NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penculikan

Tiga hari terkurung di kamar tanpa kabar apapun, tiga hari tanpa tahu apakah ayah masih hidup atau sudah mati. Tiga hari dengan pikiran yang semakin kacau.

Damian tidak datang sekalipun. Hanya pelayan yang membawakan makanan tiga kali sehari. Tidak bicara. Hanya meletakkan nampan lalu pergi.

Hukuman dengan keheningan, dan itu lebih menyiksa dari apapun.

Pagi hari keempat, pintu akhirnya terbuka. Marco masuk dengan wajah yang sulit dibaca.

"Nyonya," panggilnya. "Tuan Damian meminta Nyonya untuk keluar hari ini."

Aku duduk di tepi tempat tidur. Menatapnya dengan wajah kosong. "Untuk apa?"

"Pertemuan dengan partner bisnis dari Jepang. Tuan ingin Nyonya hadir sebagai Donna."

Setelah tiga hari dikurung, tiba-tiba aku harus muncul di pertemuan bisnis? Ini tidak masuk akal.

"Kenapa tiba-tiba..."

"Tuan tidak memberikan alasan," potong Marco. "Tapi Tuan bilang ini penting. Nyonya harus hadir."

Satu jam kemudian, aku sudah siap. Gaun hitam elegan. Rambut ditata rapi. Makeup menutupi wajah pucat dan mata bengkak.

Dari luar terlihat sempurna. Dari dalam hancur total.

Kami keluar mansion untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Tiga bulan sejak pertemuan lima keluarga. Rasanya seperti selamanya.

Konvoi tiga mobil melaju menembus jalanan kota. Aku duduk di mobil tengah dengan Marco dan dua pengawal lain. Damian di mobil depan.

Jarak yang disengaja. Hukuman yang masih berlanjut.

"Kemana kita akan pergi?" tanyaku pada Marco.

"Hotel Grandeur," jawabnya. "Ruang pertemuan pribadi di lantai paling atas."

Aku mengangguk. Menatap keluar jendela. Kota yang ramai. Orang-orang yang berjalan dengan normal. Hidup yang normal.

Sesuatu yang sudah sangat asing bagiku.

Mobil melaju melewati area bisnis. Gedung-gedung tinggi. Lalu memasuki area yang lebih sepi. Lebih tua.

"Ini bukan jalan ke Hotel Grandeur," kataku. Jantung mulai berdetak cepat.

Marco tidak menjawab. Hanya menatap ke depan dengan wajah tegang.

"Marco, ini bukan jalan yang benar."

Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Aku terhentak ke depan, nyaris membentur kursi depan.

"Apa yang..."

BRAK!

Pintu samping terbuka dengan paksa. Tangan-tangan kasar menarikku keluar. Aku berteriak dan meronta.

"MARCO! TOLONG!"

Tapi Marco hanya duduk di sana. Menatapku dengan tatapan yang meminta maaf?

"Maafkan saya, Nyonya," bisiknya.

Lalu pintu ditutup, dan mobil melaju pergi. Meninggalkanku dengan tiga pria bertopeng, yang menyeretku ke van hitam di sampingnya.

Aku terus meronta, menendang, mencoba berteriak. Tapi salah satu dari mereka menutup mulutku dengan kain, bau kimia menyengat hidungku.

Chloroform.

Dunia mulai berputar, penglihatan kabur, tubuhku terasa lemas, lalu semuanya gelap.

***

Aku terbangun dengan kepala berdenyut sakit, mulut terasa kering, dan tubuh terasa berat. Perlahan aku membuka mata, cahaya redup menyakiti mataku.

Aku berada di gudang tua, dengan dinding beton retak. Jendela-jendela tinggi yang sudah pecah. Lantai kotor penuh debu.

Dan aku terikat di kursi. Rasa panik langsung melanda. Aku mencoba menggerakkan tangan. Terikat erat di belakang kursi. Kaki juga terikat di kaki kursi.

"Sudah bangun?"

Suara itu membuat seluruh tubuhku membeku, aku menoleh ke arah suara. Dan terlihat di sudut gudang, di bayang-bayang, ada seseorang tengah berdiri.

Seseorang itu, perlahan melangkah keluar dari bayangan, dan aku melihatnya.

Ayah.

