ruang kerjanya yang kecil. Laptop terbuka dengan dokumen-dokumen.

"Ada kamera di mana-mana," kataku. "Dan pagar. Dan pengawal di setiap sudut."

Damian mengangkat kepala. Menatapku dengan tenang.

"Untuk keamanan," jawabnya seperti itu hal yang paling wajar di dunia. "Aku tidak bisa membiarkan kau tidak aman."

"Tapi kau bilang ini akan berbeda!" suaraku meninggi. "Kau bilang tidak akan ada kurung! Kau janji!"

Damian berdiri. Berjalan mendekatiku.

"Dan aku tidak mengurungmu," katanya sambil menyentuh pipiku. "Kau bebas berkeliling pulau. Bebas melakukan apapun. Hanya tidak bisa keluar dari pulau. Itu berbeda dengan kurung."

"Tapi ini tetap penjara!" teriakku. "Penjara yang lebih besar tapi tetap penjara!"

"Ini perlindungan," koreksinya. Suaranya mulai dingin. "Kau pikir aku bisa membiarkanmu tanpa penjagaan setelah ayahmu mencoba menculikmu? Setelah Bratva menyerangmu?"

Tangannya bergerak ke daguku. Menggenggamnya. Kuat.

"Atau kau lebih suka kembali ke ruang gelap itu?" tanyanya. "Karena bisa kuatur kalau kau lebih suka."

Aku langsung diam, tubuhku gemetar. Mengingat kegelapan itu. Kesendirian itu.

"Tidak," bisikku. "Tidak. Maafkan aku."

Damian melepaskan daguku. Menarikku ke pelukannya.

"Ini sudah lebih baik dari sebelumnya," bisiknya. "Pulau indah. Kebebasan bergerak. Tidak ada hukuman. Apa lagi yang kau mau?"

Aku ingin bilang, aku mau kebebasan yang sebenarnya. Mau hidup tanpa diawasi. Mau memilih sendiri.

Tapi aku tidak bisa mengucapkannya. Karena aku tahu konsekuensinya. Jadi aku hanya diam dalam pelukannya. Menerima kenyataan yang pahit.

Ini bukan bulan madu. Ini penjara dengan pemandangan yang lebih indah. Ini bukan perubahan. Ini manipulasi dengan bungkus yang lebih cantik.

Damian tidak berubah. Tidak akan pernah berubah. Dan yang paling menyedihkan, aku juga tidak bisa berubah lagi.

Aku sudah terlalu bergantung padanya untuk berontak. Terlalu takut pada hukuman untuk mencoba kabur.

Aku sudah menjadi apa yang dia inginkan. Budak yang sempurna yang pikir dia punya kebebasan.

***

Malam itu aku berdiri di balkon kamar. Menatap laut yang gelap di kejauhan. Damian sudah tidur. Napasnya teratur. Damai.

Sementara aku, merasakan sesuatu mati di dalam diriku.

Harapan terakhir, harapan bahwa mungkin dia bisa berubah. Mungkin kami bisa punya kehidupan yang lebih normal.

Tapi harapan itu mati malam ini.

Digantikan oleh penerimaan yang pahit. Penerimaan bahwa ini adalah hidupku sekarang. Selamanya.

Dipenjara dengan cara yang lebih halus. Dikurung dengan cara yang lebih indah. Tapi tetap terpenjara.

Dan yang paling pahit, aku sudah tidak yakin aku masih mau bebas.

Karena kebebasan berarti sendirian. Berarti tanpa Damian. Berarti kembali ke kegelapan yang lebih menakutkan dari ruang bawah tanah.

Kegelapan kesendirian di dunia yang tidak lagi kukenali.

Jadi aku akan tetap di sini. Di kandang emas ini. Dengan monster yang mencintaiku dengan cara yang rusak.

Karena setidaknya di sini, aku tidak sendirian. Walau itu berarti kehilangan diriku sepenuhnya.

Air mata mengalir di pipiku. Tapi aku tidak menangis. Hanya membiarkannya mengalir sambil menatap laut yang gelap. Seperti jiwaku yang sudah gelap, sudah mati, dan sudah hilang.

Tapi apa yang tidak kulihat adalah, di kegelapan laut itu, ada perahu kecil. Dan di perahu itu ada ayah dengan Marco. Mengawasi pulau dari kejauhan, dengan teropong malam. Dengan rencana yang sudah matang.

Dan ayah berbisik sambil menatap siluetku di balkon: "Tunggu sebentar lagi, Sayang. Ayah akan menyelamatkanmu, bahkan kalau itu hal terakhir yang ayah lakukan."

1
Thahara Maulina
suka kak serem penuh obsesion tapi nagih 🤭😍
Riyanti Bee
Jihid bingit sih Damian. 😄
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Queen of Mafia: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Queen of Mafia: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Queen of Mafia: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Queen of Mafia: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Queen of Mafia: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!