Tapi bukan ayah yang kuingat, ini pria yang jauh lebih tua, lebih kurus, bahkan rambutnya beruban. Janggut panjang yang tidak terawat, pakaian lusuh, wajah penuh kerutan dan bekas luka.

Tapi matanya masih sama, seperti mata ayahku.

"Ayah?" bisikku. Suaraku serak.

Dia melangkah lebih dekat. Perlahan. Seperti takut aku akan hilang kalau dia bergerak terlalu cepat.

"Alexa," katanya. Suaranya bergetar. "Alexa sayang."

Air mata langsung mengalir di wajahnya.

"Maafkan ayah," bisiknya. "Maafkan ayah harus melakukan ini. Ini satu-satunya cara untuk bicara denganmu tanpa Damian tahu."

Dia berjongkok di depanku. Menatapku dengan mata penuh air mata.

"Tapi ayah harus membuatmu mengerti kebenaran," lanjutnya. "Sebelum terlambat. Sebelum dia benar-benar menghancurkanmu."

"Apa kau yang menyuruh Marco untuk mengkhianatiku?" tanyaku.

Ayah menggeleng. "Bukan mengkhianati. Marco adalah orang suruhan ayah. Sejak awal, ayah yang menempatkan dia di samping Damian, lebih tepatnya dua tahun yang lalu."

Dunia berputar lagi. Marco adalah orang suruhan ayah, dan itu terjadi sejak awal.

"Marco salah satu dari sedikit orang yang tahu kebenaran," lanjut ayah. "Yang tahu tentang Damian yang memang, sebenarnya adalah seorang pembunuh."

"Berhenti," bisikku. "Berhenti bicara tentang Damian seperti itu."

"KENAPA?!" suara ayah meninggi. "Kenapa kau masih membelanya? Setelah semua yang dia lakukan padamu, setelah dia menculikmu, memaksamu untuk menikah, bahkan membunuh ayahmu di depan matamu sendiri."

"Tapi kau tidak mati!" teriakku. "Kau masih hidup! Berarti dia berbohong tentang itu!"

"Ya, dia berbohong!" jawab ayah. "Dia bohong tentang banyak hal! Termasuk tentang siapa yang membunuh keluarganya!"

Dia berdiri. Berjalan mondar-mandir dengan napas terengah.

"Dua puluh tahun yang lalu," mulai dia bercerita, "Ayah memang bekerja untuk keluarga Vincenzo. Sebagai kepala keuangan, dan ya, ayah menemukan ketidakberesan. Tapi bukan ayah yang mencuri."

Dia berhenti. Menatapku.

"Yang mencuri adalah Damian sendiri," katanya. "Dia mencuri uang keluarganya sendiri. Lalu menyalahkan ayah. Dan ketika ayahnya mengetahui kebenaran, ketika dia akan melaporkan Damian pada polisi..."

Suaranya bergetar hebat.

"Damian membunuh mereka semua," bisiknya. "Dia membakar rumah itu dengan keluarganya di dalam. Kakaknya yang berusia sepuluh tahun, ibunya yang hamil, paman, bibi, sepupu, semuanya dia bunuh."

"Tidak," aku menggeleng. "Damian bilang dia yang melihat dari luar, dia yang mendengar jeritan ibunya."

"Dia yang memulai api itu!" teriak ayah. "Dia yang mengunci semua pintu! Dia yang memastikan bahwa tidak akan ada yang selamat!"

Ayah jatuh berlutut di depanku. Meraih tanganku yang terikat.

"Dan ayah tahu," bisiknya. "Ayah melihat dia melakukannya. Dari jendela kantor. Ayah melihat dia menuang bensin. Menyalakan korek. Berjalan pergi sambil rumah terbakar di belakangnya."

Air mata mengalir deras di wajahnya.

"Tapi ayah tidak bisa melakukan apapun," lanjutnya. "Karena Damian terlalu kuat. Terlalu berbahaya. Dia mengancam akan membunuh keluarga ayah. Membunuhmu. Membunuh ibumu. Adikmu."

Dia mengusap air matanya dengan kasar.

"Jadi ayah kabur," katanya. "Ayah ambil uang sebanyak yang bisa ayah ambil dan kabur. Bersembunyi. Mengubah identitas. Supaya melindungi kalian."

"Tapi kenapa kau tidak pernah hubungi kami?" tanyaku. "Kenapa kau biarkan kami pikir kau mati?"

"Karena ayah tidak bisa!" jawabnya putus asa. "Kalau ayah hubungi, Damian akan lacak. Akan tahu dimana ayah. Akan tahu kalian masih berhubungan dengan ayah. Dan dia akan bunuh kalian."

Dia memeluk kakiku. Menangis.

"Ayah hanya bisa mengawasi dari jauh," bisiknya. "Memastikan kalian baik-baik saja. Dan ketika ayah tahu Damian mendekatimu, ketika ayah tahu dia merencanakan pernikahan ini..."

Suaranya tersedak.

"Ayah mencoba menghentikannya," lanjutnya. "Ayah mencoba menghubungi polisi. FBI. Siapa pun. Tapi tidak ada yang percaya. Damian terlalu kuat. Terlalu bersih di mata publik."

Dia mengangkat wajahnya. Menatapku dengan mata merah bengkak.

"Jadi ayah hanya bisa menonton," katanya. "Menonton dia mengambilmu. Menonton dia menghancurkanmu perlahan. Dan ayah tidak bisa melakukan apapun, kecuali..."

Dia berhenti. Menarik napas gemetar.

"Kecuali ini," katanya sambil melepas ikatan di tanganku. "Ayah harus membawamu pergi sekarang. Sebelum semuanya terlambat."

Tanganku terbebas, lalu kakiku. Aku berdiri dengan kaki yang masih lemas. Ayah memelukku erat, bahkan sangat erat.

"Maafkan ayah, Sayang," bisiknya di rambutku. "Maafkan ayah karena meninggalkanmu, dan tidak melindungimu. Ayah malah membiarkan monster itu mengambilmu."

Pelukannya hangat. Familiar. Seperti dulu ketika aku masih kecil.

Dan untuk sesaat, hanya sesaat, aku merasakan sesuatu yang sudah lama hilang. Keamanan, cinta tanpa syarat, kehangatan keluarga. Tapi kemudian pikiran lain muncul.

Bagaimana kalau ini bohong? Bagaimana kalau ayah yang berbohong, bukan Damian?

Bagaimana kalau ini manipulasi lain? Jebakan lain?

Dan pertanyaan yang paling menakutkan, kenapa sebagian diriku tidak ingin percaya pada ayah? Kenapa sebagian diriku ingin kembali pada Damian?

Aku mendorong ayah dengan lembut. Menatap wajahnya.

"Kalau semua yang kau bilang benar," kataku pelan, "Tunjukkan buktinya, tunjukkan bukti bahwa Damian yang membunuh keluarganya."

Ayah menatapku lama. Lalu mengangguk.

"Ayah punya bukti," katanya. "Video. Rekaman CCTV malam itu. Yang asli. Sebelum Damian memanipulasinya."

Dia mengeluarkan flashdisk dari sakunya.

"Ini semua ada di sini," katanya. "Rekaman dia menuang bensin. Menyalakan api. Mengunci pintu. Semuanya."

Dia menyodorkan flashdisk itu padaku.

"Tonton sendiri," katanya. "Lalu kau putuskan siapa yang bohong. Ayah atau dia."

Aku menatap flashdisk di tangannya. Benda kecil yang bisa mengubah segalanya. Atau bisa jadi bohong lagi, bisa jadi ini manipulasi lain.

Tapi aku harus tahu dan melihat sendiri.

Aku meraih flashdisk itu, dan pada saat yang sama, pintu gudang meledak hingga langsung terbuka.

DUAR!

Damian berdiri di sana, dengan pistol teracung. Mata berkilat amarah yang menakutkan. Dan di belakangnya, puluhan pengawal bersenjata.

"Lepaskan dia," katanya dingin. "Atau aku akan membunuh kau di tempat, Rafael."

Tapi sebelum siapapun bisa bergerak, aku melakukan sesuatu yang mengejutkan semua orang. Aku melangkah di depan ayah, melindunginya dengan tubuhku sendiri.

Dan menatap Damian, dengan tatapan yang membuat matanya sedikit melebar. Karena untuk pertama kalinya, sejak semua ini dimulai aku memilih. Aku membuat pilihan, dan pilihan itu bukanlah dia.

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!